Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
BAB 65_Teman Baru


__ADS_3

Sampai di sebuah ruangan di mana di sana ada banyak orang sedang lalu lalang dan ada juga yang berada di meja mereka sedang mengerjakan tugasnya.


Sheila sangat merasa gugup karena ini adalah pengalaman pertamanya berkerja di perusahaan besar apa lagi sekelas Ard Company.


"Ayo, Sheila!" ajak pak Edwin membawa Sheila masuk lebih dalam lagi ke ruangan tersebut.


Saat Sheila masuk banyak karyawan yang memperhatikan Sheila mungkin karena mereka baru pertama kali melihat Sheila atau mungkin karena wajah cantik Sheila siapa sih yang tidak akan terpesona dengan wajah cantiknya, meski pun ia hanya menggunakan make up tipisnya namun tetap bisa memancarkan aura lembut, cantik dan juga menawannya.


"Selamat pagi semuanya," ucap pak Edwin berada di tengah ruangan membuat semua karyawan menoleh ke arah nya.


"Sekarang kita kan ketambahan anggota baru di tim kita," ucap pak Edwin sambil melirik Sheila.


"Perkenalkan diri kamu," ucap pak Edwin.


"Baik, pak. Halo semuanya perkenalkan nama saya Sheila putri atau bisa di panggil Sheila," ucapnya memperkenalkan dirinya di depan calon rekan kerjanya.


Sheila memang tidak memperkenalkan dirinya sesungguhnya karena dia tidak ingin karyawan lainnya tahu.


Setelah perkenalan itu pak Edwin pun meminta Sheila untuk duduk di tempatnya, tepatnya di meja karyawan yang kosong dan kebetulan sekali butuh di isi oleh yang lainnya, memang divisi pemasaran sangat membutuhkan karyawan karena memang kualifikasi untuk masuk sangat susah sehingga tidak banyak orang yang lolos dalam seleksi tersebut.


Sampai lah Sheila di kursi kosong yang di tunjuk oleh pak Edwin, tiba tiba ada dua rekan kerja baru Sheila yang mendekatinya.


"Hai, Sheila. kenalin aku jovanka dan ini Monica." ucap salah satunya memperkenalkan diri.


"Hai, aku Sheila." balas Sheila masih saja sopan.


"Santai aja sama kita jangan terlalu formal," ucap Monica dengan santainya dan mendapat senyuman dari Sheila.


"Oke, mulai sekarang kita bertiga teman ya," sahut jovanka dengan gembira.

__ADS_1


Sheila tidak pernah menyangka bahwa dia akan mendapat teman baru dalam waktu yang cukup singkat, semoga saja Sheila bisa betah berada di divisi ini dan juga dia sedikit bersyukur karena Brian tidak menempatkan di posisi yang dekat dengannya karena pasti Brian akan terus memantaunya.


šŸ„•šŸ„•šŸ„•


Sedangkan di sisi lain setelah lift tertutup Brian segera naik ke lantai ruangannya, setelah terbuka ia menuju ke ruangannya di ikuti oleh yoga.


"Yoga , jangan lupa pasang kamera pengawas di ruangan Sheila agar aku bisa terus memantaunya saat aku tidak bersamanya!" perintah Brian dan mendapat anggukan dari yoga.


"Siap tuan, tuan tenang saja semuanya sudah di atur dan kamera pengawas nya sudah tersambung dengan komputer nya tuan." sahut yoga.


"Bagus, kalau begitu kamu boleh keluar." ucap Brian dan yoga pun menurutinya keluar dari ruangan tersebut.


Saat yoga sudah keluar dari ruangan bos nya itu, sedangkan Brian pun menyalakan komputer dan melihat kamera pengawas yang merekam ruangan kerja sang istri.


Sebenarnya Brian ingin menjadikan Sheila sebagai sekertaris pribadinya agar dia lebih bisa mengawasinya 24 jam tetapi Sheila terus menolak dan malah marah kepada Brian sehingga Brian pun menempatkan di divisi pemasaran yang kebetulan juga membutuhkan karyawan.


"Cantik," ucap Brian saat melihat kamera pengawas dan menampakkan Sheila yang sedang bercengkrama dengan rekan kerja lainnya dengan senyum yang merekah, Brian senang karena Sheila langsung mendapatkan rekan kerja yang sepertinya baik kepadanya sehingga Brian tidak terlalu takut.


.


"Ya udah kita kerja dulu, kalau kamu butuh bantuan kamu ngomong aja ke aku ya Sheila," ucap jovanka dan mendapatkan anggukan dari Sheila.


"Iya, makasih ya." sahut Sheila.


Setelah Monica dan jovanka kembali ke mejanya masing masing, Sheila pun akhirnya mengerjakan tugas pertama nya di divisi pemasaran.


Sheila memang masih tahap belajar sehingga masih mengerjakan tugas-tugas yang tidak terlalu berat untuknya, tapi karena dukungan dan juga support dari rekan kerjanya yang lain Sheila sedikit demi sedikit sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya tersebut.


Siang harinya tiba dan waktu nya jam makan siang Sheila sudah membereskan beberapa berkas nya karena dia sudah di tunggu Monica dan jovanka untuk diajak makan siang bersama di kantin perusahaan, namun saat akan beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba ada pesan masuk dari hpnya dan Sheila segera membukanya dan menampakkan pesan dari sang suami.

__ADS_1


[Sayang, kamu udah makan siang?] begitulah pesan yang dikirim oleh Brian.


Memang Brian tidak bisa mengabari Sheila tadi setelah ia sampai ruangan karena ada meeting secara virtual dengan rekan bisnisnya di negara Z.


[Belum, ini aku mau ke kantin kantor.] balas Sheila.


[Kenapa gak keruangan aku aja sih,] sahut Brian karena sang istri malah memilih makan di kantin kantor.


[Aku udah di tunggu in sayang, aku pergi dulu ya!] setelah membalas chat tersebut Sheila pun sudah di panggil oleh Monica dan juga jovanka.


"Sheila, buruan!" pekik teman baru Sheila tersebut.


"Iya, bentar." balasnya dengan tergesa gesa menghampiri Monica dan jovanka.


"Maaf ya teman-teman," ucap Sheila saat dia sudah sampai di tempat mereka berdua dan mereka bertiga pun berjalan menuju ke kantin kantor untuk makan siang.


Sedangkan Brian yang terus melihat rekaman kamera pengawas pun di buat sedikit kesal karena sang istri malah mencuekinya dan memilih dengan teman kerjanya.


"Yoga, segera kamu ke ruangan ku!" perintah Brian dan beberapa detik setelah Brian menelepon yoga, yoga sudah berada di ruangan tersebut.


"Iya, ada apa tuan?" tanya yoga karena dia sebenarnya ingin segera makan siang karena memang sudah sangat lapar.


"Kamu mau ke mana?" tanya Brian yang sebenarnya tahu kalau yoga akan ke kantin kantor untuk makan siang.


"Makan siang, tuan." balas yoga yang masih belum tahu maksud dan tujuan bosnya tersebut bertanya padanya.


"Di mana?"


"Di kantin kantor seperti biasanya bos," shut yoga.

__ADS_1


"Oke, ayo jalan!" tita Brian dan juga sudah beranjak dari tempat duduknya sedangkan yoga yang mendengarkan ucapan Brian hanya bisa syok dan kaget atas ajakan bosnya itu pasalnya tuan Brian nya tidak pernah mau makan dengan karyawan lainnya di kantin kantor yang lebih memilih makan di ruangan nya sendiri atau makan di restoran berbintang yang sudah pasti bersih meski pun memang Brian juga mempekerjakan koki kelas atas di kantin kantornya dan sudah pasti enak dan juga higienis sih.


Bersambung..........


__ADS_2