Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 74


__ADS_3

Malam hari.


Luna sudah tak sabar ingin menemui mantan kekasihnya yang menurutnya masih mencintai dirinya yang cantik itu.


Untuk menambah kesan pertama yang cukup baik, Luna memutuskan untuk berdandan cantik dan juga berpakaian dengan sangat mewah. Hal itu, Luna lakukan untuk membuat Raka terpukau dengan wajahnya yang semakin cantik sekaligus membuat Melinda menjadi gerah karena kalah saing.


“Baiklah, malam ini aku harus segera menemui Kak Raka. Bagaimanapun, Kak Raka adalah milikku dan bukan milik wanita yang kini menjadi istrinya,” tegas Luna dengan tersenyum sinis.


Luna keluar dari kamar hotel yang sebelumnya ia sewa. Ia berjalan bersama dengan dua bodyguard yang sebelumnya sudah ia sewa. Kali ini, kedatangan Luna ke Indonesia adalah merebut apa yang menjadi miliknya sebelumnya. Luna akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan kasih sayang dari Raka Arafat.


Tidak peduli dengan nomorku yang kamu blokir, Kak Raka. Tetap saja, aku akan datang padamu dan sekali lagi membuatmu bertekuk lutut dihadapan ku. (Batin Luna)


Disaat yang bersamaan, Melinda dan Raka baru saja pulang dari minimarket. Ada beberapa cemilan yang dibeli oleh Melinda dan Raka sama sekali tak protes dengan keinginan Melinda itu.


Jika biasanya, wanita akan meminta untuk dibelikan barang-barang mahal. Lain halnya dengan Melinda yang hanya ingin dibelikan cemilan oleh suaminya.


Melinda tersenyum bahagia menenteng dua kantong plastik yang tentu saja isinya adalah cemilan milik Melinda.


“Apa kamu begitu senang dengan cemilan sebanyak itu?” tanya Raka penasaran.


“Iya, Mas Raka. Saya sangat senang. Terima kasih, Mas Raka,” jawab Melinda yang sangat bahagia.


“Apa kamu tidak ingin membeli sesuatu yang mahal? Contohnya saja, seperti tas branded, sepatu branded, pakaian branded atau koleksi-koleksi yang branded seperti wanita-wanita kaya diluar sana?” tanya Raka semakin penasaran dan ingin mendengar alasan apalagi yang akan istrinya katakan.


“Tidak. Lagipula, sudah bisa makan setiap hari, tidur di tempat tidur yang empuk dan bisa beli cemilan itu sudah sangatlah cukup,” ungkap Melinda sejujur-jujurnya.


“Haaa?” Raka terheran-heran dengan apa yang dikatakan oleh Melinda. Raka tak habis pikir dengan pemikiran istrinya yang sangat sederhana itu.


“Mas Raka kenapa begitu? Apakah Mas Raka mau mengatakan bahwa saya adalah wanita bodoh?” tanya Melinda.


“Tidak. Tidak sama sekali, lagipula kita aku sudah meminta maaf dan tidak akan lagi melakukan kesalahan seperti itu. Hanya saja, aku masih bingung dengan pemikiran mu itu,” terang Raka.


Melinda tertawa kecil mendengar keterangan suaminya.


“Kenapa malah tertawa?” tanya Raka penasaran dengan respon istrinya.


“Mas Raka lucu. Lagipula, Mas Raka tidak perlu memikirkan mengenai pemikiran saja. Cukup terima saya apa adanya saja,” pungkas Melinda yang entah kenapa kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulutnya.

__ADS_1


Perkataan Melinda terdengar sangat menjebak, dengan kata lain Melinda ingin suaminya menerima dirinya dengan apa adanya dan bukan dengan ada apanya. Akan tetapi, Raka tak berpikir sampai kesitu.


“Sudah malam, ayo kita ke kamar. Meskipun aku hanya duduk disini, aku juga merasakan lelah,” ujar Raka mengajak istrinya untuk segera naik.


“Sebelum kita ke kamar, saya mau ke dapur dulu. Saya mau mengambil gelas dan menuangkan minuman ini ke dalam gelas tersebut,” ujar Melinda sembari memegang minum dengan wadah berbahan kaleng.


“Kenapa harus pakai gelas? Kamu bisa saja meminumnya langsung,” balas Raka terheran-heran.


“Saya juga tidak tahu kenapa saya suka memindahkan minuman ini ke dalam gelas,” sahut Melinda dengan sangat santai.


Melinda pun berlari kecil menuju dapur meninggalkan suaminya begitu saja. Raka akhirnya mengikuti istrinya ke dapur untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu di dapur bersama dengan minuman kaleng tersebut.


Saat Raka baru saja tiba di dapur, Raka melihat istrinya yang sedang meminum minum kaleng tersebut yang sudah dipindahkan ke dalam gelas sampai habis.


Raka tertawa kecil dan terus memandangi kelakuan lucu istrinya itu.


Melinda meletakkan gelas tersebut ke wastafel dan membersihkannya hingga benar-benar bersih. Kemudian, Melinda menaruh gelas yang sebelumnya ia gunakan ke rak piring.


“Mas Raka,” ucap Melinda yang terkejut menyadari bahwa ternyata ada sang suami di dapur.


“Hehe... Mas Raka mau minuman ini?” tanya Melinda sembari memperlihatkan minuman kaleng tersebut kepada suaminya.


“Besok saja, ini sudah malam. Aku tidak ingin terbangun dari tidurnya gara-gara ingin buang air kecil,” ungkap Raka yang tentu saja itu akan merepotkan istrinya.


“Kenapa? Mas Raka tidak ingin sampai saya terbangun? Mas Raka tidak perlu khawatir, sekarang ini saya sudah kuat dan tentu saja tidak mudah sakit,” pungkas Melinda karena sering berolahraga.


“Bukan begitu, ini sudah malam dan sebaiknya kita tidur. Besok pagi aku harus berangkat dan kemungkinan pulang ku diatas jam 9 malam,” terang Raka.


“Benarkah? Kalau begitu, ayo kita tidur sekarang!”


Melinda meletakkan dua kantong plastik ke atas meja makan dan tentu saja cemilan itu akan tetap utuh, tidak kurang satupun.


Para pelayan maupun bodyguard yang bekerja untuk keluarga Arafat adalah orang-orang yang berdedikasi tinggi. Tentu saja hal itu tidak luput dari campur tangan Almer maupun Raka di dalamnya. Keduanya telah melatih para pelayan dan juga bodyguard untuk tetap jujur, setia dan juga patuh dengan majikan mereka.


Keduanya pun masuk ke dalam kamar dan saat itu juga, Melinda bergegas membantu suaminya naik ke tempat tidur dan membantu suaminya mengganti pakaian.


Setelah selesai mengganti pakaian suaminya, Raka maupun Melinda memutuskan untuk segera beristirahat alias tidur.

__ADS_1


Disaat yang bersamaan, Luna tersenyum lebar ketika melihat rumah mewah keluarga Arafat yang sudah terlihat di depan mata. Luna tak sabar ingin melihat ekspresi wajah mantan kekasihnya dan juga istri dari mantan kekasihnya itu.


Ketika mobil yang ditumpangi oleh Luna ingin memasuki area halaman rumah keluarga Arafat, para bodyguard secepat mungkin menghadang mobil tersebut dengan cara berhenti tepat di depan mobil yang akan memasuki halaman rumah.


Mobil pun berhenti mendadak dan membuat dahi Luna terbentuk oleh kaca mobil.


“Aaahh, dahi ku!” Luna berteriak histeris merasakan sakit di dahinya dan secepat mungkin ia memeriksa dahinya barangkali dahinya itu mengalami benturan sehingga menyebabkan dahinya menjadi lecet.


“Tidak!” Sekali lagi Luna berteriak ketika melihat make up yang ia kenakan terhapus dibagian dahinya.


Luna tak terima dengan apa yang terjadi padanya, saat itu juga Luna memutuskan dari mobil untuk memarahi para bodyguard yang telah membuat make up yang ia gunakan terhapus begitu saja.


“Apa kalian buta? Kalian tidak tahu siapa saya? Kalau saya sudah menjadi Nyonya di rumah ini, kalian akan saya pecat secara tidak terhormat.” Luna dengan penuh percaya diri mengatakan kalimat tersebut dan berani mengancam para bodyguard tersebut.


Bodyguard itu acuh tak acuh dengan apa yang Luna katakan. Mereka sendiri tidak ingin siapa wanita yang sedang mengancam mereka.


Luna mencoba melewati gerbang tersebut dan dengan cepat para bodyguard menghalangi jalan masuk Luna.


Melihat Luna yang sedang kesulitan, dua bodyguard yang disewa oleh Luna saat itu juga keluar dari mobil untuk menyelamatkan Nona mereka dari ancaman bodyguard keluarga Arafat.


“Hei, lepaskan Nona Luna!” perintah salah satu bodyguard sewaan Luna.


“Kalian pergi dari sini dan bawa wanita ini pergi. Kalau kalian masih ingin memaksa masuk, jangan salahkan kami jika kami main kekerasan,” ucap salah satu bodyguard keluarga Arafat.


Luna menangis ketika melihat gaun yang ia kenakan diinjak oleh salah satu bodyguard keluarga Arafat. Luna pun berbalik badan dan masuk ke dalam mobil. Luna tidak bisa menemui Raka jika penampilannya seperti itu.


Luna sendiri adalah pribadi yang ingin selalu tampil sempurna dan sisi negatifnya adalah ia juga merasa sangat cantik. Sehingga, ia menganggap bahwa wanita lain tidak secantik dirinya dan dibawah rata-rata.


“Kalian berdua kenapa masih disitu? Cepat bawa aku pergi dari sini!” Luna berteriak keras dan kembali menangis histeris.


Apa yang terjadi diluar, sama sekali tidak bisa di dengar oleh Melinda maupun Raka yang saat itu sedang terlelap.


Bila saja kejadian itu diketahui oleh Raka, entah apa yang akan Raka lakukan. Apakah Raka akan kembali menjalin hubungan dengan Luna? Ataukah Raka tetap mencintai Melinda yang hanya wanita biasa? Entahlah, hanya Allah dan author saja yang tahu. 😅


Mobil yang ditumpangi oleh Luna akhirnya melesat pergi meninggalkan area rumah keluarga Arafat.


❤️

__ADS_1


__ADS_2