
Hari demi hari terus berlalu dan tak terasa usia pernikahan sepasang pengantin itu telah berjalan 6 bulan. Selama kurun waktu tersebut, hubungan Raka dan Melinda semakin membaik. Akan tetapi, mereka belum mengungkapkan isi hati mereka masing-masing.
Almer masih mengharapkan agar cucu dan cucu menantunya bisa segera memberikan Almer seorang cicit. Almer merasa bahwa waktunya untuk hidup tidak akan lama lagi dan Almer akan tenang bila sebelum meninggalkan dunia, ia sudah melihat wajah lucu nan imut calon cicitnya itu.
“Ya Allah, sudah jam segini,” ucap Melinda ketika melihat jam menunjukkan pukul 3 pagi.
Melinda membangunkan suaminya untuk segera bangun dan sahur bersama.
“Mas Raka, ayo bangun. Sudah jam 3,” ucap Melinda membangunkan suaminya yang masih terlelap.
Raka pun terbangun dengan keadaan yang masih sangat mengantuk.
“Jam berapa ini?” tanya Raka dengan mata yang masih terpejam.
“Jam 3, Mas Raka. Ayo bangun, Kakek pasti telah menunggu kita,” ujar Melinda pada suaminya.
Raka membuka matanya dan saat itu juga Melinda membantu suaminya turun dari tempat tidur. Kemudian, membantu suaminya pindah ke kursi roda.
Ruang makan.
Almer duduk seorang diri di kursi meja makan sembari menunggu cucu dan cucu menantunya yang masih belum datang.
Karena tak ingin bila Raka dan Melinda melewatkan waktu sahur, Sang Kakek pun meminta salah satu pelayan untuk membangunkan pasangan suami istri tersebut. Akan tetapi, sebelum pelayan itu melenggang menuju kamar, Raka dan Melinda akhirnya tiba.
“Kalian kenapa lama sekali?” tanya Almer kepada sepasang suami istri yang baru saja tiba di ruang makan.
“Maaf, Kek. Raka tadi masih mengantuk, padahal Melinda sudah berulang kali membangunkan Raka,” ujar Raka pada Sang kakek.
“Kamu ini sudah menikah masih saja begini,” sahut Almer dan geleng-geleng kepala melihat Raka yang terlihat sangat mengantuk.
“Ya harap dimaklumi, Kakek,” jawab Raka santai.
Karena waktu yang terus berjalan, merekapun bergegas menikmati sahur. Para pelayan dan juga bodyguard yang berada di rumah itu, telah lebih dulu menikmati sahur mereka.
Usai sahur, Raka dan Melinda kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat subuh di dalam kamar.
Sementara Almer, melaksanakan sholat bersama para pelayan dan juga bodyguard di ruang sholat.
“Mas Raka, apakah nanti Mas Raka pergi ke perusahaan?” tanya Melinda penasaran.
__ADS_1
“Entahlah, memangnya kenapa?” tanya Raka pada istrinya.
“Tidak apa-apa, Mas Raka. Sebenarnya, hari ini saya ingin berkunjung ke rumah untuk menemui Ayah,” tutur Melinda.
“Memangnya, ada apa dengan Ayahmu?” tanya Raka penasaran.
“Kemarin, saya mendapatkan kabar dari Katty kalau Ayah sakit. Maka dari itu, saya ingin pulang dan menjenguk Ayah yang sedang sakit,” terang Melinda sembari mengenakan mukena.
“Nanti kita bahas lagi, sekarang lebih baik kita sholat,” ucap Raka mengajak istrinya untuk segera sholat berjama'ah.
Beberapa jam kemudian.
Raka memutuskan untuk tidak pergi ke perusahaan demi menemani istrinya pulang ke rumah. Melinda tentu saja sangat senang, karena merasa nyaman bila sang suami selalu berada disisinya.
Raka dan Melinda semakin mencintai satu sama lain. Akan tetapi, mereka masih enggan untuk memberitahukan perasaan mereka yang sebenarnya.
Aku semakin mencintai istriku, Melinda. Akan tetapi, aku masih belum berani untuk menyatakannya. (Batin Raka)
Melinda menatap suaminya dengan tatapan penuh semangat. Melinda ingin suaminya itu selalu ada di setiap saat dan di setiap ia membutuhkan suaminya, contohnya saja seperti hari itu. Dimana Raka memilih untuk menemani istrinya daripada datang ke perusahaan untuk melakukan rapat penting.
Aku sangat mencintai Mas Raka. Meskipun, aku hanya bisa menyimpan rasa cintaku ini di dalam hatiku saja. (Batin Melinda)
”Melinda, kamu masuklah lebih dulu!” perintah Raka pada istrinya agar segera masuk ke dalam mobil.
Melinda dengan cepat mematuhi apa yang suaminya katakan dan tak butuh waktu lama, Melinda telah berada di dalam mobil.
Melinda tersenyum lebar ketika melihat suaminya masuk ke dalam mobil dengan dibantu oleh asisten pribadi suaminya itu.
Ketika Raka sudah benar-benar masuk ke dalam mobil, Reza pun ikut masuk dan tak berselang lama, mobil pun perlahan meninggalkan area rumah keluarga Arafat.
“Mas Raka, apakah tidak apa-apa jika Mas Raka tidak pergi ke perusahaan? Apakah Kakek tidak akan marah?” tanya Melinda yang tak ingin bila suaminya mendapatkan masalah karena dirinya.
“Kamu yang tenang ya! Aku sudah memberitahukan kepada Kakek dan Kakek sama sekali tidak keberatan dengan hal ini. Apakah kamu sungguh mengkhawatirkan aku?” tanya Raka dengan penuh percaya diri.
Melinda tertegun sejenak dan ia pun tertawa lepas ketika melihat ekspresi wajah suaminya.
“Apa saya terlihat mengkhawatirkan Mas Raka?” tanya Melinda sembari merasakan kencangnya jantung yang berdebar-debar tak karuan.
“Iya, kamu kelihatan sangat khawatir,” jawab Raka yang terus mengamati sepasang mata indah milik istrinya, Melinda Anandi)
__ADS_1
“Benarkah?” tanya Melinda terkejut dan cepat-cepat memejamkan matanya agar tak dilihat oleh suaminya.
Tidak, Mas Raka tidak mungkin tahu mengenai perasaanku. Ah, bagaikan ini? Aku sangat gugup. (Batin Melinda)
Keringat Melinda tiba-tiba keluar begitu saja dan saat itu Raka ikut merasa panas.
“Mas Raka, kenapa ya tiba-tiba mobil ini menjadi panas?” tanya Melinda dan tersenyum lebar yang merasa cukup gugup.
Raka pun tertawa melihat Melinda yang tersenyum dengan sangat aneh.
Reza yang sedang mengemudi mobil hanya bisa menahan tawanya ketika mendengar perbincangan keduanya yang terlihat sama-sama bodoh satu sama lain.
“Reza, apakah kamu puasa?” tanya Raka yang bingung harus berkata apa.
“Ya?” Reza cukup terkejut dengan pertanyaan Tuan Mudanya itu.
“Sudahlah, aku hanya bergurau saja,” ucap Raka dan tertawa kecil.
Melinda tertawa kecil ketika melihat reaksi wajah suaminya itu.
Mas Raka kenapa hari ini terlihat sangat menggemaskan? Ingin rasanya aku mencubit pipinya. (Batin Melinda)
Tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat dan akhirnya mereka tiba di tempatnya tujuan.
Sebelum turun dari mobil, Melinda terlebih dulu mengatur napasnya yang sedang berantakan karena akan bertemu dengan keluarganya.
Setelah Melinda merasa sangat cukup menata hatinya, ia pun turun dan disusul oleh suaminya dengan dibantu oleh asisten pribadi suaminya.
Katty tersenyum lebar melihat Melinda yang baru saja tiba. Katty masih saja seperti dulu dan mungkin gadis muda itu tidak akan berubah.
“Aku kira kamu tidak datang,” ucap Katty dengan sangat sinis kepada Melinda dan sama sekali tidak terdengar oleh Raka maupun Reza.
Melinda tak ingin menjawab apapun yang Katty katanya. Kedatangannya adalah untuk menemui Sang Ayah yang sedang sakit.
“Dimana Ayah?” tanya Melinda.
“Ada di kamar,” jawab Katty dengan ketus.
Melinda pun masuk begitu juga dengan Raka yang dibantu oleh Reza.
__ADS_1
Katty menatap Melinda dengan penuh kekesalan. Katty tidak bisa melihat hidup Melinda yang serba kecukupan karena mendapatkan suami kaya raya seperti Raka Arafat.