Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Projek Bersama


__ADS_3

Sesampainya di kantor Sheila segera turun dari mobil yang parkir tak jauh dari kantor, Sheila memang memilih untuk turun di area yang jauh sedikit dari kantor karena ia takut nanti jika rekan-rekan kerjanya tahu, tapi kalau pun tahu mungkin mereka mengira ini adalah mobil pribadinya karena memang mobil seperti ini sudah banyak di temui di pasaran.


Awalnya Laura dan juga pak Thomas tak mengizinkan Sheila untuk turun di area tersebut karena jauh dari kantor takut membuat nona mudanya itu kelelahan, namun Sheila tetap lah Sheila dengan keinginannya, akhirnya mau tidak mau Laura dan pak Thomas pun pasrah, bahkan Laura yang akan mengikuti Sheila pun di cegat oleh Laura dan tidak memperbolehkan Laura untuk ikut turun.


Sampai di depan kantor Sheila pun masuk ke dalam namun belum sempat ia masuk ada panggilan yang memanggil namanya sontak membuat Sheila balik badan dan melihat siapa yang memanggilnya.


"Sheila!" panggil orang tersebut.


"Hey, jovanka." ucap Sheila, ternyata yang memanggilnya adalah jovanka teman barunya.


"Baru sampek?" tanya Sheila dan di angguki oleh jovanka.


"Hai, gaes!" pekik seseorang lagi siapa lagi kalau bukan Monica.


"Hai, Mon." balas Sheila.


"Masuk yuk," ajak Sheila lagi dan di angguki oleh jovanka dan juga Monica. Namun belum sempat masuk mobil Brian sudah memasuki area depan lobi di mana Sheila dan teman temannya masih berdiri di sana.


"Gila itu bukannya pak Brian ya!" sahut Monica dengan nada semangatnya, sedangkan Sheila malah salah tingkah.


Tak berapa lama Brian pun keluar dengan telah jas yang sangat menawan, siapa pun yang melihat pasti sangat terpesona akan ketampanan dari Brian. Bahkan Sheila yang setiap hari melihatnya saja masih tak percaya bahwa dia akan mendapatkan suami yang sempurna seperti ini.


Sedangkan Brian saat turun dia melihat sang istri yang sepertinya baru sampai, dia bersama dengan teman temannya sehingga Brian hanya melihatnya sekilas kemudian berlalu menuju ke ruangannya, Sheila dan karyawan lainnya yang melihat Brian masuk ke dalam pun membungkukkan badannya dengan sopan.


Setelah di rasa tidak ada lagi sosok Brian Sheila mengajak Monica dan jovanka masuk ke dalam karena sebentar lagi waktu jam kerja di mulai.

__ADS_1


Sampai ruangannya di sana sudah ada pak Edwin yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.


"Perhatian semuanya! sebentar lagi kita akan ada meeting dengan pak Brian, kalian siapkan semua keperluannya. Mungkin kita akan meeting mengenai pemasaran resort di Bali karena sudah hampir 95% semuanya sudah siap di buka." ucap pak Edwin.


"Siap, pak." jawab semua karyawan.


Resort di Bali memang tetap di pegang oleh perusahaan pusat karena itu sudah perintah dari atasannya. Sedangkan Brian sekarang sudah sampai di ruangannya dan yoga pun masuk untuk memberitahukan jadwalnya.


"Bos, sebentar lagi kita akan meeting dengan karyawan pemasaran sesuai instruksi bos." sahut yoga, Brian memang menyuruh yoga untuk mengadakan rapat dengan divisi pemasaran saja, rencananya dia akan membahas soal resort di Bali dan yang pasti Brian juga ingin melihat wajah sang istri lebih lama lagi karena tadi pagi hanya sebentar saja mereka berkegiatan.


Sekarang ini semua karyawan pemasaran sudah berada di ruang meeting untuk membahas suatu projek dengan bos mereka, banyak karyawan wanita yang berdandan agar terlihat cantik di depan bos mereka, karena ingin menarik perhatian dari bosnya. Sedangkan Sheila malah cuek saja merasa kesal dengan para karyawan yang sangat centil sekali dengan sang suami.


Jangan lupa ya di sana juga ada Tiffany yang bisa di lihat dari penampilannya bisa membuat air liur pria menetes karena terlalu terbukanya pakaiannya sangat berbanding terbalik dengan Sheila yang berpenampilan sangat sederhana hanya di poles make up tipis namun membuat aura kecantikannya keluar.


Tak berapa lama Brian pun masuk ke dalam ruang meeting, semua karyawan dengan sopan berdiri dan menyambut kehadiran bos mereka.


"Apakah ada karyawan baru di sini?" tanya Brian saat melihat Sheila.


"Iya, pak." jawab pak Edwin.


"Wah saya tidak tahu, bisa perkenalan lagi?" sahut Brian membuat Sheila melihat ke arah Brian dengan tatapan kagetnya karena sang suami malah mengerjainya.


"Iya, bisa pak. Sheila buruan perkenalan!" suruh pak Edwin sehingga mau tidak mau Sheila pun melakukan perkenalan.


"Perkenalkan nama saya Sheila putri, saya dari divisi pemasaran dan baru kemarin bekerja." ucap Sheila memperkenalkan dirinya, sedangkan Brian malah menganggukkan kepalanya paham.

__ADS_1


"Oke, pak Edwin saya ingin merekomendasikan karyawan baru tersebut untuk gabung ke projek ini." sahut Brian membuat semua karyawan melihat kaget.


"Maaf, pak. tapi untuk Sheila sendiri baru kemarin bekerja apa tidak terlalu cepat jika harus menangani projek beser seperti ini?" sahut pak Edwin dengan sedikit takut.


"Maka dari itu saya ingin melihat bagaimana kinerjanya nanti, kalau memang bagus maka bisa dipertahankan kalau tidak maka lebih baik di pecat saja," sahut Brian sedikit pedas memang.


"Baik, pak. Tapi apakah hanya satu orang saja pak?" tanya pak Edwin karena bosnya hanya meminta satu karyawan pemasaran saja.


"Dari karyawan saya minta dua, pak Edwin sama karyawan baru saja karena Bu Ella saya suruh untuk membantu menghandle projek tersebut juga," sahut Brian.


"Oke, kalau begitu semuanya sudah selesai!" lanjut Brian kemudian pergi meninggalkan ruang meeting.


"Akhirnya bisa projek bersama bareng kamu Sheila, ini adalah sebagai alasan saya agar bisa lebih dekat dengan kamu!" gumam Brian salam hati dengan melangkahkan kakinya ke luar dari ruang meeting di ikuti oleh yoga.


Saat Brian keluar semua tatapan kesal, sinis dan juga marah di tujukan kepada Sheila apa lagi karyawan wanita, sudah lama mereka menggoda bosnya eh malah Sheila yang suruh untuk menangani projek tersebut.


"Sheila, elo perlu hati-hati ya!" sahut jovanka saat mereka sedang berjalan menuju ke ruangan mereka lagian telah dari ruang meeting tadi.


"Hati-hati kenapa?" tanya Sheila sedikit bingung dengan ucapan jovanka.


"Ih, elo mah lemot orangnya Sheila apa enggak peduli sih. Karena tadi pak Brian nunjuk elo langsung buat ikutan projek resort Bali banyak karyawan wanita yang ngerasa iri sama elo karena ini termasuk projek besar dan bisa deket an terus sama pak Brian dan bisa ke Bali buat tinjau langsung projek tersebut," sahut Monica sedikit kesal karena temannya itu tidak mengerti.


"Oh, tapi kan bukan aku yang minta. pak Brian sendiri loh yang milih," sahut Sheila tidak terima kalau dia yang di salahkan.


"Iya juga sih, tapi di sini pasti elo yang dia salah in sih." lanjut Monica.

__ADS_1


"Ya udah lah, gak usah di bahas lagi, mending kita lanjut kerjanya." sahut Sheila saat mereka sudah sampai di ruangannya, Sheila dan yang lainnya pun kembali bekerja lagi.


Bersambung..........


__ADS_2