
Almer terbangun dari tidurnya dan melihat ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Saat itu juga, Almer teringat bahwa dirinya menunggu kabar dari Raka dan juga Melinda.
Tanpa pikir panjang, Kakek tua itu turun dari tempat tidur untuk menemui sepasang suami istri tersebut.
Baru saja Almer keluar dari kamarnya, salah satu pelayan cepat-cepat menghampiri Kakek tuan itu.
“Tuan Besar mau kemana?” tanya pelayan wanita kepada Almer.
“Menemui cucuku dan cucu menantuku,” jawab Almer.
“Tuan Besar, ini baru jam 3. Sebaiknya nanti saja Tuan Besar menemui Tuan Muda dan juga Nona Muda,” ucapnya.
Almer menghela napasnya dan akhirnya masuk kembali ke dalam kamarnya.
“Kenapa tidak ada yang membangunkan ku?” tanya Almer yang sedikit kesal karena dirinya tidak dibangunkan.
“Tuan Muda meminta kami untuk tidak membangunkan Tuan Besar,” jawab pelayan.
Almer menghela napas panjang, ia tahu maksud dari Cucunya itu.
“Ya sudah, aku akan kembali tidur,” ucap Almer dan kembali memejamkan matanya.
Beberapa jam kemudian.
Raka dan Melinda tertawa kecil sembari keluar dari kamar tidur mereka. Sepertinya mereka sedang membahas hal yang lucu sampai-sampai keduanya tidak sabar bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari depan pintu lift.
“Ya Allah, Kakek!” Raka terkejut ketika melihat mata melotot Kakeknya itu.
“Ada apa? Kakek berdiri dari tadi disini menunggu kalian berdua. Ayo masuk!” ajak Almer agar segera masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Almer hanya diam membisu. Sepertinya ada banyak hal yang ia inginkan tanyakan, tetapi Almer ditahannya.
Pintu lift terbuka, Almer pun mengajak keduanya untuk sarapan bersama di ruang makan.
“Kakek marah ya sama kami?” tanya Melinda.
“Tidak marah, Cucu menantu. Lagipula, tidak ada alasan bagi Kakek marah kepada cucu menantu,” balas Almer dengan sangat ramah.
“Kalau begitu, Kakek marah ya dengan Raka?” tanya Raka dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Ya. Kakek tentu saja marah dengan kamu,” celetuk Almer.
Mereka bertiga pun tiba di ruang makan.
__ADS_1
“Hidangkan sekarang!” perintah Almer.
Ketika semangkuk capcay diletakkan di meja, Melinda tiba-tiba mengalami mual-mual. Dengan cepat Melinda beranjak dari duduknya dan berlari kecil menjauhi meja makan.
“Ada apa, sayang?” tanya Raka pada istrinya.
Melinda menutup hidung rapat-rapat sembari menunjuk ke arah semangkuk capcay di atas meja makan.
“Singkirkan capcay itu sekarang!” perintah Raka.
Pelayan dengan cepat menyingkirkan capcay tersebut dari atas meja tersebut.
“Sudah tidak apa-apa, sayang? Apakah masih merasa mual?” tanya Raka.
Melinda perlahan menggelengkan kepalanya dan kembali duduk di kursi.
Beberapa saat kemudian.
Usai menikmati sarapan bersama, Kakek Almer mengajak sepasang suami istri untuk berbincang-bincang. Sekaligus, menanyakan mengenai kehamilan Cucu menantu kesayangannya itu.
“Bagaimana keadaan cucu menantu? Apakah masih merasa mual?” tanya Almer.
“Alhamdulillah, rasa mual-mual nya sudah hilang, Kakek,” jawab Melinda.
“Kakek, apakah Kakek ingin tahu kabar bahagia berkali-kali lipat?” tanya Raka dan tersenyum kecil pada Kakeknya.
“Ayo katakan! Jangan membuat Kakek semakin penasaran,” balas Kakek Almer mendesak agar Raka segera memberitahukan kabar bahagia berkali-kali lipat tersebut.
“Begini, sebenarnya...” Raka sengaja memperlambat ucapannya agar Kakek Almer semakin penasaran.
“Iya, sebentar kenapa? Ayo cepat ceritakan!” pinta Almer.
“Melinda mengandung bayi kembar, Kakek,” ungkap Raka.
“Benarkah? Alhamdulillah. Itu artinya akan ada dua cicit yang menggemaskan yang akan tinggal di rumah ini. Selamat untuk kalian berdua,” balas Almer memberi selamat kepada keduanya.
Melinda menangis terharu ketika melihat wajah bahagia dari Kakek Almer. Kabar bahagia itu juga membuat para pelayan dan Bodyguard nampak sangat bahagia karena akan ada dua nyawa yang segera terlahir ke dunia.
“Raka, kedepannya kamu harus lebih baik lagi terhadap cucu menantu Kakek. Tidak mudah mengandung dua bayi sekaligus,” ucap Almer dengan suara cukup lantang.
“Kakek tenang saja, Raka akan terus berusaha menjadi suami serta Ayah yang bagi untuk bayi kembar kami,” balas Raka.
Melinda menoleh sekilas ke arah langit-langit rumah. Ia berharap Ayah serta Ibunya yang di surga ikut bahagia atas kehamilan bayi kembarnya.
__ADS_1
“Cucu menantu ingin makan sesuatu?” tanya Almer pada Melinda.
Melinda menoleh ke arah Kakek tua itu dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Kakek. Melinda tidak ingin apa-apa,” jawab Melinda.
“Bagaimana kalau uang? Kakek akan memberikan cucu menantu uang sebesar 100 juta,” ucap Almer yang ingin memberikan uang senilai 100 juta kepada Cucu menantunya.
“Kakek, tolong jangan berikan Melinda yang sebanyak itu. Lagipula, uang yang Mas Raka berikan kepada Melinda sudah lebih dari cukup. Bagaimana kalau uang disalurkan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan?” tanya Melinda.
Almer tertegun sejenak, Melinda benar-benar tak tergiur dengan yang sebanyak itu. Malah, Melinda menyarankan dirinya untuk menyalurkan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan.
Almer menoleh ke arah cucu kandungnya dan Raka memberikan isyarat dengan anggukan kepala.
Tanpa pikir panjang, Kakek tua itu mengiyakan dan meminta asisten pribadi Raka untuk memberikan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan.
“Cucu menantu, terima kasih banyak telah mengajarkan banyak hal di keluarga ini,” tutur Kakek Almer dengan menatap kagum sosok Melinda Anandi.
Melinda tersenyum manis dan Raka ikut mengucapkan terima kasih kepada istrinya.
Wajah Melinda seketika itu merah merona karena Kakek dan cucu itu kompak mengucapkan terima kasih kepada dirinya.
“Sayang, kelak kalian harus memiliki sifat baik seperti Ibu kalian ini,” ucap Raka berbicara dengan bayi kembar yang sedang di kandung oleh Melinda.
“Mas Raka, boleh temani aku melihat bunga-bunga cantik di taman?” tanya Melinda yang tiba-tiba ingin melihat cantiknya bunga-bunga di taman depan rumah.
“Pergilah, cicit-cicit Kakek pasti ingin jalan-jalan di taman,” ujar Almer.
Raka beranjak dari duduknya begitu juga dengan Melinda. Keduanya berjalan dengan saling melempar senyum satu sama lain.
“Sayang, pada akhirnya kita bahagia. Dulu, aku berpikir bahwa Allah itu tidak adil. Akan tetapi, aku akhirnya tahu bahwa setiap ujian yang datang pasti ada penyelesaiannya,” ucap Melinda dengan terus merangkul lengan suaminya menuju taman.
“Kamu adalah wanita terindah yang aku temui. Tetaplah bersamaku hingga akhir, istriku sayang,” pinta Raka dan mengecup lembut kening Melinda.
“Selamanya hatiku untukmu, sayangku,” balas Melinda menatap suaminya dengan penuh cinta.
Melinda maupun Raka sangat yakin, bahwa tidak ada yang akan bisa memisahkan mereka berdua. Kecuali, mau sekalipun. Selamanya mereka akan bersama hingga ke Jannah-Nya.
Merekapun duduk di kursi kayu dengan saling berpelukan satu sama lain.
❤️
Terima kasih telah membaca sampai akhir. 🤧 Baca juga novel author yang lain. ❤️😗
__ADS_1