
Pagi hari.
Melinda keluar dari kamarnya dengan tubuh yang segar karena ia telah selesai mandi. Senyumnya mengembang sempurna, entah kenapa ia merasa bahwa pagi itu adalah pagi keberuntungan untuknya.
“Selamat pagi, Nona Muda!” Para pelayan menyapa Melinda yang terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
Melinda pun menyapa kembali para pelayan dengan senyum manisnya.
“Nona Muda mau sarapan? Kebetulan Tuan Besar sudah berada di meja makan,” ucap salah satu pelayan.
Melinda berlari kecil menuju ruang makan.
“Selamat pagi, Kakek Almer!” Melinda melambaikan tangannya dan duduk di kursi yang biasanya ia duduki.
“Selamat pagi juga, Cucu menantu. Wah, pagi ini Cucu menantu terlihat sangat bahagia,” ucap Almer yang ikut bahagia ketika melihat wajah cerah istri dari cucu kandungnya, Raka Arafat.
“Kakek, Melinda tidak mungkin sedih terus-menerus. Lagipula, ada Kakek yang selalu menyemangati Melinda,” balas Melinda yang tidak ingin membuat Kakek Almer ikut sedih karena dirinya.
“Alhamdulillah, Kakek senang sekali. Sekarang tunggu apalagi, ayo kita sarapan berdua!”
Beberapa saat kemudian.
Melinda ingin menghabiskan waktunya di taman halaman depan rumah. Ketika Melinda baru saja melangkahkan kaki melewati pintu, Melinda terkejut melihat Reza yang baru saja turun dari mobil.
Air mata Melinda pecah sesaat Reza membuka pintu mobil. Nampak jelas sosok yang sangat Melinda rindukan sedang tersenyum menatapnya.
“Mas Raka!” Melinda berteriak dan berlari secepat mungkin untuk segera memeluk suaminya yang saat itu masih berada di dalam mobil.
Reza dengan gerakan cepat menjauh karena Melinda tengah berlari menuju Tuan Mudanya, Raka Arafat.
Mendengar teriakkan Melinda, para pelayan berlarian keluar rumah.
“Hiks... Hiks... Mas Raka kemana saja? Kenapa selama seminggu lebih tidak memberi kabar apapun kepada saya?” tanya Melinda memukul-mukul dada suaminya sebelum Melinda memeluk tubuh Sang suami tercinta yang teramat Melinda rindukan kehadirannya.
Raka tersenyum kecil dan membalas pelukan erat suaminya. Karena para pelayan melihat kemesraan suami istri di dalam mobil dengan pintu terbuka, Reza dengan sigap menutup pintu mobil dan memberikan tatapan tajam kepada ke arah para pelayan secara bergiliran.
Para pelayan begitu takut dengan tatapan Reza yang hampir sama seperti tatapan Tuan Muda mereka yang menakutkan.
“Kalian, lebih baik masuk ke dalam dan siapkan sarapan untuk Tuan Muda!” perintah Reza.
Merekapun dengan cepat berhamburan meninggalkan teras depan rumah.
Almer perlahan keluar dari rumah dan terkejut melihat Reza yang sedang berdiri di dekat mobil.
“Reza!” Almer mendekat memastikan bahwa pria yang berdiri tegap tersebut adalah Reza, asisten pribadi Cucu kandungnya.
“Iya, Tuan Besar. Saya Reza,” ujar Raka memperjelas bahwa dirinya adalah Reza, asisten pribadi Cucu kandungnya.
“Kalau kamu disini, lalu dimana cucuku? Aku ingin melihatnya,” tutur Almer.
Saat itu juga, Melinda membuka pintu mobil dan Reza dengan sigap membantu Tuan Mudanya turun dari mobil.
__ADS_1
Raka tentu saja masih mengenakan kursi rodanya itu.
Melihat cucu kandungnya baik-baik saja, Almer merasa sangat bahagia.
“Cucu Kakek kenapa jadi tampan begini?” tanya Almer sembari memeluk tubuh Raka.
“Berarti, sebelumnya Raka jelek ya Kek?” tanya Raka dengan memasang ekspresi kecewa.
“Tidak juga,” jawab Almer sembari melepaskan pelukannya.
“Yang terpenting, Raka lebih tampan dari Kakek,” balas Raka.
“Tapi, Kakek lebih kaya daripada kamu,” celetuk Almer dan membuat Raka tidak bisa berkata-kata lagi.
Melinda tak henti-hentinya menangis, tangisannya kali ini adalah tangisan bahagia dan tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.
Almer memahami situasi saat itu, Almer pun meminta keduanya agar masuk ke dalam kamar untuk mencurahkan segala kerinduan mereka di dalam kamar.
Reza sebagai asisten pribadi Tuan Mudanya, bergegas mendorong kursi roda Tuan Mudanya masuk ke dalam lift.
Melinda berdiri tepat disamping suaminya dan keduanya saling menggenggam tangan dengan erat satu sama lain.
Ketika sudah sampai di depan pintu kamar, Reza izin untuk kembali ke rumahnya. 3 bulan lebih Reza menemani Tuan Mudanya ke benua Eropa, tentu saja ia merindukan keluarganya di rumah.
Raka mengucapkan terima kasih dan berjanji akan memberikan uang yang cukup sebagai imbalan atas apa yang sudah Reza lakukan untuknya.
Melinda tak sabar ingin memeluk suaminya kembali, setelah Reza benar-benar pergi, Melinda dengan cepat membawa suaminya masuk ke dalam.
Tentu saja Raka tidak menyia-nyiakan kesempatan langka itu, ia pun memegang kepala Melinda agar ciuman liar mereka lebih lama lagi.
Beberapa saat kemudian.
Melinda tersenyum lebar ketika melihat suaminya benar-benar ada dihadapannya. Rasanya, saat itu seakan-akan mimpi bagi seorang Melinda Anandi. Pipi Melinda perlahan berubah menjadi merah merona ketika membayangkan bagaimana dirinya berinisiatif mencium bibir suaminya terlebih dahulu.
“Sepertinya istriku sedang memikirkan ciuman kita yang tadi, apakah mau diulang kembali? Sini, kita ulangi sekali lagi,” ujar Raka dan memanyunkan bibirnya.
Melinda tertawa geli dan memutuskan untuk memeluk tubuh suaminya sekali lagi.
”Sayang, tolong jangan pergi lagi ya. Kalaupun pergi jauh, bawalah saya juga,” ujar Melinda yang tidak ingin ditinggal oleh suaminya lagi.
“Tidak, aku tidak akan lagi meninggalkan istriku disini sendirian. Bagaimana kalau kita berbulan madu?” tanya Raka.
Melinda seketika itu menolak ajakan dari suaminya untuk berbulan madu.
“Kita di rumah saja ya sayang, Kakek membutuhkan kita. Lebih indah jika kita menghabiskan waktu bersama Kakek di rumah,” tutur Melinda.
Melinda masih takut dengan apa yang Dokter katakan padanya mengenai kondisi Kakek Almer. Tak ingin merahasiakannya lagi, Melinda pun menceritakan tentang kondisi kesehatan Kakek Almer.
“Sayang, naiklah ke pangkuanku!” pinta Raka.
Melinda menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin membuat kaki suaminya sakit.
__ADS_1
Raka terus memaksa dan akhirnya Melinda naik ke atas pangkuan suaminya. Melinda kembali menceritakan kondisi kesehatan Kakek dan Raka dengan serius mendengarkan apa yang Melinda sampaikan padanya.
Melinda menceritakan kondisi kesehatan Sang Kakek dengan berlinang air mata, jelas sekali bahwa Melinda begitu menyayangi sosok Kakek Almer.
Raka menangis di pelukan istrinya, bagaimanapun Kakek adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Raka tidak bisa membayangkan jika Kakek Almer meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Sosok Kakek Almer, sudah seperti hidupnya. Dari kecil hingga saat ini, Kakeknya lah yang mengurus dirinya. Bahkan, urusan jodoh pun Kakeknya lah yang mencari jodoh untuk dirinya.
Disisi lain.
Almer menangis di dalam kamarnya, Kakek tua itu menangis bukan karena sedih. Melainkan, karena ia sangat senang atas kembalinya Sang cucu kandungnya. Setelah kehilangan cucu pertamanya yaitu Rafa Arafat, Almer tidak ingin kehilangan Cucunya lagi. Kakek tua itu berharap, kedepannya Cucu kandung dan cucu menantu hidup bahagia setelah dirinya meninggal dunia.
Siang hari.
Raka dan Melinda memutuskan untuk tidur siang. Sudah 3 bulan lebih lamanya mereka tidak tidur satu ranjang karena ada urusan penting yang Raka kerjakan.
“Mas Raka beneran tidak pergi jauh lagi?” tanya Melinda memastikan.
“Iya sayang, untuk apa aku berbohong. Ayo sini, peluk suamimu!” pinta Raka.
“Mas Raka juga harus peluk saya dong,” sahut Melinda dan memeluk erat tubuh suaminya.
“Ini, sudah aku peluk. Apakah kurang erat?” tanya Raka dan mencium kening Melinda dengan mesra.
Melinda tersenyumlah bahagia, akhirnya setelah 3 bulan lebih tidur tanpa pelukan suaminya. Kini Melinda sudah merasakannya kembali dan kali ini pelukan suaminya benar-benar menghangatkan tubuhnya.
“Sayang, nanti malam ada yang ingin suamimu tunjukkan. Kejutan yang akan membuat kehidupan kita berubah menjadi lebih berwarna,” ucap Raka.
Melinda mengangguk setuju dan tak sabar ingin melihat kejutan apalagi yang ingin diberikan suaminya kepada dirinya.
“Apakah kali ini sebuah restoran lagi?” tanya Melinda dengan tertawa geli.
“Tebak saja kejutan apa yang akan kuberikan kepadamu nanti malam. Aku berharap kamu bisa menebaknya dengan tepat,” pungkas Raka dan sekali lagi mencium kening istrinya dengan mesra.
Raka membuat Melinda tak sabar ingin melihat kejutan tersebut. Rasanya Melinda ingin memutar waktu dengan sangat cepat agar bisa segera tahu kejutan yang ingin suaminya berikan padanya.
“Ayo kita tidur, bangun dari tidur sebaiknya kita temui Kakek dikamar beliau,” tutur Raka.
Melinda mengangguk kecil dan memejamkan matanya saat itu juga. Melinda ingin cepat-cepat tidur di pelukan hangat Sang suami tercinta.
Raka tersenyum lebar, ia tak sabar ingin melihat ekspresi wajah istrinya yang mungkin belum Raka lihat sebelumnya.
“Sayang!” panggil Raka.
Melinda tak menjawab panggilan suaminya, sepertinya wanita muda itu telah terlelap.
Disaat yang bersamaan, para pelayan nampak sangat bahagia. Karena akhirnya Nona Muda mereka kembali tersenyum seperti sediakala.
“Lihatlah wajah Nona Muda tadi, Nona Muda terlihat sangat bahagia,” ucap salah satu pelayan.
“Tentu saja aku melihatnya, aku sangat bersyukur karena Tuan Muda akhirnya pulang. Kalau diingat-ingat kembali, kasihan sekali Nona Muda ketika Tuan Muda pergi,” sahut yang lainnya.
__ADS_1
“Ayo kita kerja lagi, hari selanjutnya pasti akan lebih berwarna lagi bagi Nona Muda dan Tuan Muda,” ucap salah satu pelayan mengajak rekan yang lainnya yang kembali bekerja.