
Almer mengernyitkan keningnya merasa ada yang aneh. Akan tetapi, Almer secepat mungkin mengabaikan pikirannya dan bergegas mengambil beberapa berkas diatas meja Cucu kandungnya.
“Wah, ternyata cucu menantu memasak makan cukup banyak. Lihatlah, Raka! Istrimu ini begitu perhatian, begitu Kakek aja kemari istrimu langsung semangat,” terang Almer dan setelah itu melenggang pergi meninggalkan keduanya.
Melinda terlihat gugup jika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, begitu juga dengan Raka yang merasa hampir gila ketika mengingat bahwa dirinya hampir saja mencium bibir Melinda.
Ah, apakah aku sudah gila? Kenapa aku tiba-tiba berpikir untuk mencium bibirnya? Kalau begini, aku merasa sangat malu dengan wanita ini. (Batin Raka)
“Mas Raka, silakan dinikmati,” ucap Melinda seakan-akan tak terjadi apa-apa.
“Terima kasih. Apakah kamu sudah makan siang?” tanya Raka yang memilih untuk melupakan kejadian beberapa menit yang lalu.
“Belum, Mas Raka. Saya akan makan nanti,” jawab Melinda.
“Makan siang ini terlalu banyak, makanlah bersamaku,” tutur Raka yang tidak ingin bila Melinda sampai telat makan gara-gara dirinya.
Melinda menyetujuinya dan mereka pun makan siang bersama di ruang kerja tersebut.
Usai menikmati makan siang, Melinda pamit untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, Raka meminta Melinda untuk tetap berada di ruang kerjanya karena kurang dari 1 jam lagi, Raka juga akan kembali ke rumah.
Melinda dengan patuh mengiyakan apa yang dikatakan suaminya. Ia duduk manis dan sesekali curi pandang ke arah suaminya.
Ketika Raka tak melihat Melinda, saat itulah Melinda memandangi wajah suaminya. Begitu juga sebaliknya, ketika Melinda tak melihat Raka, saat itulah Raka memandangi wajah Melinda.
Ketika memandangi wajah Melinda, jantung Raka berdebar-debar tak karuan. Berulang kali Raka menyangkal perasaan itu, hingga akhirnya Raka sadar bahwa sebenarnya ia telah jatuh cinta dengan sosok wanita bernama Melinda Anandi.
Meskipun begitu, Raka tidak bisa mengatakan perasaannya itu kepada Melinda. Entah kenapa, Raka masih belum mempercayai apa yang namanya cinta setelah apa yang terjadi padanya.
“Mas Raka, apakah saya boleh ke kamar kecil?” tanya Melinda yang harus secepat mungkin membuang air kecil.
“Tentu saja ada, itu toiletnya,” sahut Raka sembari menunjuk ke arah toilet yang hanya digunakan oleh Raka seorang.
Melinda pun berlari kecil masuk ke dalam toilet itu karena menahan buang air kecil cukup lama.
Raka tersenyum melihat tingkah istrinya yang berlari masuk ke dalam kamar mandi.
“Sudah?” tanya Raka pada Melinda yang baru saja keluar dari toilet.
“Alhamdulillah, sudah Mas Raka,” jawab Melinda dengan lega.
“Ayo kita pulang sekarang!” Raka tak bisa berlama-lama tinggal di ruang kerjanya ketika melihat Melinda yang nampak tak nyaman berada di ruang kerjanya itu.
“Pulang sekarang, Mas? Apakah tidak apa-apa?” tanya Melinda memastikan.
“Apa kamu takut aku dipecat?” tanya Raka penasaran.
“Benarkah? Kalau begitu kita disini saja dulu Mas Raka. Saya tidak ingin Mas Raka dipecat,” ucap Melinda yang mempercayai perkataan suaminya.
Raka tertawa geli mendengar ucapan Melinda yang ternyata percaya dengan apa yang ia katakan.
“Kamu tenang saja, aku tidak mungkin di pecat. Kedepannya, perusahaan ini akan menjadi milikku seutuhnya. Ayo bantu aku meninggalkan ruangan ini!”
“Baik, Mas Raka,” balas Melinda dan membawa kembali bekal makan siang yang sudah kosong dan membawa suaminya meninggalkan ruangan itu.
Asisten pribadi Raka ternyata masih ada diluar pintu dan terlihat sangat keren dengan setelan jas kerja yang sangat rapi.
“Reza, sebaiknya hari ini kamu tetap berada disini. Kakek pasti akan membutuhkan mu,” ucap Raka pada asisten pribadinya.
“Lalu, Tuan Muda mau kemana?”
“Aku akan pulang bersama dengan Melinda,” jawab Raka.
“Baiklah, Tuan Muda. Izinkan saya mengantarkan Tuan Muda sampai rumah dan setelah itu saya akan kembali ke perusahaan,” tutur Raka yang tak tenang jika bukan dirinyalah yang mengantarkan Tuan Mudanya pulang sampai rumah dengan selamat.
Raka mengizinkan keinginan asisten pribadinya untuk mengantarkannya bersama dengan Sang istri kembali ke rumah dengan selamat.
Sebelum pulang, Melinda meminta kepada suaminya untuk menemui Kakek terlebih dahulu. Karena Melinda berangkat bersama dengan Kakek dari suaminya dan ketika ingin pulang, Melinda haruslah berpamitan terlebih dahulu.
Raka mengiyakan dan merekapun pergi menemui Sang Kakek yang berada di ruang kerja.
__ADS_1
Almer ternyata sedang duduk santai sembari menikmati pisang.
“Kalian, masuklah,” ucap Almer ketika melihat cucu dan juga cucu menantunya datang memasuki ruang kerjanya.
Melinda tersenyum ketika melihat Kakek tua itu sedang menikmati pisang.
“Kakek kenapa hanya makan pisang saja? Kakek tidak makan nasi?” tanya Melinda penasaran karena diatas meja Kakek hanya ada pisang dan juga air minum.
“Cucu menantu tidak perlu khawatir seperti ini. Kakek tadi sudah makan nasi dan buah pisang sebagai makanan penutup,” ucap Almer sembari menyodorkan sebuah pisang kepada Melinda. “Makanlah, ini bagus untuk kesehatan kulit,” imbuh Almer.
Melinda pun mendaratkan bokongnya di sofa dan menghabiskan pisang tersebut dengan lahap.
“Kakek, pisang ini rasanya sangat manis,” ucap Melinda memuji pisang pemberian Kakek mertuanya itu.
“Oh, tentu saja. Ini pisang dari Thailand,” terang Almer.
Melinda tertawa mendengar bahwa pisang tersebut berasal dari Thailand.
“Makan pisang saja harus dari luar negeri ya Kek?” tanya Melinda dan kembali tertawa.
Almer mengiyakan dan ikut tertawa bersama dengan cucu menantunya.
Raka lagi-lagi menyadari bahwa Melinda ternyata adalah sosok wanita yang cukup humoris.
Karena Melinda, Kakek bisa kembali tertawa seperti ini. Entah sudah berapa tahun aku tidak melihat Kakek sebahagia ini. (Batin Raka)
Kehadiran Melinda ternyata membuat hidup Kakeknya yang sudah tua lebih berwarna. Dulu, sebelum Melinda datang ke dalam hidupnya, Kakeknya itu tidak pernah tertawa. Bahkan, untuk senyum pun Raka tidak pernah melihat di bibir Kakeknya. Akan tetapi, datangnya Melinda membawa warna baru baginya dan bagi Sang Kakek.
Terima kasih, Melinda. Terima kasih karena telah memberikan warna baru dalam hidupku dan juga hidup Kakek. (Batin Raka)
Melinda baru alasannya datang menemui Kakek tua itu. Melinda beranjak dari duduknya dan pamit pulang bersama dengan suaminya.
”Kakek, kami pulang dulu. Kakek tidak apa-apa sendirian disini?” tanya Melinda.
“Cucu menantu tidak perlu khawatir, di dunia ini tidak ada yang Kakek takutkan. Kalian pulanglah,” balas Almer pada cucu menantunya.
🌷
Melinda dan Raka akhirnya sampai di rumah dengan selamat. Melinda turun dari mobil begitu juga dengan Raka yang dibantu oleh asisten pribadinya.
“Terima kasih, kau boleh pergi sekarang,” ucap Raka pada asisten pribadinya untuk segera kembali ke perusahaan membantu Sang Kakek bila Kakeknya itu membutuhkan sesuatu.
“Baik, Tuan Muda. Saya undur diri,” ujar Reza dan melenggang pergi masuk ke dalam mobil.
Mobil pun perlahan keluar meninggalkan area rumah.
“Mas Raka, apakah masakan yang saya masak enak?” tanya Melinda yang ingin kembali mendengar suaminya memuji masakannya.
“Tentu saja enak, masakan istriku adalah masakan terbaik,” puji Raka.
Deg! Melinda tertegun ketika Raka menyebut dirinya sebagai “Istriku”
Apakah ini artinya Mas Raka sudah menerimaku menjadi istrinya? (Batin Melinda)
Melinda tersenyum lebar dan hatinya begitu bahagia mendengar apa yang suaminya katakan.
Raka tak meralat apa yang baru saja ia katakan. Bagaimanapun, Melinda tetaplah istri sahnya dimata agama maupun dimata hukum.
“Berhentilah tersenyum seperti itu, ayo masuk!” perintah Raka yang juga membalas senyuman Melinda.
Melinda tak langsung bergerak masuk ke dalam, ia terpesona dengan senyum tampan suaminya.
“Mas Raka kalau tersenyum seperti ini semakin tampan,” ucap Melinda memuji ketampanan suaminya.
“Apa kamu baru menyadari ketampanan ku?” tanya Raka.
Melinda tersenyum malu-malu dan membawa suaminya masuk ke dalam.
“Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku? Apakah sebelumnya aku jelek?” tanya Raka penasaran.
__ADS_1
“Mas Raka tidak jelek. Hanya saya Mas Raka galak,” jawab Melinda begitu saja.
Raka tertawa lepas ketika mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.
“Ternyata, kamu cukup berani mengkritik ku,” ujar Raka yang cukup geli mendengar bahwa dirinya adalah pria yang galak dimata istrinya.
“Mas Raka, mungkin itu bisa dikatakan sebagai fakta dan bukan kritikan,” pungkas Melinda. “Akan tetapi, menurut saya hari ini Mas Raka terlihat sangat lembut dan juga hangat. Bisakah Mas Raka seperti ini setiap hari?” tanya Melinda.
Melinda sangat berharap suaminya bisa menjadi pribadi yang lembut dan juga hangat. Jika suaminya mengiyakan, Melinda pasti akan sangat senang. Akan tetapi, semua itu adalah keputusan suaminya dan Melinda tidak bisa memaksa apa yang sudah menjadi sikap suaminya sejak dulu.
“Aku tidak janji. Akan tetapi, aku akan mencobanya,” jawab Raka.
“Meskipun Mas Raka tidak berjanji, akan tetapi saya percaya Mas Raka bisa seperti itu. Terima kasih, Mas Raka,” balas Melinda yang telah berada di dalam lift bersama dengan suaminya.
Tak butuh waktu lama lift terbuka dan Melinda pun mendorong kursi roda suaminya menuju kamar mereka.
“Mas Raka mau langsung ganti baju apa mau ke kamar mandi dulu?” tanya Melinda sembari melepaskan kalung berliontin berlian hadiah dari Almer ketika ijab qobul dan meletakkan kembali ke kotak perhiasan.
“Lebih baik ganti baju dulu,” jawab Raka.
“Baiklah!” seru Melinda sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah suaminya.
Raka mengulum bibirnya sendiri ketika melihat kedipan mata istrinya yang semakin membuat istrinya terlihat menggemaskan.
Melinda berlari kecil menuju almari pakaian suaminya dan memilih pakaian santai untuk suaminya.
“Bagaimana yang ini, apakah Mas Raka suka?” tanya Melinda ketika memperlihatkan pakaian santai berwarna biru tua dengan celana pendek selutut berwarna hitam.
“Boleh juga, tidak terlalu buruk,” sahut Raka ketika melihat setelan pakaian yang Melinda pilih.
Melinda bernapas lega, hari itu ia sangat bahagia. Ternyata firasat buruk yang ia rasakan tadi pagi adalah salah besar.
Melinda terlebih dulu melepaskan sepatu kerja yang suaminya kenakan. Kemudian, meletakkan di rak sepatu yang kebanyakan adalah sepatu milik suaminya tentu saja harganya diatas rata-rata.
Setelah itu, Melinda mendekati suaminya untuk membantu suaminya mengganti pakaian tersebut.
Wanita itu melakukan kewajibannya dengan sangat baik. Dari awal Melinda telah memutuskan untuk menjadi istri yang baik dan melayani suaminya dengan setulus hati. Melinda yakin, dengan cara seperti itu suaminya bisa menerima pernikahan mereka dan mencintainya sepenuh hati. Seperti Melinda yang jatuh cinta pada suaminya dan mencintai semua kelebihan maupun kekurangan suaminya yang tidak sempurna.
“Mas Raka, pagi tadi saya lari mengelilingi area halaman depan rumah,” ucap Melinda menceritakan bahwa dirinya pagi tadi olahraga sesuai dengan apa yang Melinda katakan pada suaminya.
“Kamu benar-benar melakukannya?” tanya Raka memastikan.
“Tentu saja,” jawab Melinda dengan sangat santai sembari membantu suaminya mengenakan pakaian santai.
“Jangan terlalu sering, bagaimanapun yang berlebihan tidak lah baik untuk kesehatan,” pungkas Melinda.
“Benarkah? Saya pikir harus melakukannya setiap hari. Kalau begitu, saya harus melakukannya seminggu berapa kali Mas Raka?”
“Seminggu 2 kali juga sudah cukup,” jawab Raka karena dulu ia melakukan olahraga lari pagi seminggu 2 kali.
Melinda dengan patuh mengiyakan perkataan suaminya. Melinda merasa bahwa suaminya kini mulai perhatian dengan dirinya.
“Sudah selesai,” ucap Melinda yang telah selesai membantu suaminya berganti pakaian.
“Terima kasih,” ujar Raka dan melempar senyum kepada istrinya.
Melinda merasa tersanjung dengan ucapan serta senyum Sang suami untuknya.
Melinda membalas senyum suaminya sebelum meletakkan pakaian kotor ke dalam ranjang pakaian kotor.
“Mas Raka mau minum sesuatu? Saya kebetulan ingin minum jus jeruk. Mas Raka mau jus jeruk?”
“Boleh, tolong es nya sedikit saja.”
“Baik, Mas Raka tunggu disini ya. Saya akan ke dapur membuatkan jus jeruk untuk kita,” pungkas Melinda.
Melinda berjalan dengan bersenandung kecil, wanita itu nampak sangat bahagia ketika keluar dari kamar.
Sepertinya hubunganku dan Mas Raka mulai berjalan dengan baik. Terima kasih Ya Allah. (Batin Melinda)
__ADS_1