
Pagi harinya Brian sudah terbangun terlebih dahulu karena ia merasa sangat sakit untuk tidur karena lukanya dan juga tidak tenang karena sang istri belum juga bangun dari tidurnya, Brian pun memilih untuk melihat keadaan Sheila yang masih belum sadar di ranjang pasien.
Dia duduk di kursi dekat dengan ranjang pasien sambil menggenggam tangan sang istri seperti menyuruhnya untuk bangun agar tidak membuat Brian terus khawatir dengan keadaannya.
Sedangkan Sheila masih saja asyik dengan ketidak sadarannya, tak lama Sheila merasa pusing di kepalanya dan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit menyesuaikan sinar matahari yang sudah mulai muncul dari ufuk timur membangunkan setiap manusia untuk melakukan aktivitas nya.
Saat Sheila bangun dia melihat wajah yang sangat tidak asing baginya, sosok yang sudah menemaninya beberapa bulan ini dan sudah memberikan benih di dalam rahimnya sekarang.
Namun dia juga sosok yang sudah membohongi Sheila selama ini dengan pekerjaannya yang sangat mengejutkan Sheila, pekerjaan yang bahkan Sheila tidak pernah membayangkan kalau di dunia ini adalah pekerjaan seperti itu, dia mengira pekerjaan seperti itu hanya ada di cerita novel saja.
Brian yang melihat sang istri membuka matanya pun segera menanyakan keadaan yang istri, dia sangat senang akhirnya sang istri membuka matanya juga setelah semalaman tidak bangun.
"Sayang, kamu sudah bangun? sayang!" panggil panggil Brian mencoba menyadarkan sang istri namun Sheila hanya diam saja sambil melihat ke arah Brian dengan terus diam.
"Sayang, ada yang sakit?!" tanya Brian takut karena sang istri tak kunjung menjawab nya.
Namun reaksi Sheila sangat berbeda dengan kekhawatiran Brian, Sheila malah menepis tangan sang suami saat Brian memegangnya seperti tak ingin di pegang.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Brian melihat sikap sang istri.
Sheila malah memalingkan wajahnya dan memunggungi Brian tak ingin melihat wajah sang suami, untuk melihat wajah sang suami saja Sheila tak ingin apa lagi berbicara dengannya.
"Sayang?!" panggil Brian lagi.
"Aku mau sendirian, lebih baik kamu keluar aja dulu!" sahut Sheila dengan menahan tangisannya.
Brian tahu bahwa sang istri seperti nya akan menangis karena bisa di dengar dari suaranya yang sudah gemetar, dengan berat hati Brian pun meninggalkan Sheila sendirian di ruang tersebut dan Brian keluar dari rasa, Brian ingin memberi waktu untuk sang istri agar bisa menenangkan dirinya karena bagaimana pun Sheila Sheila pasti terkejut dengan apa yang dia lihat tadi dan juga kenyataan tentang dirinya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku keluar dulu, aku di depan jadi kalau kamu butuh sesuatu kamu tinggal bilang sama aku aja ya." sahut Brian tak juga mendapat jawaban dari sang istri.
Brian pun keluar dari kamar tersebut dan bertepatan dengan adanya mami Salma, papi Boni dan keluarga yang lainnya bahkan papa Bastian dan mama Daniar juga ada di sana baru akan masuk ke ruangan namun berhenti saat melihat Brian keluar terlebih dahulu.
"Loh sayang kamu kenapa keluar?" tanya mami Salma.
"Mi, Pi, ma, pa, sama uncle dan Tante lebih baik jangan masuk dulu karena sepertinya Sheila butuh waktu untuk menenangkan dirinya." Brian berucap seperti itu membuat mereka semua mengerti apa yang di ucapkan oleh Brian.
Mereka pun memilih menunggu di ruang tunggu depan kamar Sheila di mana di sana ada sofa yang di sediakan bahkan ada cemilan ringan untuk menemani mereka, maklum lah namanya juga VVIP pasti serba mewah.
Sedangkan Sheila setelah Brian pergi dia pun menumpahkan semua air matanya yang sudah dia tahan dari tadi, rasanya dadanya sangat sakit jika harus mengingat semua kejadian yang baru saja ia lihat seorang suami yang sangat ia kagumi ternyata melakukan hal seperti itu, Sheila merasa sangat kecewa bahkan Sheila rasanya tidak ingin melihat Brian terlalu lama karena bisa membuat nya meningkat kejadian kemarin.
"Brian, aku tidak mengira bahwa kamu ternyata seorang mafia kejam yang bahkan tak segan segan untuk membunuh orang seperti kemarin. Tuhan apakah aku harus bersama orang seperti itu," gumam Sheila dengan rasa sedih di hatinya, air mata nya tak kunjung berhenti padahal dia sudah mencoba untuk berhenti agar tidak menangis lagi namun tidak bisa.
Hampir satu jam Sheila menangis dan Brian memberi waktu kepada sang istri, karena sudah tidak sabar lagi Brian pun masuk ke dalam kamar tersebut dan melihat Sheila yang sudah lebih tenang bisa di lihat dari Sheila yang sudah tidak membelakangi nya tetapi berbaring terlentang.
"Sayang," panggil Brian sambil menggenggam tangan Sheila namun Sheila sama sekali tak membalasnya.
"Sayang kamu gak papa kan?!" tanya mama Daniar khawatir karena sebagai orang tua Sheila bagaimana pun mama Daniar dan papa Bastian lah yang sangat khawatir bahkan Leon sang kakak juga terbang dari Austria ke New York hanya untuk menemui sang adik yang sedang berada di rumah sakit, dia rela meninggalkan pekerjaannya karena mendengar bahwa sang adik di culik membuat Leon khawatir karena dia tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi karena sakit rasanya melihat orang tuanya harus sedih padahal saat melihat Sheila untu pertama kalinya beberapa bulan lalu mereka sangatlah senang bukan main.
"Mama," ucap Sheila saat melihat mamanya berada di sampingnya namun dia mencueki Brian.
"Iya sayang ini mama, kamu ada yang sakit atau gak enak gitu?" tanya mama Daniar lagi namun mendapat gelengan kecil dari sang anak membuat mama Daniar sedikit lega.
"Sayang, Brian di sini loh masa kamu gak ngomong apa-apa sih sama suami kamu," sahut mama Daniar mencoba untuk membuat Sheila lebih baik lagi sama Brian.
"Sheila capek ma," sahut Sheila membuat mama Daniar dan yang lainnya pun mengerti.
__ADS_1
"Kalau begitu mama sama yang lainnya keluar dulu ya sayang," sahut mama Daniar.
"Mama di sini aja ya sama papa sama kakak juga," tutur Sheila.
Sedangkan mami Salma dan yang lainnya pun menganggukkan kepalanya mengiyakan, sebenarnya mereka sedikit sedih tapi mungkin Sheila masih menenangkan hatinya dan ingin bersama dengan keluarganya saja.
"Kalau begitu kami keluar dulu ya sayang," sahut mami Salma dan di angguki oleh Sheila.
Setelah itu mereka pun keluar dari sana di ikuti oleh Brian juga yang di suruh keluar oleh Sheila sehingga di dalam hanya ada Sheila dan juga keluarga kandungnya, mama Daniar pun mendekati anak nya dan memeluk erat tubuh Sheila. Mama Daniar tahu kalau istrinya ini sedang bimbang dan juga bingung Dnegan apa yang baru saja dia alami karena dia belum pernah melihat hal seperti dunia mafia dan yang lainnya.
"Hiks hiks hiks hiks," hanya suara tangisan yang terdengar dari mulut Sheila karena sudah tidak sanggup untuk menahannya padahal dia tadi sudah menangis dalam waktu yang lama.
"Sayang, kenapa hm?" tanya mama Daniar.
"Ma, Brian ma dia bohongin Sheila!" sahut Sheila sambil terus memeluk tubuh sang mama.
Mendengar sang anak berkata seperti itu papa Bastian pun sedikit terkejut dan ada ketakutan jika anaknya tahu juga tentang pekerjaan nya yang hampir sama dengan Brian maka Sheila pasti akan kecewa, Leon pun berfikir seperti itu dan ada kekhawatiran dalam diri mereka berdua dan juga mama Daniar.
"Hey, sayang. Mungkin Brian berbohong sama kamu karena dia menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukannya sama kamu sayang," ucap mama Daniar mencoba mencari alasan yang tepat.
"Alasan apa ma? Alasan bahwa dia membunuh orang!" pekik Sheila tak terima jika orang tuanya malah membela Brian padahal di sini yang di bohongin adalah Sheila.
"Bukan begitu sayang." bantah papa Bastian menghampiri anak dan istrinya.
"Apa nya yang bukan begitu pa? Apa kalian juga sudah tahu akan hal tersebut kalau Brian adalah seorang ketua mafia kejam di negara ini?!" tanya Sheila lagi dengan meledak ledak tak menyangka bahwa orang tuanya sudah tahu akan identitas asli sang suami.
.
__ADS_1
.
Bersambung..........