
"Pak Brian itu ya emang cakep banget seh, jadi penasaran siapa yang jadi istrinya nanti!" ucap Monica sambil menikmati ciptaan tuhan yang sangat sempurna itu.
"Udah gak usah kepo, mending lanjut sarapan." potong jovanka membuat Sheila sedikit lega setidaknya mereka tidak membahas soal pasangan bos nya itu di sini karena pasti Sheila akan sangat canggung sekali bukan.
"Nona, apakah hal ini mengganggu nona?" tanya Laura dengan berbisik takut jika yang lainnya mendengarkannya.
"Enggak kok, udah mending kita lanjut sarapan aja." balas Sheila dan di angguki oleh Laura.
Sedangkan Brian setelah masuk ke dalam restaurant mencari keberadaan sang istri yang ternyata sedang asyik breakfast dengan rekan rekan kerjanya yang lain membuat Brian harus breakfast sendirian pagi ini atau lebih tepatnya di temani oleh yoga saja.
Setelah selesai dengan breakfast semua karyawan pun di kasih waktu luang untuk mengelilingi hotel atau pun bermain di dalam hotel dengan fasilitas yang sudah di sediakan oleh hotel.
"Yuk kita ganti baju dulu, beneran kamu gak ikut Sheila?" tanya Monica lagi karena Sheila memutuskan tidak ikut berenang.
"Gak deh, aku lihat kalian aja." jawab Sheila.
"Ya udah kalau gitu kita ganti baju dulu ya," sahut Jovanka.
Kemudian Sheila pun memilih menunggu di area tepi kolam renang dengan Laura yang berada di sampingnya mencari tempat yang sekiranya kosong.
"Nona, bagiamana kalau kita duduk di sana saja," ujar Laura saat melihat kursi yang kosong dan kebetulan di sana dekat dengan Brian yang juga sedang duduk di sana dengan yoga di belakangnya.
"Aduh tapi di sana ada Brian Laura, kamu tahu sendiri semua orang sekarang sedang terpesona dengan suami ku, bagaimana kalau mereka curiga karena aku duduk di sampingnya!" gumam Sheila.
"Tapi nona, tuan muda sendiri yang meminta saya untuk membawa nona duduk di sana." bisik luar dengan sedikit takut karena bosnya itu terus saja melihatnya dari jauh.
"Aduhh, ya udah ayok!" jawab Sheila dengan sedikit kesal karena Brian terus saja melihatnya meski pun dia memakai kaca mata hitam tetapi Sheila bisa merasakan tatapan tajam di balik kaca mata tersebut.
Sheila pun berjalan mendekati kursi di mana Brian berada, saat dia sampai Sheila pun meminta izin untuk duduk di sana karena banyak karyawan yang terus menerus melihatnya.
"Maaf, pak. saya boleh duduk di sini karena semua kursi di sana sudah penuh," sahut Sheila sedikit merasa agar karyawan lainnya mendengar dan tidak menimbulkan salah paham.
"Iya," sahut singkat Brian.
Setelah di perbolehkan Sheila segera duduk dan di susul oleh Laura yang duduk di belakangnya sejajar dengan yoga.
"Mau renang?" tanya Brian.
Sebenarnya Sheila sangat takut berenang makanya tadi Laura langsung memotong ucapan Sheila tadi saat di tawari untuk berenang karena takut jika nona mudanya akan tenggelam, sedangkan Sheila sendiri tadi ingin menolak karena teman temannya memintanya tetapi untungnya saja Laura seger memotongnya dan Brian segera datang sehingga Monica dan jovanka tidak melanjutkan membujuk Sheila untuk ikut berenang.
"Enggak!" sahutnya lantang membuat beberapa karyawan menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Enggak dong Laura kamu apaan sih!" ucap Sheila melihat ke arah Laura, untung saja Laura cepat tanggap sehingga dia segera membalas ucapan nona mudanya itu membuat beberapa karyawan mulai mengerti, mereka pikir bahwa Sheila sedang berteriak ke arah Presdir nya itu.
"Kenapa?" tanya Brian lagi.
"A... aku gak bisa berenang," gumam Sheila pelan tetapi masih di dengar oleh Brian.
"Mau aku ajarin," tawarnya membuat Sheila melihat ke arah Brian.
"Di sini? Enggak mau nanti semua karyawan pasti ngelihat aku bingung," ucap Sheila menolak ajakan sang suami.
"Ya enggak di sini dong tapi di kamar." sahut Brian membuat Sheila bingung.
"Kok di kamar?" tanyanya.
"Pasti kamu belum lihat area outdoor kamar ya makanya tanya," ucap Brian yang memang benar Sheila belum melihat sepenuhnya karena terlalu capek kemarin.
"Hehe, iya kok tahu aja sih." balas Sheila sedikit cengengesan membuat brian menjadi sangat gemas melihat sang istri.
"Ya udah sekarang ke kamar biar aku ajarin," ajak Brian akan beranjak dari duduknya.
"Eh sayang," potong Sheila membuat Brian mengurungkan niatnya untuk berdiri.
"Ada apa?"
"Oke, kalau gitu aku ke kamar dulu ada sesuatu yang harus aku kerjakan." sahut Brian dan di angguki oleh Sheila.
Kemudian Brian pun beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh yoga di belakangnya, mereka berdua menuju ke arah lift dan menuju ke kamar Brian di mana di sana ada ruang tamunya juga.
"Bagaimana?" tanya Brian.
"Semuanya sedang di persiapkan tuan rencananya nanti malam nanti akan mulai melakukan transaksi," ucap yoga memberikan informasi.
"Baik, kemudian untuk kasus uncle Bastian bagaimana?" tanya Brian lagi.
"Untuk kasus tuan Bastian Aldo sudah mencari tahu soal orang yang telah menculik anak dari tuan Bastian dan katanya setelah kejadian tersebut dia kabur ke Jepang bos dan Aldo sedang mencarinya, dua atau tiga hari lagi pasti bisa di temukan.' sahut yoga lagi.
"Bagus, kalau begitu teruskan dan kalau bisa segera temukan agar aku bisa segera menemukan anak dari uncle Bastian." perintah Brian.
"Baik, bos."
Brian memang memutuskan untuk ikut ke Jepang karena Sheila ikut dan juga karena dia ada transaksi dengan salah satu pelanggan setianya, dan juga untuk mencari tahu jejak orang yang telah menculik anak dari uncle Bastian yang katanya setelah kejadian kabur ke Jepang, bukan kah ini termasuk kesempatan yang bagus untuk Brian mencari orang tersebut.
__ADS_1
Brian memeng memiliki maksud lain karena dia ingin segera menemukan akan tersebut karena Brian tahu bagiamana tersiksanya uncle Bastian setelah papinya menceritakan semua kejadian tersebut sampai uncle Bastian dan tante Daniar harus bolak balik ke psikolog karena terus saja memikirkan putri nya yang hilang beberapa tahun lalu.
Drreettt drreett drreettt
Tiba tiba ponsel yoga berdering membuat yoga izin untuk mengangkat telepon tersebut.
"Aldo bos," sahut yoga.
"Angkat!" perintah Brian dan di angguki oleh yoga.
[Halo, ada apa?]
[Gue udah Nemu di mana letak orang yang telah menculik putri tuan Bastian, dan tadi bos gue telepon kok gak nyambung sih,] sahut Aldo di sebrang sana.
[Oke, gue akan segera kasih kabar ke bos.]
Setelah itu yoga pun menutup teleponnya dan melihat ke arah Brian yang melihat yoga balik.
"Ada apa?" tanya Brian to the point.
"Aldo tadi mengabari kalau dia sudah berhasil menemukan keberadaan penculiknya, dan tadi dia juga sudah menelepon bos tetapi tidak di angkat." ucap yoga membuat Brian melihat ke ponselnya yang teryata tertinggal di ranjang karena ia lupa untuk membawanya tadi.
"Oh, ini. saya lupa membawanya tadi, bagus lah kalau begitu besok kita ke sana." perintah Brian dan mendapat anggukan dari yoga.
Sedangkan Sheila sedang asyik melihat Monica dan juga jovanka berenang dan ada beberapa karyawan lainnya juga yang sedang berenang sambil tertawa tawa senang, Sheila yang hanya melihat pun ikut senang karena melihat yang lainya juga senang, meski pun sebenarnya dia juga ingin sekali bisa berenang.
"Laura, saya harus." ucap Sheila.
"Baik, nona tunggu di sini! Saya akan ambilkan minum terlebih dahulu," ucap Laura dan di angguki oleh Sheila.
Sebenarnya Sheila ingin ambil sendiri tetapi dia tahu pasti nanti nantinya juga Laura yang ngotot mengambilkan nya jadi lebih baik menyuruhnya saja bukan.
Tak lama Laura datang dengan minuman di tangannya membuat Sheila berbinar karena cuaca yang sangat panas membuat Sheila sangat haus sekali dan rasanya minum es memang sangat enak sih dan Laura memang pengertian dia membawakan air dingin dan juga ada es krim kesukaan Sheila.
"Ini nona," ucap Laura memberikan beberapa minuman.
"Terima kasih, Laura. ini ayo kita minum," sahut Sheila dengan memberikan sebagian minumannya kepada Laura.
"Terima kasih." balas Laura dengan sopan nya.
"Wah seger banget!" pekik Sheila saat baru saja menyuapi es krim ke mulutnya.
__ADS_1
Sheila pun makan es krim dengan lahapnya dan menghabiskan beberapa bungkus, kalau untung es krim memang dia bisa menghabiskan banyak karena memang Sheila sangat suka sekali dengan es krim.
Bersambung..........