
Keesokan pagi.
Semenjak Melinda dan Raka mengobrol di ranjang semalaman, hubungan keduanya terlihat semakin dekat setelah banyak perbincangan yang mereka bahas.
Melinda semakin mencintai suaminya dan Raka juga semakin mencintai istrinya. Mereka ternyata saling mencintai satu sama lain. Akan tetapi, tidak ada satupun dari mereka yang tahu mengenai perasaan mereka masing-masing. Mereka memilih menyimpan rapat-rapat perasaan cinta tersebut.
“Aku berangkat ke kantor dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi ku atau menghubungi Reza,” ujar Raka yang sudah berada di dalam mobil.
Melinda mencium punggung tangan suaminya dan melambaikan tangannya ke arah Raka yang perlahan pergi meninggalkan dirinya.
Melinda tersenyum bahagia ketika mengingat bagaimana sang suami dengan sabar mendengarkan apa yang ia katakan.
“Ya Allah, hati hamba sangat bahagia. Karena Mas Raka telah berubah menjadi pria yang sangat baik,” ucap Melinda bermonolog.
Melinda berlari kecil setelah keluar dari lift dan bergegas masuk ke dalam kamar. Wanita itu bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga. Melinda ingin menjadi wanita kuat sekaligus wanita yang bisa diandalkan oleh suaminya.
Melinda sadar, bahwa ia terlalu cepat jatuh cinta dengan suaminya. Akan tetapi, Melinda dapat memastikan bahwa perasaannya itu hanyalah untuk Raka Arafat seorang, yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Melinda yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga, saat itu juga melenggang keluar dari kamar untuk bisa segera berlari mengelilingi halaman rumah.
Disisi lain.
Seorang wanita bernama Luna yang tak lain adalah mantan kekasih Raka Arafat, terlihat sedang melakukan perawatan di salah satu salon terkenal di kota Jakarta.
Luna sengaja melakukan perawatan, untuk mempersiapkan diri bertemu dengan mantan kekasihnya. Luna yakin, bahwa masih ada tempat untuknya dihati Raka.
“Aku ingin wajahku terlihat berkilau dan juga cantik. Malam ini, aku akan bertemu dengan seseorang yang sangat spesial di hidupku,” ucap Luna pada wanita yang sedang mempercantik kuku-kuku jari tangannya.
“Nona seperti ini saja sudah sangat cantik, saya yakin orang spesial itu tidak akan bisa berpaling sedikitpun dari wajah Nona,” ucap wanita itu.
Luna tersenyum puas, ia sangat percaya diri dengan kecantikan. Bermodal kecantikannya itu, banyak pria yang jatuh cinta padanya. Bahkan, pria seperti Raka Arafat saja bertekuk lutut padanya.
Aku tidak peduli dengan status mu itu, Kak Raka. Bagaimanapun, kita masih mencintai satu sama lain. (Batin Luna)
Luna semakin yakin dengan apa yang ia pikirkan. Ia yakin bahwa Raka akan secepatnya meninggalkan Melinda dan menikahi dirinya yang cantik serta seksi.
🌷
Sore hari.
Melinda baru saja mendapat kabar bahwa Sang suami sebentar lagi akan sampai. Saat itu juga Melinda buru-buru berhias diri untuk menyambut kedatangan suaminya. Melinda yakin, dengan ia berdandan cantik, suaminya perlahan akan tertarik padanya dan jatuh cinta padanya.
“Haduh, aku harus pakai baju apa?” tanya Melinda kebingungan karena akan menyambut kedatangan Sang suami tercinta.
Melinda telah berhias diri dan tinggal mengganti pakaiannya. Akan tetapi, Melinda bingung pakaian mana yang harus ia kenakan untuk menyambut kedatangan suaminya setelah seharian bekerja.
Cukup lama Melinda menatap pakaiannya yang tertata rapi di almari pakaian. Sampai akhirnya, Melinda memutuskan untuk mengenakan dress berwarna kuning muda.
“Sebaiknya aku memakai dress yang ini saja,” ujar Melinda bermonolog.
Melinda mengambil dress tersebut dan mengenakannya dengan penuh semangat.
“Ternyata begini rasanya jatuh cinta dan berusaha tampil cantik didepan orang yang kita cintai,” ujar Melinda bermonolog.
Raka akhirnya tiba dan ketika Raka keluar dari mobil dengan dibantu oleh asisten pribadinya, Raka tak melihat batang hidung istrinya. Raka mengedarkan pandangannya dan tidak melihat sosok istrinya itu.
Dimana Melinda, bukankah dia seharusnya menyambut kedatangan ku? Apa dia masih berada di kamar? (Batin Raka)
Raka bertanya-tanya dalam benaknya dan ingin sekali melihat Melinda datang menyambutnya.
“Apakah Tuan Muda sedang mencari keberadaan Nona Muda?” tanya Reza ketika melihat Tuan Mudanya seperti sedang mencari seseorang yang tentu saja itu adalah Melinda.
“Ya, aku mencari istriku. Seharusnya ia datang menyambut kedatangan ku,” jawab Raka dengan sangat jujur.
Reza tersenyum lebar, ia tahu bahwa Tuan Mudanya ternyata telah jatuh cinta dengan Nona Mudanya.
“Tuan Muda, itu Nona Muda,” ucap Reza yang melihat Melinda baru saja keluar dari lift.
Raka menatap lurus ke arah istrinya yang berjalan menghampiri dirinya.
Melinda berjalan sembari melambaikan tangannya ke arah Raka yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kehangatan.
__ADS_1
“Mas Raka ternyata sudah pulang,” ujar Melinda pada suaminya.
“Iya, aku baru saja pulang. Kamu kenapa tidak datang menyambut kedatangan ku?” tanya Raka yang ingin mendengar penjelasan dari istrinya.
“Maaf, Mas Raka. Saya tadi sakit perut dan harus buang air dulu,” jawab Melinda.
Karena saking gugupnya, Melinda harus bolak-balik masuk kamar mandi.
“Apakah sekarang sudah tidak sakit? Apa mau aku panggilkan dokter?” tanya Raka yang nampak khawatir bila istrinya kenapa-kenapa.
“Tidak perlu, Mas Raka. Sekarang saya sudah jauh lebih baik,” jawab Melinda yang tidak ingin membuat suaminya khawatir.
Melinda menepuk dahinya karena baru ingat, bahwa ia belum mencium punggung tangan suaminya. Melinda pun menunduk dan mencium punggung tangan suaminya dengan penuh cinta.
Hati Raka seketika itu tenang ketika mendapat perlakuan hangat dari Sang istri.
“Dimana Kakek?” tanya Raka karena tidak melihat sosok Kakeknya.
“Kakek sedang keluar, Mas. Saya juga tidak tahu Kakek pergi kemana, karena Kakek tidak memberitahu kepada saya kemana perginya Kakek,” pungkas Melinda.
“Apakah kamu sudah makan?” tanya Raka penasaran apakah istrinya sudah makan ataukah belum.
“Sudah, Mas Raka. Mas Raka sendiri sudah makan?” tanya Melinda balik.
“Aku belum makan, aku tidak nafsu makan makanan diluar,” ujar Raka yang sebenarnya ingin makan bersama dengan istrinya.
”Mas Raka mau makan apa? Biar saya yang memasak makanan untuk Mas Raka,” tutur Melinda pada suaminya.
Melinda sangat senang bila suaminya makan, makanan yang ia masak.
“Aku belum bisa berpikir, mungkin nanti aku ingin makan sesuatu,” jawab Raka yang belum kepikiran untuk menu makanan yang akan ia makan.
“Iya, Mas Raka. Mas Raka tinggal katakan saja apa yang mau Mas Raka makan dan saya akan berusaha membuatkan makanan yang sesuai dengan keinginan Mas Raka,” pungkas Melinda dengan senyum terbaiknya.
Melinda mengiyakan dan tak sabar ingin mengetahui makanan apa yang ia dimakan oleh suaminya.
“Uhuk... Uhuk...” Reza sengaja terbatuk-batuk karena kehadirannya sama sekali tak dianggap oleh pasangan suami istri itu.
“Kenapa?” tanya Raka yang tak suka dengan suara batuk asisten pribadinya.
“Tuan Muda, mari saya antarkan Tuan Muda ke kamar. Setelah itu, saya pamit pulang,” tutur Reza yang akan pulang bila Tuan Mudanya sudah berada di dalam kamar.
“Baiklah, ayo antarkan aku ke kamar,” sahut Raka.
Reza pun dengan sigap mendorong kursi roda Tuan Mudanya untuk segera sampai ke kamar.
Melinda dan juga Raka saling melempar senyum satu sama lain. Membuat Reza merasa seperti setan diantara mereka berdua.
Baiklah, sepertinya aku akan lebih sering menjadi setan daripada asisten pribadi Tuan Muda. (Batin Reza)
Setibanya di dalam kamar, Reza pun pamit untuk segera kembali ke rumahnya. Sementara Melinda, bergegas menutup pintu dan mengunci pintu itu rapat-rapat.
Seperti biasa, Melinda akan melepaskan sepatu dan juga pakaian suaminya. Kemudian, mengganti pakaian suaminya dengan pakaian santai di dalam rumah.
“Apa kamu tidak bosan melakukan pekerjaan yang cukup membosankan ini?” tanya Raka ketika Melinda tengah melepaskan sepatu yang Raka kenakan.
“Maksud Mas Raka apa? Saya benar2 tidak mengerti dengan apa yang Mas Raka katakan,” tutur Melinda menanyakan maksud perkataan suaminya.
“Apakah pertanyaan ku kurang jelas? Maksudku, apakah kamu tidak merasa bosan karena harus setiap hari melepaskan sepatuku, melepaskan dan memakaikan aku pakaian?” tanya Raka penasaran.
Melinda tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak setuju dengan apa yang suaminya katakan.
“Saya tidak pernah bosan meskipun saya melakukan ini sampai tua nanti,” jawab Melinda.
Melinda telah mencintai dan menerima kekurangan suaminya. Jadi, tidak ada masalah jika ia setiap hari melakukan hal tersebut. Bagaimanapun, itu adalah tugas seorang istri dan tentu saja Melinda akan mendapatkan pahala dan juga surga dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Raka tertegun mendengar jawaban istrinya. Kali ini Raka tak bisa berkata-kata lagi, ia diam seribu bahasa.
“Mas Raka, Mas Raka melamun?” tanya Melinda melihat suaminya yang diam mematung seperti orang yang tengah melamunkan sesuatu yang sangat penting.
“Tidak, aku sama sekali tidak melamun. Bisakah kamu membuatkan aku nasi goreng? Aku tiba-tiba ingin nasi goreng yang dulu pernah kamu buat untukku,” pinta Raka.
__ADS_1
“Sebentar ya Mas Raka, setelah saya membantu Mas Raka ganti baju, saya langsung ke dapur,” balas Melinda.
“Sekarang saja, tidak apa-apa. Aku akan berusaha mengenakan pakaian sendiri,” sahut Raka.
Melinda keberatan dengan yang suaminya katakan. Dengan keadaan yang seperti itu, tentu saja akan sangat sulit bagi suaminya untuk mengenakan pakaian sendiri.
Raka mencoba menjelaskan kepada istrinya sekaligus memberi pengertian bahwa ia tidak selemah yang dipikirkan oleh istrinya. Bahkan, sebelum mereka menikah, Raka sering mengenakan pakaiannya sendiri.
Melinda pun percaya dengan apa yang suaminya katakan dan saat itu juga Melinda pergi ke dapur untuk memasak nasi goreng.
Ketika Melinda baru saja memasuki ruang dapur, salah satu pelayan mendatanginya dan menanyakan apa yang ingin Nona Mudanya lakukan.
Melinda pun menjelaskan bahwa ia akan membuat nasi goreng untuk suaminya dan Melinda juga meminta kepada pelayan tersebut untuk mengabaikan dirinya selama berada di dapur. Melinda tidak ingin diperlakukan layaknya seorang Nyonya di rumah itu. Melinda tetaplah seorang istri dan tugasnya adalah membuat makanan untuk suaminya.
Beberapa saat kemudian.
Melinda masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah nampan berisi nasi goreng dan juga segelas air minum untuk suaminya.
Raka yang saat itu tengah berada di tempat tidur dan sedang membaca sebuah buku dengan tulisan yang tak dimengerti oleh Melinda, melirik ke arah istrinya sekilas dan kembali fokus dengan paragraf yang belum ia selesaikan.
Melinda dengan langkah hati-hati berjalan menuju meja dan meletakkan nampan tersebut ke atas meja. Dengan sabar Melinda menunggu suaminya sampai selesai membaca di sofa yang sempat menjadi tempat tidurnya.
“Kenapa duduk disitu? Kemarilah, duduk dekat denganku,” ucap Raka memanggil istrinya agar duduk disampingnya.
Melinda tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia pikir perkataan suaminya adalah halusinasi baginya.
Raka menatap lurus istrinya yang tak merespon ucapannya yang meminta Melinda untuk duduk disampingnya.
“Melinda, apakah perkataan ku sama sekali tidak terdengar oleh telinga kamu?” tanya Raka terheran-heran karena apa yang dia katakan, sudah pasti bisa di dengar oleh istrinya.
Melinda terkesiap, ternyata itu bukanlah halusinasi sesaat. Akan tetapi, itu adalah kenyataan yang membuat hati Melinda seketika itu berbunga-bunga.
Melinda tersenyum lebar dan berlari kecil naik ke tempat tidur. Melinda duduk tepat disamping suaminya yang sedang membaca buku.
“Mas Raka suka membaca buku dengan tulisan bahasa Inggris seperti ini?” tanya Melinda.
“Tentu saja, kalau kamu mau kamu boleh membacanya,” jawab Raka.
“Tidak, terima kasih. Terlalu banyak hal yang sudah saya hadapi dan saya tidak ingin menghadapi tulisan-tulisan yang rumit seperti ini,” jawab Melinda.
Raka tertawa lepas melihat ekspresi tegang istrinya. Bagaimanapun, ia hanya bergurau saja dengan apa yang ia katakan.
“Mas Raka mengejek saya?” tanya Melinda yang merasa bahwa dirinya begitu bodoh.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku tadi hanya bergurau saja dan kamu malah menganggap perkataan ku dengan sangat serius,” tutur Raka. “Sudahlah, aku sudah tidak ingin membaca buku ini lagi. Sekarang, aku ingin makan nasi goreng yang kamu buat,” imbuh Raka sembari memegang perutnya sendiri yang terasa cukup lapar karena belum makan siang.
Melinda memanyunkan bibirnya, ia kira mereka berdua akan duduk bersama beberapa menit lagi. Akan tetapi, perkiraannya salah besar dan saat itu juga Melinda turun dengan perasaan malu.
Untung saja Mas Raka tidak menyadarinya. Kalau sampai Mas Raka menyadari niat terselubung ku, pasti Mas Raka akan mengejekku. (Batin Melinda)
Melinda membantu suaminya turun dari tempat tidur dan memindahkan suaminya itu ke kursi roda. Lalu, Melinda membawa suaminya menuju meja dan berharap Sang suami bisa menikmati nasi goreng yang ia buat.
Melinda menarik kursinya agar bisa berdekatan dengan suaminya yang saat itu tengah menikmati nasi goreng yang ia buat.
“Aku suka dengan nasi goreng buatan mu,” ujar Raka memuji nasi goreng yang dibuat oleh Melinda.
“Syukurlah,” balas Melinda dengan sangat lega.
Raka melahapnya hingga habis dan setelah itu, meminta sang istri membawanya berkeliling taman di halaman depan rumah.
Melinda dengan senang hati membawa suaminya menikmati suasana tersebut di area halaman rumah yang dipenuhi dengan tanaman hias.
“Mas Raka, kalau dilihat-lihat taman ini memiliki tanaman hias yang cantik-cantik. Kalau boleh tahu, sebelumnya siapa yang menanam tanaman hias disini?” tanya Melinda penasaran.
“Tentu saja almarhumah Ibuku dan almarhumah Nenekku,” jawab Raka yang tiba-tiba merindukan sosok dua wanita hebat yang pernah mengisi warna-warni hidupnya.
“Mereka pasti wanita yang sangat cantik,” ujar Melinda.
“Tentu saja, mereka sangat cantik,” ucap Raka yang memuji kecantikan almarhumah Ibunya dan juga almarhumah Neneknya.
Melinda setengah membungkuk dan menggenggam erat tangan suaminya itu. Raka sama sekali tak risih, justru Raka senang dengan sentuhan tangan dari istrinya.
__ADS_1