Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 46


__ADS_3

Melihat Melinda yang sedang berada diluar, Reza memutuskan untuk menghampiri istri dari Tuan Mudanya.


“Nona sedang apa disini? Sebaiknya Nona Muda masuk ke dalam,” ucap Reza berjaga-jaga bila ada hal yang tidak diinginkan terjadi kepada Nona Mudanya.


“Apakah Mas Raka benar-benar melarang saya keluar dari villa?”


“Bisa dibilang begitu,” jawab Reza singkat.


“Boleh saya bertanya sesuatu mengenai Mas Raka?” tanya Melinda penasaran dan berharap bahwa asisten pribadi dari suaminya mau berkata jujur.


“Silakan.” Reza tanpa pikir panjang mempersilakan istri dari Tuan Mudanya untuk bertanya dan berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan sejujur-jujurnya.


“Apakah watak keras kepala dan angkuh memang sudah tertanam pada sosok Mas Raka?”


“Bisa dibilang begitu,” jawab Reza.


“Apakah Mas Raka sebelumnya memiliki kekasih?” tanya Melinda dan berusaha untuk tetap tenang dengan pertanyaannya sendiri.


Reza diam tak menjawab pertanyaan dari Melinda.


“Karena diam, itu artinya Mas Raka pernah memiliki kekasih,” balas Melinda dan tertawa kecil.


Melinda menertawakan dirinya sendiri yang terlihat bodoh.


“Ada satu hal yang membuat saya sangat penasaran mengenai apa yang terjadi kepada Mas Raka. Bolehkah saya tahu kenapa Mas Raka menjadi lumpuh?”


Melinda sangat penasaran dan sangat berharap bahwa Reza mau menceritakan kronologi kejadian yang membuat Raka Arafat lumpuh.


“Saya ingin menceritakan tentang bagaimana Tuan Muda bisa mengalami lumpuh. Akan tetapi, mengingat hubungan Nona Muda dan Tuan Muda belum ada perkembangan maka biarlah ini menjadi pertanyaan yang belum ada jawabannya,” pungkas Reza dan meminta Melinda untuk segera masuk ke dalam.


Baiklah, sepertinya pertanyaan ku terlalu terburu-buru. (Batin Melinda)


Disisi lain. 🌷


Katty menangis manakala dirinya tak bisa membeli pakaian yang sedang trend dikalangan remaja. Katty ingin sekali mendapatkan pakaian tersebut. Akan tetapi, kedua orangtuanya sedang dalam kondisi yang benar-benar miskin.


“Ayah, lihatlah pakaian ini. Harganya hanya 300 ribu saja dan Ayah tidak bisa membelikannya untukku? Ayah jangan pelit dong.” Katty merengek meminta Ayahnya untuk segera membelikan pakaian yang ia inginkan.

__ADS_1


“Katty, Ayah tahu bahwa Katty sangat menginginkan pakaian itu,” balas Bambang ketika putri kesayangannya menunjukn pakaian lewat ponsel pintar.


“Ayah tahu dan Ayah masih tidak ingin membelikannya?” tanya Katty efek terlalu sering dimanjakan oleh Bambang.


“Katty, kalau kamu menginginkan pakaian itu, kenapa tidak kamu jual saja jam tangan atau barang-barang kamu yang harganya cukup mahal?” tanya Dina Ibu kandung Katty.


“Mama jangan membuat Katty semakin sedih dong,” sahut Katty kepada Dina.


“Sudah-sudah. Jangan ribut, Ayah ingin beristirahat sejenak,” ujar Bambang yang sangat pusing dengan istri dan juga putrinya itu.


Saat Katty ingin berbicara, Bambang saat itu juga bergegas menuju kamar.


“Ayah! Ayah!” Katty terus memanggil Ayahnya yang melenggang pergi.


“Katty, kamu jangan seperti ini terus-menerus,” ucap Dina sambil membelai rambut pendek Katty.


“Mama, apakah aku masih putri kesayangan Ayah? Kenapa Ayah tidak pernah memanjakan aku lagi?” tanya Katty yang kesal dengan sikap Ayahnya yang tak lagi memanjakan dirinya seperti dulu.


“Katty sayang, selamanya Ayah selalu dan selalu menyayangi sekaligus memanjakan kamu. Akan tetapi, untuk saat ini Ayahmu sedang pusing karena belum mendapatkan pendapatan,” pungkas Dina.


“Kalau tahu begini, lebih baik aku yang menjadi istri pria lumpuh itu dan bukan si Upik abu itu,” celetuk Katty.


Katty beranjak dari kursi dan berlari keluar rumah.


“Katty, kamu mau kemana sayang?” tanya Dina mencoba mengejar putri kesayangannya.


“Mama, aku akan pergi ke rumah keluarga sombong itu dan meminta uang kepada mereka,” ungkap Katty yang sangat menginginkan uang untuk membeli pakaiannya yang sangat ia inginkan.


“Katty, kamu jangan nekad seperti ini. Mama tidak mau kamu terkena masalah,” balas Dina yang terus mengejar putri kesayangannya.


Katty menghentikan larinya dan mencoba membujuk Dina untuk ikut bersamanya ke rumah keluarga baru dari Melinda.


“Mama, ayo pergi dan minta uang kepada orang kaya itu.”


Dina menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan putri kesayangannya.


“Mama, kenapa Mama tidak mau?” tanya Katty yang kembali merengek.

__ADS_1


“Katty sayang, Mama bukannya tidak mau. Akan tetapi, Mama takut kalau nantinya kita malah mendapatkan masalah dari Kakek tua dan juga si lumpuh itu,” pungkas Dina.


“Mendapatkan masalah?” Katty terlihat bingung harus mengurungkan niatnya ataukah tetap pergi meminta uang.


Dina menyentuh kedua bahu putrinya dengan tatapan sedih.


“Katty sayang, dengarkan yang Mama katakan ya Nak. Untuk saat ini kita jangan gegabah dan biarkan Ayahmu yang berpikir. Mama hanya tidak ingin kita mendapatkan masalah dan membuat wanita itu menjadi besar kepala ketika terus-menerus melihat penderitaan kita,” ujar Dina panjang lebar dan berharap putri kesayangannya mau mengerti dengan apa yang ia katakan.


Katty dengan mengumpat kesal dengan kondisinya yang benar-benar miskin. Ia berharap akan ada waktu baginya bertemu dengan Melinda dan menjambak rambutnya.


“Sayang, jangan berkata kasar seperti ini. Bagaimana jika ada yang mendengarnya?” tanya Dina.


“Mama, apakah aku bisa seperti Melinda? Apakah aku bisa menjadi orang kaya?”


“Katty sayang, tentu saja kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau. Kamu cantik dan tentu saja banyak pria kaya yang menyukai kamu,” jawab Dina yang tentu saja memuji kecantikan Putrinya sendiri.


Katty tertawa lega dengan jawaban Dina. Kemudian, Katty mengurungkan niatnya dan kembali pulang ke rumah.


Dina bernapas lega karena akhirnya Katty mau mendengarkan perkataannya.


Keduanya pulang dengan saling berpegangan tangan satu sama lain.


“Kalian darimana saja?” tanya Bambang yang ternyata sudah menunggu istri dan juga putrinya di ruang tamu.


Katty maupun Dina terkejut mendapat pertanyaan dari Bambang.


“Mas ngapain disini? Bukankah tadi Mas sedang beristirahat di kamar?” tanya Dina yang malah balik bertanya.


“Aku dari tadi memanggilmu dan kamu tidak ada. Sekarang lebih baik tutup pintu dan beristirahat lah!” perintah Bambang dan memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar.


Dina hanya bisa menuruti perkataan suaminya dan meminta Katty untuk segera beristirahat serta tak boleh keluar rumah.


“Tapi, Ma....”


“Katty, sebaiknya kita memang harus beristirahat. Bukankah akhir-akhir ini kita tidak pernah tidur siang?”


“Baiklah, Katty permisi.”

__ADS_1


Katty melangkah tak berdaya menuju kamarnya.


Secepatnya aku pun akan merangkak naik menjadi orang kaya. Lihat saja Upik abu, aku akan mendapatkan suami kaya dan tampan. Tentu saja tidak seperti suamimu yang lumpuh itu. (Batin Katty)


__ADS_2