
Pagi hari.
Indri tak sengaja mendengar perbincangan antara Almer dan Raka di ruang keluarga, perbincangan tersebut mengenai Melinda yang akan diperkenalkan oleh keduanya di perusahaan. Hal tersebut, membuat Indri marah sekaligus semakin membenci kehadiran Melinda yang sepenuhnya telah merebut posisinya sebagai cucu menantu di rumah itu.
Sialan, kenapa harus wanita kampungan itu yang menjadi kesayangan Kakek tua dan juga Raka? Apa yang mereka lihat dari wanita kampungan itu yang sangat dekil. (Batin Indri)
Almer tak sengaja menoleh ke sisi kanan yang ternyata sudah ada Indri yang tengah memperhatikan dirinya dan juga Raka.
“Kamu sedang apa disitu?” tanya Almer menangkap basah Indri yang tengah menguping.
“Tidak sedang ngapa-ngapain,” jawab Indri dan melenggang pergi dengan kesedihan yang mendalam.
Indri berlari menuju lift dan disaat yang bersamaan, Melinda keluar dari lift dengan gaun yang begitu mewah.
“Gaun ini,” ucap Indri ketika melihat gaun yang ternyata sudah diincar olehnya beberapa hari yang lalu, malah telah dikenakan oleh Melinda.
Melinda hanya tersenyum canggung karena Indri begitu tertarik dengan gaun yang ia kenakan.
“Kamu membeli gaun ini dimana? Kapan? Melalui apa?” tanya Indri menginterogasi Melinda.
“Saya juga tidak tahu, Mbak Indri. Kakek yang memberikan saya gaun ini,” jawab Melinda.
Indri meneteskan air matanya dan masuk ke dalam lift dengan sangat kecewa.
Melinda terkejut dengan respon Indri yang malah menangis dan masuk ke dalam lift tanpa mengatakan sepatah katapun.
Apa aku ada salah? Kenapa Mbak Indri tiba-tiba menangis? Semoga saja itu bukan karena aku. (Batin Melinda)
Indri berlari menuju kamarnya dengan air mata yang terus mengalir.
“Rafa, apakah kamu bisa merasakannya kesedihanku disini? Kenapa kamu harus meninggalkan aku disini sendiri? Mana janjimu yang dulu kamu ucapkan ketika menikahi ku? Kamu mengatakan akan membahagiakan aku dan menuruti semua permintaan aku. Kemana kamu sekarang? Kamu pergi meninggalkan dunia ini, meninggalkan aku seorang ini.” Indri berteriak di depan foto almarhum suaminya, Rafa.
Melinda berjalan untuk menemui Almer serta Raka yang entah dimana. Melinda ikut sedih melihat Indri yang menangis, Melinda berpikir bahwa Indri menangis karena merindukan almarhum Rafa, yaitu kakak kandung dari Raka.
“Cucu menantu!” Almer melambaikan tangannya ke arah Melinda.
Melinda mendongak dan berjalan menuju Almer serta suaminya, Raka.
Hal yang paling ditakutkan oleh Melinda ketika menghadiri acara-acara penting adalah ia takut bila mempermalukan keluarga suaminya. Belum lagi, dirinya harus menahan rasa sakit ketika mengenakan high heels yang cukup tinggi.
“Ada apa, Cucu menantu?” tanya Almer ketika melihat ekspresi tak nyaman cucu menantunya.
“Tidak ada apa-apa, Kakek,” jawab Melinda dan menyembunyikan rasa tak nyaman dikakinya dengan senyuman.
Raka tersenyum tipis dan nyaris tak terlihat ketika memandangi penampilan istrinya, Melinda.
__ADS_1
Wanita menjijikkan ini lumayan juga kalau terus-menerus mengenakan pakaian mahal. (Batin Raka)
Raka menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh kekagumannya, meskipun hanya membatin.
“Raka, kamu kenapa?” tanya Almer ketika melihat cucunya yang terus-menerus menggelengkan kepalanya.
“Raka tidak apa-apa, Kakek,” balas Raka tersenyum bodoh.
“Karena cucu menantu sudah siap, ayo kita pergi ke perusahaan!” ajak Almer yang tak sabar ingin membawa serta memperkenalkan cucu menantunya kepada para pekerjan di perusahaan.
Melinda tersenyum manis ke arah Raka. Akan tetapi, Raka malah buang muka ketika mendapat senyuman dari Melinda.
Apakah aku berbuat salah? Aku pikir Mas Raka akan senang dengan penampilanku. Akan tetapi, melihat reaksi Mas Raka yang seperti itu, pasti Mas Raka tak suka dengan penampilanku ini. (Batin Melinda)
🌷
Jantung Melinda berdebar-debar tak karuan ketika membayangkan bagaimana respon dari para pekerja di perusahaan milik Almer yang nantinya akan diwariskan kepada cucunya, Raka Arafat.
“Cucu menantu, dari tadi Kakek perhatian cucu menantu terlihat tak tenang. Sekarang beritahu Kakek apa yang sedang cucu menantu pikirkan?” tanya Almer menoleh ke kursi tengah.
Raka yang tidak memperhatikan istrinya, seketika itu menoleh ke arah Melinda untuk melihat ekspresi wajah Melinda.
“Melinda merasa sangat gugup, Kakek. Dari tadi jantung Melinda berdebar-debar dan rasanya hampir copot,” jawab Melinda apa adanya.
“Hahaha. Hahaha.” Raka tertawa lepas mendengar jawaban dari Melinda yang terdengar sangat polos sekaligus bodoh.
Melihat Almer dan Raka yang menertawakan dirinya, Melinda hanya bisa tersenyum lebar dengan tatapan penuh kebingungan.
“Istriku, apakah kamu begitu gugup? Apapun itu, jantungmu tidak akan copot. Tenang saja,” ucap Raka sembari membelai lembut rambut Melinda dan perlahan menghentikan tawanya.
Melinda tertegun sejenak dengan apa yang dilakukan oleh Raka kepadanya. Akan tetapi, Melinda langsung sadar dengan apa yang Raka lakukan, apa yang Raka lakukan tentu saja karena ada Sang Kakek.
Apakah aku boleh berharap besar mengenai hubungan kami? Astagfirullah, Melinda. Kamu ini memikirkan apa? Mana mungkin pria setampan Mas Raka bisa mencintai kamu yang jelek ini? Sadarlah Melinda, kamu harus sadar dengan hubungan kalian berdua yang tanpa dilandasi oleh cinta. (Batin Melinda)
“Terima kasih, Mas Raka,” ucap Melinda dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.
Raka terkejut dan refleks menghapus air mata Melinda.
Almer yang melihat kedekatan keduanya, tersenyum lega dan berharap kedepannya hubungan cucu serta cucu menantunya semakin membaik.
“Jangan menangis, kalau sampai kamu menangis dan dilihat oleh Kakek, aku pasti yang disalahkan.” Raka berbisik ditelinga Melinda.
Almer kembali menoleh ke belakang untuk melihat Raka dan Melinda. Melinda hanya tersenyum ketika Raka berbisik padanya, hal itu Melinda lakukan karena Almer tengah memandangi dirinya dan juga suaminya, Raka.
“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Almer penasaran ketika melihat Melinda yang tersenyum lebar.
__ADS_1
Raka terkesiap mendengar pertanyaan dari Kakeknya.
“Kakek, ini rahasia Melinda dan juga Mas Raka,” balas Melinda mencoba terlihat baik-baik saja dihadapan Almer.
“Baiklah, Kakek tidak akan bertanya,” balas Almer dan kembali menghadap ke depan.
Raka melirik sekilas ke arah Melinda sembari menghela napasnya.
“Mas Raka, apakah perjalanannya masih jauh?” tanya Melinda penasaran.
“Sebentar lagi kita sampai,” jawab Raka.
Melinda mencoba tetap tenang dengan apa yang akan terjadi. Melinda berharap bahwa semuanya lancar dan dirinya sama sekali tidak mempermalukan Almer maupun Raka.
Akhirnya mereka sampai di perusahaan tersebut.
Asisten pribadi Raka yaitu Reza, dengan sigap membantu Tuannya turun dari mobil untuk segera memindahkannya ke kursi roda.
“Selamat datang Tuan besar, Tuan Muda dan Nona Muda!” Tanpa mengurangi rasa hormat, Reza menyambut kedatangan mereka bertiga.
Almer lebih dulu berjalan memasuki perusahaan miliknya dan disusul oleh Raka serta Melinda.
Saat Melinda baru saja melangkah masuk, tiba-tiba semua orang memperhatikan dirinya dan membuat Melinda menjadi salah tingkah. Karena terlalu gugup, Melinda salah melangkah dan akhirnya jatuh begitu saja.
Almer, Raka, Reza serta yang lain terkejut melihat Melinda yang jatuh.
Raka mengeluarkan tangannya dan menarik Melinda naik ke atas pangkuannya.
“Pulang nanti, aku akan memberikan perhitungan kepada mu,” ucap Raka berbisik sembari tangannya melingkar sempurna di pinggang Melinda agar Sang Kakek berpikir bahwa Raka adalah sosok suami yang baik untuk Melinda.
“Apa yang kalian tonton? Cepat kerja!” Raka berteriak kepada para bawahan agar kembali bekerja.
Raka memang terkenal tegas, galak dan juga dingin di perusahaan itu.
“Cucu menantu baik-baik saja?” tanya Almer mengkhawatirkan keadaan cucu menantu kesayangannya.
“Maaf, Kakek. Melinda tiba-tiba gugup dan akhirnya tak sengaja terjatuh,” jawab Melinda.
“Kenapa malah minta maaf? Cucu menantu yakin tidak apa-apa? Apa perlu kita ke rumah sakit?” tanya Almer.
“Tidak usah, Kakek. Melinda tidak apa-apa,” jawab Melinda.
“Reza, cepat bawa kami ke ruangan ku!” perintah Raka pada asisten pribadinya.
Reza mengiyakan dan mendorong kursi roda tersebut untuk segera keruang kerja Raka Arafat.
__ADS_1
Mas Raka pasti sangat marah karena apa yang telah aku lakukan. Ya Allah, semoga saja hamba bisa melewati ini semua. (Batin Melinda)