
Pagi harinya di luaran sana berita tentang seorang pengusaha sukses siapa lagi kalau bukan Brian semakin menjadi jadi, banyak orang yang mulai meramaikan media sosial seperti menunggu kebenaran atas berita tersebut dan banyak juga yang berharap bahwa kabar yang beredar hanyalah sebuah berita dan tak lebih karena bagaimana pun sosok Brian adalah sosok yang sangat sempurna dan juga di segani oleh banyakan orang.
Siapa yang bisa mendapatkan Brian maka bisa di pastikan wanita tersebut adalah bidadari yang turun dari langit karena bisa meluluhkan hati seorang Brian yang berdinding es namun rupawan itu.
Di sisi lain Brian sedang tertidur pun bangun karena ia merasa terganggu akan gerakan Sheila yang seperti sedang mencari tempat ternyaman di pelukan sang suami.
Brian pun hanya memandangi wajah cantik sang istri dengan lekat dan mengelus rambut sang istri kemudian mencium kening Sheila juga sedang kelembutan namun ciuman tersebut ternyata membuat Sheila terusik dan terpaksa membuka matanya.
"Morning sayang," sapa Brian saat melihat mata yang istri sudah terbuka dan sedang melihatnya.
"Morning sayang," balas Sheila kemudian memeluk erat tubuh sang suami dengan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Ada apa hm?" tanya Brian karena tadi melihat raut wajah sang istri yang sedikit murung, namun Sheila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja tanpa menjawab membuat Brian mengernyitkan dahinya.
"Apa kamu sakit, perlu ke dokter?!" ucap Brian mulai khawatir dengan keadaan sang istri.
"Aku gak papa kok," jawab Sheila Dnegan melepaskan pelukannya.
"Beneran?" tanya Brian dan di angguki oleh Sheila.
"Iya, sayang." jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu, lebih baik sekarang kita siap siap karena hari ini kan kita mau ngadain konferensi pers sama media," sahut Brian mengingatkan Sheila untuk segera siap-siap karena hubungannya sebentar lagi akan di ketahui oleh banyak orang.
"Kamu aja duluan," sahut Sheila.
"Ya udah kalau gitu aku duluan ya," balas Brian dan di angguki oleh Sheila.
Setelah itu Brian pun membersihkan tubuhnya terlebih dahulu setelah itu baru lah Sheila yang mandi setelah Brian keluar dari kamar mandi, saat Sheila baru selesai mandi Brian sudah menunggu sang istri di sofa dan memegang handuk di tangannya.
__ADS_1
Sheila yang duduk di meja rias pun melihat sang suami yang berjalan mendekatinya sambil membawa handuk di tangannya hanya bisa tersenyum manis.
Brian pun mengeringkan rambut sang istri karena Sheila baru saja keramas dan rambutnya pasti basah dong jadi Brian mempunyai inisiatif untuk mengeringkan rambut sang istri.
"Terima kasih," ucap Sheila saat Brian sudah selesai dengan rambut Sheila.
"Iya, ya udah buruan siap siap setelah itu kita turun." sahut Brian dan di angguki oleh Sheila.
Tak lama Sheila sudah siap dengan pakaian casual nya namun tetap elegan dan memancarkan aura mempesonanya.
"Cantik," sahut Brian kemudian menggandeng tangan Sheila dan membawanya keluar dari kamar dan menuju ke restoran terlebih dahulu karena sebelum konferensi pers nya di mulai alangkah lebih baiknya untuk mengisi perut yang kosong terlebih dahulu.
Sheila dan Brian sudah sampai di restoran yang hanya ada keluarganya nya saja dan juga anak buah nya, jangan lupa juga ada Maya, Monica dan jovanka yang ternyata di cegat oleh Laura untuk tetap berada di hotel itu pun atas perintah dari Brian sehingga mau tidak mau mereka pun menurutinya saja walau pun mereka tidak tahu kemana.
"Selamat pagi," sapa Brian dan Sheila kepada semua orang.
"Pagi, duduk dulu sayang." sahut mami Salma.
Setelah sarapan Sheila izin kepada Brian untuk berbicara kepada Monica dan jovanka terlebih dahulu karena dia tidak ingin sampai ada kesalahpahaman yang berlarut larut antara satu dengan yang lainnya.
"Sayang, aku ke Monica dan jovanka terlebih dahulu ya," izin Sheila dan di angguki oleh Brian.
"Ya udah, kalau ada apa-apa langsung kabari ya!" ucap Brian dan di angguki oleh Sheila.
Sheila pun segera berjalan menuju ke arah teman temannya itu, Maya lebih memilih untuk menjauh dengan Laura agar Sheila bisa lebih terbuka dan bisa membicarakan semuanya dengan jelas.
"Pagi," sapa Sheila saat sudah sampai di depan teman teman nya itu.
"Pagi," balas Monica dan jovanka dengan sedikit canggung.
__ADS_1
"Boleh duduk," izin Sheila dan di angguki oleh mereka berdua.
"Aku di sini cuma mau bilang maaf, maaf karena tidak memberitahukan lebih awal sama kalian. Aku cuma takut karena status Brian yang kalian tahu sendiri kan, aku cuma takut jika banyak orang yang tahu maka situasi nya pasti canggung kayak sekarang kalian berdua gak nyapa aku kayak biasanya sekarang malah sangat formal banget sama aku," ucap Sheila dengan nada sedihnya karena teman temannya berbicara terlalu formal dan sopan padanya padahal biasanya mereka sangat kocak dan gokil apa lagi kalau bercanda selalu membuat Sheila terus tertawa.
Sheila merasa memiliki teman lagi selain Maya yang sudah ia anggap keluarga, sahabat dan juga teman curhat karena sejak dulu tidak ada yang mau berteman dengan Sheila mulai dari karena iri dan juga banyak hal lainnya.
"Bagaimana pun suami kamu itu pak Brian Sheila jadi mau tidak mau kami harus lebih formal lagi dan mohon maaf karena waktu dulu sebelum tahu yang sebenarnya kami berdua sering berbicara kurang sopan!" sahut Monica dengan sangat sopan dan menundukkan kepalanya di akhir katanya.
Sheila yang melihat itu pun di buat frustasi karena hal tersebut, Sheila sudah menduga kalau hal tersebut akan terjadi Sheila harus bisa mengatasi hal tersebut dan membuat teman temannya itu berbicara dan berinteraksi dengan santai lagi dengannya sama seperti dulu.
"Aduh, aku bilang gak usah formal dong. Kalau kalian kayak gini aku bakalan bilang be Brian kalau kalian sudah berkata kasar sama aku!" ancam Sheila membuat Monica dan jovanka seketika kalang kabut karena bisa gawat kalau sampai Sheila mengadu kepada Brian bisa di pastikan pekerjaan nya mungkin akan hilang dan akan mengalami nasib yang tragis sama seperti Tiffany.
"Aduh, Sheila elo kenapa bikin acara ngadu dan ngancam ngancam segala sih!" ucap Monica dengan mulai kembali lagi logat elo gue nya membuat Sheila merasa senang karena ancamannya berhasil.
"Gitu dong kan aku seneng jadi nya," shut Sheila.
"Tapi gak papa nanti kalau pak Brian tahu gimana?!" tanya jovanka was was.
"Kalian tenang aja, Brian pasti seneng juga kok karena sekarang aku sudah punya teman.
"Tapi ya Sheil, emang beneran elo itu nikahnya sama pak Brian? Gue masih terlalu syok untuk mengetahui informasi tersebut," ucap Monica dengan polosnya bertanya akan hal yang sudah pasti tersebut.
"Hahahaha, aku kan udah pernah bilang sama kamu kalau aku udah nikah dan yah suami ku itu ya Brian itu," ucap Sheila sambil melihat ke arah Brian yang sedang berbicara serius dengan yoga.
"Jadi ini beneran ya, aku kira cuma mimpi!" sahut Monica lagi membuat Sheila tak kuat menahan tawanya.
"Ya beneran lah, dan aku mohon sama kalian untuk bersikap seperti biasanya saja sama aku gak usah kayak tadi geli tahu," sahut Sheila dan di angguki mereka berdua.
Ketiganya pun tertawa ceria seperti bari mengutarakan rahasia yang sudah sangat lama Sheila pendam akhirnya hilang sudah beban yang selama ini ada pada dirinya.
__ADS_1
.
Bersambung..........