Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 126


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Keadaan Melinda berangsur-angsur membaik, wanita muda itu sudah dapat melakukan aktivitas seperti biasa. Ratna yang setiap hari berada disisi Melinda, selama Melinda sedang tidak baik-baik saja ikut senang karena akhirnya Melinda bisa berjalan normal seperti biasa.


Pagi itu, Ratna pamit untuk pulang ke rumahnya. Sudah beberapa hari ia tidak pulang dan Ratna ingin segera pulang setelah Melinda dinyatakan sembuh.


“Ratna, terima kasih karena kamu selalu menemaniku. Sering-seringlah main kesini, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu,”ujar Melinda.


Ratna tersenyum lebar mendengar ucapan Melinda padanya.


Sang Kakek perlahan datang menghampiri keduanya yang sedang berada di teras depan rumah.


Terlihat jelas, bahwa Kakek tua itu membawa sesuatu ditangannya.


“Ratna, ini untukmu. Tolong diterima dan gunakanlah dengan bijak,” tutur Almer sembari menyerahkan sebuah amplop yang cukup tebal.


Ratna seketika itu menolak pemberian Almer padanya. Ia tidak ingin menerima apapun dari keluarga yang sudah baik padanya dan telah memperbaiki rumahnya hingga menjadi layak huni.


“Tidak, Kek. Saya tidak bisa menerimanya,” balas Ratna dan mundur dua langkah.


Kakek tua itu menghela napasnya dan menunduk sedih. Ia hanya ingin memberikan Ratna uang sebagai tanda terima kasih karena telah menemani cucu menantu kesayangannya.


“Ratna, tolong diterima ya. Kakek akan sangat sedih kalau kamu tidak menerimanya, kamu mengerti'kan, maksud Kakek?” tanya Melinda mewakili hati Kakek dari suaminya itu.


Ratna terdiam sejenak, sepertinya ia sedang berusaha berpikir untuk menerima uang itu ataukah tidak.


“Ba-baiklah, saya terima uang dari kakek,” ucap Ratna yang tidak ingin membuat Almer maupun Melinda menjadi sedih.


Seketika itu senyum Almer mengembang sempurna. Dengan semangat ia memberikan amplop tersebut kepada Ratna.


“Terima kasih, Kakek. Terima kasih, Melinda.” Ratna menangis terharu, ia merasa memiliki keluarga hangat yang mencintai dirinya.


Melinda memeluk sahabatnya sembari mengelus-elus punggung sahabatnya.


“Sahabatku tidak boleh menangis, kami disini sayang dan cinta sama kamu, Ratna. Sering-seringlah datang kemari ya!” pinta Melinda.


Ratna mengangguk kecil dan membalas pelukan sahabatnya.


Selang beberapa menit kemudian, Ratna akhirnya pamit dan diantar oleh salah satu sopir yang bertugas hari itu.


Ratna melambaikan tangannya dari dalam mobil sebelum ia benar-benar meninggalkan keluarga yang baik itu.


Melinda tersenyum bahagia dan segera menghapus air mata bahagia tersebut.


“Terima kasih, Kakek. Terima kasih atas perhatian Kakek kepada sahabat Melinda,” tutur Melinda mengucapkan terima kasih.


“Kakek sangat bahagia melihat Cucu menantu Kakek sudah sembuh. Bagaimana, kalau nanti siang kita pergi ke panti asuhan?” tanya Almer mengajak Melinda.


“Wah, Melinda mau sekali, Kek!” seru Melinda bersemangat.


“Ya sudah, nanti siang kita akan pergi. Sekarang, Kakek harus bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan.”


“Siap, Kakek. Kakek yang semangat ya,” ujar Melinda dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


“Oh, tentu saja.. Hahaha.. hahaha.” Sang Kakek tertawa dengan gaya yang menggemaskan.


Melinda saat itu tak langsung masuk ke dalam rumah, ia justru berjalan menuju taman tempat dimana ia dan suami menghabiskan waktu bersama ketika sedang jenuh di dalam rumah.


Seperti biasa, akan ada seorang pelayan yang datang menghampiri Melinda untuk menanyakan apakah Nona Mudanya itu membutuhkan sesuatu ataukah tidak.


“Nona Muda butuh sesuatu atau menginginkan sesuatu?” tanya seorang pelayan menghampiri Melinda yang sedang duduk di kursi besi.


“Karena Mbak bertanya, kalau begitu saja ingin makan buah kesemek. Tolong dikupas ya Mbak kulitnya,” jawab Melinda.


“Sekalian air minum juga, Nona Muda?” tanya pelayan itu menawarkan air minum untuk Nona Mudanya.

__ADS_1


“Boleh, Mbak. Air putih ya, jangan jus ataupun sirup,” jawab Melinda memperjelas minuman apa yang ingin ia minum.


“Baik, Nona Muda. Saya akan segera membawa keinginan Nona Muda kemari segera mungkin,” sahut pelayan itu kepada Melinda.


“Mbak tidak perlu buru-buru, santai saja. Lagipula, saya ingin duduk santai disini dan tidak buru-buru pergi,” terang Melinda yang tidak ingin bila pelayan dihadapannya buru-buru menghampiri dirinya.


“Baik, Nona Muda. Saya permisi ke dapur,” balasnya dan melenggang pergi meninggalkan Melinda untuk segera membawakan apa yang diinginkan oleh Nona Mudanya itu.


Melinda tersenyum lebar ketika pelayan itu pamit pergi meninggalkan dirinya.


“Mas Raka disana sedang apa ya? Aku merindukannya,” ujar Melinda bermonolog.


Melinda meluruskan kakinya dan menatap kakinya dengan sangat serius. Melihat kedua kakinya, membuat ia merasa sedih karena itu mengingatkan akan suaminya yang lumpuh dan hanya bisa duduk di kursi roda.


“Mas Raka pasti sangat kesal saat pertama kali duduk di kursi roda,” tutur Melinda bermonolog dengan terus memperhatikan kedua kakinya yang sudah pulih dari cideranya.


Melinda menyandarkan kepalanya di kursi sembari membayangkan senyum suaminya.


Selang beberapa menit, buah kesemek dan air putih akhirnya datang. Melinda mengucapkan terima kasih dan meneguk air minum untuk menyegarkan tenggorokannya.


Baru saja meletakkan gelas minumnya di nampan, Sang Kakek datang menghampiri Melinda.


“Cucu menantu, Kakek berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa, bilang saja kepada mereka. Mereka Kakek bayar untuk melayani kita,” ujar Almer dengan menepuk bahu Melinda.


“Baik, Kek. Kakek tidak perlu mengkhawatirkan Melinda. Kakek yang semangat ya!” Melinda tersenyum dan menyemangati Kakek tua itu yang akan berangkat ke perusahaan.


Kakek tua itu akhirnya pergi meninggalkan Melinda yang masih ingin berada di taman.


Melinda kembali mendaratkan bokongnya di kursi dan menikmati buah kesemek yang sudah dipotong-potong kecil.


Kira-kira, Ratna sudah sampai mana ya? Ratna dirumahnya pasti sangat kesepian. Aku jadi tak sabar ingin melihat Ratna menikah. (Batin Melinda)


Setelah buah kesemek miliknya habis, Melinda memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.


“Biar saya saja, Nona Muda. Nona Muda silakan masuk ke dalam!” Pelayan itu tidak ingin membuat Nona Mudanya membawa nampan tersebut ke dapur.


“Terima kasih, Mbak,” balas Melinda dengan sangat ramah.


Melinda melangkah dengan sangat hati-hati, meskipun ia sudah dinyatakan sembuh. Akan tetapi, Melinda harus berhati-hati. Ia tidak ingin membuat Kakek Almer mengkhawatirkan dirinya.


“Mau saya antar, Nona Muda?” tanya salah satu pelayan menghampiri Melinda yang sedang berjalan menuju lift.


“Tidak usah, Mbak. Insya Allah saya bisa sendiri. Mbak lanjutkan pekerjaan Mbak ya, tenang saja. Saya tidak apa-apa,” ujar Melinda dengan ucapan selembut mungkin karena tidak ingin menyinggung perasaan orang-orang disekitarnya.


Langkah demi langkah Melinda lewati dan akhirnya Melinda tiba juga di dalam kamarnya bersama Sang suami. Saat itu, Melinda tidak merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Akan tetapi, ia memilih untuk membuka foto album dimana ia dan Sang suami melaksanakan pernikahan mereka.


“Dimana ya album foto itu, aku ingin melihatnya,” ujar Melinda dengan terus mencari album foto pernikahan.


Cukup lama Melinda mencari dan pencariannya membuahkan hasil. Ia tersenyum lebar dan mulai membuka album foto tersebut dengan sangat hati-hati.


Air mata Melinda tiba-tiba menetes ketika tahu bahwa tidak ada satu keluarga pun yang datang untuk menyaksikan pernikahannya, termasuk Ayah kandungnya.


Sementara keluarga dari suaminya, begitu banyak yang hadir di pernikahannya dan Sang suami tercinta.


“Tidak, sepertinya aku belum siap untuk melihat kembali foto-foto ini. Sebaiknya, aku tunda dulu saja. Lebih baik bila aku melihatnya bersama dengan Mas Raka,” ujar Melinda bermonolog.


Melinda akhirnya memasukkan kembali foto album tersebut ke dalam nakas dan memutuskan untuk mendengarkan ceramah di ponselnya.


Hati Melinda terasa sangat teduh ketika mendengar ceramah. Melinda berharap kedepannya ia menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus seorang istri yang patuh kepada suaminya.


Melinda sangat ingin menjadi seorang istri yang shalihah dimata agama dan dimata Sang suami tercinta, Raka Arafat.


Beberapa jam kemudian.


Melinda baru saja melaksanakan sholat Dzuhur di kamarnya dan disaat yang bersamaan, ia mendapatkan pesan dari Sang Kakek bahwa sebentar lagi beliau akan tiba di rumah. Melinda diminta untuk bersiap-siap karena mereka akan melakukan perjalanan menuju yayasan yatim piatu yang jaraknya cukup jauh.

__ADS_1


Melinda tersenyum dan bergegas memilih pakaian muslim. Tak lupa, Melinda mengenakan hijab dengan warna senada.


“Sepertinya ini cocok untukku,” ujar Melinda.


Almer akhirnya tiba dan Melinda datang menyambut kedatangan Sang Kakek.


“Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumsalam, Kakek,” jawab Melinda.


“Masya Allah, cucu menantu ku kalau pakai hijab begini terlihat sangat cantik,” puji Almer.


Melinda tersipu malu mendengar Almer memuji dirinya.


“Kakek ke kamar dulu ya, setelah itu kita makan siang dan pergi ke panti asuhan yang sebelumnya sudah Kakek janjikan kepada cucu menantu,” tutur Almer.


“Baik, Kek. Santai saja ya Kek, tidak perlu terburu-buru,” balas Melinda.


Sembari menunggu Kakek Almer mengganti pakaiannya, Melinda memilih untuk bersantai-santai di ruang keluarga.


Di dalam kamar, Almer tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Sepertinya, ia kelelahan dan harus beristirahat. Mau tak mau akhirnya Almer memutuskan untuk menunda rencananya yang ingin mengunjungi anak-anak yatim-piatu.


“Siapa diluar, tolong kemari!” panggil Almer yang terus memegang dadanya.


Salah satu pelayan bergegas masuk ke dalam ketika mendengar suara Tuan Besarnya.


“Tolong hubungi dokter yang biasa datang memeriksa kondisiku sekarang juga!” perintah Almer.


Pelayan itu tak langsung pergi, ia lebih dulu membantu Tuan Besarnya naik ke tempat tidur. Setelah itu, ia berlari keluar kamar untuk menghubungi dokter yang biasanya menangani Tuan Besarnya itu.


Tak butuh waktu lama, Melinda akhirnya tahu bahwa Kakek Almer sedang tidak baik-baik saja.


Melinda dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Almer yang berada di dalam kamar.


“Awww...” Melinda menghentikan langkahnya ketika merasakan pergelangan kakinya yang cukup sakit.


Melinda ingat bahwa ia baru sembuh dan tidak boleh berlari kecil seperti yang ia lakukan saat itu.


Melinda akhirnya berjalan dengan sangat hati-hati dan iapun tiba di kamar Sang Kakek.


“Kakek kenapa? Kakek sakit?” tanya Melinda.


“Cucu menantu tidak perlu mengkhawatirkan Kakek. Sepertinya rencana kita, kita tunda dulu ya. Kakek ingin beristirahat untuk beberapa hari ke depan, maafkan Kakek ya,” ucap Almer pada Melinda.


“Kakek tidak perlu minta maaf, lagipula Kakek harus beristirahat yang cukup. Melinda tidak ingin Kakek sakit,” pungkas Melinda sembari menahan tangis.


Melinda tidak ingin menangis di depan Almer, karena jika ia menangis, Sang Kakek pasti akan sedih dan menyalahkan dirinya sendiri.


Sekitar 45 menit kemudian, dokter yang biasanya menangani Almer akhirnya tiba.


“Tuan Besar merasakan sesak lagi? Sebaiknya Tuan Besar melakukan perawatan khusus di rumah sakit,” ujar Sang Dokter.


Dokter pria itu meminta Melinda untuk keluar dari kamar dan memberi kesempatan untuknya memeriksa kondisi kesehatan Sang Kakek.


Melinda mengiyakan dan bergegas keluar dari kamar.


Ya Allah, semoga Kakek baik-baik saja. (Batin Melinda)


Melinda tetap menunggu kabar dari Dokter mengenai kondisi kesehatan Sang Kakek, terlihat jelas bahwa Melinda sedih mengetahui Sang Kakek yang tiba-tiba sakit.


Beberapa pelayan datang menghampiri Melinda yang nampak sangat sedih. Saat itu juga Melinda menangis dan memeluk salah satu pelayan yang berdiri didekatnya.


“Mbak, minta do'anya untuk Kakek. Saya tidak ingin Kakek kenapa-kenapa,” ujar Melinda dengan terus menangis.


Mereka serempak mengiyakan dan tentu saja akan mendo'akan kesehatan Tuan Besar mereka agar tidak kenapa-kenapa.

__ADS_1


__ADS_2