
Sore hari.
Udara dingin di puncak memang cukup ekstrim bagi orang yang tak terbiasa dengan yang namanya dingin. Hal ini pun tengah dirasakan oleh Melinda, udaranya dingin membuat Melinda tiba-tiba terserang flu.
“Hatchimm... Hatchimm...” Melinda bersin terlalu sering dan membuat Raka merasa tak nyaman.
“Apa kondisi tubuhmu benar-benar sangat lemah seperti bayi? Baru beberapa jam disini, kamu sudah begini,” ejek Raka tanpa bersimpati sedikitpun dengan kondisi istrinya.
Raka memberi perintah kepada asisten pribadinya untuk membeli obat flu.
Reza mengiyakan dengan penuh semangat dan melenggang pergi saat itu juga untuk mencari obat flu di apotek sekitar puncak.
“Terima kasih, Mas Raka,” ucap Melinda yang sangat senang karena Raka memberi perintah kepada Reza untuk membelinya obat.
“Tentu saja kamu harus berterima kasih kepadaku. Oya, aku melakukan ini semata-mata untuk melindungi diriku sendiri. Aku hanya tidak ingin bila Kakek mengomeli ku mengenai kamu yang flu,” ungkap Raka.
Melinda sedikit kecewa dan berusaha sebaik mungkin terlihat baik-baik saja dihadapan suaminya.
“Berhubung kamu sedang sakit, sebaiknya kamu buat minuman hangat agar flu mu tidak semakin parah.”
“Mas Raka mau sekalian saya buatkan kopi?” tanya Melinda.
“Tidak. Aku sedang tidak ingin minum kopi,” jawab Raka dengan terus memandangi pemandangan didepannya.
“Kalau Mas Raka tidak ingin kopi, itu artinya Mas Raka ingin teh?”
Raka seketika itu juga menoleh ke arah Melinda dengan tatapan marah.
“Aku paling tidak suka dengan wanita bodoh seperti kamu. Sekarang pergilah dan menjauh dariku!” perintah Raka lantang.
“Maafkan saya, Mas Raka. Maaf karena sering membuat Mas Raka marah,” ujar Melinda meminta maaf untuk kesekian kalinya.
“Yang kamu tahu hanya maaf dan maaf. Apa tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan? Setidaknya, buatlah dirimu berguna untukku,” pungkas Raka.
“Berguna yang seperti apa, Mas Raka?” tanya Melinda penasaran.
“Ah, sudahlah. Sekalinya bodoh ya tetap bodoh,” hardik Raka dan menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam.
Apakah didalam mulut Mas Raka terdapat benda tajam? Kenapa setiap berbicara yang selalu keluar dari mulutnya adalah perkataan kasar. Ya Allah, tolong buat diri hamba menjadi semakin kuat lagi dan lagi. (Batin Melinda)
Raka berhenti di ruang keluarga dengan perasaan aneh. Entah kenapa, Raka menjadi sedikit terganggu setelah mengatakan hal yang kurang enak didengar.
“Apakah aku terlalu kasar? Bodo' amat, kenapa aku harus memikirkan perasaannya?” tanya Raka bermonolog dan memutar untuk membuang jauh-jauh perasaan tersebut.
Melinda yang masih berada di depan teras rumah, kembali bersin dan tidak hanya sekali. Akan tetapi, berulang kali hingga hidung Melinda terasa sangat gatal.
“Sebaiknya aku segera membuat teh hangat untuk menghangatkan tubuhku,” ujar Melinda bermonolog dan berlari kecil menuju dapur.
Pada saat Melinda berlari, Melinda tak sengaja tersandung oleh kakinya sendiri dan membuat ia jatuh begitu saja.
__ADS_1
Raka menyaksikan sendiri kejadian tersebut dan nampak sangat panik. Dengan cepat, Raka mengerakkan kursi rodanya menuju ke arah Melinda.
“Kamu ini, kenapa bisa jatuh begini? Dasar ceroboh,” ucap Raka yang sangat geram.
Melinda berusaha bangkit dari jatuhnya dan terlihat jelas bagian lutut Melinda yang sedikit lecet.
“Astaghfirullahaladzim, apakah kamu tidak bisa berjalan dengan baik? Lihatlah itu, lutut mu itu!”
Melinda menunduk melihat lutut kanannya yang telah lecet.
“Ini hanyalah luka kecil, Mas Raka. Dipakai untuk beraktivitas pun tidak terasa sakit,” tutur Melinda dan pamit ke dapur untuk membuat teh.
Raka menatap kesal Melinda yang perlahan berjalan menuju dapur.
“Wanita menjijikkan, kampungan, matre, bodoh, jelek dan ceroboh. Sepertinya kata-kata itu pantas disematkan untuk wanita seperti dia,” ucap Raka yang entah kenapa sangat senang bila terus-menerus mencemooh istrinya.
Reza telah kembali dan berhasil membeli obat flu untuk Nona Mudanya yang sedang sakit.
“Kenapa lama sekali?” tanya Raka sembari mengambil obat untuk istrinya.
Reza hanya diam dan tak ingin menjawab pertanyaan dari Tuan Mudanya.
“Kamu boleh pergi!” perintah Raka.
Reza pamit dengan setengah membungkuk, kemudian ia melenggang pergi untuk melihat-lihat pemandangan sekitar.
Melinda mengambil obat tersebut dan mengucapkan terima kasih.
“Pastikan kamu meminum obat itu. Aku tidak ingin sampai Kakek tahu bahwa kamu sakit dan Kakek malah menyalahkan aku,” pungkas Raka dan menggerakkan kursi rodanya menjauh dari Melinda.
Melinda menyentuh dadanya yang berdebar-debar tak menentu.
Ada apa dengan aku ini? Perhatian kecil seperti ini saja sudah membuatku merasa nyaman. (Batin Melinda)
Melinda segera membuang jauh perasaan tersebut, Melinda tidak ingin perasaan itu membuatnya menderita. Toh, Raka sebelumnya telah mengatakan akan menceraikan dirinya setelah Almer mewarisi seluruh warisannya kepada Raka.
“Tidak. Aku tidak boleh memiliki rasa sedikitpun kepada Mas Raka. Pernikahan kami ini sama sekali tidak didasari oleh cinta. Kami adalah dua insan yang saling bertentangan satu sama lain,” ucap Melinda bermonolog.
Melinda hanya bisa menangis merasakan sesak di dadanya.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Raka ketika tak sengaja melihat Melinda menangis.
Melinda buru-buru menghapus air matanya dan berlari menuju kamar tanpa mengatakan sepatah katapun.
Ada apa dengan wanita itu? Apakah yang hanya bisa dia lakukan adalah menangis? Dasar wanita cengeng. (Batin Raka)
Malam hari.
Setelah selesai melaksanakan sholat isya, Melinda memutuskan untuk segera beristirahat. Efek obat yang ia minum membuatnya menjadi ngantuk dan ingin cepat-cepat memejamkan matanya barangkali besok pagi kondisinya sudah membaik.
__ADS_1
“Tuan Muda, apakah anda harus seperti ini terhadap Nona Muda? Tidak bisakah anda berbicara lembut dengan Nona Muda?” tanya Reza yang saat itu tengah duduk santai di ruang tamu bersama dengan Tuan Mudanya.
Raka tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari asisten pribadinya.
“Kenapa? Apakah kamu menyukai wanita itu?” tanya Raka.
Reza menatap Tuan Mudanya dengan tatapan tak percaya.
“Ada apa? Kenapa aku merasa bahwa kamu sangat ingin aku berbaik hati dengan wanita menjijikkan itu? Dari atas sampai bawah tak satupun dari dirinya yang membuatku tertarik,” tegas Raka.
Percakapan Raka dan Reza ternyata di dengar langsung oleh Melinda. Saat itu, Melinda ingin mengambil air putih di dapur dan Melinda malah mendengar ucapan pedas dari suaminya ketika berjalan melewati ruang keluarga.
“Bagaimana bila suatu saat Tuan Muda jatuh cinta pada Nona Muda?” tanya Reza penasaran.
Raka tertegun sejenak dan beberapa detik kemudian, Raka tertawa lepas mendengar pertanyaan konyol dari asisten pribadinya.
“Percayalah, hal itu tidak akan terjadi. Lebih baik aku mati daripada harus jatuh cinta dengan wanita menjijikkan itu,” pungkas Raka.
Melinda menangis dengan perasaan yang teramat sangat sakit. Ternyata, suaminya lebih memilih mati daripada jatuh cinta dengannya.
Reza tak habis pikir dengan pemikiran Tuan Mudanya. Ia pun beranjak dari kursi karena ingin mengambil air minum.
Saat Reza baru keluar dari ruang keluarga, Reza memergoki Melinda yang tengah menangis dan sepertinya mendengar percakapan dirinya dan Tuan Mudanya.
Melinda memberi isyarat agar Reza tak berbicara dengannya. Kemudian, Melinda berlari menuju kamarnya dan tak jadi mengambil air minum.
Oh tidak, Nona Muda pasti mendengar percakapan kami. Sial, saat ini Nona Muda pasti sangat sedih. (Batin Reza)
Reza tak jadi mengambil air minum, ia kembali ke ruang keluarga dengan perasaan bersalah.
“Ada apa dengan wajahmu? Seperti melihat setan saja,” ucap Raka ketika melihat wajah Reza yang seakan-akan tengah melihat suatu hal yang sangat mengejutkan.
Reza ingin sekali memberitahukan bahwa istri dari Tuan Mudanya telah mendengar semua percakapan mereka berdua. Akan tetapi, Reza tidak sanggup karena akan memperparah suasana yang ada.
“Baiklah, lupakan saja. Ayo bawa aku ke kamar!” perintah Raka.
Reza menghela napasnya dan membuat Raka risih dibuatnya.
“Kenapa lagi? Aku perhatikan akhir-akhir kamu selalu menghela napas? Apakah kamu sudah bosan bekerja denganku?” Raka terlihat emosi karena Reza yang terus-menerus menghela napas.
Reza lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Tuan Mudanya, ia fokus mendorong kursi roda Tuan Mudanya menuju kamar.
Melinda menangis di dalam kamar, perkataan Raka benar-benar membuatnya menjadi sampah yang tak berguna.
Ujian yang diberikan oleh Allah kepadanya ternyata cukup besar. Mulai dari meninggalnya Sang Ibu, tak lagi mendapatkan kasih saya dari Sang Ayah, belum lagi mendapatkan perlakuan kasar dari Dina maupun Katty dan sekarang suaminya memilih untuk mati daripada jatuh cinta kepadanya.
“Apakah aku benar-benar menjijikkan? Berulang kali Mas Raka mengatakan bahwa aku wanita menjijikkan.” Melinda menangis meratapi nasibnya yang sungguh malang.
Lagi-lagi Melinda harus menderita dan entah sampai kapan dirinya bisa merasakan kebahagiaan.
__ADS_1