
Almer, Raka serta Melinda tengah menikmati makan siang bersama di meja makan. Saat itu, Almer terlihat sangat bahagia melihat pasangan pengantin baru dihadapannya terlihat romantis.
Almer berpikir bahwa bulan madu keduanya sukses dan membuahkan hasil.
“Kakek sudah selesai, sebentar lagi Kakek akan pulang,” ujar Almer.
“Kakek tidak menginap disini?” tanya Raka.
“Tentu saja tidak, kalau Kakek menginap disini yang ada Kakek akan mengganggu kalian berdua,” jawab Almer.
Melinda sedikit kecewa, Melinda sebenarnya ingin bila Almer bisa menginap di villa. Meskipun, hanya semalam saja.
“Cucu menantu, ada apa? Apakah cucu menantu sedang tidak baik-baik saja?” tanya Almer ketika melihat ekspresi wajah cucu menantunya yang agak tak tenang.
“Kakek menginap disini saja ya, Melinda ingin berkeliling sekitar sini bersama Kakek,” pinta Melinda.
Almer mengiyakan permintaan cucu menantunya.
“Baiklah, Kakek akan menginap disini selama satu malam dan besok pagi Kakek akan kembali ke rumah,” balas Almer.
Wanita ini, awas saja sampai memberitahu Kakek mengenai perilaku cucunya ini. (Batin Raka)
Raka melirik tajam wanita yang duduk disampingnya, Melinda akan hal itu, Melinda hanya tersenyum membalas lirikan tajam dari suaminya.
Almer beranjak dari duduknya meninggalkan sepasang suami istri yang masih menikmati makan siang mereka.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Raka lirih karena tak ingin bila Sang Kakek mendengar percakapan mereka berdua.
“Mas Raka tidak perlu khawatir, saya bukan pribadi yang suka menjelekkan keburukan orang lain di belakang,” balas Melinda.
Melinda pun selesai menikmati makanannya dan bergegas ke dapur untuk mencuci alat makan yang kotor.
“Reza, kemari!” panggil Raka pada asisten pribadinya yang berdiri tak jauh darinya.
Reza melangkah maju sebanyak 3 langkah mendekati Tuan Mudanya.
“Iya, Tuan muda.”
“Aku punya tugas untukmu dan kamu harus melaporkan percakapan Kakek serta wanita itu kepadaku!” perintah Raka yang tak tenang bila membiarkan Melinda begitu saja berbincang-bincang dengan Kakeknya.
Reza menyanggupi perintah tersebut, karena Reza tahu bahwa Nona Mudanya bukanlah wanita licik seperti yang dipikirkan oleh Tuan Mudanya.
Almer tengah bersantai di ruang keluarga sembari membalas pesan singkat yang terus berdatangan.
“Mereka ini, sudah tua masih saja ingin reuni seperti anak-anak muda,” ucap Almer dan tertawa kecil membaca pesan singkat tersebut.
__ADS_1
Raka yang telah selesai makan, menghampiri Sang Kakek yang tengah duduk seorang diri.
Raka memberi isyarat kepada Reza untuk segera pergi meninggalkannya bersama dengan Sang Kakek.
“Kakek.” Raka memanggil kakeknya yang tengah sibuk dengan ponsel.
Almer menoleh ke arah cucunya dan meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja.
“Kakek senang melihat hubunganmu dan Cucu menantu semakin maju seperti ini,” pungkas Almer pada cucunya.
“Kakek, Raka dan istri Raka masih harus mengenal satu sama lain. Untuk itu, Raka mohon pengertian Kakek mengenai hubungan kami. Raka tidak bisa jika harus secepat kilat seperti yang Kakek maksud,” ungkap Raka berusaha jujur kepada Sang Kakek.
Almer terdiam dan memikirkan perkataan cucunya. Mau dipandang dari sudut manapun, pernyataan Raka tidaklah salah. Almer juga merasa bahwa keinginannya begitu terburu-buru.
“Raka, maafkan Kakek. Apa yang Kakek lakukan semua ini demi kebaikan kamu. Kakek tidak akan memaksa kalian memiliki bayi secepat mungkin. Akan tetapi, Kakek berharap pernikahan kalian ini kekal dan abadi. Ingatlah, Melinda adalah sosok wanita sekaligus istri yang cocok buat kamu,” jelas Almer.
Raka mengiyakan apa yang dikatakan Sang Kakek kepadanya. Sampai detik ini pun, Raka masih belum bisa menerima Melinda maupun pernikahan konyol mereka.
Melinda datang membawa dua gelas kopi untuk suami dan juga Kakek dari suaminya.
Melinda dengan senyum manisnya meletakkan kopi tersebut dan mempersilakan keduanya untuk menikmati kopi buatannya.
“Cucu menantu mau kemana?” tanya Almer pada Melinda yang ingin melenggang pergi dari ruang keluarga.
“Kenapa buru-buru mau ke dapur? Sini duduklah dan temani Kakek berbincang-bincang,” ujar Almer.
Melinda tersenyum canggung dan perlahan mendaratkan bokongnya di sofa.
“ Cucu menantu suka dengan suasana puncak?” tanya Almer penasaran.
“Alhamdulillah, Melinda sangat suka. Terlebih lagi ada Mas Raka,” jawab Melinda menoleh sekilas ke arah suaminya yang ternyata tengah menatapnya.
“Benarkah? Kakek sangat senang mendengar jawaban dari Cucu menantu.”
Melinda menjadi salah tingkah manakala dirinya dan Sang suami saling tukar pandang satu sama lain.
Ada apa denganku? Kenapa aku malah menjadi salah tingkah begini. (Batin Melinda)
Raka mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan jantung yang berdebar-debar tak menentu.
Ada apa denganku? Ah, apakah aku ikut bodoh karena wanita menjijikkan ini? (Batin Raka)
Almer menyadari bahwa keduanya terlihat canggung. Meskipun begitu, Almer memutuskan untuk tidak tahu-menahu tentang keduanya.
“Tuan Besar, ada seseorang yang menunggu Tuan Besar diluar,” ucap Reza tiba-tiba datang dan memberitahukan Almer bahwa ada seseorang yang menunggu Kakek dari Raka Arafat.
__ADS_1
Almer berpikir sejenak mengenai orang tersebut dan karena penasaran, Almer bergegas meninggalkan ruang keluarga untuk menemui orang tersebut.
Kini, hanya ada Melinda dan juga Raka yang berada di ruang keluarga.
“Mas Raka, saya permisi,” ucap Melinda yang bergegas menjauh karena tak ingin membuat suasana hati Raka semakin buruk.
Raka hanya diam dengan tatapan sinis.
Raka mengambil gelas yang berisi kopi miliknya dan ketika ingin menyeruput kopi tersebut, Raka tak sengaja menjatuhkannya.
“Ahhh, sial,” ucap Raka mengumpat dengan kesal.
Melinda yang mendengar umpatan tersebut, berbalik badan untuk menghampiri suaminya.
“Mas Raka kenapa?” tanya Melinda ketika melihat tangan suaminya yang sudah basah karena kopi.
“Panas sekali,” ujar Raka yang memang sangat panas.
Melinda berlari mengambil tissue dan juga salep untuk suaminya.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Raka pada Melinda yang tengah membersihkan tumpahan kopi ditangannya.
“Mas tenang saja, saya hanya ingin membantu membersihkan tumpahan kopi,” jawab Melinda dan dengan hati-hati mengoleskan salep ke tangan suaminya.
Almer masuk ke dalam dan seketika itu juga Almer berbalik badan ketika melihat kedekatan cucu dan juga cucu menantunya.
Lebih baik aku di ruang tamu saja, biarkan mereka berdua bermesraan di ruang keluarga. (Batin Almer)
Melinda telah selesai mengoleskan salep ke tangan suaminya. Kemudian, bergegas menuju dapur.
“Tunggu!” Raka mencoba menghentikan langkah Melinda.
Melinda berbalik menoleh ke arah suaminya.
“Terima kasih,” ucap Raka tanpa ingin menatap mata Melinda.
Melinda tersenyum bahagia mendengar kata terima kasih yang keluar dari mulut suaminya.
“Sama-sama, Mas Raka. Sudah tugas saya sebagai istri untuk membantu Mas Raka,” jawab Melinda dan berlari kecil ketika menyadari apa yang baru saja dikatakannya.
Raka mendongak menoleh ke arah Melinda yang pergi begitu saja.
🌷
Like sebelum lanjut ke bab selanjutnya ❤️
__ADS_1