Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 130


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu dan Minggu demi Minggu pun telah berlalu. Tak terasa sudah 3 bulan lamanya Sang suami masih berada di benua Eropa, seringkali Melinda harus menahan rasa rindunya yang semakin hari semakin bertambah besar.


Meskipun begitu, untungnya kondisi kesehatan Kakek Almer telah membaik. Hal itu membuat hari-hari Melinda sedikit berwarna daripada tidak sama sekali.


“Kakek, Melinda berangkat ke perusahaan dulu ya. Kakek pokoknya harus minum obat teratur dan istirahat yang cukup,” ujar Melinda dan mencium punggung tangan keriput Almer.


“Hati-hati, Cucu menantu. Semangat untuk hari ini!” seru Almer yang juga nampak bersemangat ketika melihat Melinda yang akan berangkat bekerja.


Melinda tak lupa mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam mobil. Kemudian, Melinda melambaikan tangannya ketika mobil perlahan pergi meninggalkan halaman rumah kediaman keluarga Arafat.


Melinda mengatur napasnya sebelum melihat notifikasi di ponselnya. Pagi itu, Melinda akan bertemu dengan salah satu model yang akan menjadi model iklan salah satu produk perusahaan Arafat.


“Pak, sebelum tiba di perusahaan. Tolong berhenti di kedai penjual rujak buah ya Pak!” pinta Melinda.


“Baik, Nona Muda. Sekitar 5 km lagi akan ada kedai yang Nona Muda inginkan.”


Melinda tiba-tiba merindukan sahabatnya yang masih berada di Aceh. Tanpa pikir panjang, Melinda segera menghubungi Ratna dengan melakukan video call.


“Assalamu’alaikum, Ratna. Ya Allah, kamu apa kabar?” tanya Melinda yang sangat senang ketika melihat wajah sahabatnya yang sekarang berada di Aceh.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Melinda. Alhamdulillah aku baik, Melinda. Kamu apa kabar disana? Kamu kok kelihatan kurus?” tanya Ratna ketika melihat pipi Melinda.


“Benarkah? Sepertinya diet ku berhasil,” jawab Melinda yang sebenarnya bukan karena diet, tetapi karena terlalu banyak berpikir.


“Benarkah kamu sedang menjalani diet, Melinda? Lihatlah tubuhku sekarang, selama aku disini aku berat badanku sudah naik 8 kg. Sepertinya berat badan ku akan terus bertambah,” ujar Ratna dan tertawa lepas ketika membicarakan berat tubuhnya.


“8 kg? Aku rasa sepertinya kamu sangat bahagia disana, Ratna. Sehingga berat badan mu naik,” tutur Melinda.


Perbincangan mereka akhirnya berakhir ketika mobil berhenti tepat di depan kedai penjual rujak buah.


“Ratna, sudah dulu ya. Nanti aku hubungi lagi, assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam,” jawab Ratna.


Melinda turun dari mobil dan membeli 2 porsi rujak buah. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk sopir pribadi Kakek Almer.


Setelah melakukan pembayaran, Melinda segera masuk ke dalam mobil.


“Pak, yang satu ini untuk Bapak,” ujar Melinda sembari menyodorkan rujak buah tersebut kepada pria yang duduk di kursi pengemudi.


“Terima kasih, Nona Muda,” ucapnya dan menerima rujak buah yang Melinda beli.


Perjalanan menuju perusahaan kembali berlanjut, Melinda berusaha untuk tetap tenang karena kurang dari setengah jam ia akan tiba di perusahaan.


Beberapa saat kemudian.


Kedatangan Melinda disambut hangat oleh beberapa kolega bisnis, Melinda dengan senyum manisnya membalas sambutan beberapa kolega bisnis tersebut.


“Tuan-tuan tidak perlu menyambut kedatangan saya seperti ini, mari masuk,” tutur Melinda.


Ketika Melinda tengah berjalan dengan beberapa kolega yang berjalan beriringan disamping kiri dan kanan, mata Melinda tanpa sengaja menangkap sosok Indri bersama dengan salah satu model yang akan menjadi iklan salah satu produk perusahaan Arafat.


Mbak Indri? Sedang apa Mbak Indri bersama dengan Nona Dewi? (Batin Melinda)

__ADS_1


Melinda melanjutkan perjalanannya untuk pergi ke ruang rapat terlebih dahulu. Kemudian, menemui Dewi model yang akan menjadi model iklan yang sebelumnya dipilih oleh perusahaan.


🌷


Para kolega bisnis bertepuk tangan atas pemikiran Melinda yang cukup memuaskan. Meskipun dibilang sangat baru terjun di dunia bisnis, kemampuan Melinda tidak boleh diragukan lagi.


Hal itu membuat Melinda semakin disukai oleh semua orang, termasuk para kolega bisnis yang akan bekerja sama dengan perusahaan Arafat.


Usai melakukan rapat, Melinda memutuskan untuk menemui Dewi yang sedang berada di ruang makeup untuk melakukan pemotretan.


“Hai, Nona Melinda!” Melihat Melinda yang baru saja memasuki ruang makeup, Dewi buru-buru menyapa Melinda.


“Sudah siap, hari ini?” tanya Melinda dengan senyum manisnya.


“Karena Nona Muda sudah mempercayakan menjadi iklan pada salah satu produk perusahaan Arafat, saya akan berusaha menampilkan diri saya sebaik mungkin. Terima kasih, Nona Melinda,” ucap Dewi yang sangat bersyukur bisa dipercaya menjadi model iklan tersebut.


Indri tiba-tiba muncul dan menyapa Melinda.


“Hei, wanita kamp... Maksud saya, Melinda,” ucap Indri dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Melinda.


“Saya rasa orang yang tidak berkepentingan tidak diperbolehkan masuk,” ujar Melinda yang setuju saja ucapannya mengarah kepada Indri yang sama sekali tidak ada kepentingan.


“Maaf, Nona Melinda. Apakah Nona Melinda dan Indri saling mengenal?” tanya Dewi yang sama sekali tidak tahu mengenai hubungan Indri dan juga Melinda.


“Tentu saja, aku dulu pernah menjadi keluarga yang cukup dekat. Itu dulu, sekarang tidak lagi,” tegas Indri.


Melinda tidak ingin bila Indri membuat keributan, saat itu juga Melinda mengajak Indri untuk ikut keluar bersamanya.


“Mbak Indri mau apa kemari? Bukankah Mbak Indri sudah menandatangani perjanjian bahwa kedepannya tidak boleh lagi berada di sekitar kami. Kenapa Mbak Indri melanggarnya?” tanya Melinda memberikan tatapan tajam kepada Indri.


“Wah, sok sekali ya kamu. Baru begini saja kamu sudah sombong. Lagipula, siapa yang akan tahu kalau aku melanggar perjanjian tersebut? Toh, Kakek tidak lagi datang kemari,” ujar Indri yang merasa aman karena Kakek Almer sudah tidak pernah datang ke perusahaan lagi.


“Apa kamu kira saya bakal diam saja? Saya bisa melaporkan kamu ke polisi karena datang kemari dan membuat keributan,” tegas Melinda.


“Coba saja kalau bisa, lagipula wanita kampungan seperti kamu mana bisa memanggil polisi,” balas Indri yang masih meremehkan sosok Melinda Anandi.


“Baiklah, saya harap kamu tidak akan lari,” sahut Melinda dan mengeluarkan ponselnya.


Melinda menekan nomor yang biasa untuk menghubungi ponselnya dan sebelum menekan tombol panggil, Melinda terlebih dulu memperlihatkannya kepada Indri.


“Sepertinya Mbak Indri tahu jika saya sampai menekan tombol panggil ini,” ucap Melinda tersenyum sinis.


Melihat wajah Melinda seperti itu, membuat Indri tercengang dan saat itu juga Indri memutuskan pergi dari perusahaan tersebut.


Sialan, kenapa wanita itu tiba-tiba begitu berani? Aku harus mencari cara agar dia tidak berani lagi mengancam ku. (Batin Indri)


Melinda mengatur napasnya sembari menyentuh dadanya. Melihat Indri dihadapannya membuat ia cukup gugup.


Salah satu staf kantor menghampiri Melinda dan meminta Melinda untuk segera memeriksa laporan terbaru. Melinda mengangguk kecil dan bergegas melihat laporan terbaru yang akan ia tangani.


Melinda sama sekali tidak merasa kesulitan dengan data-data dilayar monitor. Wanita muda itu ternyata memiliki keahlian di bidang teknologi yang membuatnya dengan mudah menyesuaikan diri di perusahaan.


“Pak, tolong bawakan saya es cappucino 1!” pinta Melinda kepada office boy yang kebetulan sedang mengepel ruangan yang kini ditempati oleh Melinda.

__ADS_1


“Baik, Bu. Segera saya antar,” jawabnya.


Melinda melirik sekilas ke arah ponselnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 13.15 WIB.


Melinda ingat dengan Kakek Almer yang berada di rumah, Melinda pun menghubungi telepon rumah untuk menanyakan apakah Kakek Almer sudah minum obat ataukah belum.


“Hallo, assalamu'alaikum. Mbak, ini saya,” ucap Melinda.


“Wa’alaikumsalam, Nona Muda. Tuan Besar sudah minum obat dan sekarang sedang berisitirahat di kamar,” jelas pelayan tersebut padahal Melinda belum bertanya.


Pelayan rumah sudah tahu betul, di waktu seperti itu, Melinda akan menelpon hanya sekedar menanyakan apakah Kakek Almer sudah minum obat ataukah belum. Jika sudah, makan Melinda akan bertanya apa Kakek sedang beristirahat ataukah tidak. Ya begitulah Melinda, begitu perhatian kepada Kakek tua tersebut.


“Syukurlah, sudah dulu ya Mbak. Wassalamu'alaikum.”


“Iya, Nona Muda. Wa'alaikumsalam,” balasnya.


Melinda meletakkan ponselnya dan fokus dengan layar monitor dihadapannya.


Indri masuk ke dalam sebuah restoran yang tak jauh dari perusahaan Arafat. Wanita itu sangat tak terima atas perlakuan Melinda yang menurut Indri sangat menyebalkan.


“Cepat kemari!” panggil Indri.


Kekesalan Indri malah dilimpahkan kepada salah satu pelayan restoran yang baru saja datang menghampiri dirinya.


“Kamu lama sekali sih, sudah tahu aku datang kemari. Cepat, bawakan aku makanan mahal sekaligus makanan yang terlaris disini. Dan satu lagi, bawakan aku jus melon!” perintah Indri.


Pelayan restoran hanya bisa mengiyakan sembari mencatat makanan yang akan ingin dinikmati oleh Indri.


“Kenapa masih disini? Cepat sana, bawakan aku makanan secepat mungkin!” perintah Indri.


Beberapa pelanggan yang ada disitu memperhatikan Indri dengan tatapan tidak suka. Bagi mereka, Indri adalah wanita kampung yang baru masuk ke dalam restoran.


“Sialan, ada apa dengan mereka? Kenapa melihatku seperti itu? Oh, jangan-jangan mereka iri dengan kecantikan ku,” ujar Indri yang penuh percaya diri.


Sekitar 15 menit, hidangan makanan pun telah tersaji di mejanya.


“Apa restoran kalian ini semuanya dikerjakan oleh orang-orang lelet? Masak ini saja lama sekali,” ujar Indri kepada pelayan restoran yang mengantarkan makanan.


Pelayan restoran itu memilih untuk tetap diam mendengar Indri yang mengomeli dirinya.


“Silakan, dinikmati Ibu. Saya permisi,” ujar pelayan restoran.


Indri mengernyitkan keningnya, ia terkejut ketika mendengar bahwa pelayan restoran itu memanggilnya Ibu.


“What, apa wajahku terlihat sangat tua? Kurang ajar sekali, awas saja ya,” tutur Indri.


Indri yang lapar memutuskan untuk segera menyantap hidangan tersebut. Ternyata hidangan yang disajikan di restoran itu cukup membuat Indri merasa puas.


Untung saja restoran disini masakannya sangat enak. Coba saja kalau tidak enak, sudah aku buang ini. (Batin Indri)


Beberapa pelayan restoran mulai membicarakan Indri di dapur mereka, nampaknya mereka juga sangat kesal dengan perlakuan Indri yang dinilai kurang etis terhadap pelayan restoran. Hanya karena mereka seorang pelayan restoran, mereka bisa dihina seperti itu oleh mulut Indri.


“Semoga saja wanita seperti dia itu tersedak ketika sedang makan,” ucap salah satu pelayan yang sebelumnya diomeli oleh Indri.

__ADS_1


__ADS_2