Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 63


__ADS_3

2 jam kemudian.


Ratna tidak bisa berlama-lama di rumah mewah itu, ia pun pamit untuk segera kembali ke rumah.


Melinda dengan berat hati mengiyakan keinginan sahabatnya itu segera pulang.


“Mbak, tolong bungkusan semua cemilan dan juga buah-buahan ini!” pinta Melinda pada pelayan.


“Baik, Nona Muda. Saya akan membungkusnya segera,” jawab pelayan wanita itu.


Melinda berjalan menghampiri salah satu bodyguard untuk mengantarkan sahabatnya pulang ke rumah.


“Pak, tolong antarkan sahabat saya pulang sampai rumah ya,” tutur Melinda.


“Baik, Nona Muda,” jawab bodyguard itu dan berlari kecil menuju garasi mobil.


“Melinda, kamu tidak perlu seperti ini. Aku bisa pulang sendiri, lagipula aku tidak enak dengan tetangga jika tahu aku pulang diantar oleh pria,” ucap Ratna yang tak ingin jika dirinya menjadi bahan pergunjingan para tetangganya.


“Ratna, abaikan saja apa yang mereka katakan. Aku melakukan ini karena tidak ingin merasa khawatir. Aku mohon, biarkan salah satu pekerja disini mengantarkan mu sampai rumah dengan selamat,” balas Melinda dan berharap Ratna atas niat baik Melinda.


“Baiklah, untuk kali ini saja,” sahut Ratna yang akhirnya setuju dengan keinginan sahabatnya itu.


Pelayan wanita yang sebelum diminta oleh Melinda untuk membungkus cemilan dan juga buah-buahan akhirnya datang menghampiri Melinda.


“Nona Muda, semuanya sudah saya masukkan ke dalam kantong plastik ini,” ujarnya.


“Terima kasih, Mbak. Mbak boleh melanjutkan pekerjaan Mbak,” tutur Melinda sembari mengambil kantong plastik berukuran cukup besar tersebut.


Melinda kemudian, memberikannya kepada Ratna sahabat dari SD hingga seterusnya.


“Melinda, aku merasa sangat merepotkan disini. Tidak seharusnya kamu memperlakukan begitu baik,” ujar Ratna sembari menerima kantong plastik tersebut.


“Ayolah, kamu adalah satu-satunya sahabat yang ku punya dan kamu juga sahabat yang selalu dalam di setiap saat. Ini bukan apa-apa dibandingkan kebaikan mu yang selalu membelaku bila ada anak-anak yang mencemooh kan aku,” pungkas Melinda.


“Aku terharu jadinya,” tutur Ratna dengan mata berkaca-kaca setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya.


“Ssuuttss... Jangan menangis. Aku takut kalau mereka akan salah paham dan mengira bahwa aku wanita yang jahat. Sekarang, masuklah ke mobil dan jangan lupa kirim pesan padaku bila sudah sampai di depan rumahmu.”


”Tentu saja, aku akan langsung mengirimkan mu pesan singkat,” sahut Ratna.


Ratna memeluk sekilas tubuh sahabatnya dan mengucapkan terima kasih berulang kali sebelum masuk ke dalam mobil.


Melinda merasa sedikit baikan setelah sahabatnya datang berkunjung.


“Sebaiknya aku kembali beristirahat,” ucap Melinda bermonolog.


Melinda berjalan masuk ke dalam lift sembari menyentuh perutnya yang mulai terasa nyeri.


Ketika Melinda baru saja keluar dari lift, Melinda dikejutkan oleh seekor kecoa.


Melinda ingin berteriak sekencang mungkin. Akan tetapi, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dengan cepat, ia berlari menjauh dari binatang yang membuatnya geli bukan main.


Melinda akhirnya berhasil masuk ke dalam kamar dan ia pun mengunci pintu kamar itu secepat mungkin. Untuk berjaga-jaga, agar kecoa itu tidak bisa masuk ke dalam kamar.


“Kenapa perutku semakin nyeri begini. Seharusnya kemarin aku beli obat pereda nyeri, kenapa aku harus lupa? Kalau begini aku harus merasakan nyeri yang cukup parah,” ucap Melinda bermonolog.

__ADS_1


Melinda berbaring di sofa dan berharap bisa segera tidur. Dengan tidur, nyeri diperutnya akan berkurang. Meskipun, hanya sebentar saja.


Disaat yang bersamaan, Raka merasa bosan di ruang rapat. Berulang kali ia memeriksa ponselnya barangkali ada pesan masuk. Akan tetapi, pesan masuk yang begitu banyak bukanlah pesan masuk yang Raka tunggu.


“Raka,” ucap Almer pada Cucu menantunya yang terlihat jenuh.


“Iya, Kakek,” sahut Raka pada Kakeknya yang kebetulan duduk disampingnya.


“Berhentilah melihat ponselmu itu. Fokus dengan apa yang sedang dibahas, Kakek tidak ingin kamu kehilangan fokus,” pungkas Almer mengingatkan Cucu kandungnya untuk tetap fokus.


“Maaf, Kek. Raka akan berusaha fokus,” balas Raka dan hanya direspon dengan anggukan kecil oleh Kakeknya.


Sekitar 1 jam kemudian, rapat pun selesai dan saat itu juga Raka memutuskan untuk menghubungi nomor telepon istrinya. Akan tetapi, nomor telepon tersebut berada diluar jangkauan alias sedang tidak aktif.


“Kenapa malah tidak aktif?” tanya Raka bermonolog.


Almer yang tak sengaja mendengar pertanyaan cucunya, saat itu juga bertanya dengan penasaran.


“Ada apa, apanya yang tidak aktif?” tanya Almer penasaran.


“Oh, itu bukan apa-apa Kakek. Kakek, apakah setelah ini kita ada meeting lagi?” tanya Raka penasaran.


“Kakek juga tidak tahu, coba tanyakan kepada asisten pribadi mu,” sahut Almer dan melenggang pergi keluar dari ruang rapat tersebut.


Raka menghubungi Reza untuk segera datang padanya dan tak perlu menunggu lama, Reza pun datang menghampiri Tuan Mudanya.


“Jadwalku hari ini apa saja?” tanya Raka datar.


“Tidak ada, Tuan Muda. Hari ini anda tidak ada jadwal sama sekali. Akan tetapi, besok pagi hingga jam 8 malam ada akan sangat sibuk,” terang Reza.


“Baiklah, ayo kita pulang sekarang!” perintah Raka.


“Kenapa melamun? Aku memberimu gaji bukan ditugaskan untuk melamun,” tegas Raka.


“Maaf, Tuan Muda. Saya tidak akan melakukan kesalahan ini lagi,” balas Reza setengah membungkuk.


🌷


Di rumah.


Melinda baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengganti pembalutnya yang sudah penuh. Wanita berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah kecil menuju sofa.


Melinda tidak bisa berpikir apapun. Yang ia butuhkan adalah istirahat dan istirahat yang cukup agar kondisi tubuhnya segera membaik.


Melinda menoleh ke arah jam di dinding yang ternyata hampir mendekati waktu makan siang. Akan tetapi, Melinda merasa tak kuat bila harus turun ke ruang makan.


Terlebih lagi, Melinda tidak ingin makan seorang diri. Ia berharap suaminya bisa kembali secepat mungkin dan bisa menikmati makan siang bersama.


Melinda memejamkan matanya sembari memeluk perutnya sendiri. Ia pun kembali terlelap dengan rasa nyeri di perutnya.


Entah berapa lama Melinda tertidur, sampai akhirnya Melinda terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu.


Melinda membuka matanya dan berjalan dengan langkah kecil untuk membukakan pintu.


“Syukurlah Mas Raka sudah pulang,” ucap Melinda dengan senang.

__ADS_1


Raka terkejut mendapati wajah istrinya yang semakin pucat. Saat itu juga, Raka meminta asisten pribadinya untuk menghubungi dokter secepat mungkin dan meminta dokter itu datang ke rumah.


“Mas Raka, saya baik-baik saja,” ucap Melinda yang tidak ingin merepotkan siapapun.


“Baik-baik saja bagaimana? Lihatlah wajahmu itu sudah seperti mayat. Cepat masuk ke dalam kamar, kalau kamu sakit seharusnya kamu bilang. Dan lagi, kenapa ponselmu mati?” tanya Raka yang malah mengomeli istrinya terus-menerus.


“Maaf, Mas Raka. Ponselnya saya cas dan sengaja saya matikan daya,” terang Melinda.


“Aku tidak ingin mendengar alasan apapun, cepat masuk ke dalam dan beristirahat lah di tempat tidurku!” perintah Raka yang tidak ingin bila Melinda kenapa-kenapa dan pada akhirnya dia lah yang kembali disalahkan oleh kakeknya sendiri.


Melinda perlahan berjalan menuju tempat tidur semuanya dan merebahkan dirinya dengan hati-hati.


Reza telah berhasil menghubungi dokter dan dokter itu akan segera tiba di rumah dalam waktu kurang dari 30 menit.


“Kau tunggulah di depan, ketika dokter itu tiba langsung bawa ke kamar ku!” perintah Raka.


“Siap, Tuan Muda,” sahut Reza dengan lantang dan berlari keluar dari kamar tersebut.


Raka tak habis pikir dengan kondisi tubuh istrinya yang gampang sekali sakit.


“Sekarang apalagi? Kamu mengalami darah tinggi atau darah rendah? Atau kamu menderita kolesterol?” tanya Raka menerka-nerka penyakit yang sedang diderita istrinya.


“Mas Raka, saya sedang datang bulan dan ini efek dari datang bulan saya,” terang Melinda.


“Datang bulan? Maksudmu menstruasi?” tanya Raka memastikan.


“Iya, Mas Raka. Ketika saya datang bulan, kondisi tubuh saya melemah dan tidak semua wanita mengalami hal seperti ini. Sebagian ada yang tidak merasakan sakit dan sebagian lagi merasakan sakit, contohnya seperti saya ini,” ungkap Melinda pada suaminya.


“Cukup. Tidak perlu dijelaskan, sekarang kamu tidurlah!” perintah Raka yang tak tega ketika melihat wajah pucat Melinda.


Melinda menggelengkan kepalanya, ia sudah terlalu banyak beristirahat.


“Kenapa? Kamu tidak ingin tidur?” tanya Raka.


“Saya sudah terlalu banyak tidur, Mas Raka. Oya, tadi sahabat saya kemari dan saya memberikan cemilan serta buah-buahan kepada sahabat saya. Apakah tidak masalah?” tanya Melinda.


“Sudah kamu berikan, untuk apa bertanya lagi? Lagipula, cemilan dan buah-buahan itu tidak ada harganya sama sekali. Sekarang, kamu lebih baik diam dan jangan banyak berbicara,” tegas Raka pada Melinda yang tengah berbaring lemah di tempat tidur.


Raka membuka jas kerja yang masih ia kenakan dan melemparkan jas kerja milik ke sofa dimana Melinda biasanya tidur.


“Apa kamu sudah makan?” tanya Raka ketika menyadari waktu makan siang telah tiba.


“Belum, Mas Raka. Saya belum makan,” jawab Melinda.


Raka menghela napasnya dan mengerakkan kursi rodanya mendekatkan nakas. Kemudian, Raka menekan bel kecil yang tentu saja itu akan mendatangkan para pelayan ke kamarnya.


Tak butuh waktu lama, beberapa pelayan datang dan saat itu juga masuk ke dalam kamar karena pintu yang tidak terkunci.


“Kalian bawakan makan siang ke kamarku!” perintah Raka yang terdengar sangat menakutkan.


Mereka mengiyakan dengan kompak dan bergegas keluar dari kamar tersebut untuk membawa makan siang ke dalam kamar Tuan Mudanya itu.


“Mas Raka tidak perlu membawa makan siang kita ke dalam kamar,” ucap Melinda lirih.


“Sudah, diam. Bukankah dari tadi aku mengatakan agar kamu diam dan tak banyak bicara? Aku sedang tidak ingin marah terhadapmu. Apa kamu mengerti maksudku?” tanya Raka kesal.

__ADS_1


Melinda pun mengiyakan dan menutup mulutnya rapat-rapat.


“Nah seperti itu, diam dan jangan bicara sepatah katapun,” tegas Raka sembari melepaskan kemeja yang sedang ia kenakan.


__ADS_2