Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
BAB 22_Bertemu Preman


__ADS_3

Dengan terpaksa Sheila pun datang ke ruangan VVIP di mana di sana Brian berada, saat masuk Sheila melihat sekitarnya yang tampak sepi tidak seperti tadi saat pertama kali ia masuk di mana ada beberapa orang.


(Yap mereka adalah Mr. Kevin dengan asistennya dan juga ada yoga asisten Brian).


Namun sekarang malah semuanya hilang dan hanya Brian saja yang tengah duduk sambil melihat ke arah pintu masuk.


"Maaf tuan, apakah ada yang di butuhkan?" tanya Sheila sebisa mungkin dengan ucapan yang sopan, bagaimana pun mereka sekarang ini masih berada di restoran bukan tempat Sheila bekerja.


"Mengapa kau di sini?" tanya Brian dengan suara beratnya.


"Saya di sini bekerja tuan," balas Sheila seadanya saja.


Dengan geram Brian pun menarik tangan Sheila hingga membuat sang empunya meringis kesakitan.


"Lepaskan tuan!" pekik Sheila saat Brian akan membuka pintu ruangan tersebut.


Brian pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan balik melihat ke arah Sheila yang sedang kesakitan, melihat hal itu Brian pun melepaskan genggamannya dan menatap Sheila dengan tajam.


"Keluar dari pekerjaan ini sekarang juga!" ujar Brian tak terbantahkan.


"Enggak, siapa anda sampai menyuruh saja keluar dari sini!" sahut Sheila tak kalah sengitnya dari Brian.


"Saya suami kamu, asal kamu tahu seorang Brian Albern Ardolph pengusaha terkenal dan sukses tetapi istrinya malah seorang pelayan restoran, bagaimana pandangan orang?" sahut Brian.


"Oh, jadi kamu malu punya istri seorang pelayan restoran, kalau gitu ceraikan saja!" ucap Sheila kemudian meninggalkan Brian sendirian di ruangan tersebut.


Sedangkan Brian yang mendengarkan penuturan Sheila pun mengepalkan erat tangannya hingga memperlihatkan buku buku putih di sana.


"Sudah aku katakan, sampai kapan pun sesuatu yang sudah menjadi milik ku tidak akan bisa lepas kecuali dia mati!" gumam Brian namun sangat mematikan.


Sedangkan Sheila yang keluar dari ruangan tersebut pun di buat kesal sambil berjalan ke arah mbk Ika.


"Kenapa sheil?" tanya mbk Ika yang melihat wajah kesal rekan kerjanya itu.


"Enggak apa-apa kok mbk, kalau gitu Sheila kerja lagi ya," sahutnya meninggalkan mbk Ika dan rekan kerja yang lainnya.

__ADS_1


Brian kembali ke kantornya karena akan ada rapat rapat dengan karyawannya membahas tentang proyek resort mewahnya di negara B tersebut, padahal ia sangat ingin membawa Sheila keluar dari restoran tersebut namun ia urungkan.


Malam harinya Sheila sudah selesai bekerja dan pamit untuk pulang terlebih dahulu, hari ini restoran memang sangat ramai sehingga jam bukanya juga bertambah membuat Sheila harus lembur hingga jam 10 malam.


Saat ia keluar dari restoran ternyata sedang hujan deras sekali, Sheila pun berlari menuju halte bis untuk menunggu bis itu datang, namun karena waktu sudah malam sehingga jarang ada bis yang datang.


Mbk Ika juga sudah pulang di jemput suaminya tadi sedangkan rekan-rekannya yang lain juga sudah pergi karena akan nongkrong, sehingga sekarang hanya Sheila sendirian lah yang bertahan.


Hampir setengah jam Sheila menunggu tetapi tidak juga menemukan bis yang datang, saat mengecek hpnya untuk meminta memesan mobil ternyata baterai hpnya lowbat sehingga mati total, dengan terpaksa Sheila pun memilih untuk nekat terjang hujan karena dia rasa hujan tidak akan reda untuk waktu yang lama.


Sudah sampai di persimpangan Sheila tiba-tiba melihat di salah satu toko yang kosong melihat ada beberapa orang kekar- kekar yang melihat Sheila basah-basahan.


Mereka adalah preman daerah sana, dengan senyum sumringah mereka pun mendekati Sheila sedangkan Sheila semakin mempercepat langkah kakinya.


"Mangsa nih bos!" ucap salah satu preman tersebut dengan terus mengikuti Sheila dalam hujan.


(Astaga, ya tuhan tolong bantu aku, aku takut sekali. Brian tolong aku!) gumam Sheila dalam hatinya, entah mengapa nama Brian lah yang pertama kali ia sebut.


šŸ„•šŸ„•šŸ„•


Sedangkan Brian sudah berada di mansionnya, namun tidak menjumpai istrinya di sana.


"Belum tuan," ucap bi Nana.


"Sayang, Sheila mana kok belum dateng sih. masa ke kampus sampek malem gini!" tanya mami juga ikut khawatir.


"Mungkin sedang macet mi," balas papi menenangkan sang istri.


"Gak tahu mi aku udah telepon dari tadi tapi gak ada respon!" jawab Brian, entah mengapa dia merasa firasatnya sangat tidak enak, ada apa dengan dia sebenarnya.


(Kamu di mana Sheila? Kenapa nomor mu tidak bisa di hubungi!) gumam Brian dengan khawatir dalam hatinya.


"Maaf tuan besar, nyonya, tuan muda, sekarang di depan sedang hujan lebat dan belum ada tanda-tanda kedatangan nyonya muda!" ucap Thomas memberitahukan tentang kondisi di luar, mendengarkan hal itu membuat semua orang rumah menjadi khawatir.


"Bagaimana ini Pi?" ucap mami dengan pundak sedikit bergetar.

__ADS_1


"Biar Brian cari mi!" sahut Brian, kemudian berdiri dari duduknya dan menyambar jaket dan juga kunci mobilnya di ikuti oleh salah satu anak buahnya dan juga Thomas.


Brian langsung tahu tempat mana yang akan ia tuju karena tadi siang bertemu dengan Sheila di sana, pasti dia sedang di sana bukan, namun melihat restoran yang sudah gelap gulita memuat Brian mengerutkan dahinya, jika restoran sudah tutup terus ke mana Sheila.


Brian pun menyusuri jalanan trotoar dekat dengan restoran, hujan sudah sedikit reda meski masih menyisakan rintik rintikan hujan.


"Kamu di mana Sheila!" gumamnya pelan.


Namun alangkah terkejutnya Brian saat melihat di depan sana, dia melihat seperti ada seseorang yang sangat ia kenal dari postur tubuhnya. dia sedang hadang oleh beberapa preman.


Dengan cepat Brian pun menancapkan gasnya hingga berada tak jauh dari sana.


"Halo nona manis, boleh kenalan gak?" ucap salah satu preman tersebut yang berjumlah empat orang, Sheila tak menggubris dan memilih untuk kembali berjalan.


"Sombongnya!" ucap preman tersenut dengan mencolek lengan Sheila.


"Maaf, saya buru-buru!" sahut Sheila menghindar dari preman preman tersebut.


Namun sayang salah satu preman malah mencengkram lengan Sheila dengan kuat dan mendorong Sheila hingga terbentur di dinding tembok samping trotoar.


Sheila merasa sangat takut sekali dia juga merasakan sakit di punggung dan juga lengannya.


"Awww!" pekik Sheila.


"Wah, kita bakal seneng seneng nih. santai saja cantik kita akan main secara halus kok!" ucap preman tersebut kemudian mendekat ke arah Sheila yang sudah menangis dan memohon untuk melepaskannya.


"To.. tolong lepaskan saya!" ujarnya dengan pelan, merasa sangat lemas karena tubuhnya sakit sekali.


Sheila pun memejamkan matanya karena merasa sangat pusing, namun tiba-tiba Sheila mendengar suara seperti ada yang memukul.


Bugh Bugh


Sheila pun mencoba untuk membuka matanya dan benar saja orang yang sangat ingin ia temui sudah berada di depan.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2