
Setibanya di rumah sakit, Melinda langsung dibawa masuk ke ruang IGD untuk segera ditangani karena kondisi Melinda yang tak memungkinkan.
“Raka!” Almer berlari dengan napas terengah-engah.
“Kakek, kenapa Kakek berlarian seperti ini?” tanya Raka yang sangat terkejut dengan kedatangan Sang Kakek.
“Kamu tidak perlu pedulikan Kakek. Sekarang yang mau Kakek ketahui kenapa Cucu menantu Kakek tiba-tiba dibawa ke rumah sakit?” tanya Almer nampak khawatir dan juga panik.
“Raka juga tidak tahu, Kek. Saat Raka baru masuk ke dalam kamar istri Raka sudah berbaring lemas dan wajahnya begitu pucat,” jawab Raka apa adanya dan berharap bahwa Kakeknya tidak menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi kepada Melinda.
Almer menatap dingin Raka dan memutuskan duduk di kursi sembari menunggu kabar mengenai kondisi Melinda.
“Kakek sebaiknya pulang, biar Raka saja yang menunggu di rumah sakit,” ucap Raka.
“Kenapa? Apa Kakek tidak boleh menunggu Cucu menantu dan mengetahui kabar Cucu menantu Kakek?” tanya Almer yang terlihat kesal pada cucu kandungnya.
Raka mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Almer yang malah terdengar seperti menyalahkan dirinya.
Raka akhirnya hanya diam karena tak ingin memburuk keadaan dan membuat dirinya semakin disalahkan oleh Kakek kandungnya sendiri.
Reza berdiri tepat disamping Raka dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Beberapa jam kemudian.
Seorang dokter wanita keluar dari ruang IGD dan mengatakan bahwa Melinda hampir saja kehilangan nyawanya. Dokter itu mengatakan bahwa Melinda mengalami keracunan makanan dan hampir membuat nyawanya melayang.
Almer maupun Raka saling menatap satu sama lain, kedua pria berbeda generasi itu sepertinya tahu siapa dalang dari kejadian yang menimpa Melinda.
“Kakek, wanita itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Raka mau dia diusir dari rumah,” tegas Raka yang begitu jengkel dengan apa yang telah dilakukan oleh Indri.
Meskipun Raka sama sekali tak menyukai apalagi tertarik dengan sosok Melinda. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Indri benar-benar kelewatan dan bisa jadi dikemudian hari hal tersebut terulang lagi.
Almer mengeluarkan ponselnya dan memberitahukan kepada salah satu bodyguard di rumah untuk mengusir Indri secepat mungkin dari rumah.
__ADS_1
“Secepatnya usir wanita itu dari rumah dan pastikan agar dia tidak kembali,” perintah Almer pada salah satu bodyguard.
Setelah memberi perintah, Almer maupun Raka sedikit bernapas lega karena Indri akan keluar dari kediaman mewah keluarga Arafat.
“Raka, sebaiknya kamu masuk ke dalam,” ucap Almer pada Raka agar segera masuk untuk melihat kondisi Melinda.
Kali ini Raka mengiyakan dan Reza dengan sigap mengantarkan Raka masuk ke dalam.
Indri sangat keterlaluan, bisa-bisanya dia melakukan ini kepada Melinda. Kalau tahu begini, aku tidak akan mengizinkan Rafa menikah dengan wanita itu. (Batin Almer)
Almer menitikkan air matanya ketika mengingat almarhum cucu kesayangannya, Rafa. Kakak kandung dari Raka yang telah meninggal dunia.
Indri yang sedang bersantai-santai di dalam kamarnya terkejut bukan main ketika beberapa bodyguard dan pelayan wanita memasuki kamarnya dengan serempak.
“Kalian benar-benar tidak tahu diri, bagaimana bisa kalian masuk ke dalam kamarku seperti pencuri?” Indri yang masih berada di atas tempat tidur menatap satu-persatu mereka dengan tatapan penuh amarah.
Dua pelayan wanita mendekat ke arahnya dan menarik secara paksa dirinya agar turun dari tempat tidur.
Tenaga Indri cukup kuat dan saat itu juga dua bodyguard turun tangan untuk mengeluarkan Indri dari kamar tersebut.
“Lepas! Lepas!” Berulang kali Indri berteriak agar mereka segera melepaskan dirinya.
Apa yang Indri lakukan ternyata hanyalah kesia-siaan belaka. Kini dirinya telah terlempar keluar dari rumah mewah tersebut beserta pakaian-pakaiannya yang berceceran di lantai.
“Dasar tak tahu diri, kalian memang harus diberi pelajaran agar tahu dimana posisi kalian sebenarnya!” Indri berteriak sekeras mungkin dengan apa yang dilakukan oleh para bawahan Almer padanya.
“Sebaiknya Anda pergi dari sini. Tuan besar telah memberi perintah untuk mengusir Anda,” terang salah satu bodyguard yang sebelumnya dihubungi oleh Almer melalui sambungan telepon.
Mata Indri terbelalak lebar dan tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Almer kepadanya.
“Dasar Kakek tua menyebalkan. Bisa-bisa dia mengusirku sementara aku masih berstatus nyonya di rumah ini!” Indri berusaha untuk masuk ke dalam rumah dan dengan cepat mereka menahan tubuh Indri.
Tubuh Indri terlempar cukup keras dan membuatnya tak sadarkan diri.
__ADS_1
Melihat Indri yang pingsan, mau tak mau mereka terpaksa membawa masuk Indri karena tak ingin hal buruk terjadi pada Kakak ipar dari Raka Arafat.
“Ayo cepat kita harus membawa masuk wanita ini,” ucap salah satu pelayan wanita yang usianya cukup tua dibandingkan pelayan yang lain.
Almer yang tengah berada di ruang Melinda saat itu juga mendapat kabar bahwa Indri pingsan.
“Ada apa Kakek?” tanya Raka ketika melihat wajah tak senang dari Kakek kandungnya.
“Wanita itu pingsan dan mereka gagal mengusir nya,” jawab Almer kecewa karena Indri belum juga angkat kaki.
“Dasar ratu akting, sudah pasti wanita itu memainkan trik kotornya, Kek,” ujar Raka geram yang sudah muak dengan tingkah laku dari Indri.
“Kamu tidak perlu memikirkan nasib istri dari kakakmu. Sekarang yang lebih penting adalah kondisi istrimu, Melinda,” tegas Almer pada Cucunya.
Kakek ternyata sangat menyukai wanita menjijikkan ini. Akan tetapi, aku juga harus berpura-pura menjadi suami yang baik agar Kakek tidak terus-menerus memarahiku. (Batin Raka)
“Kamu sedang memikirkan apa? Kakek harap kamu tidak memikirkan hal yang jelas-jelas tidak Kakek sukai,” tegas Almer dengan tatapan dingin.
Lihatlah sekarang, Kakek benar-benar telah melupakan aku yang jelas-jelas adalah cucu kandungnya sekaligus penerus Kakek satu-satunya. (Batin Raka)
Almer saat itu keluar dari ruang dimana Melinda dirawat dengan tatapan dingin.
Sekali lagi, apa yang dilakukan oleh Kakeknya membuat Raka semakin membenci pernikahannya bersama Melinda. Raka begitu tak menyukai apalagi tertarik dengan sosok Melinda yang menurut Raka bahwa Melinda sendiri adalah sosok wanita munafik.
“Kamu tetaplah disini dan penuhi kebutuhan Raka maupun cucu menantuku!” perintah Almer pada asisten pribadi Raka.
Reza dengan patuh mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Almer padanya.
Almer mengangguk kecil dan berjalan meninggalkan rumah sakit untuk segera pulang menemui Indri sekaligus mengusir Indri.
Raka menggerakkan kursi rodanya dan berhenti tepat disamping istrinya, Melinda.
Meskipun wanita ini sedang sakit, aku berharap dia bisa segera sembuh dan pulang ke rumah. Mau bagaimanapun, aku tidak betah berlama-lama di rumah sakit. (Batin Raka)
__ADS_1