Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Kabar Baik


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita berdua kerja sama, elo bantu gue membalas dendam dan gue akan bantu membalas elo balas dendam." tawar Maria lagi membuat Tiffany memicingkan mata nya mendengar tawaran dari Maria.


Tiffany masih saja terus memikirkan ucapan Maria tadi, sekarang dia sudah berada di hotel tempat ia menginap malam ini karena dia masih lah memiliki tabungan sedikit tetapi kalau setiap hari harus pesen hotel bisa bangkrut dia.


"Apa gue terima aja ya ajakan Maria, gue udah enek banget sama tuh anak." sahut Tiffany memutuskan keputusan nya bekerja sama dengan Maria.


Dengan berani Tiffany pun akhirnya menelepon Maria mengajaknya bertemu untuk membicarakan penawaran yang di tawarkan oleh Maria.


[Halo, ini siapa?] tanya Maria dari sebrang.


[Halo, ini gue Tiffany.] sahut Tiffany.


[Oh, hai Tiffany bagaimana dengan penawaran yang gue kasih?] tanya Maria tanpa ba-bi-bu.


[Besok gue ajak elo ketemuan, elo bisa kan?]


[Oke, di mana?] tanya Maria.


[Nanti gue kirim alamatnya.] sahut Tiffany.


[Oke, gue berharap semoga saja ada kabar baik,] sahut Maria kemudian menutup teleponnya.


Sedangkan Maria yang setelah mendapat telepon dari Tiffany pun sedikit senang karena rencananya berhasil, dia ingin segera menghancurkan Sheila dengan berbagai cara bahkan nyawanya.


"Ada apa kamu Maria? tanya Ketty.


"Ma, aku akan menghancurkan Sheila mulai sekarang!" sahut Maria dengan penuh penekanan.


"Bagiamana bisa? kamu lupa sama yang di lakukan Sheila tempo hari," sahut Ketty.


"Maka dari itu ma, aku sudah mempunyai rekan kerja yang bagus yang bisa membantu aku membalaskan dendam ku ke pada Sheila!" sahutnya.


"Oke, selama kamu bisa ngehancurin Sheila maka akan mama dukung," shut Ketty.


"Oh ya jangan lupa besok kita mau ke Jepang loh ya sama temen-temen sosialita mama," shut Ketty.


"Siap, ma. aku juga udah packing baju baju branded aku," sahut maria dengan antusiasnya.

__ADS_1


Sedangkan Sheila pada pagi harinya sudah bangun dan melihat Brian masih saja tertidur dengan lelapnya sehingga dia pun membiarkan sang suami tidur lebih lama lagi karena Brian kemarin tidur larut malam. Sheila pun memutuskan untuk ke dapur membantu mami salam dan bi Nana, awalnya dia di larang tetapi Sheila sudah merasa sangat fit dan tidak sakit lagi sehingga mami Salma pun memperbolehkannya untuk ikut membantu pekerjaan yang tidak terlalu berat saja.


Setalah selesai dengan acara bantu membantu Sheila naik ke atas kemudian bersiap siap untuk bekerja, setelah siap dia juga mempersiapkan keperluan sang suami untuk bekerja juga.


"Sayang, bangun." sahut Sheila membangunkan sang suami.


"eeenggg, ada apa sih yang?" Brian malah kembali bertanya.


"Ih, buruan kenapa sih. Ini udah pagi, nanti kamu malah telat loh datang ke kantornya," sahut Sheila membuat Brian membuka matanya.


"Iya, aku bangun. Tapi ininya dulu dong," ucap Brian sambil menunjuk pipinya untuk di kecup oleh sang suami.


"Ih, modus aja sih jadi orang." sahut Sheila tetapi tetap saja melakukan apa yang di mint Soleh sang suami.


CUP


Kecupan singkat di pipi brian membuatnya lebih bersemangat lagi dalam menjalan kan hidup.


"Dasar cowok mesum!" sahut Sheila.


"Ya gak papa, mesumnya kan juga sama istri sendiri," sahut Brian dengan merengkuh tubuh Sheila hingga ia duduk di pangkuan sang suami.


"Mau ngeluarin stamina," sahutnya kemudian sudah bisa di bayangkan bukan apa yang terjadi, padahal Sheila sudah rapi dengan pakaiannya malah Brian mengacak-acak dan juga malah merobek pakaian Sheila sehingga setelah selesai dengan keganasannya Sheila harus kembali ganti pakaian yang baru.


Setelah bersiap-siap selesai mereka pun ke meja makan di mana sudah ada mami Salma dan papi Boni di sana.


"Lama banget sih!" sewot mami Salma.


"Ma.. maaf, mi." ucap Sheila merasa bersalah karena membuat mami Salma dan papi Boni menunggu.


"Enggak usah minta maaf sayang, mami itu lagi marahin Brian." sahut mami Salma tidka bermaksud memarahi sang menantu kesayangan.


"Apaan coba mami ini," sahut brian tak terima di marahin oleh maminya.


"Udah yuk sarapan." potong papi Boni jengah melihat perdebatan antara istri dan anaknya itu, mereka pun sarapan dengan tenang dan damai seperti biasanya, sungguh keluarga yang sangat bahagian.


Setelah selesai sarapan Sheila pun berangkat kerja seperti biasa dengan Laura dan pak Thomas sedangkan Brian dengan yoga yang kebetulan menjemputnya, Yoga memang sengaja menjemput bosnya itu karena sebelum ke kantor mereka akan ke markas terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bagiamana dengan kasus uncle Bastian?" tanya Brian.


Kalian masih ingat bukan dengan kasus uncle Bastian yang memberikan misi khusus untuk klan elang, itu adalah misi mencari putrinya yang telah hilang beberapa tahun silam yang membuat uncle Bastian dan tante Daniar sedih bukan main di tinggal anak bungsunya.


"Dari yang kami cari ternyata anak dari uncle Bastian di culik dan di kirim oleh seseorang untuk di perjual belikan bos," sahut yoga.


"Maksudmu mereka memperdagang kan orang?" tanya Brian yang sebenernya dari ucapan yoga sudah pasti bukan.


"Iya, bos."


"Siapa yang di curigai?"


"Dari yang kami curigai sepertinya Jeffry berperan dalam penculikan tersebut bos, namun kami belum bisa memastikan!" sahut yoga.


"Okey, segera kasih cari tahu," sahutnya dan di angguki oleh yoga.


Sedikit mengulas tentang uncle Bastian ya, dia adalah salah satu sahabat dari papi Boni dan juga termasuk mafia terkenal di Eropa, karena terkenal nya dulu saat sang istri Tante Daniar melahirkan anak ke duanya berjenis kelamin wanita, ada orang yang menculiknya membuat uncle Bastian dan tante Daniar merasa sangat frustasi hingga mencari kemana mana tidak ketemu, mereka juga memiliki anak laki-laki bernama Leon yang juga teman Brian di kampus dulu dan sampai sekarang mereka masih kontak an satu sama lain, karena mereka tahu satu sama lain kalau mereka adalah mafia besar di negara mereka masing masing.


Sampai di markas tiba-tiba telepon Brian berdering menandakan ada suara pesan masuk.


[Halo.]


[Halo Brian.]


[Uncle Bastian!]


[Iya, ini sayang. Bagiamana dengan misi yang saya kasih, apakah sudah menemukan titik terangnya?]


[Sampai saat ini sedang kita usahakan uncle, tapi uncle jangan bersedih hati dulu karena sepertinya kami tahu siapa dalang di balik kasus tersebut, tapi kami akan memastikannya lagi dan segera menemukan anak uncle!]


[Oke, uncle tunggu Brian kabar baiknya.]


Uncle Bastian memang sudah sangat frustasi karena mencari anak perempuannya hingga sang istri sering sekali mimpi buruk dan mimpi sedih karena memikirkan kondisi sang anak sekarang ini.


"Bagaimana pa?" tanya Tante Daniar setelah uncle Bastian menutup teleponnya.


"Sepertinya akan ada kabar baik ma!" sahutnya antusias.

__ADS_1


"Beneran pa?" tanya Tante Daniar.


"Iya, ma. tadi Brian bilang kalau mereka sudah menemukan siapa pelakunya dan tak lama lagi anak kita akan ketemu," sahut uncle Bastian dengan senangnya.


__ADS_2