
Melinda berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan mata yang setengah terbuka. Terlihat jelas bahwa wanita muda itu masih sangat mengantuk.
Raka menyentuh dadanya dan hampir saja mengatakan yang sejujurnya kepada Melinda.
Melinda keluar dari kamar mandi dan bergegas naik ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya.
“Mas Raka kenapa tidak tidur?” tanya Melinda sembari kembali menarik selimut agar menutupi seluruh tubuhnya.
“Iya, sebentar lagi aku juga akan tidur,” jawab Raka.
Melinda memejamkan matanya dan kembali terlelap untuk melanjutkan tidurnya itu.
Raka menghela napasnya dan meletakkan buku serta ponselnya ke atas nakas. Kemudian, Raka memutuskan untuk segera tidur dengan posisi miring agar memudahkan dirinya memandangi wajah Melinda yang polos tanpa polesan make up sedikitpun.
Selain wajahnya yang cantik, hatinya juga baik. Apakah kamu tahu tentang perasaanku ini, Melinda? (Batin Raka)
🌷
Keesokan pagi.
Reza terlihat tak tenang setelah membaca pesan singkat yang ia terima. Pesan itu ternyata sengaja dikirim oleh mantan kekasih Tuan Mudanya yang isinya adalah ingin menemui Raka Arafat.
Ekspresi wajah Reza dapat dengan mudah terbaca oleh Raka Arafat. Raka pun bertanya alasan mengapa asisten pribadinya itu terlihat tak tenang.
“Apa ada sesuatu hal yang sedang terjadi?” tanya Raka penasaran.
Pagi itu, Raka akan pergi ke perusahaan karena sudah waktunya untuk seorang Raka Arafat bekerja. Sementara Melinda, merasakan firasat yang tidak enak dengan kepergian suaminya ke perusahaan.
“Reza!” Raka menepuk tangan asisten pribadinya yang terlihat melamun.
Reza tak langsung menjawab, karena didekat mereka ada Melinda yang tengah memerhatikan Reza dan juga Tuan Mudanya.
Melinda menunduk dan memutuskan untuk melangkah menjauh karena sepertinya ada hal yang sangat penting yang ingin Reza katakan kepada suaminya.
“Saya akan bergeser sedikit menjauh agar Mas Raka dan Mas Reza bisa mengobrol berdua saja,” ujar Melinda dan melangkah menjauhi keduanya.
__ADS_1
Raka menoleh sekilas ke arah istrinya dan kembali fokus menatap asisten pribadinya.
“Istriku sudah tidak disini, sekarang katakan apa yang membuatmu terlihat tak tenang seperti ini!” pinta Raka pada asisten pribadinya.
Reza mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Tuan Mudanya itu.
Raka mengambil ponsel tersebut dan membaca isi pesan yang ternyata itu adalah pesan singkat dari mantan kekasihnya, Luna.
“Sial*n, kenapa lagi wanita ini?” Raka sangat tak suka dengan sikap mantan kekasihnya yang kembali datang ke dalam hidupnya.
“Tuan Muda, seperti Nona Luna tidak menyerah begitu saja,” ujar Reza yang tak senang dengan hadirnya Luna di kehidupan Tuan Muda serta Nona Mudanya.
“Hubungan para staf kantor untuk mengusir wanita itu. Bila perlu, buat laporan karena mengganggu aktivitas kantor,” tegas Raka.
“Baik, Tuan Muda. Akan segera saya laksanakan,” sahut Reza dan bergegas menghubungi staf kantor untuk mengusir wanita bernama Luna.
Raka menoleh ke arah istrinya dan menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Melinda segera mendekat padanya.
Melinda tersenyum lebar dan berlari kecil menghampiri suaminya.
“Sudah selesai, Mas Raka?” tanya Melinda pada suaminya.
Melinda tersenyum malu-malu mendengar ucapan terima kasih yang dilontarkan oleh suaminya untuknya.
“Sudah waktunya aku pergi ke perusahaan karena ada urusan penting di kantor. Kamu baik-baik di rumah dan jangan keluar tanpa izin dariku,” ujar Raka serius.
“Mas Raka tenang saja, saya tidak akan kemana-mana. Kalaupun saya ingin pergi keluar, saya pasti akan meminta izin terlebih dahulu kepada Mas Raka,” balas Melinda dan kembali tersenyum manis.
Raka mengalihkan pandangannya karena tak kuasa melihat senyum manis istrinya. Terlebih lagi, ketika Raka tiba-tiba teringat ketika dirinya mencium kening istrinya tanpa sepengetahuan dari istrinya itu.
Raka pun bergegas pergi meninggalkan Melinda. Bukan karena tidak ingin melihat wajah istrinya. Akan tetapi, karena Raka takut bila hal yang terjadi semalam akan terulang lagi.
Melinda mencium punggung tangan suaminya dengan penuh hormat.
“Hati-hati, Mas Raka!” Melinda melambaikan tangannya pada suaminya yang sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
Mobil pun perlahan pergi keluar dari halaman rumah kediaman keluarga Arafat.
Setelah mobil suaminya sudah tak terlihat lagi, Melinda memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
“Mbak, apakah Kakek masih tidur?” tanya Melinda pada salah satu pelayan yang sepertinya baru saja keluar dari kamar Kakek tua tersebut.
“Tuan Besar sedang menonton televisi di kamar, Nona Muda,” jawab pelayan wanita.
“Terima kasih, Mbak. Kalau begitu, saya akan menemui Kakek,” tutur Melinda dan melangkahkan kakinya menuju kamar Almer.
Melinda mengetuk kamar tidur Almer sebelum masuk ke dalam kamar. Akan tetapi, Almer langsung mempersilakan Melinda masuk dengan menyebut nama cucu menantunya itu.
“Masuklah, cucu menantuku,” tutur Almer.
Melinda bisa mendengar perkataan Almer karena pintu tersebut tidak tertutup rapat sehingga Melinda bisa dengan mudahnya mendengar suara Kakek tua itu. Jika pintu kamar tertutup rapat, sudah pasti Melinda tidak bisa mendengar apapun. Ya maklum saja, hampir semua kamar yang berada di rumah mewah itu dipasang peredam suara. Hanya saja, peredam suara dipasang untuk Tuan rumah dan bukan untuk kamar para pekerja di rumah itu.
“Kakek kok bisa tahu kalian Melinda yang mengetuk?” tanya Melinda sembari berjalan mendekat ke arah Almer dan mendaratkan bokongnya tepat di samping Kakek tua itu.
Almer tak langsung menjawab, Kakek tua itu malah tertawa dengan ekspresi wajah Melinda yang terlihat sangat penasaran.
“Suara ketukan pintu yang Cucu menantu buat itu sangat ciri khas,” jawab Almer dan meletakkan remote control yang ada ditangannya ke atas meja. “Ngomong-ngomong kenapa cucu menantu datang ke kamar Kakek?” tanya Almer penasaran.
“Memangnya tidak boleh ya Kakek? Kalau begitu, Melinda permisi,” balas Melinda sembari beranjak dari duduknya.
“Cucu menantu, Kakek hanya bercanda saja. Duduklah dan temani Kakek mengobrol,” pinta Almer yang ingin berbincang-bincang sejenak dengan istri dari cucu kandungnya.
Melinda tertawa kecil dan kembali mendaratkan bokongnya di sofa.
“Melinda juga hanya bercanda saja, Kakek. Ngomong-ngomong Kakek mau berbincang dengan Melinda mengenai apa?” tanya Melinda penasaran.
“Apa ya? Kakek juga bingung. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang mengenai cucu Kakek?” tanya Almer yang ingin membahas mengenai cucu kandungnya.
Melinda tiba-tiba tersenyum lebar dan ingin mengetahui sosok suaminya lewat Kakek tua yang duduk tepat disampingnya.
Almer bisa melihat pancaran sinar mata Melinda yang terlihat sangat bahagia. Sepertinya, Almer harus menceritakan sosok Raka Arafat.
__ADS_1
“Kamu mau tidak mendengarkan apa yang Kakek katakan nanti?” tanya Almer memastikan sembari menggoda cucu menantunya untuk mengetahui apakah cucu menantunya itu penasaran ataukah tidak mengenai cucu bungsunya, Raka Arafat.
“Tentu saja mau, Kakek. Terlebih lagi bila itu adalah Mas Raka,” jawab Melinda malu-malu.