Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 139


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Raka mengucap syukur setelah mendengar keterangan dari dokter bahwa kondisi Kakek tercinta telah stabil. Bahkan, Kakeknya itu diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Melinda pun ikut senang dan menangis terharu. Akhirnya, mereka bisa melewati kesedihan beberapa hari yang lalu, malam yang begitu menegangkan akhirnya terlewati dengan sangat baik. Semua itu atas izin dari Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.


“Bagaimana, apakah Kakek tak sabar ingin segera pulang ke rumah?” tanya Raka.


“Tentu saja, Kakek sudah tak sabar. Rumah pasti akan sangat ramai bila ada penghuni baru,” ujar Kakek Almer yang dimaksudkan adalah keturunan dari Raka dan juga Melinda.


“Kakek berjanjilah kepada Raka bahwa Kakek tidak akan lagi menyembunyikan rasa sakit ditubuh Kakek. Jika Kakek merasa sakit, tolong jangan ditahan. Kami tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi dan untuk selanjutnya, akan ada seorang perawat yang setiap hari datang ke rumah hanya untuk memeriksa kondisi kesehatan Kakek. Apakah Kakek mengerti dan berjanji kepada Raka?” tanya Raka.


Almer tersenyum hangat, sepertinya Cucu nakalnya telah menjadi dewasa seutuhnya. Perlahan Almer mengangguk dan berjanji akan memberitahu cucu kandungnya bahkan orang rumah jika kedepannya ia merasakan kondisi tubuhnya kurang sehat.


“Baiklah, karena Kakek sudah berjanji. Mari kita pulang, sudah waktunya kita pulang ke rumah!”


Raka dan Almer dengan kompak menggandeng tangan keriput Kakek Almer. Sementara Reza mendapat bagian menarik dua koper yang ukurannya tentu saja cukup besar.


Di saat yang bersamaan.


Mendengar bahwa Tuan Besar mereka telah sembuh dan sedang dalam perjalanan pulang, mereka kompak membersihkan rumah sekali lagi. Bukannya apa-apa, mereka tidak ingin bila ada debu yang tak sengaja dihirup oleh Tuan Besar mereka dan membuat Tuan Besar mereka sesak napas.


”Ayo semua, kita bersihkan ulang rumah ini,” ujar kepala pelayan dengan penuh semangat.


Beberapa jam kemudian.


Kakek Almer telah berisitirahat di kamarnya dan Raka perlahan melenggang pergi keluar dari kamar Sang Kakek agar kakeknya itu bisa lebih lama untuk berisitirahat. Sementara Melinda, sedang berada di ruang keluarga berbincang-bincang dengan saudara jauh dari suaminya.


Melinda cukup risih dengan wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengannya. Hal yang membuat Melinda risih ada ketika wanita paruh baya itu memberikan petuah berisi tentang bagaimana seorang istri hemat. Bukan apa-apa, Melinda dari awal menikah bahkan sampai detik itu, tidak pernah menghamburkan uang yang diberikan rezeki suaminya. Justru, Sang suami lah yang sering protes karena Melinda tidak pernah mengeluarkan uang untuk berbelanja seperti pakaian, sepatu atau jam tangan branded seperti orang kaya kebanyakan.


“Kamu ya pokoknya harus hemat, tidak boleh sembarangan menghabiskan uang. Meskipun dulu kamu miskin dan suamimu kaya, pokoknya kamu harus hemat. Jangan menghabiskan uang milik suamimu itu,” tegasnya.


Wanita yang biasa dipanggil Ibu Tunik itu, sebenarnya tak menyukai sosok Melinda yang menurutnya bermuka dua. Justru Ibu Tunik menyukai sosok Indri yang menurutnya adalah sosok wanita yang baik.


”Oya, ngomong-ngomong dimana Indri? Ibu ingin melihat Indri, coba kamu pergi dan panggilkan Indri!” perintah Ibu Tunik sembari menggerakkan tangannya isyarat agar Melinda segera pergi memanggil Indri.


Melinda tersenyum seramah mungkin, Melinda tidak ingin perkataannya membuat Ibu Tunik sakit hati. Maka dari itu, Melinda mencoba menjelaskan baik-baik mengenai Indri yang sudah lama tidak tinggal di rumah itu.


“Maaf, Ibu Tunik. Sebenarnya Mbak Indri sudah tidak tinggal disini lagi,” ujar Melinda dengan sangat hati-hati.


“Apa? Kok bisa dia sudah tidak tinggal disini lagi? Pasti gara-gara kamu ya, kamu itu ya sebagai keluarga baru disini harusnya menghargai keluarga yang lama. Jangan semena-mena dong terhadap Indri, lagipula Indri itu adalah wanita yang baik dan juga istri yang baik. Yang paling penting yang harus kamu ketahui, Indri itu suka sekali memberikan saya uang. Pokoknya dia itu tidak pelit, dia juga suka mengajak saya jalan-jalan ke mal,” terang Ibu Tunik dan memberikan tatapan penuh kebencian terhadap Melinda.


“Maaf sebelumnya, bukankah tadi Ibu Tunik bilang kepada saya bahwa sebagai istri haruslah hemat. Lalu, kenapa Mbak Indri malah berbanding terbalik dengan saya? Apakah Mbak Indri tidak boleh hemat?” tanya Melinda terheran-heran dengan sikap Ibu Tunik yang seperti mendiskriminasi dirinya.


“Ya jelas beda dong, kalau Indri itu tidak biasa hemat. Sebab, dia itu sosok yang tidak pelit. Kamu ini ya kalau dibilangin ngeyel, benar-benar tidak tahu sopan santun,” ucap Ibu Tunik.


“Siapa yang anda maksud tidak tahu sopan santun? Apakah istri saya? Ataukah anda?” tanya Raka yang ternyata mendengar semua perkataan menyakitkan dari Ibu Tunik terhadap istrinya.


Ibu Tunik kebingungan seperti orang yang tengah kebakaran jenggot.


“Raka, kamu dengarkan dulu penjelasan Ibu Tunik. Apa yang kamu dengar tidak seperti itu, Ibu Tunik hanya memberikan sedikit ilmu untuk hemat,” terangnya.


“Demi Allah, saya tidak akan pernah bisa membiarkan istri saya dijelekkan oleh siapapun terutama anda. Dan satu lagi saya tegaskan, jangan pernah menyamakan atau membandingkan istri saya dengan wanita hina seperti Indri. Lebih baik Anda keluar dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi, kita memang saudara meskipun saudara angkat. Akan tetapi, tidak sepatutnya dan tidak semestinya bagi anda dengan bebas semena-mena menjelek-jelekkan istri saya Melinda Anandi,” tegas Raka sampai otot lehernya terlihat jelas.


Saat itu juga Ibu Tunik merasa bersalah sekaligus takut melihat Raka yang marah. Ibu Tunik pun pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun dan tidak berani lagi menginjakkan kakinya di rumah mewah keluarga Arafat.


Melinda tak bisa berkata-kata melihat suaminya yang marah membela dirinya. Melinda merasa bahwa sekarang dia adalah prioritas utama bagi suami tercintanya itu.


“Sayang, maaf karena melihatku marah. Siapapun pasti akan marah dan tidak terima mengetahui sekaligus mendengar bahwa istrinya dijelekkan oleh orang lain, terlebih lagi orang itu tidak tahu-menahu mengenai istrinya,” tandas Raka sembari memeluk erat tubuh istrinya berharap Sang istri tidak termakan dengan ucapan Ibu Tunik.


Para pelayan tidak tahu jelas kronologi dari marahnya Tuan Muda mereka. Akan tetapi, mereka cukup tahu bahwa kemarahan Tuan Muda mereka karena ulah Ibu Tunik yang menjelek-jelekkan Nona Muda mereka yang sangat baik hati tersebut.


Melinda menangis di pelukan suaminya, melihat suaminya yang membela dirinya membuat Melinda semakin mencintai sosok Sang suami tercinta.


Raka mempererat pelukannya dan membiarkan istri tercintanya menangis agar semua kekesalan di hati Sang istri segera menghilang.

__ADS_1


Melinda tidak ingin bila para penghuni rumah yang lain melihat dirinya menangis, seketika itu juga Melinda meminta suaminya untuk pergi bersamanya ke kamar. Raka mengiyakan dan menggendong tubuh Melinda ala bridal style untuk segera pergi ke kamar.


Dari kejauhan, para pelayan bertepuk tangan. Akan tetapi, tidak sampai berbunyi karena mereka tidak ingin jika Tuan Muda mereka tahu bahwa sedari tadi para pelayan memperhatikan pasangan suami istri tersebut.


Setibanya di dalam kamar, Raka perlahan meletakkan Sang istri ke atas tempat tidur dan mencium kening istrinya dengan cukup mesra.


Saat Raka ingin beranjak, Melinda cepat-cepat mengalungkan tangannya ke leher Sang suami.


“Sayang, mau kemana?” tanya Melinda yang masih ingin menempel pada suaminya, Melinda masih tersentuh dengan perkataan tegas dari Sang suami kepada Ibu Tunik.


“Istriku sayang, suamimu ini ingin mengganti pakaian sebentar saja,” jawab Raka.


“Mas Raka mau pakai baju yang mana? Biar saya yang cari,” tutur Melinda.


“Tidak perlu sayang, biar aku saja. Kamu tetaplah di atas tempat tidur!” pinta Raka.


Melinda dengan patuh tetap berada di tempat tidur dan memperhatikan suaminya yang sedang berganti pakaian. Tiba-tiba muncul bayangan mengenai malam pertamanya dengan Sang suami.


“Ya Allah, astaghfirullah,” ucap Melinda dan mengusap wajahnya berulang kali untuk menyadarkan pikiran anehnya itu.


“Sayang, ada apa?” tanya Raka dan buru-buru mendekati istrinya.


Mata Melinda kini fokus ke arah perut sixpack suaminya. Tubuh suaminya benar-benar menggoda.


“Hayo, istriku sedang melihat apa? Pasti membayangkan yang tidak-tidak?” tanya Raka dengan tatapan genitnya.


Melinda tersadar dan refleks menendang perut suaminya.


Jantung Melinda tiba-tiba berdegup tak karuan, saat Melinda menendang perut suaminya secara refleks. Melinda bisa merasakan betapa kencangnya perut sixpack suaminya itu.


“Boleh aku pegang, sayang?” tanya Melinda yang pertanyaan itu secara tiba-tiba keluar dari mulutnya.


Raka menyeringai lebar dan memegang tangan Sang istri. Kemudian, mengarahkan tangan istrinya itu ke perut sixpack miliknya.


”Wow!” Satu kata yang keluar dari mulut Melinda ketika menyentuh perut sixpack suaminya.


Melinda menarik leher suaminya dan menciumi bibir suaminya dengan penuh liar.


Sekitar hampir 10 menit mereka saling berciuman, Raka melepaskan ciumannya karena Raka terlihat sudah tak sabar ingin melakukan hubungan yang lebih intim dengan Sang istri.


“Sayang, bagaimana dengan malam ini?” tanya Raka berbisik di telinga Sang istri.


Melinda menoleh sekilas ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul 14.15 WIB.


Dengan malu-malu Melinda mengiyakan ajakan suaminya.


Raka tersenyum lebar melihat respon Sang istri dengan malu-malu.


“Baiklah, malam ini akan menjadi malam berharga untuk kita,” ujar Raka yang sangat bersemangat memberikan malam terbaik bagi mereka berdua.


Melinda sekali lagi mengangguk dengan malu-malu dan meminta suaminya untuk segera mengenakan pakaian.


Raka beranjak dari tubuh Melinda dan melanjutkan mengenakan pakaiannya yang tertunda.


Disaat yang bersamaan, suara ketukan pintu terdengar. Entah kenapa, pintu selalu diketuk pada saat yang tidak tepat.


Raka yang telah selesai mengenakan pakaiannya, bergegas untuk membuka pintu kamar.


“Ya, ada apa?” tanya Raka datar.


“Tuan Besar telah bangun dan meminta Nona Muda serta Tuan Muda menemui Tuan Besar di ruang keluarga,” terang pelayan.


”Terima kasih, Bibi. Saya dan Melinda akan segera ke bawah,” balas Raka dan menutup kembali pintu kamar.


Raka berjalan menghampiri istrinya yang masih berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


“Ada apa sayang?” tanya Melinda yang tidak mendengar apa yang pelayan sampaikan kepada Sang suami.


“Kakek sedang menunggu kita di ruang keluarga, ayo kita turun menemui Kakek!” ajak Raka.


Melinda bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas meninggalkan kamar bersama dengan Sang suami tercinta.


Ketika setibanya di ruang keluarga, Almer meminta keduanya duduk disebelah kiri serta kanan Kakek tua tersebut.


“Kakek ingin berbicara sesuatu yang penting dengan kita atau sesuatu yang aneh-aneh?” tanya Raka yang dimaksud adalah pembahasan aneh itu mengenai kematian yang tentu saja sangat tidak ingin didengar oleh Raka maupun Melinda.


“Tentu saja tidak, untuk apa Kakek membahas yang aneh-aneh dengan kalian? Kakek hanya ingin bilang, terima kasih karena telah menemani Kakek di rumah sakit,” pungkas Almer kepada sepasang suami istri yang duduk diantara kanan serta kirinya.


Raka dan Melinda seketika itu bernapas lega. Mereka hampir berpikir yang tidak-tidak.


“Bagaimana, apakah kalian sudah berpikir mau bulan madu kemana?” tanya Almer penasaran.


Raka menoleh ke arah istrinya begitu juga Melinda yang langsung menoleh ke arah suaminya. Melinda memberi isyarat mata agar suaminya lah yang menjelaskan tentang keinginan mereka berbulan madu di rumah saja dan tidur kemana-mana.


“Begini, Kek. Kami memutuskan untuk berbulan madu di rumah saja. Bukan apa-apa, kami ingin menghabiskan waktu bersama di rumah, karena kami ingin mengukir kenangan indah di rumah ini. Soal urusan bulan madu, bulan madu bisa dilakukan kapan saja selagi kami masih muda. Benar tidak, Kek?” tanya Raka.


Almer mengiyakan, jika itu sudah keputusan mereka, Almer tidak bisa ikut campur. Toh, mereka berdua yang menjalani biduk rumah tangga.


Almer kini mengganti topik pembicaraan mereka dengan membahas masalah perusahaan. Almer justru sering membahas mengenai Melinda yang berhasil membujuk para investor untuk bekerja sama dengan perusahaan Arafat.


Raka pun tahu mengenai betapa pintar serta cerdiknya Sang istri tercinta. Raka merasa sangat beruntung mendapatkan istri yang cantik, pintar, cerdik, baik, sekaligus cerdas seperti Sang istri tercinta.


Usai berbincang-bincang, Almer meminta keduanya untuk menemani melihat-lihat cantiknya bunga di taman halaman depan rumah.


Dengan senang hati, Raka serta Melinda menemani Sang Kakek tersayang melihat-lihat betapa cantiknya bunga-bunga di taman.


Malam hari.


Setelah menikmati makan malam bersama yang penuh hangat, Raka memutuskannya untuk mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.


Melinda menelan salivanya dengan susah payah karena malam itu akan menjadi malam bersejarah untuknya dan Sang suami. Melinda merasakan kegugupan yang luar biasa, akan tetapi sebagai seorang istri dirinya harus melayani Sang suami dengan baik. Karena dibalik itu semua, ada surga yang menanti dirinya.


“Sayang, apakah sudah siap?” tanya Raka dengan tatapan penuh gairah.


Melinda lagi-lagi menelan salivanya. Ia harus siap dengan ajakan dari suaminya.


“Insya Allah, aku siap,” jawab Melinda dengan bibir yang cukup gemetaran.


“Ayo, kita sholat dua raka'at terlebih dahulu sebelum melaksanakan malam pertama kita!” ajak Raka.


Merekapun mengambil air wudhu dan bergegas untuk melaksanakan sholat dua raka'at.


Tak butuh waktu lama, mereka berdua sudah berada di tempat tidur. Sebentar lagi, surga dunia akan mereka rasakan.


Melinda berulang kali mengatur napasnya yang tengah kenapa, cukup membuat sesak tak terkontrol.


“Tenang sayangku, kamu harus rileks. Aku sama sekali tidak ingin memaksa, jika kamu belum siap maka bicaralah,” ujar Raka kepada Sang istri tercinta.


Melinda kembali mengatur napas dan memutuskan untuk mencium bibir suaminya lebih dulu. Tentu saja mereka harus pemanasan sebelum ke inti dari malam yang panjang tersebut.


Sekitar 2 menit, Melinda menghentikan aksinya dan sekali lagi Raka bertanya apakah istrinya siap ataukah belum siap.


Dengan mengucap bismillah, Melinda mengatakan bahwa dirinya siap.


Saat itu juga, mereka akhirnya menjadi suami istri seutuhnya. Malam itu benar-benar malam yang begitu bahagia untuk keduanya, malam yang penuh cinta dan kasih sayang.


Suara cinta mereka berdua di ruangan itu saling bersahutan satu sama lain. kebetulan, malam itu adalah malam Jum'at. Malam yang lebih baik dari malam-malam yang lain.


Beberapa saat kemudian.


Raka mencium pipi istrinya dengan sangat mesra dan tak lupa mengucap terima kasih karena telah mempercayakan dirinya sebagai lelaki pertama serta terakhir untuk Sang istri tercinta.

__ADS_1


“Terima kasih, istriku sayang,” ucap Raka yang tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada seorang Melinda Anandi.


__ADS_2