Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Bentakan


__ADS_3

"Apa nya yang bukan begitu pa? Apa kalian juga sudah tahu akan hal tersebut kalau Brian adalah seorang ketua mafia kejam di negara ini?!" tanya Sheila lagi dengan meledak ledak tak menyangka bahwa orang tuanya sudah tahu akan identitas asli sang suami.


.


.


"Kenapa kalian semuanya diam, papa, mama sama kak Leon sudah tahu identitas asli Brian?!" tanya Sheila lagi meminta jawaban dari keluarga nya.


"Bukan begitu sayang," ucap mama Daniar mencoba menenangkan sang anak.


"Kalau bukan begitu terus bagaimana ma?"


"Brian cuma butuh waktu aja kayak papa mu ucapkan tadi," sahut mama Daniar.


"Berarti kalian semuanya tau dan jangan bilang kalau mami Salma dan papi Boni juga tahu akan kebenaran ini!" ucap Sheila menerka-nerka dan sialnya mama Daniar malah menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan sang anak.


"Jadi di sini hanya aku saja yang di bohongi!" ucap Sheila tak terima, masalah sebesar ini, bagaimana bisa Sheila menikah dengan seorang mafia kejam seperti itu, membayangkannya saja Sheila tidak bisa.


"Sayang, kamu yang tenang ya." ucap mama Daniar mencoba menenangkan sang anak.


"Lebih baik mama, papa sama kak Leon keluar saja dulu, aku mau istirahat." sahut Sheila kemudian membaringkan tubuhnya dan membelakangi mereka semuanya.


Dengan berat hati mereka bertiga pun keluar dari kamar tersebut dan menghampiri Brian dan yang lainnya.


"Kenapa ma, pa, Leon?" tanya Brian kahwatir karena dia tadi mendengar suara keras dari dalam.


"Sheila capek katanya mau tidur," jawab papa Bastian.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu lebih baik kita sekarang pulang aja biar dokter yang menjaga Sheila dan juga sebagian ada di sini takut jika kita semuanya di sini Sheila akan terganggu," ucap papi Boni mencoba mencari solusi.


"Iya, benar apa kata kamu bon. Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu, nanti kalau ada apa-apa langsung kabari ya." ucap uncle Steven dan di angguki oleh papi Boni.


Uncle Steven dan uncle Eric beserta keluarga pun memilih untuk pamit terlebih dahulu, sedangkan mami Salma, papi Boni dan keluarga papa Bastian masih berada di rumah alit menemani Brian menjaga Sheila karena Brian di suruh untuk pulang tetapi tidak mau katanya ingin menjaga sang Sitti saja.


Siang harinya dokter Andin datang untuk memeriksa kandungan Sheila, Brian juga melihat semua proses pemeriksaannya rasanya senang sekali bisa melihat detak jantung sang anak.


"Dok, kira-kira kapan ya saya bisa pulang?" tanya Sheila saat dia sudah selesai pemeriksaan.


"Dari pemeriksaan yang di lakukan tadi seperti besok sudah boleh pulang nona tapi harus terus di perhatikan asupan makanannya dan juga jangan lupa untuk minum vitamin nya agar kondisi janin tetap kuat," sahut dokter Andin.


"Baik dok, terima kasih." ucap Sheila.


Setelah itu dokter Andin pun keluar dengan membawa peralatan nya karena Brian menyuruh agar semua pemeriksaan di lakukan di kamar Sheila agar Sheila tidak banyak gerak dan memperhambat proses pemulihannya.


Setelah dokter Andin pergi di ruangan hanya ada Brian dan juga Sheila sedangkan yang lainnya menunggu di depan saja karena mereka tahu bahwa suami istri tersebut butuh bicara berdua saja.


"Sayang, kamu kenapa? Aku minta maaf kalau ada salah sama kamu ya sayang," sahut Brian menggengam tangan sang istri, namun Sheila langsung melepaskan genggaman tangan sang suami dengan sedikit kerasa membuat tangan Brian menjauh dan punggungnya sedikit sakit karena tertarik tadi.


Dengan menahan sakit di punggung nya setelah tertembak itu Brian tetap mencoba untuk membujuk sang istri agar bisa memaafkannya.


"Sayang, aku minta maaf ya karena sudah berbohong sama kamu, tapi aku ngelakuin itu karena belum siap untuk memberitahukan semuanya sama kamu sayang!" ucap Brian mencoba menjelaskan semuanya kepada Sheila.


Mendengar hal itu Sheila pun emosi karena dengan suaminya menyembunyikan hal tersebut darinya membuat Sheila harus menikah dengan seorang mafia kejam seperti Brian karena dalam hidupnya Sheila tidak ingin berurusan dengan dunia gelap seperti itu, namun ternyata pernikahan nya lah yang malah menjerumuskannya ke dunia gelap seperti sekarang.


"Apa kah menyenangkan menyembunyikan hal besar seperti itu?! Bahkan kamu menggunakan hutang mama sama papa aku dulu untuk menikah dengan seorang mafia! Kamu gila bri!!" pekik Sheila tidak bisa lagi menahan emosinya yang sudah dia tahan dari kemarin.

__ADS_1


"Sayang, aku minta maaf. Aku tidak pernah menggunakan pernikahan ini sebagai alat apapun, aku menikah sama kamu itu karena cinta sama kamu sayang. Awal nya aku memang tidak mencintai kamu tapi sekarang kamu adalah dunia aku sayang, aku mohon maafkan aku ya," mohon Brian kepada sang istri.


"Segampang itu kah meminta maaf padahal dalam berbohong kamu cukup jago, kalau seumpama aku gak di culik pasti kamu akan terus menyembunyikan hal tersebut bukan!" teriak Sheila dan Brian hanya diam saja.


"Lihat, aku benar bukan kalau kamu akan terus berbohong!" pekik Sheila lagi, bahkan suaranya terdengar hingga keluar membuat mami Salma dan yang lainnya memilih untuk ke kantin rumah sakit saja agar tidak mendengar kan pertengkaran sang anak dan agar mereka bisa menyelesaikannya sendiri.


"Sayang, bukan begitu. Aku mohon sama kamu untuk mengerti aku ya," sahut Brian, namun Sheila sama sekali cuek dan tidak mendengarkan bahkan air matanya terus saja mengalir di pelupuk matanya cantiknya.


Sheila bangkit dari ranjangnya dan menuju ke lemari untuk mengambil baju gantinya, entah apa yang di pikirkan oleh Sheila dia rasanya sudah tidak betah di rumah sakit dia ingin segera keluar dari sana.


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Brian saat melihat sang istri berdiri dari ranjangnya dan menuju ke lemari pakaiannya.


"Sayang!" panggil Brian namun tak juga mendapatkan jawaban dari sang istri.


"SAYANG!" bentak Brian untuk pertama kalinya kepada Sheila membuat Sheila langsung diam membeku mendengarkan bentakan menyeramkan dari sang suami karena ini adalah bentakan pertama.


Mungkin bagi Sheila ini adalah bentakan pertama namun ucapannya seperti tadi adalah bentakan yang sangat sering ia lontarkan di dunia mafia kejamnya.


Brian yang menyadari bahwa dia sudah kelewat batas pun mencoba untuk meminta maaf kepada Sheila karena telah membentaknya tadi.


"Sayang maafin aku, aku tadi gak sengaja bentak kamu." ucap Brian.


"Brian dari cara kamu bentak aku tadi sudah keliatan keaslian sifat kamu, kamu tidak akan bisa menghilangkan identitas kamu sebagai seorang mafia bri." ucap Sheila.


Dia membawa tas kecilnya untuk keluar dari sana, lebih baik menenangkan dirinya terlebih dahulu agar nantinya dia bisa berfikir jernih karena saat melihat sang suami Sheila malah merasa sangat sakit hati, egois ya Sheila memang egois namun dengan kebohongan yang di lakukan oleh suaminya Sheila sama sekali tidak bisa memberikan toleransi akan hal tersebut, karena baginya sang suami adalah seorang yang sempurna namun dengan terungkapnya kebohongan Brian membuat Sheila tidak bisa sepenuhnya percaya dengan Brian.


.

__ADS_1


.


Bersambung..........


__ADS_2