Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 61


__ADS_3

“Karena Mas Raka sudah mengatakannya, maka saya akan segera tidur,” tutur Melinda kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Sebelum tidur, kamu harus minum obat,” ucap Raka mengingatkan Melinda untuk minum obat sebelum tidur.


Raka bertanya kepada Melinda dimana Melinda menyimpan obat tersebut dan Melinda pun memberitahu dimana ia meletakkan obat tersebut.


Raka mengambilnya, lalu memberikan obat itu kepemilikannya. Melinda dengan hati-hati meminumnya dan bergegas beristirahat.


Raka yang juga mengantuk akhirnya memutuskan untuk naik ke tempat tidur. Ia naik ke tempat tidur dengan usahanya sendiri.


“Mas Raka butuh bantuan?” tanya Melinda yang bersiap-siap ingin membantu suaminya.


“Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri. Meskipun, cukup lama bagiku pindah ke tempat tidur. Kamu bergeser lah menjauh dariku!” perintah Raka.


Melinda berguling ke arah samping dan memberikan tempat tidur yang cukup luas untuk suaminya.


Melinda menatap kagum suaminya yang berhasil naik ke tempat tidur tanpa bantuan siapapun.


“Kamu ingin memujiku?” tanya Raka sembari merenggangkan otot tangannya yang terasa sedikit lelah.


Melinda menggelengkan kepalanya dan mengubah posisi tidurnya membelakangi Raka Arafat dan Melinda memejamkan mata seketika itu juga untuk segera tertidur.


Raka tertawa kecil dan perlahan memejamkan matanya karena ia juga harus beristirahat.


Disaat yang bersamaan, Bambang masih marah dengan sikap istrinya yang bertindak gegabah. Bambang bingung harus berkata apa kepada istrinya itu.


Katty sebagai seorang anak, malah menyalahkan sikap keluarga baru Melinda yang hampir memasukkan Ibunya ke penjara.


“Sekarang kita sudah miskin dan tak bisa lagi mendapatkan uang dari keluarga kaya itu. Kalau begini, apakah kita akan cepat mati?” tanya Dina pada suaminya yang sedang berjalan mondar-mandir tak jelas.


“Diamlah, aku juga sedang berusaha berpikir,” balas Bambang yang berpikir keras bagaimana caranya ia dan keluarga kembali mendapatkan uang.


Uang 10 juta pemberian Raka habis dalam sekejap. Mereka yang terlalu senang dengan semangat berbelanja ini dan itu sehingga tak terasa bila uang mereka cepat habis.


“Mas Bambang, tolong jangan berpikir terus-menerus. Lebih baik Mas Bambang keluar cari kerjaan dong,” ucap Dina yang tidak tahan lagi melihat suaminya hanya dirumah dan tidak menghasilkan uang sama sekali.


”Kenapa harus aku saja? Kamu dan Katty juga harus bekerja untuk menghasilkan uang. Apakah kalian bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita?” tanya Bambang kesal dan terpancing emosi karena istrinya.


Dina terdiam begitu juga dengan Katty. Terlihat jelas, kalau keduanya gengsi bila harus bekerja di luar.


“Kenapa diam? Kalian berdua hanya ingin menungguku mendapatkan uang? Kalau begitu, biarlah kita mati kelaparan,” celetuk Bambang dan melenggang pergi untuk mencari ketenangan.


Katty menangis dan Dina mencoba menenangkan putri kesayangannya.


“Mama, kenapa Ayah sekarang tidak saya dengan Katty? Katty masih putri kesayangan Ayah dan Mama, 'kan?” tanya Katty yang menangis cengeng.


“Iya Katty sayang, kami tentu saja sayang sama kamu. Ayah seperti itu karena sedang pusing, kalau Ayah sudah mendapatkan uang tentu saja Ayah akan kembali memanjakan Katty,” pungkas Dina dengan terus membelai rambut putri kesayangannya itu.


Malam hari.


Melinda duduk di sofa sembari membaca sebuah novel yang ia beli beberapa hari yang lalu, ketika Sang suami dan juga Kakek dari suaminya masih berada di Malaysia.

__ADS_1


Novel itu menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang memiliki keluarga yang jahat. Entah kenapa, Melinda merasa jengkel ketika membaca bagian-bagian dimana si tokoh utama di novel itu selalu ditindas oleh keluarganya.


Ternyata, begini rasanya kesal karena melihat seseorang ditindas. Pantas saja Kakek dan Mas Raka begitu marah terhadap Ibu Dina serta aku. (Batin Melinda)


“Apa kamu tidak ada kerjaan sama sekali dan hanya melihat novel itu saja? Cepat pergi ke dapur dan buatkan aku nasi goreng!” perintah Raka pada Melinda.


Melinda terkejut dan buru-buru menutup novel yang tengah dibacanya.


”Mas Raka mau nasi goreng pedas atau yang tidak pedas?” tanya Melinda.


“Yang cukup pedas dan jangan terlalu pedas,” jawab Raka datar.


“Baik, Mas Raka. Saya akan segera membuatkan nasi goreng yang Mas Raka inginkan,” balas Melinda.


Raka melirik sekilas ke arah Melinda yang berjalan keluar dari pintu kamar. Kemudian, Raka bergeser berusaha membuka laci meja disampingnya dan menemukan tumpukan uang tunai.


“Apa ini? Bukankah uang ini yang sebelumnya aku berikan kepada wanita bodoh itu? Kenapa ada disini dan kenapa masih banyak yang tersisa?” tanya Raka terheran-heran.


Raka mulai menghitung jumlah uang tersebut dan akhirnya tahu bahwa hanya 500 ribu saja yang digunakan oleh istrinya.


“Wanita ini sungguh menjengkelkan. Tidak bisakah dia menghabiskan uang yang sangat dikit ini? Kenapa hanya mengambil 500 ribu saja?” Raka merasa sangat kesal dengan sikap Melinda itu.


Melinda telah tiba di dapur dan mencari sendiri segala sesuatu untuk bahan membuat nasi goreng. Ia mengambil, telur, sosis untuk penambah warna di nasi goreng yang akan ia buat.


Melinda tidak tahu jika nanti dirinya akan mendapatkan ocehan dari suaminya mengenai uang tersebut.


“Nona Muda, sepertinya ingin membuat makanan,” tutur pelayan menghampiri Melinda yang tengah sibuk memotong sosis.


“Iya, Mbak. Mas Raka kebetulan ingin makan nasi goreng dan meminta saya membuatnya,” jawab Melinda dengan ramah.


“Tidak perlu, Mbak. Lagipula saya hanya memasak nasi goreng saja,” jawab Melinda.


Pelayan itu mengiyakan dengan patuh dan bergeser menjauh membiarkan Nona Mudanya fokus memasak nasi goreng.


Melinda tersenyum manis dan berharap suaminya memuji rasa dari nasi goreng yang ia masak.


Sekitar 20 menit kemudian, Melinda telah selesai membuat nasi goreng tersebut. Dengan semangat, Melinda meninggalkan dapur untuk segera memberikan nasi goreng itu kepada Sang suami.


“Mas Raka, ini nasi goreng yang Mas Raka inginkan,” tutur Melinda yang baru memasuki kamar dan meletakkan nasi goreng serta air minum ke atas meja.


“Kemari lah dan jelaskan kenapa uang itu hanya berkurang 500 ribu saja?” tanya Raka dingin dan penasaran dengan jawaban istrinya itu.


Melinda tersenyum bodoh sembari berjalan mendekat ke arah suaminya yang masih berbaring di tempat tidur.


“Mas Raka, saya hanya butuh 500 ribu saja. Lagipula, orang miskin seperti saya tidak pernah menggunakan uang sebanyak itu,” jawab Melinda dengan terus menunduk tanpa ingin melihat raut wajah suaminya yang tentu saja tengah marah padanya.


“Miskin? Apa kamu sedang mengatakan bahwa tinggal disini tidak membuatmu menjadi kaya? Apa susahnya menghabiskan uang yang sedikit itu. Kamu bisa saja membeli pakaian, tas ataupun alat make-up,” pungkas Raka menjelaskan bagaimana yang itu harus dihabiskan.


“Mas Raka tolong jangan menarik kesimpulan seperti itu. Saya hanya belum terbiasa menjadi Nona di rumah ini dan belum terbiasa menghabiskan uang yang sangat banyak itu. Satu lagi, pakaian, tas ataupun alat make-up masih ada banyak sekali. Bahkan, setengah dari pakaian, tas dan juga make-up belum saya gunakan,” ungkap Melinda pada suaminya.


“Oh, jadi begitu. Baiklah, aku sedang tidak ingin marah. Akan tetapi, berusahalah untuk menghabiskan uang itu,” tegas Raka mencoba untuk tidak marah-marah kepada Melinda yang sedang sakit.

__ADS_1


“Baik, Mas Raka. Saya akan berusaha,” balas Melinda.


“Sekarang, bantu aku turun! Aku ingin menikmati nasi goreng yang kamu buat dan aku berharap bahwa masakan mu tidak mengecewakan,” ucap Raka meminta Melinda membantu turun dari tempat tidur dan memindahkannya ke kursi roda.


Melinda berhasil membantu suaminya dan mendorong kursi roda suaminya menuju meja untuk segera menikmati nasi goreng tersebut.


Raka mulai melahapnya dan Melinda tak sabar ingin mendengar suaminya memuji makanan yang ia buat.


“Bagaimana, apakah Mas Raka suka?” tanya Melinda penasaran.


“Lumayan,” jawab Raka singkat.


Melinda tersenyum manis, mendengar jawaban suaminya yang seperti itu cukup membuatnya bahagia.


“Kamu memasaknya sendiri?” tanya Raka memastikan.


“Tentu saja, Mas Raka. Saya memasak nasi goreng itu sendiri tanpa dibantu oleh Mbak,” jawab Melinda.


“Kamu hanya membuat ini untukku saja? Kamu tidak ingin makan nasi goreng ini?” tanya Raka memastikan.


“Saya masih kenyang, Mas Raka. Melihat Mas Raka menikmati nasi goreng dengan lahap seperti ini, sudah membuat saya bahagia,” jawab Melinda yang terus memandangi wajah suaminya.


“Uhuk... Uhuk...” Raka terbatuk-batuk mendengar apa yang istrinya katakan.


Melinda dengan panik memberikan segelas air minum kepada suaminya.


“Mas Raka makanlah dengan perlahan. Saya tidak akan memintanya,” tutur Melinda dengan tersenyum lebar.


Raka mendelik tajam dan membuat Melinda seketika itu menunduk ketakutan. Melinda tidak ingin Raka kembali mengomel dan terus mengomeli dirinya.


Raka menikmati nasi goreng tersebut hingga akhirnya habis tak tersisa. Melihat makanan yang nasi goreng yang Melinda buat habis tak tersisa, membuat Melinda bernapas lega.


“Aku sudah selesai makan,” ucap Raka.


“Terima kasih, Mas Raka karena telah menghabiskan nasi goreng yang saya masak. Kalau begitu, saya permisi ke dapur untuk meletakkan piring dan gelas kotor ini di cucian piring,” tutur Melinda dan melenggang pergi.


Raka tersenyum tipis melihat wajah Melinda yang entah kenapa terlihat menggemaskan.


Pelayan wanita yang sebelum tahu bahwa Nona Mudanya memasak nasi goreng untuk Tuan Mudanya, tersenyum lebar manakala piring tersebut habis tak terasa.


“Nona Muda sepertinya sangat senang,” ucap pelayan ketika melihat raut wajah Nona Mudanya.


“Iya, Mbak. Saya sangat senang,” balas Melinda dengan senyum manisnya.


“Pasti gara-gara nasi goreng yang Nona Muda buat habis tak tersisa,” sahutnya.


Melinda dengan malu-malu mengangguk mengiyakan ucapan pelayan itu.


“Mbak, saya langsung ke kamar ya,” tutur Melinda yang telah selesai mencuci piring dan juga gelas kotor yang sebelumnya digunakan oleh Sang suami.


Pelayan itu terus memandangi punggung Melinda yang perlahan menjauh dan tak terlihat lagi.

__ADS_1


“Nona Muda sepertinya sangat mencintai Tuan Muda. Semoga saja Tuan Muda semakin mencintai Nona Muda,” ucap si pelayan bermonolog.


Para pelayan sekaligus para bodyguard sama sekali tak mengetahui fakta mengapa Raka dan Melinda menikah. Yang mereka tahu adalah bahwa keduanya menikah karena Almer menjodohkan mereka berdua.


__ADS_2