
Tak beberapa lama mobil Brian dan juga papi Boni masuk ke dalam mansion tersebut dan melihat Sheila yang akan masuk ke dalam rumah, namun ia urungkan saat melihat mobil masuk tadi. Saat mobil berhenti Brian langsung berjalan menghampiri Sheila yang berhenti di depan pintu.
"Kenapa keluar?" tanya Brian saat sudah berada di depan Sheila, dia khawatir karena kondisi Sheila tidak sepenuhnya baik. Sedangkan papi Boni hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang sangat overprotektif terhadap istrinya, padahal di luar sana dia di nilai dengan sempurna mulai dari tampan, berkarisma, sukses, pengusaha muda dan banyak lainnya apa lagi di dunia gelap dia di pandang sebagai musuh paling di takuti dan tak terkawal tetapi jika bersangkutan dengan wanita anaknya akan menjadi sangat bucin sekali.
"Kalau mau mesra-mesraan jangan di sini, sana ke kamar!" sahut papi Boni melewati Sheila dan Brian.
Sheila yang mendapat godaan tersebut pun hanya dapat menutup wajahnya malu di dalam dekapan sang suami di dada bidang Brian. sedangkan Brian sangat tampak cuek dan tidak terlalu di pikirkan.
"Ya udah, yuk masuk!" ajak Brian.
Mereka berdua pun masuk mengikuti papi Boni yang sudah masuk terlebih dahulu. Sampai di ruang keluarga di sana sudah ada mami Salma dan papi Boni.
"Udah pulang bri?" tanya mami Salma.
"Iya, mi."
"Oh ya katanya temen kamu mau ke sini sayang, kok gak ada?" tanya Brian.
"Udah pulang baru aja, aku keluar tadi kan juga nganter Maya." sahutnya dan di angguki oleh Brian.
Malam harinya seperti biasa Sheila sudah berbaring di atas ranjang tetapi Brian malah berada di ruang kerjanya membuat Sheila meras sangat bete, istri cantik kayak gini masa di kacangin sih.
"Sayang," panggil Sheila yang masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
"Ada apa hm?" tanyanya.
"Ini udah malam mending tidur aja deh," sahut Sheila dengan kesal, sedangkan Brian yang mendengarkan ucapan sang istri yang sepertinya sedang kesal pun hanya bisa tersenyum di buatnya.
"Iya, sebentar ya." ucapnya.
__ADS_1
"Ih kamu mah emang gitu," sahut Sheila kemudian pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja sang suami, sedangkan Brian yang melihat raut wajah sang istri hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian menutup laptopnya dan beranjak menuju ke kamarnya di mana di sana Sheila sudah berbaring memunggungi Brian.
Dengan hati-hati Brian pun berbaring juga di samping Sheila dan memeluk erat tubuh wanitanya itu dari belakang, Sheila yang mendapat perlakuan seperti itu pun juga tersenyum tipis merasa sangat bahagia dengan perlakuan kecil sang suami.
Pagi harinya Brian berangkat sangat pagi sekali sedangkan Sheila masih dalam mode bangun tidur.
"Sayang, aku berangkat dulu ya." pamit Brian kepada Sheila yang masih di atas ranjang dengan mata sedikit terbuka.
"Kok udah berangkat kasih?" tanya Sheila dengan bingungnya.
"Iya, aku ada kerjaan sebentar di luar. aku pergi dulu ya, much!" sahut Brian sambil mengecup pipi sang istri setelah itu menghilang dari balik pintu.
Sheila pun memilih untuk bersiap-siap juga karena hari ini adalah hari nya dia kembali bekerja, awalnya Brian melarang keras untuk Sheila bekerja lagi biarkan istirahat beberapa hari lagi namun Sheila memaksa untuk kembali bekerja dan juga mami Salma yang juga membantu Sheila membujuk Brian sehingga Brian pun mengizinkannya dengan catatan tidak boleh terlalu lelah bekerja dan tidak boleh telat makan, awalnya makan siang ahrus dengan Brian tetapi Sheila menolak karena takut karyawan lainnya tahu hubungannya dengan Presdir mereka jadi Sheila menyarankan dia akan makan dengan Monica dan jovanka dengan membawa bekal dari rumah dan di setujui oleh Brian, sehingga mulai hari ini setiap hari Sheila akan membawa bekal dari rumah.
"Sayang sudah siap?" tanya mami Salma saat melihat Sheila sudah rapi dengan balutan pakaian kantornya dengan sedikit sentuhan make up tipis membuat wajahnya semakin cantik saja.
"Sudah mi, kalau gitu Sheila berangkat dulunya." balas Sheila dengan membawa bekalnya dan di ikuti oleh Laura yang sudah berada di sana.
"Sheila!" pekik seseorang dari belakangnya.
"Monica," sahut Sheila.
"Elo udah kerja?" tanyanya dan di angguki oleh Sheila.
"Iya, aku gak betah terus-terusan di rumah," sahut Sheila karena memang benar bukan dia sudah sangat bosan sekali.
"Eh, ada yang salah ya dengan aku? kok semuanya pada ngelihatin nya kayak gitu sih," sahut Sheila tak mengerti mengapa dia sangat di lihat sepeti itu.
"Sheila!" panggil seseorang siapa lagi kalau bukan jovanka yang juga baru dateng.
__ADS_1
"Hai, jov."
"Elo udah kerja?" tanyanya seperti Monica tadi dan di angguki oleh Sheila.
"Eh aku ada yang aneh ya semuanya pada ngelihat nya kayak gitu?" tanya Sheila lagi.
Mereka berdua pun menelisik dari atas hingga bawah dari Sheila namun tak menemukan kecacatan hingga Monica melihat bekal yang di bawa Sheila membuat dia mengerti mengapa tatapan semua orang seperti itu, Sheila memang menggunakan berbagai barang mahal seperti pakaian, sepatu hingga tas, tetapi Sheila nya saja yang tidak tahu. Sedangkan hari ini dia membawa lunch box di mana harganya sangat fantastis kali, Monica yang melihat pun di buat tercengang dan menjadi penasaran sebenarnya Sheila ini dari keluarga seperti apa sih.
"Sheila, lihat tuh lunch box kamu!" sahut Monica membuat Sheila dan jovanka melihat ke arah lunch box yang di bawa oleh Sheila.
"Ada apa emangnya sama lunch box aku?" tanya Sheila yang masih saja tidak tahu.
"Astaga, Sheila itu kan lunch box mahal dan limited hanya orang orang yang mampu aja yang bisa beli." sahut Monica dan di angguki oleh jovanka, sedangkan Sheila yang tidak mengerti akan hal itu pun di buat bingung berarti dia salah mengambil lunch box nya dong.
"Udah mending kita ke ruangan aja, keburu di lihat banyak orang." ajak jovanka.
Mereka sampai di ruangan dan sudah ada beberapa karyawan yang sudah masuk di sana. Melihat Sheila masuk membuat karyawan lain menanyakan keadaan Sheila.
"Sheil, gimana keadaan kamu?" tanya karyawan lainnya.
"Baik kok, aku udah sembuh juga." sahut nya.
"Bagus kalau gitu, untuk saja Tiffany sudah tidak ada di sini kalau ada mungkin sudah aku bejek bejek tuh anak!" ucap salah satu karyawan wanita di sana.
"Maksudnya?" tanya Sheila yang tidak mengerti akan perbicangan mereka.
"Kamu gak tahu ya kalau setelah dia ngeracunin kamu perusahaan langsung memberhentikan dia, bahkan keluarganya juga sudah meninggal semuanya dan rumah yang ia tempat sudah di sita, kasihan sih tapi emang dia pantas mendapatkan itu!" ucap karyawan lainnya juga seperti itu.
Mendengar hal itu membuat Sheila syok tak percaya kalau Tiffany akan sampai di pecat sepeti itu, apakah Brian yang langsung memecatnya seperti itu ya.
__ADS_1
Bersambung..........