Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 107


__ADS_3

Almer mendapat kabar bahwa cucu kandungnya tengah dirawat. Saat itu juga Kakek tua itu memutuskan untuk menjenguk cucu kandungnya yang sedang berada di rumah sakit.


Tak butuh waktu lama, Almer tiba di rumah sakit. Tempat dimana Raka di rawat.


Reza yang sedang berdiri tepat di depan ruang rawat Tuan Mudanya, melihat sosok Tuan Besarnya dari kejauhan. Reza pun berlari kecil menghampiri Tuan Besarnya itu.


“Bagaimana keadaan cucuku?” tanya Almer.


“Tuan Muda baik-baik saja, Tuan Besar. Hanya saja, untuk beberapa hari ke depan Tuan Muda harus dirawat disini,” terang Reza.


Almer bernapas lega, setidaknya Cucu kandungnya baik-baik saja.


“Kakek untuk apa datang kemari?” tanya Raka saat Sang Kakek baru saja melangkah masuk ke dalam ruang rawat.


“Apa Kakek tidak boleh menjenguk cucu Kakek yang sedang sakit?” tanya Almer dan menjewer telinga cucu kandungnya dengan cukup kuat.


Raka pun meringis merasakan sakit di telinganya.


“Kakek, Raka sudah besar? Ditambah, Raka juga sudah beristri,” ucap Raka setengah kesal.


“Tetap saja, kamu adalah Cucu kandung Kakek,” tegas Almer.


Raka tak bisa mengelak perkataan kakeknya itu.


“Baiklah,” balas Raka yang terdengar sangat terpaksa.


Almer tersenyum lebar ketika melihat cucu menantunya.


“Cucu menantu, lebih baik Cucu menantu tidur saja di rumah. Pria seperti ini tidak perlu ditemani,” tutur Almer membujuk cucu menantunya untuk tidur di rumah.


Raka melongo tak percaya dan menggenggam erat tangan istrinya.


“Tidak boleh, Melinda tetap harus disini menemani Raka,” tegas Raka yang semakin erat menggenggam tangan Sang istri.


“Mas Raka, jangan terlalu erat,” pinta Melinda dengan wajah yang tak nyaman.


“Uppss, Maaf,” ucap Raka dan seketika itu melonggarkan genggamannya.


Almer tertawa kecil melihat hubungan keduanya yang menurut Kakek tua itu hubungan yang cukup mesra.


“Melinda, kamu tetap menemani aku disini, 'kan?” tanya Raka memastikan.


“Iya, Mas Raka. Saya sudah membawa pakaian saya,” jawab Melinda dengan suara yang cukup gugup karena Raka menatapnya dengan begitu lekat.


“Syukurlah,” ucap Raka bernapas lega.


Alhamdulillah, hubungan Raka dan Melinda semakin hari semakin membaik. (Batin Almer)


Karena sudah melihat secara langsung kondisi kesehatan Cucu kandungnya, Almer pun memutuskan untuk segera meninggalkan rumah sakit.


“Raka, bersikap baiklah kepada Cucu menantu Kakek,” pinta Almer.

__ADS_1


“Kakek tidak perlu memikirkan hal itu. Raka akan berusaha memperlakukan Melinda sebaik mungkin,” pungkas Raka pada Sang Kakek.


Almer tersenyum lega dan saat itu juga pamit untuk kembali ke rumah.


“Kakek sudah pergi, sekarang duduklah kembali,” pinta Raka agar Melinda dan dirinya bisa kembali berdekatan.


🌷


Malam hari.


Melinda baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengalami muntah-muntah. Sepertinya, Melinda tengah masuk angin karena hawa dingin di ruangan tersebut.


“Apa kamu tadi mengalami muntah-muntah,” tanya Raka yang mendengar suara Melinda muntah-muntah.


“Kedengaran ya Mas?” tanya Melinda memastikan sembari menyentuh perutnya.


“Tentu saja. Apa kamu ingin diperiksa?” tanya Raka yang tetap berada di tempat tidur.


“Tidak usah, Mas Raka. Saya baik-baik saja,” jawab Melinda yang tidak ingin membuat Raka khawatir.


Raka hanya bisa mengiyakan keinginan Melinda yang tidak ingin diperiksa.


“Sini, tidurlah bersama denganku disini,” ucap Raka sembari menepuk tempat tidur yang tengah dikuasainya.


Melinda tersenyum canggung dan menggelengkan kepalanya secara perlahan.


“Ada apa? Kamu tidak suka tidur satu ranjang denganku? Bukankah dikamar, kita pun tidur satu ranjang?” tanya Raka terheran-heran.


“Bukan begitu, Mas Raka. Hanya saja, ranjangnya terlalu kecil untuk digunakan Mas Raka dan juga saya,” ungkap Melinda.


“Bagaimana kalau nanti saya jatuh dari tempat tidur?” tanya Melinda yang ekspresi seperti anak kecil.


Raka terbelalak tak percaya, beberapa detik kemudian Raka tertawa lepas. Raka menertawakan pikiran menggemaskan istrinya itu.


“Apa kamu takut kalau aku akan membuatmu jatuh?” tanya Raka.


“Mas Raka jangan salah paham, saya hanya takut bila nantinya saya jatuh. Dikarenakan, saya turun tidak bisa diam,” pungkas Melinda.


“Apa kamu lupa bahwa aku ada di sampingmu? Aku akan mendekap mu dan tidak akan membiarkan kamu jatuh,” terang Raka.


Perkataan Raka membuat jantung Melinda berdegup lebih kencang. Perkataan Raka membuat jiwa Melinda meleleh seketika itu juga.


“Tunggu apalagi? Ayo naiklah! Aku baru saja minum obat dan harus segera beristirahat agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin berlama-lama disini, kasihan istriku bila aku terus berada disini,” tutur Raka.


Melinda saat itu juga menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Perkataan Raka membuatnya seakan-akan terbang ke luar angkasa.


Ya Allah, aku harap hubungan hamba dan Mas Raka selalu harmonis. (Batin Melinda)


“Apa aku terlihat jelek, sampai-sampai kamu menutup wajahmu?” tanya Raka yang nampak bingung dengan sikap istrinya itu.


Melinda menjauhkan tangannya yang sebelumnya menutup wajahnya. Kemudian, naik ke tempat tidur dengan perasaan yang cukup gugup.

__ADS_1


“Tubuhmu sangat kecil, bagaimana bisa kamu jatuh? Lihatlah, masih ada ruang untukmu bergerak,” ujar Raka.


Melinda mengulum bibirnya sendiri dan samar-samar Raka bisa melihat lesung pipi kanan istrinya.


“Cantik,” puji Raka ketika melihat betapa cantik Sang istri.


Melinda terlalu gugup untuk menatap suaminya yang baru saja memuji dirinya. Melinda pun memutuskan berbalik badan membelakangi suaminya itu.


Raka sama sekali tak kesal apalagi marah. Raka juga tidak ingin memaksa istrinya untuk tidur menghadap dirinya.


“Melinda, apakah besok kamu akan berangkat kuliah?” tanya Raka penasaran.


“Tidak, Mas Raka,” jawab Melinda.


Raka memilih untuk mengiyakan dan tak bertanya alasan mengapa istrinya tak berangkat kuliah.


“Mas Raka, apakah Mas Raka sudah agak mendingan?” tanya Melinda dengan posisi yang masih membelakangi suaminya.


“Alhamdulillah, ini semua berkat kamu yang telah merawat ku,” terang Raka.


“Mas Raka, ayo tidur,” ajak Melinda karena bingung mencari topik pembicaraan.


“Ayo, kita harus tidur karena besok kita akan kembali ke rumah,” sahut Raka.


Saat itu juga Melinda berbalik badan menghadap suaminya.


“Mas Raka tidak dengar apa kata dokter tadi? Mas Raka harus tetap dirawat dan kalaupun ingin pulang, tunggu sampai 3 hari ke depan,” ujar Melinda panjang lebar.


Raka tertawa kecil karena mengetahui sisi lain dari istrinya yang ternyata cukup bawel.


“Mas Raka kenapa tertawa?” tanya Melinda terheran-heran.


“Lucu,” jawab Raka singkat, jelas dan padat.


“Apanya yang lucu, Mas Raka?” tanya Melinda yang benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataan suaminya.


“Aku bilang lucu, itu artinya kamu. Kamu lucu dan menggemaskan,” ungkap Raka.


Melinda menjadi salah tingkah dan berbalik badan membelakangi suaminya.


“Mas Raka, sebaiknya kita tidur sekarang,” ujar Melinda sembari menyentuh pipinya yang mulai hangat karena tersipu malu atas pujian dari Sang suami.


Raka tersenyum kecil dan perlahan memejamkan mata. Pelan tapi pasti, tangan Raka merayap ke bagian tubuh Melinda yaitu bagian pinggang.


Melinda terkejut dan semakin salah tingkah dengan tangan suaminya yang menyentuh bagian pinggangnya.


“Tidurlah, aku tidak berniat macam-macam padamu. Kamu tahu sendiri bahwa aku lumpuh, Melinda ku sayang,” terang Raka agar Melinda tidak risih dengan sentuhan darinya.


Wanita muda itu tersenyum kecil dan merasa nyaman dengan sentuhan dari suaminya. Melinda sama sekali tak mempermasalahkan kondisi suaminya yang lumpuh, cintanya untuk Sang suami cukup besar dan tidak ada keinginan lain selain dicintai oleh suaminya dengan tulus. Sama seperti Melinda mencintai suaminya dengan tulus.


Keduanya pun akhirnya tidur nyenyak di ranjang yang cukup membuat mereka berdua semakin dekat.

__ADS_1


Disaat yang bersamaan, Reza masih berada diluar ruangan, asisten pribadi Raka itupun memutuskan untuk tidur di kursi sembari berjaga-jaga barangkali ada sesuatu hal yang tak terduga menghampiri Tuan Mudanya maupun Nona Mudanya.


“Baiklah, aku akan tidur disini saja. Sepertinya kursi ini tidak terlalu buruk,” ujar Reza dan perlahan merebahkan tubuhnya di kursi tersebut.


__ADS_2