Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 99


__ADS_3

Pagi Hari.


Pagi itu Melinda pergi dengan diantar oleh salah satu sopir yang bekerja di kediaman keluarga Arafat. Sementara Raka telah lebih dulu pergi bersama dengan asisten pribadinya, Reza.


“Nona Muda, ini buah-buahan yang sudah dipotong-potong kecil untuk sarapan Nona Muda di kelas,” tutur pelayan wanita sembari memberikan kotak bekal makanan yang berisi aneka buah-buahan yang telah dipotong-potong kecil.


“Terima kasih, Mbak. Maaf merepotkan Mbak,” balas Melinda sembari menerima kotak bekal tersebut.


“Nona Muda tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi tugas saya untuk melayani Nona Muda,” jawabnya.


Melinda masuk ke dalam mobil dan tak butuh waktu lama, mobil itu pun pergi meninggalkan halaman rumah menuju kampus tempat Melinda melanjutkan pendidikannya.


Disaat yang bersamaan, Raka tersenyum kecil sembari memainkan bolpoin miliknya. Pria itu tersenyum dan membuat asisten pribadinya terheran-heran dengan sikap Tuan Mudanya yang seperti orang gila.


“Tuan Muda, apakah Tuan Muda baik-baik saja?” tanya Reza memastikan.


Senyum Raka tiba-tiba hilang begitu mendapat pertanyaan dari asisten pribadinya.


“Katakan, apa aku terlihat tidak baik-baik saja? Apakah aku terlihat sangat aneh?” tanya Raka dengan tatapan tajam.


Reza hanya tersenyum bodoh melihat tatapan mematikan dari Tuan Mudanya.


“Kenapa diam saja? Apakah kamu tiba-tiba memiliki penyakit yang tidak bisa bicara?” tanya Raka.


“Tuan Muda, kalau boleh kasih saran, sebaiknya Tuan Muda kurangilah yang namanya marah-marah. Bukankah Tuan Muda ingin membuat Nona Muda menjadi suka kepada Tuan Muda?” tanya Reza yang masih tersenyum bodoh.


“Ba-bagaimana kamu tahu kalau ingin ingin membuat Melinda menjadi suka kepadaku?” tanya Raka penasaran.


“Tuan Muda apakah sudah lupa? Saya juga adalah seorang pria. Tentu saja pemikiran kita sama,” pungkas Reza pada Tuannya itu.


“Benarkah begitu?” tanya Raka yang sedikit salah tingkah.


Reza mengangguk dengan penuh semangat ketika mendapat pertanyaan dari Tuan Mudanya.


“Sekarang, kamu keluar dan bawakan aku jus jeruk!” perintah Raka.


“Saya?” tanya Reza menunjuk dirinya sendiri.


“Kalau bukan kamu, lalu siapa?” tanya Raka dengan kesal.


“Baiklah, saya akan segera pergi. Tuan Muda tidak perlu marah-marah,” sahut Reza.


Saat itu juga Reza melenggang pergi untuk segera membawakan jus jeruk yang Tuan Mudanya inginkan.


“Reza akhir-akhir banyak bicara,” ucap Raka bermonolog dan kembali melamun mengenai Sang istri.


🌷


Sore hari.


Melinda tersenyum lebar ketika melihat Sang suami yang datang menjemput dirinya. Karena terlalu senang, Melinda sampai mencium punggung tangan suaminya di depan para mahasiswa dan juga mahasiswi yang baru saja keluar dari kelas mereka.


Bahkan, tak sedikit dari mereka yang bergosip karena tak suka dengan keberuntungan Melinda yang mendapatkan pria tampan dan kaya raya seperti Raka Arafat. Meskipun, Raka sendiri adalah pria cacat.


Raka melirik tajam ke-setiap orang yang berbisik-bisik sembari memperhatikan istrinya, melirik.


“Mas Raka sudah lama menunggu saya?” tanya Melinda dan mendorong kursi roda suaminya untuk segera pergi menuju mobil.


Merekapun masuk ke dalam mobil dan saat itu juga, Reza mengemudikan mobil menuju apartemen milik Raka.


“Mas Raka, kita mau kemana? Bukankah jalan pulang bukan lewat sini?” tanya Melinda penasaran.


“Melinda, apa kamu sudah lupa bahwa kita akan tidur di apartemen?” tanya Raka dengan terus memperhatikan wajah Melinda.


“Saya pikir kita harus pulang ke rumah dulu, Mas Raka. Sebab, saya harus membawa beberapa pakaian kita,” jawab Melinda.


“Kamu tenang saja, aku sudah membawanya,” sahut Raka dengan tersenyum kecil.


Melinda hanya bisa mengangguk kecil dan terlihat sedikit gugup.


“Kenapa wajahmu tiba-tiba menjadi tegang begitu? Kamu tidak ingin tidur di apartemen? Kalau kamu tidak ingin, kamu bilang saja dan tidak perlu kamu simpan sendiri,” terang Raka ketika melihat wajah tegang istrinya.


Melinda menggerakkan tangannya berulang dan menjelaskan bahwa dirinya sedikit gugup. Namun, Melinda setuju bila tidur di apartemen.


Raka memastikan kembali apa yang Melinda katakan dan dengan senyum manisnya, Melinda mengatakan bahwa ia ingin tidur apartemen bersama dengan Sang suami.

__ADS_1


1 jam kemudian.


Melinda tertegun sejenak ketika memasuki apartemen milik suaminya. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di apartemen tersebut.


“Kenapa kamu berhenti?” tanya Raka ketika melihat Melinda yang tetap berdiri di tempat.


“Setelah berbulan-bulan, akhirnya saya bisa berada di apartemen Mas Raka,” ujar Melinda.


“Aku kira ada apa,” balas Raka dengan suara yang sangat santai.


Raka memberi isyarat mata kepada asisten pribadinya untuk segera keluar dari apartemen tersebut. Saat itu juga, Reza meletakkan koper berukuran sedang dekat sofa dan bergegas keluar dari apartemen milik Tuan Mudanya.


Melinda menoleh canggung ketika melihat Reza yang telah pergi meninggalkan dirinya dan suami berdua saja di apartemen tersebut.


“Ada apa? Sudah jam segini. Kamu tidak ingin mandi?” tanya Raka sembari menggerakkan kursi rodanya menuju kamar.


Melinda meraih koper yang tergeletak dekat sofa dan cepat-cepat menyusul suaminya yang sudah masuk ke dalam kamar.


“Mas Raka mau mandi?” tanya Melinda sembari membuka koper berukuran sedang tersebut.


“Iya, aku mau mandi. Kamu atau aku yang mandi terlebih dahulu?” tanya Raka.


“Mas Raka saja dulu, saya akan menyiapkan pakaian untuk Mas Raka. Ngomong-ngomong, tempat ini sangat bersih padahal Mas Raka sangat jarang datang kemari,” ujar Melinda ketika menyadari betapa bersihnya kamar tersebut.


“Tentu saja bersih. Setiap 3 hari sekali akan ada yang datang untuk membersihkan seluruh apartemenku ini,” pungkas Raka pada istrinya.


Melinda berjalan mendekati suaminya dan melepaskan pakaian suaminya. Kemudian, Melinda masuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksa kamar mandi terlebih dahulu.


Setelah dirasa aman, barulah Raka masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan kursi rodanya.


Melinda menyentuh dadanya yang kembali berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Meskipun aku sudah tahu bahwa tidak akan ada hal apapun yang akan terjadi antara aku dan Mas Raka. Tetapi, entah kenapa aku merasa ada getaran-getaran aneh setiap kali saling bertatapan satu sama lain,” ujar Melinda bermonolog.


Melinda telah selesai menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh suaminya. Kemudian, Melinda merebahkan tubuhnya sejenak sembari menunggu Sang suami selesai membersihkan diri.


Selang beberapa menit, Raka keluar dari kamar mandi dan bergerak perlahan menggunakan kursi rodanya.


“Apakah Melinda terlalu lelah, sehingga ia tidur di jam sore seperti ini?” tanya Raka dengan sangat lirih.


Melinda terbangun dari tidurnya seperti orang yang kebakaran jenggot.


“Astaghfirullah, ternyata saya ketiduran,” ucap Melinda dan melompat turun dari tempat tidur pada saat melihat Raka yang telah selesai mengenakan pakaian.


“Santai saja,” sahut Raka dan tertawa kecil melihat ekspresi terkejut Melinda.


“Maafkan saya, Mas Raka. Saya tiba-tiba mengantuk ketika merasakan betapa lembutnya tempat tidur milik Mas Raka,” terang Melinda.


“Kamu santai saja. Tempat tidur ini sekarang bukanlah milik aku seorang. Kamu juga berhak memiliknya. Lebih baik, kamu sekarang mandi biar segar,” tutur Raka meminta Melinda untuk segera membersihkan diri agar tidak mengantuk.


“Milik kita?” tanya Melinda memastikan sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.


“Mulai saat ini dan seterusnya, kita akan lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen ini,” pungkas Raka.


“Maksud Mas Raka? Kalau kita banyak menghabiskan waktu disini, bagaimana dengan Kakek?” tanya Melinda.


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Kakek. Lagipula, Kakek lah yang memintaku untuk banyak menghabiskan waktu di apartemen ini bersama denganmu,” ungkap Raka.


“Baik, Mas. Saya permisi dulu.” Melinda menyambar handuk miliknya dan berlari kecil menuju kamar mandi.


Raka tersenyum tipis melihat tingkah Melinda dan memutuskan untuk memesan makanan.


🌷


Malam hari.


“Mas Raka, kita masuk ke dalam ya,” pinta Melinda karena Sang suami masih menikmati udara malam di balkon kamar.


“Apakah kamu kedinginan? Baiklah, ayo kita masuk,” sahut Raka.


Melinda akhirnya membawa masuk suaminya dan menutup rapat-rapat jendela agar angin malam tak masuk ke dalam kamar apartemen mereka.


“Melinda, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Aku harap kamu mau mendengarkan perkataan ku kali ini,” ucap Raka yang begitu serius.


Melinda tiba-tiba merasakan perubahan aneh di dalam kamar tersebut. Ditambah lagi, dengan tatapan suaminya yang begitu serius sepatu ada hal yang sangat penting yang ingin suaminya sampaikan padanya.

__ADS_1


“Mas ingin menyampaikan apa?” tanya Melinda penasaran.


Bibir Raka mendadak kaku saat itu juga. Terlihat jelas bahwa Raka sangat gugup ketika ingin menyampaikan dan juga menyatakan perasaannya terhadap Sang istri.


“Mas Raka kenapa?” tanya Melinda ketika melihat mulut suaminya yang terus menganga lebar.


Raka menarik napas dalam-dalam dan menghelanya secara perlahan. Kemudian, pria itu meminta istrinya untuk membantunya bersandar di kepala ranjang. Melinda pun mengiyakan dan membantu suaminya duduk bersandar di kepala ranjang dengan sangat hati-hati.


Saat Melinda ingin kembali merebahkan tubuhnya tepat disamping Sang suami, tiba-tiba Sang suami merangkul pinggangnya.


Deg!


Melinda saat itu juga mematung menatap suaminya dengan tatapan terkejut sekaligus tatapan penuh ketertarikan.


“Melinda, aku menyukaimu,” ungkap Raka dengan lantang.


Raka sudah tidak bisa memendam perasaan sukanya lagi terhadap Melinda. Entah Melinda akan menerimanya atau menolaknya, yang terpenting bagi Raka adalah menyatakannya.


“Mas Raka serius?” tanya Melinda dengan mata berkaca-kaca.


“Mungkin kamu mengira bahwa perkataan ku adalah kebohongan. Akan tetapi, aku berani bersumpah jika diperlukan,” jawab Raka.


Melinda refleks menyentuh bibir suaminya dengan jari telunjuknya.


Melinda menggigit bibirnya sembari terus menatap suaminya dengan tatapan kebahagiaan.


“Ada apa? Apa kamu sedang merangkai kata-kata untuk menolak ku?” tanya Raka karena Melinda hanya diam tak juga merespon perasaannya yang sudah ia ungkapkan.


“Saya juga menyukai Mas Raka,” ungkap Melinda dan akhirnya memeluk tubuh suaminya dengan tangisan bahagia.


Mata Raka terbelalak lebar mendengar jawaban dari istrinya. Rasanya apa yang dikatakan oleh Melinda adalah mimpi indah untuknya.


“Ya ampun, sepertinya aku sedang berhalusinasi,” ucap Raka mencoba menyadarkan dirinya sendiri.


“Mas Raka, ini bukan halusinasi. Saya pikir, hanya saya sajalah yang memiliki perasaan untuk Mas Raka,” terang Melinda yang masih memeluk tubuh suaminya.


Raka menangis terharu, untuk pertama kalinya ia menangis terharu karena seorang wanita. Yaitu, istrinya sendiri dan terlebih lagi Melinda membalas cintanya.


Raka memeluk erat tubuh Melinda dan pada akhirnya mereka saling berpelukan satu sama lain.


“Sebenarnya, aku ingin membuat kejutan untukmu. Akan tetapi, aku sangat takut bila kamu malah semakin tak menyukaiku,” tutur Raka.


“Mas Raka tak perlu memberikan kejutan apapun. Cukup terima saya apa adanya, itu sudah sangat cukup bagi saya,” pungkas Melinda.


Momen penting keduanya tiba-tiba bubar karena tiba-tiba ponsel Raka berdering.


Melinda refleks melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari suaminya karena suara ponsel suaminya yang tiba-tiba berdering.


“Ada apa kamu menghubungi di jam malam seperti ini?” tanya Raka kesal karena momen penting dalam hidupnya tiba-tiba terus karena ulah dari asisten pribadinya.


“Tuan Muda, saya mendapatkan pesan dari rumah sakit bahwasanya Nona Luna mencoba meminum racun. Dan saat ini, Nona Luna tidak sadarkan diri di rumah sakit,” terang Reza.


“Apa? Jemput aku sekarang dan bawa aku menemui Luna!” perintah Raka.


Melinda menelan salivanya dengan susah payah ketika mendengar nama Luna yang keluar dari mulut suaminya.


“Melinda, tolong siapkan pakaian untukku. Malam ini aku harus ke rumah sakit,” pinta Raka.


“Siapa yang sakit, Mas Raka? Apakah Mas Raka ingin menemui Nona Luna?” tanya Melinda yang berusaha menyembunyikan kesedihannya.


“Iya, Luna dalam kondisi kritis. Aku harus datang menemuinya dan melihat kondisinya secara langsung,” terang Raka.


“Boleh saya ikut, Mas Raka?” tanya Melinda yang ingin menemani suaminya pergi ke rumah sakit.


“Melinda, kamu diam disini saja ya. Aku tidak akan lama berada di rumah sakit,” balas Raka.


Dengan berat hati, Melinda mengiyakan apa yang suaminya katakan.


Beberapa jam kemudian.


Reza datang menjemput Tuan Mudanya untuk mengantarkan Tuan Mudanya ke rumah sakit. Melinda terus tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada Sang suami yang perlahan menjauh.


“Baru saja aku dan Mas Raka menikmati momen penting kami. Ternyata, sudah ada kejadian yang tak terduga kepada Nona Luna,” ujar Melinda.


Sebagai seorang wanita sekaligus istri dari Raka Arafat, Melinda merasa sedikit tak tenang karena Sang suami pergi untuk menemui wanita yang dulu sempat menjadi kekasih dari suaminya itu.

__ADS_1


“Ya Allah, semoga Nona Luna baik-baik saja dan Mas Raka cepat kembali,” ucap Melinda sembari menoleh ke langit-langit kamar.


__ADS_2