
"Cerita apa memangnya?" tanya Sheila dengan sedikit ketar ketir.
"Ya tentang kehidupan eli, asal eli tahu ya banyak loh karyawan laki-laki yang pingin deketin elo tapi eli nya aja yang kurang peka," timpa yang lainya membuat Sheila sedikit tersenyum masam.
Sedangkan Laura yang mendengar hal itu pun sudah pasti harus memberitahukan hal itu kepada tuan mudanya tetapi langsung di tata sinis oleh Sheila sehingga membuat Laura mengurungkan niatnya untuk melaporkan hal tersebut.
"Eh bentar deh, Sheil, itu cincin apaan di jari manis elo Sheila bagus banget." sahut karyawan lainnya sedangkan Monica dan jovanka juga mulai memperhatikan jari manis Sheila yang ada cincin berliannya di sana. Sedangkan Sheila merasa syok karena ia lupa melepaskan cincin tersebut.
"Ini cincin yang Sheila beli bukan dari pacarnya apa lagi suaminya tahu," balas Monica yang Thai akan cincin tersebut.
"Oh." hanya itu jawaban yang di berikan oleh yang lainnya saat mendengar penjelasan dari Monica.
Untung saja tidak terbongkar semuanya, bisa gawat kalau sampai semuanya tahu yang sebenarnya bahwa Sheila sudah menikah. Kemudian mereka pun melanjutkan bercandanya hingga sore tiba dan membubarkan diri.
Sampai di kamarnya Sheila melihat sang suami yang sepertinya sedang bersiap siap untuk pergi keluar karena dari pakaiannya sangat terlihat rapi sekali.
"Mau ke mana sayang?" tanya Sheila.
"Udah balik?" tanyanya balik dan mendapat anggukan dari Sheila.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku ada keperluan sebentar dengan yoga jadi harus keluar sebentar, kamu nikmatin aja ya acaranya." sahut Brian kemudian meninggalkan Sheila begitu saja.
Sheila yang di tinggal pun merasa sangat kesal karena Brian selalu saja seperti menutupi sesuatu hal kepadanya pahala Sheila sangat ingin tahu beban apa saja yang Brian rasakan tetapi tidak ada cela untuk Sheila mengetahui hal lainnya dari diri Brian.
Malam harinya Sheila dan yang lainnya sudah berada di garden hotel di mana akan ada acara barbeque an rame rame, semua daging, sayuran dan beberapa bahan lainnya sudah tersaji di sana membuat siapa pun pasti akan sangat senang. Acara ini sangat mengutamakan kepentingan anggota dengan kekeluargaan yang menyatu supaya nantinya saat balik ke kantor lagi kerja tim bisa semakin solid lagi.
"Sheila, elo kenapa sih?" tanya jovanka, pasalnya temannya itu murung dari tadi setelah ketemu mereka di garden padahal tadi saat sedang bersama di kamarnya biasa saja.
__ADS_1
"Eh, gue gak papa kok." sahut Sheila.
"Mau minum?" tawar jovanka lagi dan mendapat gelengan kepala dari Sheila.
Sheila masih merasa curiga dengan sang suami, padahal sekarang bukannya kantor tidak sedang sibuk kecuali pembangunan resort di Bali tetapi ada urusan apa Brian malam malam seperti ini malah keluar hotel sendirian, apa lagi ini bukan lah negaranya.
"Nona muda, ada apa?" tanya Laura khawatir saat melihat nona mudanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Enggak kok, oh ya Laura mau ke kamar aja duluan ya." ucap Sheila kemudian bangkit dari kursinya.
"Ada apa nona?" tanyanya lagi.
"Aku cuma ngerasa capek aja kok," balas Sheila kemudian pamit ke teman temannya yang lain.
"Gaes gue ke kamar dulu ya, gue capek." pamit Sheila kemudian meninggalkan rekan rekannya yang lain, padahal acara barbeque nya saja belum mulai tapi Sheila sudah memilih untuk ke kamar saja.
"Tapi kan nona!"
"Udah kamu ke sana aja, kamu nikmatin juga liburannya jangan terus terusan mengawal aku," sahut Sheila kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Laura pun memilih untuk menuruti perintah nona mudanya dengan kembali bergabung dengan karyawan lainnya di taman dan memakan makanan yang tersedia.
Sedangkan Sheila yang berada di kamar sendirian pun mencoba untuk menghubungi Brian lagi, entah mengapa hatinya sangat penasaran dengan apa yang di lakukan oleh Brian sekarang ini. Pikiran macam macam pun menghantuinya karena kurang terbukanya Brian kepadanya bahkan kata kata manis dari mulut Brian saja jarang sekali terucap membuat Sheila kembali ragu apakah Brian memang mencintainya atau tidak.
Dia mengganti pakaiannya dengan baju tidurnya atau lingerie yang sangat terbuka, karena setelah itu memikirkan hal yang tidak tidak Sheila pun berjalan ke arah mini bar di mana di sana banyak jenis minuman beralkohol yang cocok untuk menghilangkan penat Sheila karena pikiran buruknya.
"Sheila, Brian orangnya tidak seperti itu. Dia bilang ada urusan di luar berarti dia sedang kerja, fokus Sheila!" ucap Sheila dengan meneguk wine tersebut hingga habis. Sheila menghabiskan satu botol wine padahal kadar alkohol nya sangat tinggi dan Sheila termasuk orang yang sangat payah dalam minum sehingga baru satu botol saja dia sudah sangat mabuk dengan berjalan menuju ke sofa dengan susah payah dan ambruk di sana.
Sedangkan Brian dia melakukan transaksi nya dengan sukses, di sana juga ada Aldo yang memang Brian tugaskan untuk mengawal jalannya transaksi mafianya dan juga ia perintah untuk mencari keberadaan seseorang yang telah menculik anak dari uncle Bastian.
__ADS_1
"Aldo, besok pagi siapkan semuanya!" perintah Brian dan di angguki oleh Aldo.
"Baik, bos." jawabnya.
"Kalau begitu saya balik dulu." ucapnya kemudian menuju Aldo dan anak buah yang lainnya.
Sampai di hotel Brian segera menuju ke kamarnya dan yoga juga menuju ke kamarnya tanpa ikut dengan Brian karena bakal kena hantam nantinya yoga mengganggu bosnya dan juga nona muda.
Sampai di kamar Brian mencari keberadaan sang istri yang ternyata berada di sofa dengan botol wine di tangannya, Sheila sudah sangat mabuk tetapi dia berusaha untuk tetap berdiri saat melihat Brian masuk ke dalam kamar.
"Sayang, kamu dari mana?" tanya Sheila dengan ngelanturnya dan mendekat ke arah Brian.
"Kamu mabuk?" tanya saat mencium bau alkohol dari mulutnya.
"Kenapa gak boleh! Kamu dari mana aja? kenapa aku gak pernah tahu kehidupanmu sebenarnya Brian!" pekiknya tajam sambil melihat ke arah sang suami.
Sedangkan Brian yang melihat istrinya mabuk pun merasa sedikit tak tega dengan sempoyongan Sheila terus saja mendekat ke arah nya.
"Aku bahkan tidak tahu apa kah kamu memang sayang sama aku atau tidak, bahkan kamu keluar pun aku tidak tahu ada apa." ucap Sheila dengan sedikit kurang stabil dan akan jatuh untuk saja Brian menangkap tubuh sang istri dna memeluknya.
Awalnya Sheila memberontak ingin di lepaskan tetapi entah mengapa rasanya nyaman hingga Sheila menumpahkan semua rasa gelisah kepada Brian, ia menangis sejadi-jadinya memikirkan beberapa hal yang ia pikirkan tadi sebelum Brian datang.
Dia mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam, melepaskan semua keluh kesahnya dan mulai merasakan lega yang teramat meski pun entah besok pagi Sheila akan ingat atau tidak.
"Maafin aku ya," ucap Brian kemudian Sheila langsung tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol, Brian pun mengangkat tubuh sang istri menuju ke ranjang dan membaringkannya.
Kemudian Brian pun bersih bersih sebentar setelah itu mengikuti sang istri untuk tidur, Brian memeluk erat tubuh sang istri menyalurkan rasa hangat nya, Brian tidak pernah tahu kalau sebenarnya sang istri memikirkan hal seperti itu.
Bersambung..........
__ADS_1