
Keesokan pagi.
Raka dan Melinda telah siap untuk pergi berbulan madu di puncak.
Almer yang melihat sepasang suami istri itu begitu senang dan tak sabar ingin mendapatkan kabar baik.
“Kalian berbulan madu lah dengan penuh kebahagiaan. Kakek ingin sekali segera menimang cicit sebelum Kakek benar-benar meninggal dunia,” ucap Almer dengan sangat serius.
“Kakek jangan berbicara seperti itu,” balas Melinda nampak sedih setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Kakek dari Sang suami.
“Istriku tenang saja, umur Kakek masih 100 tahun lagi,” sahut Raka.
“Kamu ini, bisa-bisanya mendo'akan umur panjang untuk Kakek. Kakek mu ini tidak mau berlama-lama tinggal di dunia, Kakek sudah sangat rindu dengan Nenek, kakakmu serta orang tuamu di surga,” ungkap Almer yang sangat merindukan 4 orang istimewa di hidupnya.
“Bukankah Kakek ingin melihat cicit Kakek lahir? Kalau begitu, Kakek tidak boleh mengucapkan kalimat seperti tadi lagi,” tegas Raka.
Almer tersenyum lebar mendengar bahwa Raka ingin segera memberinya cicit.
Melinda tertegun sejenak mendengar apa yang suaminya katakan.
Oh sialan, kenapa aku malah mengatakan hal yang sangat tidak mungkin? Kali ini matilah aku. (Batin Raka)
Raka menyesali perkataannya tersebut, tidak seharusnya ia mengatakan bahwa ingin memberikan Sang Kakek seorang cicit.
Kakek pasti akan menagih janji dariku. Oh tidak, celakalah aku. (Batin Raka)
“Kakek akan menanti lahirnya buah hati kalian,” pungkas Almer.
Almer berjalan keluar dari rumah dengan bersenandung kecil.
“Dasar mulut tak berguna, bisa-bisanya kamu berbicara hal yang tidak-tidak,” ucap Raka mengomeli mulutnya sendiri.
Melinda tertawa kecil melihat tingkah lucu suaminya.
“Ada apa? Kenapa tertawa?” tanya Raka bertingkah seperti tak terjadi apa-apa.
Melinda menggelengkan kepalanya dengan terus tersenyum lebar.
Reza berlari kecil menghampiri keduanya untuk memberitahukan bahwa barang sudah masuk ke dalam mobil.
“Reza, kamu harus ikut denganku!” perintah Raka.
“Tuan Muda, saya tidak bisa ikut,” balas Reza menolak perintah dari Tuan Mudanya.
“Kenapa? Kamu mau pecat?” tanya Raka mengancam asisten pribadinya.
__ADS_1
“Tuan Muda dan Nona Muda akan pergi berbulan madu. Mau dipandang dari sudut manapun, seharusnya saya tidak boleh ikut,” ungkap Reza.
“Apa kamu bercanda? Kalau kamu tidak ingin dipecat, maka turuti saja perintah dariku,” tegas Raka yang tak ingin menerima penolakan dalam bentuk apapun.
Ancaman Tuan Mudanya sama sekali tak berpengaruh. Mau bagaimanapun, Tuan Mudanya tidak akan bisa memecat dirinya yang berdedikasi tinggi terhadap perusahaan maupun Tuan Mudanya itu. Akan tetapi, Reza juga tidak bisa menolak dan akhirnya mengiyakan perintah dari Tuan Mudanya itu.
“Baguslah, ayo kita pergi sekarang!” perintah Raka.
Melinda tiba-tiba teringat dengan keluarganya. Sudah sangat lama dirinya tidak berjumpa dengan Sang Ayah tersayang.
“Apa kamu tidak suka dengan bulan madu kita? Kamu jangan berpikiran berlebihan, kita hanya liburan dan bukan bulan madu seperti yang diinginkan oleh Kakek,” tegas Raka pada Melinda ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Iya Mas Raka, saya mengerti mengenai hubungan kita dan posisi saya,” balas Melinda dengan pasrah.
Karena Sang Kakek sudah pergi menuju perusahaan, merekapun bergegas pergi menuju puncak.
Kali ini, Reza lah yang mengemudikan mobil dan bukan sopir pribadi.
“Mas Raka, bolehkah saya bertemu dengan Ayah saya untuk pamit ke puncak?” tanya Melinda dan berharap Raka mengizinkannya untuk pamit dengan Bambang.
“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kamu ingin pamit dengan pria yang tak tahu malu itu?”
“Mas Raka kenapa harus emosi seperti ini? Mas Raka hanya tinggal bilang boleh atau tidak saja,” ujar Melinda sembari menahan air matanya agar tak keluar.
“Aku rasa, aku tidak perlu menjawabnya lagi. Bukankah kamu sudah tahu jawabannya?”
Beberapa jam kemudian.
Mereka akhirnya tiba tepat di depan villa yang sebelumnya telah disewa oleh Sang Kakek untuk bulan madu.
Reza bergegas turun untuk membantu Tuan Mudanya turun dari mobil.
Melinda mengeluarkan koper dan membawanya masuk ke villa.
“Nona Muda, biar saya saja yang membawa koper,” ucap Reza yang tak ingin bila Melinda melakukannya seorang diri.
“Reza, wanita seperti dia ini jangan terlalu sering dikasih hati, lagipula kalau kamu melakukannya yang ada wanita ini malah menjadi manja,” ujar Raka yang lagi-lagi mengeluarkan kata yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan.
“Biar saya saja, Mas Raka memang benar,” sahut Melinda dan menarik kembali koper berukuran cukup besar tersebut.
Seorang wanita yang usianya sekitar 50 tahun, tiba-tiba keluar dari villa itu dan menyapa ketiganya dengan ramah.
“Selamat datang!” Wanita tersebut dengan senyum ramah menyambut kedatangan sepasang pengantin baru tersebut.
Wanita paruh baya tersebut, memperkenalkan dirinya dan membawa Raka serta Melinda melihat-lihat isi dalam villa itu.
__ADS_1
“Rumah saya tidak jauh dari sini, kalau ada apa-apa dan butuh sesuatu tinggal bilang ke saya,” ucapnya.
Setelah pemilik villa itu pergi, Raka meminta asisten pribadinya untuk membawanya ke kamar.
“Oya, aku lupa memberitahukan satu hal mengenai aturan tinggal di villa ini. Pertama, aku tidak ingin diganggu oleh kebisingan atau apapun yang disebabkan olehmu. Kedua, mulai hari ini dan dua Minggu ke depan kamu harus bersikap seperti pelayan di rumah, seperti membuatkan aku kopi, masak serta bersih-bersih. Dan yang ketiga, aku tidak ingin pemilik villa berada di villa ini untuk membantu kamu,” terang Raka panjang lebar.
Melinda tak bisa berkata-kata lagi mendengar keterangan panjang lebar dari suaminya.
Reza yang ingin protes akan hal itu, mendapat teguran keras dari Raka agar tidak mencampuri urusan rumah tangganya.
“Tuan Muda, bagaimana bisa anda membuat peraturan yang tak masuk akal seperti itu?” tanya Reza yang tak terima atas apa yang Raka katakan.
“Sekali lagi aku tegaskan, ini urusan rumah tangga ku dengan wanita ini. Kalau kamu masih ingin ikut campur, sana pergi dari hadapanku sekarang juga dan jangan pernah muncul lagi,” tegas Raka.
“Mas Raka tidak perlu sampai mengusir Mas Reza. Saya menjalani perintah dari Mas Raka. Apa perlu kita tidur terpisah?” tanya Melinda yang sekali lagi harus menerima kenyataan pahit dari apa yang Raka perintahkan padanya.
“Oh tentu saja, aku mana mungkin tidur sekamar dengan wanita seperti kamu. Kamu dan aku selamanya tidak akan pernah bisa menjalani hubungan pernikahan seperti kebanyakan pasangan diluar sana,” ucap Raka menohok.
“Selamanya? Apakah benar selamanya kita tidak akan pernah bisa menjalani hubungan pernikahan selayaknya pasangan suami istri yang saling mencintai?” tanya Melinda memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
Raka tertegun sejenak mendengar pertanyaan dari Melinda dan beberapa detik kemudian, Raka tertawa lepas seakan-akan pertanyaan Melinda hanya lelucon kekanak-kanakan.
Melinda mengepalkan tangannya kuat-kuat dan melenggang pergi mencari kamar yang akan ia tempati.
“Tuan Muda, anda sungguh keterlaluan,” pungkas Reza dan masuk ke dalam kamar yang akan ditempati oleh Tuan Mudanya.
Raka masih tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat ekspresi wajah Melinda yang menurutnya sangatlah aneh serta jelek.
Melinda masuk ke dalam kamar dan tanpa pikir panjang, wanita berusia 20 tahun itu langsung memasukkan pakaian ke dalam almari pakaian.
Ibu, Melinda ingin dipeluk Ibu meskipun hanya dalam mimpi. Maafkan Melinda Ibu, Melinda tidak sekuat yang Melinda pikir. (Batin Melinda)
Melinda menangis karena kecewa terhadap dirinya sendiri. Berulang kali Melinda membohongi dirinya sendiri yang seakan-akan menjadi wanita yang kuat. Akan tetapi, semua yang Melinda pikirkan dan Melinda jalani tak semudah itu.
“Reza!” panggil Raka yang masih berada di ruang tamu.
Mendengar namanya dipanggil, Reza berlari kecil menghampiri Tuan Mudanya.
“Ayo bawa aku keluar! Aku ingin menghirup udara segar.”
Saat Reza ingin membawa Tuan Mudanya keluar untuk mencarinya udara segar, Melinda tiba-tiba menghalangi jalan keluar mereka.
“Mas Raka, sudah jam segini. Kita belum sholat Dzuhur,” ucap Melinda mengingatkan suaminya agar segera melaksanakan sholat Dzuhur berjama'ah.
“Nona Muda benar sekali, sepertinya kita harus melaksanakan sholat Dzuhur,” sahut Reza.
__ADS_1
Raka tak langsung mengiyakan, pria itu menghela napasnya sejenak dan meminta Reza untuk membawanya ke kamar.