
"*Bagaimana, apakah kalian sudah tahu siapa orang yang menyebarkan berita tersebut?" tanya Brian saat dia baru saja sampai.
Brian memang memerintahkan yoga dan aldo untuk mencari tahu siapa dalang di balik berita menghebohkan tersebut yang membuat istrinya memiliki nama jelek di depan semua orang*.
š„š„š„
"Sudah, tuan." sahut yoga.
"Siapa?" tanya Brian dengan menggebu-gebu.
"Setelah kami telusuri ternyata orang yang menjadi dalang atas berita tersebut adalah Maria kakak dari nona muda tuan," sahut yoga.
"Apa!" pekik Brian tak percaya.
"I.... iya tuan." sahut yoga mencoba tenang meskipun dia juga merasa takut saat mendengarkan pekikan dari tuannya itu.
"Sudah ku duga pasti pelakunya tak jauh jauh dari keluarga angkasa." sahut Brian sudah menduga akan hal itu.
"Aldo, apakah uncle Steven akan ke sini?" tanya Brian kepada Aldo.
"Iya, tuan. sebentar lagi tuan Steven pasti sampai."
Barus aja Aldo selesai berbicara, pintu ruangan tersebut pun terbuka dan menampakkan uncle Steven yang baru saja datang dengan Brandon di belakangnya.
"Uncle," sapa Brian saat uncle Steven sudah duduk di depannya.
"Bri, bagaimana? apakah sudah tahu dalang di balik berita kemarin?" tanya uncle Steven.
"Sudah uncle."
"Siapa?" tanya uncle Steven lagi.
"Maria," sahutnya membuat uncle Steven mengerutkan keningnya.
"Maria? Maksud kamu Maria kakak dari Sheila?"
"Iya, uncle."
"Cari mati emang keluarga itu," sahut uncle Steven sedikit geram dengan tindakan dari keluarga angkasa.
__ADS_1
"Bagaimana rencana kamu selanjutnya bri?" tanya uncle Steven.
"Yang pasti Brian tidak anak tinggal diam uncle, karena sudah berani menyerang Sheila dengan berita bodoh seperti itu, andai saja mereka tahu kalau suami Sheila adalah aku pasti mereka tidak akan tinggal diam," tegas Brian dan mendapat anggukan dari uncle Steven.
"Benar katamu Bri, oh ya uncle sampai lupa ingin memberitahukan kamu informasi yang mungkin bisa kamu gunakan untuk membalas dendam kamu ke keluarga angkasa," shut uncle Steven.
"Maksud uncle?" tanya Brian yang masih belum paham dengan ucapan dari uncle nya tersebut.
"Aris kemarin meminta bantuan dari kita supaya bersedia meminjamkan uangnya lagi." sahut uncle Steven sambil meminum kopi yang baru saja di buat oleh yoga.
"Haha, dasar emang ya keluarga tamak dan tidak tahu diri. Padahal jaminan yang kita kasih sebagai hadiah pernikahan sangat lah banyak tapi belum juga beberapa bulan sudah habis saja, bahkan dia bukannya memiliki perusahaan kecil," sahut Brian tak habis fikir dengan keluarga angkasa tersebut.
"Dari informasi yang uncle terima sih, perusahaan tersebut memang berkembang tetapi tak banyak perubahan karena pengelolaan yang tidak baik dari Aris." sahut uncle Steven dan mendapat anggukan dari Brian yang paham bagaimana situasinya sekarang ini.
"Kalau begitu uncle kasih saja berapa uang yang mereka minta dan Brian akan memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada keluarga mereka." sahut Brian dengan seringai tajamnya.
"Okey, kalau begitu uncle pergi dulu karena Clara sudah menunggu!" pamit uncle Steven.
"Siap uncle, titip salam buat Tante Melinda dan Clara juga!" teriak Brian saat uncle sudah akan menghilang dari balik pintu, uncle Steven pun menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membetuk tanda oke.
Sedangkan di kediaman angkasa sekarang ini Aris, Ketty dan juga Maria sedang berada di ruang tamu di mana mereka melihat berita berita tentang Sheila yang mulai menyebar membuat mereka senang bukan main karena akhirnya bisa membuat nama jelek Sheila di mata orang.
"Haha, lihat tuh rasain elo Sheila!" ucap Maria dengan bangganya.
"Tapi ya Maria, beberapa artikel yang di tulis sudah hilang tak ada lagi, atau jangan jangan tuan Steven yang menghapusnya." sahut Ketty lagi karena melihat kejanggalan dalam artikel yang beberapa hari lalu sangat banyak bertebaran tetapi sekarang hanya beberapa saja yang ada dan kemana hilangnya artikel artikel lainnya.
"Mungkin sih, ma. tapi tenaga aja aku udah sebarin berita tersebut ke staf di lokasi syuting dan mereka semua pun percaya," sahut Maria dengan bangganya.
"Bagus sekali kamu sayang."
"Oh ya, pa. bagaimana dengan papa yang katanya mau pinjem uang ke tuan Steven lagi? buruan loh ya karena mama mau segera ikut temen-temen mama liburan ke Jepang!" sahut Ketty.
Padahal hanya demi ikut liburan dan terlihat kaya raya Ketty menyuruh Aris untuk berhutang lagi ke tuan Steven pada hal keuangan mereka di ambang kebangkrutan karena pemasukan yang menipis.
"Ma, bagaimana kita akan melunasi semuanya?" tanya Aris yang sedikit geram melihat tingkah sang istri yang terlalu mementingkan kasta.
"Tenang aja kan ada Sheila, biar Sheila aja yang ngebantu melunasinya dia kan istri nya tuan Steven," sahut Maria.
"Bener tuh pa dengan apa yang di kata Maria." sahut Ketty membenarkan ucapan Maria.
__ADS_1
"Tapi kan kamu tahu sendiri saat di rumah sakit waktu itu Sheila tidak mau membantu kita lagi." sahut Aris.
"Ihh, papa nih ya gak bisa lihat kita lagi seneng banget ih." sahut Ketty.
"Papa hanya khawatir bagaimana Sheila akan mau membantu kita nantinya ma."
"Sheila kan istri mudanya tuan Steven pasti lah tuan Steven akan sangat sayang sama dia, kalau mau ngebantu kita ya tinggal tiduran di kasur saja nanti juga di makan sama tuan Steven." sahut Ketty dengan nada menjijikkannya.
"Maksudnya?" tanya Aris yang tidak paham dengan yang di maksud sang istri.
"Ya hubungan suami istri lah Pi," sahutnya dan Aris pun paham dan menganggukkan kepalanya.
Tak lama telepon Aris pun bergetar dan menandakan ada telepon masuk dari seseorang dan saat ia melihat ternyata itu adalah Brandon sekertaris dari tuan Steven.
[Halo, tuan Brandon!] sapa Aris membuat Maria dan Ketty pun diam karena mereka tahu siapa itu.
[Pak Aris tuan Steven setuju untuk meminjamkan lagi uang kepada anda, tapi dengan satu syarat jika anda tidak bisa mengembalikan maka rumah dan juga perusahaan anda akan kami sita!] tegas Brandon di sebrang sana.
[Apa! sebentar tuan, kalau begitu saya diskusikan dulu dengan istri saya,] sahut Aris kemudian menjauhkan telepon nya agar tidak terdengar oleh Brandon.
"Ada apa pa?" tanya Ketty.
"Tuan Steven akan memberikan kita pinjaman tetapi jaminannya adalah sertifikasi rumah dan juga perusahaan jika kita tidak bisa mengembalikannya!" sahut Aris menjelaskan kepada Ketty. Cukup lama mereka terdiam memikirkan penawaran tersebut, tapi memang mereka meminjam begitu banyak uang sekitar US$100.000.00 yang bisa di bayangkan sendiri betapa banyaknya uang itu belum lagi bunga yang di bebankan nya juga besar.
"Ambil aja deh pa, gampang lah soal ngelunasin nya!" sahut Ketty dan mendapat anggukan dari Maria. Aris pun kembali mendapatkan telepon nya dan menerima tawaran dari Brandon.
[Halo, tuan.]
[Bagaimana, pak?] tanya Brandon di sebrang sana yang pasti sudah tahu bagaimana keputusan dari Aris.
[Saya setuju, pak.]
[Kalau begitu secepatnya kita akan mengurus semuanya.]
[Baik, pak. terima kasih.]
Setelah itu Brandon pun mematikan teleponnya dan Aris hanya bisa bernafas lega karena dia bisa meminjam uang, bagaimana pun dia juga ingin berlibur seperti sang istri, soal uang lebih baik di pikirkan nanti saja lah. begitu lah pikir keluarga aneh ini, hanya demi bisa berlibur dan terlihat kaya seperti yang lainnya sampai berani meminjam uang dan juga menggadaikan rumah dan perusahaan kecilnya, bagaimana nantinya kalau ternyata mereka tidak bisa melunasinya coba.
.
__ADS_1
.
TBC