
Siang harinya Brian sudah selesai dengan pekerjaan nya, dia pun segera pergi dari kantor dengan yoga yang mengemudikan mobilnya karena Brian merasakan tidak enak pada badannya seperti nya dia sedang demam padahal tadi pagi dia biasa biasa saja.
"Tuan, kita sudah sampai." sahut yoga membangunkan tuannya yang tertidur di dalam mobil karena tuan nya itu merasa badannya kurang enak an sehingga yoga menyuruhnya untuk istirahat sebentar tadi di mobil.
Brian bangun dan keluar dari mobil begitu saja tanpa membalas ucapan yoga, bagi yoga sikap tuannya itu sudah biasa sehingga dia sudah tidak heran lagi dengan sikap tuan nya itu.
Brian pun turun dan masuk ke dalam villa, saat masuk Brian mencoba untuk terlihat biasa saja karena tidak ingin sang istri mengetahui kalau dia sedang tidak enak badan, mungkin saja ini penyebab dari kurang terawatnya luka tembak Brian kemarin karena Brian memang kurang menjaga dan juga membiarkan luka tersebut terbuka begitu saja sehingga banyak kuman yang masuk ke dalam melalui cela luka tersebut.
Brian sampai di ruang tamu di mana di sana sudah ada keluarganya dan juga sang istri yang melihat kedatangan Brian mau tidak mau Brian harus menunjukkan wajah sumringah agar Sheila tidak tahu kalau Brian sedang tidak sehat.
"Sayang, kamu sudah balik?" tanya mami Salma.
"Iya, mi." jawab Brian kemudian dia pun duduk di samping sang istri yang kebetulan sedang kosong tak ada yang menduduki.
Saat Brian duduk dia melihat ke arah papi nya dan juga papa mertuanya seperti sedang menyuruhnya untuk memulai pembicaraan, Brian yang di tatapan pun paham dengan tatapan tersebut dan dia pun memilih untuk membicarakan hal serius ini lagi dari pada nanti sang istri malah mengetahui dari orang lain seperti dirinya akan lebih berat lagi nanti.
"Sayang," panggil Brian membuat Sheila yang awalnya melamun sambil melihat Brian pun tersadar kemudian fokus dengan sang suami.
"Iya," jawab Sheila.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," balas Brian membuat Sheila sudah sangat penasaran sekali.
"Ngomong apa?" pancing Sheila.
"Sebenarnya ada sesuatu hal lagi yang harus kamu tahu dari pekerjaan aku sebagai mafia," jeda Brian.
"Apa?"
__ADS_1
"Sebenarnya pekerjaan itu sudah turun temurun dari kakek kakek di atas," jeda Brian lagi mencoba untuk melihat raut wajah sang istri.
Sedangkan Sheila yang mendengarkan masih tidak paham dengan ucapan Brian sehingga dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa dengan ucapan sang suami tadi.
"Maksud ya?" tanya Sheila jujur sekali.
"Sebenarnya dunia mafia adalah dunia yang di turun temurun kan oleh keluarga Ardolph dari dulu maka dari itu aku juga seorang anggota mafia dan juga papi juga anggota mafia karena dia adalah papi ku," sahut Brian membuat wajah Sheila langsung berubah pucat.
"Maksud kamu papi Boni juga adalah anggota mafia!" sahut Sheila yang sudah mulai mengerti dengan ucapan sang suami.
Ucapan Sheila tadi langsung di angguki oleh Brian karena tebakan sang istri sangat lah akurat sekali dan benar membuat Brian tidak bisa menolak atau pun beralasan lagi.
"Iya, sayang." jawab Brian.
"Dan juga untuk papa Bastian dan juga Leon,"
"Jadi semua orang di dunia salah mafia!" sahut Sheila melihat ke arah semua orang dan di angguki oleh papi Boni dan papa Bastian.
Sheila Riska habis fikir ternyata dia di bohongi dalam sekali bahkan soal keluarganya pun Sheila masih di bohongi, entah apa kah lucu membohongi Sheila sehingga semuanya memilih untuk membohongi nya.
"Sayang, papa minta maaf ya. Kami tidak berniat untuk membohongi kamu sayang tapi itu terjadi begitu," sahut papa Bastian.
Sheila yang tiba-tiba merasa kepalanya pusing pun memilih untuk ke kamar saja karena jika memikirkan hal tersebut terus bisa bisa Sheila bisa mati mendadak karena terlalu terkejut dengan kejutan yang menurutnya sangat besar itu.
"Aku pusing, aku ke kamar dulu ya ma, mi, pa, Pi kak!" pamit Sheila kemudian pergi meninggalkan ruang tamu.
"Kalian tenang aja biar Brian yang coba bicara sama Sheila jadi lebih baik mama sama papa dan Leon tinggal di sini aja atau di rumah dekat markas dengan mami dan papi Boni karena siapa tahu Sheila nanti berubah pikiran," sahut Brian dan di angguki setuju oleh yang lainnya.
__ADS_1
Setelah itu Brian pun menyusul sang istri yang sudah masuk ke dalam kamar tadi terlebih dahulu, sedangkan keluarga yang lainnya memilih untuk pergi dari villa dan menuju ke rumah dekat markas untuk menunggu suasana hati Sheila enak lagi.
"Sayang," panggil Brian ke arah ranjang di mana Sheila berbaring miring di sana dengan air mata yang mengalir di sana.
"Sayang, jangan nangis ya. Mereka hanya tak tahu harus mengatakan nya dari mana sayang sama seperti aku yang tak tahu harus bagaimana mengatakan hal tersebut, tetapi asal kamu tahu mereka dan aku juga tidak ingin sebenarnya merahasiakan apapun sama kamu sayang tetapi karena keadaan sehingga kami terpaksa harus berbohong sayang," sahut Brian.
"Iya, aku tahu kok." jawab Sheila singkat Brian tahu istrinya itu pasti kecewa untuk ke dua kalinya tetapi tidak ada cara lain agar Sheila tidak tersakiti lagi nantinya nan menangis lagi karena hal tersebut membuat Brian sakit melihatnya.
Brian pun mendudukkan sang istri yang terus tertunduk tak mau mengangkat kepalanya, Brian dengan lembut mengangkat kepala sang istri agar Brian bisa melihat wajah cantik istrinya.
"Sayang, hei lihat aku. Aku ngelakuin ini agar kamu tidak kecewa lagi apa lagi harus mengetahui kabar tersebut dari orang lain, bukan kah lebih baik mengetahui dari orang terdekat kita dari pada saat kamu mengetahui informasi tentang siapa aku sebenarnya dari orang lain!" sahut Brian ada benarnya juga.
Sheila pun mulai lunak dan menganggukkan kepalanya mengerti bagaimana pun benar yang di katakan oleh sang suami lebih baik mengetahui hal tersebut dari orang nya langsung dari pada apa yang di dengar Sheila tempo hari di mana tentang identitas Brian yang sebenernya terungkap.
Brian pun merasa senang dan bangga Dnegan sikap dewasa sang istri, setelah itu dia pun memeluk erat sang istri menyalurkan kasih sayangnya yang lama tidak pernah ia lakukan kepada sang istri bahkan hanya untuk berpelukan saja susah sekali, merasa timing yang tepat Brian pun memberikan kecupan singkat di bibir sang istri, sedangkan Sheila yang menerima nya sedikit terkejut karena perlakuan sang suami karena setelah Sheila hamil mereka jarang sekali untuk bersentuhan bahkan untuk berciuman saja.
Kecupan singkat tersebut pun berubah menjadi ciuman yang lama kelamaan menjadi ciuman yang menuntut di mana rasanya Brian sudah lama tak di puaskan oleh sang istri karena dia ingin menjaga kandungan Sheila agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan.
Setelah cukup terengah engah Brian pun menempelkan keningnya ke kening sang istri sambil terus menatap Sheila penuh puja dan juga cinta.
"Aku ingin bertemu dengan baby El sekarang apa kah tidak apa-apa?" tanya Brian terlihat me*um, sedangkan Sheila yang mendengar hal itu pun hanya bisa tersenyum malu dengan ucapan sang suami, dengan malu malu dia pun menganggukkan kepalanya setuju dengan permintaan sang suami.
Brian pun melupakan sakitnya yang padahal saat pulang dari kantor tadi dia masih merasakan sakit tersebut tetapi sekarang malah dia sudah tidak merasakan nya, aneh memang tapi bagaimana semua sudah di selimuti hawa hawa panas jadi lebih baik di tuntaskan saja bukan.
.
.
__ADS_1
Bersambung..........