
Melinda bangun dari tidurnya ketika mendengar suara adzan berkumandang, saat itu Melinda perlahan turun dari tempat tidur untuk melaksanakan sholat subuh seorang diri di kamarnya.
Saat Melinda hendak berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba kepala Melinda mengalami pusing yang hampir membuat Melinda kehilangan keseimbangannya.
“Ya ampun, kenapa kepalaku sakit begini? Mungkinkah karena aku keseringan menangis dan membuat kepalaku sakit begini?” tanya Melinda.
Melinda perlahan masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah itu, Melinda keluar dari kamar mandi dengan menyentuh tembok kamar agar tidak terjatuh.
Karena pusingnya masih belum hilang, Melinda memutuskan untuk melaksanakan sholat subuh dengan cara duduk.
Tentu saja hal itu diperbolehkan, karena jika Melinda memaksa berdiri, ditakutkan Melinda akan terjatuh dan tak sadarkan diri.
Usai melaksanakan sholat subuh, Melinda memilih untuk tidur kembali. Melinda berharap pusing di kepalanya segera menghilang karena pagi itu ia harus berangkat kuliah.
Sekitar 1 jam kemudian, Melinda perlahan membuka matanya dan ketika ia menyentuh dahinya, mereka terkejut karena rumahnya ia mengalami demam.
Pada akhirnya Melinda memutuskan untuk tidak masuk kelas mengingat kondisinya yang sedang sakit.
“Tak disangka, ternyata aku juga bisa sakit,” ujar Melinda yang pada akhirnya ia jatuh sakit.
Melinda mencoba untuk turun dari kasur, akan tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk meninggalkan tempat tidurnya. Sepertinya, Melinda akan lebih baik menghabiskan waktu di tempat tidur dan tentu saja hal itu membuat Melinda akan bosan selama beberapa hari ke depan.
Disaat yang bersamaan, Kakek Almer sedang duduk di ruang keluarga. Biasanya sepagi itu Melinda akan menghampiri, meskipun hanya sekedar menyapa dirinya.
“Kamu, tolong lihat cucu menantuku. Tidak biasanya jam segini belum keluar dari kamar,” ujar Almer meminta salah satu pelayan untuk mendatangi kamar Cucu menantu kesayangannya.
Pelayan itu mengiyakan apa yang Tuan Besarnya katakan. Ia pun pamit pergi meninggalkan Kakek Almer untuk segera datang menghampiri Nona Mudanya.
Tak butuh waktu lama, pelayan wanita itu sudah berada di depan kamar Melinda. Ia mulai mengetuk pintu kamar tersebut sembari memanggil Nona Mudanya berulang kali.
“Nona Muda, apakah Nona Muda sudah bangun? Nona Muda!”
Melinda yang mendengar suara tersebut memanggil namanya, memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya. Perlahan, Melinda berjalan selangkah demi selangkah dan akhirnya berhasil membuka pintu kamarnya.
“Ya Allah, Nona Muda!” Pelayan tersebut terkejut ketika melihat wajah pucat Nona Mudanya.
Ketika ia menyentuh dahi Nona Mudanya, ia pun panik dan menuntun Melinda untuk naik ke tempat tidur kembali.
“Nona Muda sakit, saya panggilkan dokter ya,” ujar Pelayan wanita itu kepada Melinda.
“Tidak usah, Mbak. Kalau Mbak memanggil dokter kemari dan Kakek tahu, pasti Kakek akan khawatir. Mbak belikan saya obat penurun panas saja ya,” pinta Melinda.
“Tapi, saat ini Tuan Besar sedang menunggu Nona Muda di ruang keluarga,” ujarnya.
“Mbak, tolong sampaikan kepada Kakek kalau saya sedang ingin istirahat. Insya Allah, Kakek bisa mengerti. Tolong ya Mbak dan jangan lupa dengan obat penurun panas,” tutur Melinda.
Akhirnya pelayan itu setuju dengan yang Melinda katakan. Melinda mengucapkan terima kasih atas pengertiannya itu. Kemudian, Melinda kembali memejamkan matanya sementara pelayan wanita yang sebelumnya masuk ke dalam kamar Melinda, bergegas keluar untuk menyampaikan pesan Nona Mudanya kepada Tuan Besar.
__ADS_1
“Tuan Besar, saya sudah menemui Nona Muda di kamar. Nona Muda berpesan ingin beristirahat,” tuturnya.
“Ya sudah, biarkan saja. Lagipula, Cucu menantu juga membutuhkan istirahat. Di usia mudanya, cucu menantu ku cukup sibuk dengan tugas-tugas yang harus ia emban,” pungkas Almer.
Almer meminta pelayan itu untuk membawanya berjemur di depan. Kakek tua itu ingin merasakan sinar matahari pagi agar bisa menghangatkan tubuhnya.
Melinda masih berada di kamarnya, tiba-tiba ia menggigil hebat. Entah kenapa, Melinda sebelumnya tidak pernah sampai menggigil hebat seperti yang ia rasakan saat ini.
“Ya Allah, ada apa lagi dengan tubuh Hamba? Sehatkan hamba ya Allah, masih banyak yang harus hamba kerjakan,” ujar Melinda.
Sekitar 2 jam kemudian, pelayan yang sebelumnya dimintai tolong akhirnya datang dengan membawa obat.
Sebelum itu, Melinda terlebih dulu makan roti agar perutnya tidak kosong ketika meminum obat tersebut.
“Terima kasih ya Mbak, maaf merepotkan Mbak,” ujar Melinda.
“Nona Muda, jangan berkata seperti itu. Ini sudah menjadi tugas saya, sebaiknya Nona Muda istirahat. Saya permisi, cepat sembuh Nona Muda!”
“Sekali lagi terima kasih, Mbak,” balas Melinda.
Melinda tiba-tiba menangis di dalam kamar, wanita muda itu merindukan sosok suaminya. Melinda sangat ingin bila suaminya menemani dirinya ketika sedang sakit.
“Mas Raka, tidak bisakah Mas Raka menemaniku sehari saja disini? Aku rindu, Mas. Aku sangat merindukan kehadiran Mas Raka disini,” ujar Melinda yang terus meneteskan air matanya.
Rasa rindu Melinda tidak dapat terbendung lagi, ia terus menyebut nama suaminya dan ingin sekali dipeluk oleh suaminya. Jika dulu ada ibunya, lain halnya sekarang. Melinda tidak mempunyai seseorang yang bisa ia andalkan, selain suaminya sendiri.
Almer merasa bahwa Melinda sedang tidak baik-baik saja, biasanya cucu menantunya itu pasti akan datang hanya sekedar bertanya apakah sudah makan dan apakah sudah minum obat atau belum. Tapi, kali ini benar-benar berbeda. Bahkan, Almer sama sekali tidak mendengar suara Melinda.
Karena penasaran, Almer memutuskan untuk menemui Cucu menantunya yang berada di kamar lantai atas.
“Kamu, ayo bantu aku naik ke lantai atas!” pinta Almer.
Kondisi Melinda belum juga membaik, efek obat yang ia minum membuat ingin selalu tidur dan tidur lagi.
Saat itu pintu kebetulan tidak Melinda kunci, sehingga Kakek Almer dan seorang pelayan bisa masuk ke dalam kamar.
Kakek Almer sangat terkejut ketika melihat Cucu menantunya berbaring di tempat tidur.
“Cucu menantu kenapa?” tanya Kakek Almer dan menyentuh dahi Melinda.
Almer sampai terkejut ketika merasakan betapa panasnya kulit Melinda.
“Ya Allah,” tutur Almer yang terkejut merasakan panas.
“Kakek jangan khawatir ya, Melinda tidak apa-apa,” ujar Melinda yang tidak ingin membuat Kakek tua itu cemas dengan kondisi kesehatannya.
“Tidak apa-apa bagaimana? Kamu, cepat telepon dokter dan minta datang kemari secepatnya!” perintah Almer.
__ADS_1
Almer berjalan mendekati nakas dan menekan tombol panggil agar para pelayan segera datang ke kamar tersebut.
Tak butuh waktu lama, kamar tidur itu sudah dipenuhi oleh para pelayan.
“Kalian, cepat buatkan sup untuk cucu menantuku dan buatkan juga teh hangat!” perintah Almer agar segera membuatkan sup serta teh hangat untuk Melinda yang tengah sakit.
Saat itu Melinda memilih untuk diam, ia sedang tidak ingin berbicara. Hal itu, diakibatkan dari sakit yang ia rasakan.
Beberapa menit kemudian, sup serta teh hangat akhirnya datang.
Dua pelayan dengan hati-hati membantu Melinda untuk menikmati sup tersebut.
Almer tersenyum lega, Melinda terlihat sama sekali tidak kesulitan untuk menelan sup tersebut.
“Mau minum teh, Cucu menantu?” tanya Almer.
“Tidak, Kakek. Sup ini saja,” jawab Melinda.
Sup benar-benar habis dan Melinda kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Melinda yang berusaha untuk tidak sakit, pada akhirnya sakit juga. Mau tak mau Melinda harus banyak istirahat agar cepat sembuh.
“Kakek sudah sarapan dan minum obat?” tanya Melinda yang masih mencemaskan Kakek Almer.
“Cucu menantu tenang saja, Kakek sudah sarapan dan minum obat tepat waktu,” jawab Almer dan membelai lembut kepala Melinda.
“Syukurlah kalau begitu,” tutur Melinda.
“Cucu menantu tidak boleh cemas begitu. Bukankah selama ini Kakek makan dan minum obat tepat waktu? Tidak hanya itu, Kakek juga beristirahat dengan cukup,” pungkasnya.
“Iya, Kakek. Maaf ya Kek, Melinda malah sakit begini.”
“Sudah jangan sedih, anggap saja kalau Cucu menantu sedang istirahat. Kakek juga selama ini berpikiran seperti itu.”
Almer meminta salah satu pelayan untuk tetap berada di dalam kamar. Sementara yang lain, kembali mengerjakan pekerjaan mereka.
“Kakek jangan cemas ya, Melinda akan segera sembuh,” ujar Melinda.
“Iya, Kakek tahu kalau Cucu menantu akan segera sembuh,” balas Almer kepada cucu menantunya itu.
Melihat Melinda yang sedang terbaring, Kakek Almer memutuskan untuk keluar dari kamar karena tidak ingin mengganggu istirahat Melinda yang sedang sakit.
“Mbak pergilah, saya ingin sendirian di kamar,” tutur Melinda.
Pelayan wanita itu akhirnya pergi meninggalkan Melinda seorang diri yang tengah berbaring lemas di atas tempat tidur.
“Ayolah badan, kamu harus sembuh agar bisa beraktivitas seperti biasa,” ucap Melinda menyemangati dirinya sendiri.
Melinda perlahan turun dari tempat tidur untuk buang air kecil. Dengan langkah hati-hati Melinda akhirnya berhasil masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1