Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 100


__ADS_3

Raka tiba di rumah sakit bersama dengan asisten pribadinya yang selalu setia berada disisinya.


“Tinggalkan aku disini!” perintah Raka pada asisten pribadinya.


“Tuan Muda, apakah Tuan Muda yakin?” tanya Reza memastikan.


“Tugasmu hanyalah menuruti setiap perintahku dan kamu tidak berhak bertanya apapun,” tegas Raka.


“Baik, Tuan Muda. Saya permisi, saya harap Tuan Muda tidak melakukan kesalahan,” tutur Reza dan melenggang pergi meninggalkan Tuan Mudanya bersama dengan Luna yang saat itu tengah koma.


Raka menggerakkan kursi rodanya mendekati Luna dan perlahan Raka memandangi wajah mantan kekasihnya yang sangat pucat.


Disaat yang bersamaan, seorang dokter wanita memasuki ruangan tersebut.


“Permisi, Tuan siapanya Pasien?” tanya dokter wanita itu ketika melihat Raka yang sudah berada di ruang rawat.


“Saya teman dari wanita ini,” jawab Raka dengan ekspresi datar.


Dokter wanita itu hanya tersenyum dan mulai memeriksa kondisi terbaru Luna.


“Bagaimana kondisi Luna saat ini, Dok? Apakah dia akan terus mengalami koma?” tanya Raka.


“Koma? Pasien sama sekali tidak mengalami koma. Hanya saja, butuh waktu bagi pasien untuk sadar. Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Sangat bahaya jika racun masuk ke dalam tubuh, terlebih lagi disengaja,” ungkapnya.


Dokter itu pun pergi setelah memberi penjelasan kepada Raka.


“Apakah kamu benar-benar putus asa sehingga ingin mati dengan cara kotor seperti ini?” tanya Raka pada Luna yang masih berbaring di ranjang pasien.


Reza menyelusuri lorong rumah sakit menuju kantin. Pria itu tak sadar bahwa banyak wanita yang tengah memandangi ketampanannya.


Reza sendiri adalah pria yang cuek dengan orang disekitarnya. Meskipun begitu, hatinya lebih lembut dibandingkan dengan Tuan Mudanya.


“Bu, saya pesan kopi hitam 2,” tutur Reza memesan dua gelas kopi untuknya dan untuk Tuan Mudanya.


Tak butuh waktu lama, dua gelas kopi pun telah siap untuk dinikmati.


“Ini uangnya, sekalian saya beli gelas dan sendok,” tutur Reza sembari memberikan uang sebesar 50 ribu.


Pukul 23.45 WIB.


Melinda tak bisa tidur karena memikirkan Sang suami sekaligus menunggu kedatangan suaminya yang masih belum pulang. Belum lagi, pikiran-pikiran aneh yang selalu menyelimuti isi kepala Melinda.


“Tadi Mas Raka bilang hanya sebentar. Akan tetapi, sudah jam segini Mas Raka belum juga kembali,” ucap Melinda bermonolog.


Melinda menyentuh dadanya dan mengelus dadanya berulang kali agar rasa kecewa dihatinya segera hilang.


Melinda menyentuh dadanya dan mengelus dadanya berulang kali agar rasa kecewa dihatinya segera hilang.


Untuk mengusir perasaannya yang tak tenang, Melinda memutuskan untuk menelusuri setiap ruangan di apartemen milik Sang suami.


🌷


Raka menghela napasnya ketika mengetahui bahwa Luna telah sadarkan diri. Saat itu juga Raka mengutarakan isi hatinya kepada Luna.


“Kak Raka, aku senang Kak Raka datang menemui ku,” ucap Luna yang masih berbaring dan dengan senyum penuh kemenangan.


Luna sangat yakin bahwa kedatangan Raka karena mengkhawatirkan dirinya dan juga Raka telah sadar, bahwa Luna lah yang lebih unggul dibandingkan wanita bernama Melinda.


“Kak Raka, sekarang Kak Raka pasti memilih aku,” tutur Luna dengan penuh percaya diri.


Raka tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Luna yang sangat menggelikan.


“Jadi, kamu pikir aku datang kemari karena pikiranmu itu? Yang benar saja,” balas Raka dan kembali tertawa.


Kali ini suara Raka terdengar mengejek dan membuat Reza bernapas lega.


“Syukurlah, sepertinya dugaan ku salah,” ucap Reza lirih.


“Kak Raka, lebih baik Kak Raka jujur saja padaku. Bahwa Kak Raka masih mencintaiku dan ingin menikahi ku,” ujar Luna yang semakin tak tahu malu.


“Apakah kamu sudah gila? Bukankah sebelumnya aku sudah menolakmu dan aku tidak bisa memberikan keturunan karena kecacatan ini,” pungkas Raka.


“Apa Kak Raka lupa bahwa zaman sekarang itu sudah canggih. Lagipula, bayi tabung di zaman sekarang sedang trend,” sahut Luna yang berusaha terus untuk membuat Raka tak bisa mengelak dari dirinya.


“Dengarkan ucapan ku baik-baik! Aku menyesal pernah mencintai wanita yang tak tahu malu seperti kamu. Apakah karena tidak ada yang tertarik padamu, sehingga kamu terus mengharapkan diriku? Sebagai wanita, tidak sepatutnya kamu mengejar pria terlebih lagi pria itu telah beristri,” tegas Raka.


Raka mengeluarkan uang di dompetnya dan melemparnya di ranjang yang tengah menjadi tempat istirahat Luna.


“Itu uang untukmu. Aku mohon jangan pernah muncul di hadapanku atau berusaha untuk menghubungi. Aku anggap saat ini juga kamu sudah tiada,” tegas Raka.

__ADS_1


Reza dengan sigap membawa Tuan Mudanya keluar dari ruangan tersebut. Sementara Luna, menangis karena Raka benar-benar tak menganggapnya hidup.


“Reza, aku tidak ingin lagi berurusan dengan wanita sampah seperti dia. Kamu mengerti maksudku?” tanya Raka.


“Saya mengerti, Tuan Muda. Saya tidak akan lagi memberitahukan apapun mengenai wanita itu,” sahut Reza.


“Sekarang, bawa aku ke apartemen! Melinda pasti menungguku dan aku tidak ingin jika Melinda berpikiran macam-macam mengenai aku dan juga wanita sampah itu,” pungkas Raka.


“Tuan Muda sangat hebat, saya salut dengan sikap Tuan Muda saat berbicara dengan wanita itu,” ujar Reza memuji sikap tegas Tuan Mudanya.


“Jadi, selama ini kamu kira aku apa?” tanya Raka.


“Hufttt.... Serba salah,” celetuk Reza.


Raka tersenyum tipis mendengar celetukan asisten pribadinya.


🌷


Pukul 02.15 WIB.


Melinda belum juga tidur, wanita itu semakin tak tenang karena Sang suami tidak datang seperti yang telah suaminya katakan sebelumnya.


Meskipun begitu, Melinda tetap sabar menunggu kedatangan Sang suami untuk segera datang menemuinya.


Suara bel pintu tiba-tiba terdengar, saat itu juga Melinda berlari untuk segera menyambut kedatangan suami tercinta.


“Mas Raka!” Melinda menyambut kedatangan suaminya dengan penuh semangat.


“Melinda, kamu belum tidur?” tanya Raka ketika melihat betapa semangatnya Melinda menyambut kedatangannya.


Dengan wajah polos, Melinda mengatakan bahwa ia tidak bisa tidur.


“Saya sama sekali tidak bisa tidur, Mas Raka. Apa urusan Mas Raka sudah selesai?” tanya Melinda penasaran.


Raka merasa tak enak hati karena membuat istrinya tidak bisa tidur.


“Kamu yang tenang ya, aku dan wanita itu sudah tidak ada perasaan apapun. Cintaku sepenuhnya untukmu,” ungkap Raka.


Melinda secara refleks membungkam mulut suaminya karena diantara mereka ada Reza yang memperhatikan mereka berdua.


“Oh, jadi Tuan Muda dan Nona Muda sudah.....” Reza dengan cepat membungkam mulutnya dan berlari secepat mungkin meninggalkan keduanya.


“Mas seharusnya jangan mengatakan hal itu di depan Mas Reza. Saya benar-benar malu,” tutur Melinda yang sudah merah layaknya kepiting rebus.


“Wajahmu semakin cantik kalau seperti ini,” puji Raka yang ternyata wajahnya ikut memerah seperti wajah Melinda.


Melinda tertawa kecil karena melihat wajah suaminya yang juga merah seperti kepiting rebus.


“Wajah Mas Raka memerah, apakah Mas Raka juga tersipu malu?” tanya Melinda.


“Benarkah?” tanya Raka memastikan sembari menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


Keduanya pun tertawa bahagia terlihat seperti tak ada beban sama sekali di hidup mereka.


“Melinda, mari menata masa depan yang indah untuk kita berdua,” ucap Raka yang telah mempercayakan seluruh hatinya kepada Melinda.


Melinda tak bisa berkata-kata, wanita muda itu menangis terharu mendengar ucapan suaminya.


“Mas Raka....” Melinda mendekap erat tubuh suaminya dengan menangis bahagia.


“Kita adalah satu,” tutur Raka yang juga membalas pelukan erat Sang istri.


Setelah cukup lama mereka saling berpelukan, Raka pun mengajak istrinya untuk tidur. Raka tidak ingin bila esok pagi istrinya mengantuk dan tidak fokus dengan kelasnya.


“Melinda, ayo kita tidur. Kamu pasti mengantuk, begitu juga dengan aku,” ajak Raka.


“Baik, Mas Raka,” balas Melinda dan mendorong kursi roda suaminya masuk ke dalam kamar mereka.


Ya Allah, betapa bahagianya hamba saat ini. (Batin Melinda)


Melinda membantu suaminya mengganti pakaian sebelum naik ke tempat tidur untuk beristirahat.


“Apakah kamu masih memikirkan hal tadi? Maksudku, apakah kamu sedih ketika tahu bahwa aku datang menemui Luna?” tanya Raka penasaran.


“Jujur, saya sempat sedih karena Mas Raka datang menemui Nona Luna. Akan tetapi, setelah mendengar penjelasan Mas Raka, hati saya sudah yakin dan percaya bahwa Mas Raka begitu mencintai saya,” terang Melinda.


“Karena kamu sudah tahu isi hatiku. Bolehkah aku tahu isi hatimu?” tanya Raka yang sangat ingin mendengar isi hati dari Sang istri.


“Mas Raka, kalau soal itu saya bingung untuk mengutarakannya. Akan tetapi, hati saya selamanya ungu Mas Raka dan saya akan menerima semua kekurangan Mas Raka, termasuk....” Melinda tidak bisa melanjutkan perkataannya, Melinda takut jika ia mengatakan yang sejujurnya, Sang suami akan sangat sedih.

__ADS_1


“Melinda, kenapa kamu mendadak diam? Termasuk apa? Katakanlah yang sejujurnya kepadaku,” pinta Raka yang penasaran dengan apa yang ingin Melinda katakan.


“Kita naik ke kasur dulu ya Mas. Nanti saya akan memberitahukan apa yang sudah saya ketahui,” tutur Melinda.


Melinda pun membantu suaminya naik ke tempat tidur setelah membantu Sang suami mengenakan pakaian.


“Sekarang kita sudah di tempat tidur. Ayo, ceritakan apa yang ingin kamu beritahukan kepadaku,” pinta Raka.


“Sebelumnya, saya minta maaf karena sengaja menguping pembicaraan Mas Raka dan juga Nona Luna,” ucap Melinda.


Keduanya saling bertukar pandang satu sama lain dengan posisi yang saling berhadapan.


“Menguping?” tanya Raka terheran-heran.


Melinda akhirnya jujur mengenai dirinya yang sengaja menguping dan mengetahui bahwa Sang suami tidak bisa memiliki keturunan.


Setelah mendengar penjelasan Melinda, Raka hanya bisa menghela napas dengan tatapan datar.


“Maaf, membuat Mas Raka tersinggung,” ucap Melinda yang lagi-lagi meminta maaf kepada suaminya.


“Kenapa kamu berpikir bahwa aku akan tersinggung? Aku sama sekali tak tersinggung. Justru, aku senang ketika melihat ekspresi wajahmu yang tidak ingin membuat aku sedih.”


“Apakah sangat terlihat jelas ya Mas Raka?” tanya Melinda.


“Seharusnya aku lebih cepat menyatakan perasaanku untukmu. Maaf, karena aku terlambat menyadarinya,” ujar Raka meminta maaf atas keterlambatannya.


“Mas Raka tidak perlu meminta maaf,” balas Melinda.


Raka tersenyum lebar dan perlahan ia menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Melinda yang menggemaskan.


“Apa kamu tidak pernah berpikir untuk mencari pria lain? Maksudku, aku adalah pria yang cacat sekaligus pria yang tak bisa memberikan keturunan, apakah kamu masih mau?” tanya Raka memastikan kembali.


“Apa perlu saya harus bersumpah agar Mas Raka percaya?” tanya Melinda.


“Ssuuttsss... Aku percaya padamu, kamu tidak perlu sampai mengucapkan sumpah,” pungkas Raka.


Jantung keduanya berdetak saling bersahutan karena kedatangan yang sedang terjadi antara keduanya.


“Kamu cantik sekali, Melinda,” puji Raka yang masih menyentuh pipi Melinda.


Melinda hanya bisa tersipu malu mendengar suaminya memuji dirinya.


“Sudah malam, ayo kita tidur. Aku harap kamu bisa tidur nyenyak,” tutur Raka yang terlihat sangat perhatian dengan Sang istri.


Melinda mengangguk kecil dan dengan malu-malu menggerakkan tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Sang suami.


“Masih kurang dekat, lebih dekat lagi,” pinta Raka ketika menyadari bahwa Melinda ingin tidur berdekatan dengan dirinya.


Melinda tersenyum dan menggerakkan tubuhnya lebih dekat lagi dengan Sang suami.


“Boleh aku tidur dengan cara memelukmu?” tanya Raka.


Melinda saat itu menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan Raka padanya.


Dengan malu-malu, Melinda hanya merespon pertanyaan suaminya dengan anggukan kepala.


Perlahan, tangan Raka bergerak dan mendarat di bagian perut Melinda.


“Kalau kamu merasa kurang nyaman, katakan saja,” tutur Raka karena tak ingin membuat Melinda merasa tidak nyaman.


Saat Raka ingin menjauhkan tangannya yang berada di perut Melinda, Melinda dengan cepat menahan tangan Sang suami.


“Tetap seperti ini, Mas Raka,” tutur Melinda malu-malu.


Raka tersenyum lebar dan kembali memeluk tubuh Melinda.


“Besok kita harus kembali ke rumah, apakah kamu merasa kecewa?” tanya Raka.


“Saya ngikut Mas Raka saja, mau dimana pun Mas Raka berada, saya harap Mas Raka akan selalu membawa saya. Keluarga saya sekarang hanyalah Mas Raka dan juga Kakek,” ungkap Melinda.


“Maaf, karena terlambat untuk melindungi mu,” balas Raka.


“Mas Raka, ayo tidur. Besok jadwal kita cukup banyak dan besok saya harus berangkat lebih pagi,” ajak Melinda yang ingin segera tidur.


“Ayo, aku juga sangat mengantuk,” sahut Raka.


Keduanya pun tidur dengan posisi yang sangat intim.


Ya Allah, sekali lagi Engkau menunjukkan hal yang tak terduga untuk hamba. Terima kasih Ya Allah, terima kasih. (Batin Melinda)

__ADS_1


__ADS_2