
Sampai di hotel Sheila segera membersihkan dirinya terlebih dahulu setelah itu dia menuju area balkon yang menurutnya sangat indah karena bisa melihat pemandangan malam Jepang yang sangat indah, banyak bunga sakura yang bermekaran menambah indahnya pemandangan dengan lampu-lampu yang mulai menyala.
Brian masuk ke dalam kamarnya setelah berbincang-bincang dengan Bu Ella tentang kegiatan yang dilakukan selama di Jepang pun melihat sang istri yang sedang santai di balkon kamar, segera Brian menghampiri Sheila yang dengan asyik memejamkan matanya sambil merasakan dinginnya hawa Jepang pada malam hari ini dengan memeluknya dari belakang membuat Sheila tersentak kaget.
"Ngapain hm?" tanya Brian menopang kepalanya pada bahu Sheila sambil menelungkup kan kepalanya di leher sang istri.
"Ih, kamu ngagetin aku aja sih." sahut Sheila saat tahu bahwa itu adalah Brian sang suami.
"Kenapa emangnya?" tanya Brian.
"Gak ada apa-apa," sambung Sheila kemudian membalikkan badannya dan memeluk erat sang suami dengan manjanya membuat Brian tidak bisa kalau tidak memeluk balik sang istri.
"Mau jalan jalan?" ajak Brian.
"Enggak mau," sahut Sheila.
"Kok tumben, padahal tadi aja seneng banget di ajak jalan ke gunung fuji." sahut Brian.
"Aku capek sayang," jawab Sheila manja kemudian kembali memeluk Brian dengan posesif nya.
"Ya udah, kalau gitu kita tidur ya." ajak Briand an di angguki oleh Sheila.
Entah mengapa beberapa hari ini Sheila sangat merasa gampang capek sekali padahal dia juga melakukan pekerjaan seperti biasanya tetapi badannya selalu saja gampang sekali capek, Sheila berfikir mungkin saja dia akan kedatangan tamu bulanan.
Pagi harinya suasana sedikit ramai karena beberapa karyawan memilih untuk bermain game sebelum acara sarapan tiba, karena memang mereka di beri kebebasan untuk berlibur kalau pun ingin tidak ikut rombongan ke suatu tempat boleh asalkan meminta izin karena bagaimana pun mereka berangkat bersama.
Sedangkan sepasang suami istri malah sedang asyik tertidur dengan Sheila yang berada di pelukan Brian, Sheila pun membuka matanya terlebih dahulu dan menatap ke arah sang suami yang masih saja tertidur pulas.
Melihat Brian yang masih tertidur Sheila pun dengan beraninya mencium pipi sang suami dengan singkat kemudian akan beranjak dari tidurnya tetapi langsung di cekal oleh tangan kekar sang suami.
"Bri.... Brian!" sahut Sheila kaget dengan Brian yang sudah bangun, berarti saat dia mencium pipi sang suami tadi Brian sudah bangun.
"Ada apa hm? setelah curi curi ciuman pagi ku mau ke mana kamu?" ucap Brian kemudian menarik Sheila hingga ia tertidur lagi seperti semula.
Mendapat perlakuan sang suami Sheila hanya diam saja tak memberontak, karena bagaimana dia akan kalah dengan tenaga sang suami yang sangat kuat tersebut padahal masih pagi dan baru bangun tidur.
__ADS_1
"Sayang, aku mau bangun ini udah siang tau!" ucap Sheila mencoba membujuk sang suami agar ia bisa di lepaskan.
"Sebentar ya sayang, 5 menit lagi." ucap Brian selalu saja lima menit.
"Ih, gak lima menit lima menitan." ucap Sheila dengan berusaha berdiri dari sana.
Akhirnya Brian pun memberikan cela kepada Sheila untuk bisa berdiri karena kasihan juga Sheila harus melawat tenang Brian yang sangat besar itu.
Sheila segera mandi dan bersiap untuk turun ke bawah sedangkan Brian sudah membuka matanya namun masih berada di kasurnya sambil melihat Sheila yang sudah cantik dengan dress santainya.
"Aku ke bawah dulu ya, kamu buruan siap-siap sana deh sayang. Ini itu udah jam berapa tapi kok masih di kasur aja sih," ujar Sheila kemudian pergi meninggalkan Brian sendirian.
"Dasar istri cerewet," gumam Brian dengan senangnya saat ia menggoda sang istri tadi.
Sheila sudah berada di restoran dan mencari keberadaan teman temannya untuk sarapan bersama, sedangkan Brian seperti biasa bersiap setelah itu mengecek beberapa email yang masuk untuk di teliti lagi.
Sudah 5 hari mereka berada di Jepang dengan mengunjungi berbagai wisata terkenal di Jepang dan juga memakan makanan khas negeri matahari terbit itu.
Akhirnya mereka harus berpisah dengan Jepang, negara yang menyambut mereka dengan ramah dan penuh kesan, hari ini mereka harus kembali ke new York dan melanjutkan pekerjaannya, tidak mungkin mereka akan berlibur terus bukan karena Ard Company juga butuh segera kontribusi yang baik karena para karyawan sudah menetralkan pikirannya dengan berlibur.
Sheila memang memohon kepada Brian untuk bisa sebangku dengan teman temannya karena Brian malah menyuruh nya mengikuti Brian untuk terbang dengan jet pribadinya dan dengan keras Sheila menolaknya, dia tidak ingin di istimewa karena istri nya tetapi Sheila ingin seperti karyawan lainnya sehingga mau tidak mau Brian pun mengikuti keinginan sang istri.
"Yah udah pulang aja padahal enak banget ya di Jepang kemarin," sahut Monica dengan sedikit lesu karena dia Barus aja meninggalkan negara indah tersebut.
"Ya udah lah, kapan kapan kita ke sana lagi." sahut Sheila menenangkan Monica.
"Kalau gratis sih masih aku Sheil, tapi kalau bayar sendiri ya lebih baik buat beli baju sama nabung buat anda depan!" ucap Monica dan di angguki oleh jovanka.
"Bener banget mon," jawabnya setuju, sedangkan Sheila hanya tersenyum mendengar perkataan temannya itu, kalau masalah seperti ini mereka sangat serius sekali.
"Pintarnya sih temen temenku ini," ucap Sheila dengan senangnya.
Setelah beberapa jam melewati penerbangan yang panjang, semua karyawan pun sudah sampai di bandara, banyak yang sudah di jemput oleh beberapa keluarga dari pacar, orang tua, adik, kakak dan bahkan ada yang baik taksi.
"Mari nona," ucap Laura saat mereka baru saja keluar dari bandara dan menuju ke area luar di mana di sana sudah ada pak Thomas yang menunggu mereka.
__ADS_1
"Iya, sebentar ya. Mon, jov kalian gimana pulangnya?" tanya Sheila kepada Monica dan jovanka.
"Kita naik taksi aja sheil, kalau elo mau balik, balik aja gak papa kok." ucap jovanka.
"Kalian pulang bareng aku aja muat kok. Pak sekalian angkut aja koper mereka ya," ucap Sheila.
"Baik," jawab pak Thomas menuruti perintah nona mudanya itu.
Monica dan jovanka tentu saja syok saat melihat Sheila memerintahkan supir tersebut karena yang mereka tahu bahwa mobil dan supir tersebut adalah punya Laura bukan sih.
Saat masuk ke dalam mobil pun mereka berdua dibuat kaget karena interior mobil yang sangat berkelas, bukan hanya tampilan depan saja yang mahal tetapi tampilan dalam nya pun sangat mahal membuat mereka berdua memicingkan matanya melihat ke arah Sheila dan juga Laura secara bergantian.
"Ada apa?" tanya Sheila saat mobil mereka sudah menjauh dari area bandara dan menuju ke rumah Monica dan juga jovanka yang memang kebetulan sekali bersebelahan karena mereka memang memutuskan membeli rumah yang bersebelahan agar lebih mudah untuk berangkat bersama dan juga agar bisa bertetanggaan.
"Ini beneran punya Laura kan?" tanya Monica to the point membuat Sheila melupakan bahwa mereka tahunya ini adalah milih Laura.
"Sebenarnya ini itu supir dari suami aku Mon, jov." sahut Sheila memberanikan diri berbicara sejujurnya karena bagaimana pun pak Thomas akan terus menjemputnya jadi tidak ada untungnya juga bagi Sheila terus menyembunyikan hal tersebut begitupun Laura nantinya jika mereka berdua bertanya, tetapi untuk Brian Sheila memang tidak akan memberitahukannya untuk waktu dekat ini dan hanya Maya saja yang tahu.
"Terus Laura ini beneran temen elo juga kan atau dia itu.." ucap Monica menggantung sambil melihat ke arah Laura dan Sheila bergantian.
"Sebenarnya Laura itu bodyguard gue yang disewa oleh suami gue, awalnya gue gak mau tapi suami gue kekeh kalau gue ahrus ada bodyguard, jadi mau enggak mau Laura lah bodyguard gue." jawab Sheila membuat Monica dan jovanka membulatkan matanya tak percaya dengan semuanya yang baru saja ia dengan itu.
"Jadi selama ini elo.." gantung Jovanka lagi.
"Maaf kalau gue bohongin kalian, tetapi sumpah gue gak ada niatan sama sekali kayak gitu dan juga kalau kalian tanya siapa suami gue, maaf banget gue belum siap buat memberitahukan hal itu tapi nanti kalau gue udah siap pasti akan gue kasih tahu atau malah kalian yang akan tahu terlebih dahulu, tetapi kalau waktu itu sudah sampai tolong maafin gue karena udah nyembunyiin banyak hal sama kalian ya." tegas Sheila panjang lebar.
"Elo tenang aja Sheila, kita ngerti kok, jadi elo gak usah khawatir lagi ya," ucap Jovanka menenangkan Sheila.
"Terima kasih." balas Sheila karena teman temannya yang sangat mengerti tentang dirinya.
"Iya." balas mereka berdua berbarengan dan kemudian memeluk Sheila bersama-sama.
Laura dan pak Thomas yang berada di depan pun melihat hal itu ikut terharu karena nona mudanya bisa berbicara hal yang terus saja mengusik pikirannya itu mengenai teman temannya tersebut.
Bersambung..........
__ADS_1