
Tiba di ruang kerja Raka, Melinda bergegas turun dari pangkuan Sang suami. Saat itu, hanya ada Raka, Melinda dan juga Reza di ruangan tersebut. Sementara Almer, sedang ada janji dengan beberapa rekan kerjanya di ruang rapat.
“Apa yang telah kamu lakukan? Bisa-bisanya kamu jatuh di depan para pekerja,” ucap Raka memarahi Melinda.
Saat Reza ingin membela Melinda, Raka dengan cepat mengangkat tangannya isyarat agar Reza segera keluar dari ruang kerja tersebut.
Reza yang tak bisa berbuat banyak hanya mengiyakan dan berharap Tuan Mudanya tidak terlalu keras dalam memarahi Melinda.
“Kenapa diam?” tanya Raka pada Melinda yang tertunduk diam.
Melinda mengangkat kepalanya dan menatap sepasang mata dingin milik Raka.
“Maafkan saya Mas Raka, saya jatuh begitu saja karena terlalu gugup dengan tatapan mereka,” jawab Melinda apa adanya.
Raka mengernyitkan keningnya dan berusaha memahami situasi Melinda.
Apa aku sungguh keterlaluan? Wanita bodoh ini adalah wanita kampung yang tak mengerti dengan dunia para orang kaya. Terlebih lagi, menikah denganku sama saja seperti memaksanya harus bertemu dengan orang banyak. (Batin Raka)
“Sudahlah, lupakan yang tadi. Intinya, kamu tidak boleh melakukan kesalahan seperti tadi. Dan satu lagi, kalau memang tidak nyaman mengenakan high heels, kamu bisa pakai yang lain,” ucap Raka pada Melinda.
Melinda tersenyum manis dan mengiyakan apa yang dikatakan oleh Raka kepadanya.
Raka menghela napasnya dan memanggil asisten pribadinya untuk segera masuk.
“Reza!” panggil Raka.
Reza yang berdiri tepat di depan pintu, saat itu juga masuk ke dalam setelah mendengar namanya di panggil.
“Iya, Tuan Muda.”
“Kau pergilah dan beli wedges atas apapun untuk wanita ini!” perintah Raka. “Kau tahu aku tidak bisa menunggu terlalu lama, jadi aku harap cepatlah kembali,” sambung Raka.
“Baik, Tuan Muda,” balas Reza dan bergegas pergi untuk membeli produk alas kaki untuk istri dari Tuan Mudanya.
Melinda tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh Raka untuknya.
Ternyata, Mas Raka ada sisi baiknya. Terima kasih Ya Allah. (Batin Melinda)
Melinda tersenyum bahagia dan membuat Raka risih dengan senyuman tersebut.
“Ada apa? Jangan pernah berpikir bahwa aku menyukaimu apalagi sampai perhatian padamu. Aku melakukan ini karena tak ingin jika kamu kembali membuat malu aku dan juga Kakek,” terang Raka.
__ADS_1
“Iya, Mas Raka,” ujar Melinda.
Melinda tak peduli dengan ucapan Raka, menurut Melinda apa yang dilakukan Raka adalah bentuk perhatian yang sangat hangat.
“Kamu duduklah di sofa dan jangan menyentuh barang-barang yang ada di ruangan ini!” perintah Raka.
****
Sudah 5 jam lamanya, Almer, Raka serta Melinda belum juga kembali. Membuat Indri semakin frustasi dan merasa terancam dengan posisinya di rumah itu.
“Sudah 5 jam mereka pergi dan belum juga kembali. Apakah Kakek tua itu sama sekali tidak memikirkan perasaanku? Sialan.” Indri mengumpat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Almer maupun Raka yang membawa Melinda ke perusahaan.
Indri keluar dari kamarnya dan berteriak memanggil pelayan agar segera datang padanya.
“Pelayan! Pelayan!” Berulang kali Indri memanggil. Akan tetapi, tidak ada satupun pelayan yang datang.
Apakah semua pelayan disini tuli? Sepertinya mereka benar-benar telah mengabaikan aku. (Batin Indri)
Indri yang tak tahan dengan penghinaan itu, memutuskan memberi pelajaran kepada pelayan yang menurutnya tak tahu diri.
“Apakah kalian semua tuli? Aku dari tadi memanggil kalian para pelayan.” Indri menampar salah satu pelayan dengan cukup keras.
Plak! Tamparan tersebut adalah tanda kekesalan dari seorang Indri yang merasa tak dihargai.
Pelayan yang ditampar sebelumnya oleh Indri hanya bisa menangis. Sementara para pelayan yang lain mencoba menenangkan pelayan yang ditampar tersebut.
“Mak lampir itu sungguh keterlaluan. Kenapa bukan dia saja yang meninggal dunia dan bukannya Tuan Rafa,” ucap salah satu pelayan.
“Hussshh.. Tidak baik bicara seperti itu,” sahut pelayan yang lain.
Indri kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan pikirannya yang berantakan hari itu.
Disaat yang bersamaan, Almer serta sepasang pengantin baru akhirnya kembali.
Almer turun dari mobil begitu juga dengan Melinda dan Raka yang dibantu oleh Reza.
“Kakek masih ada urusan penting di ruang kerja, kalian beristirahatlah,” ucap Almer pada cucu serta cucu menantunya.
“Kakek, terima kasih atas apa yang telah Kakek lakukan kepada Melinda,” pungkas Melinda.
“Kenapa berterima kasih? Apa yang Kakek dan suamimu lakukan adalah bentuk dari ikatan kekeluargaan kita, cucu menantu,” jelas Almer.
__ADS_1
Melinda tersenyum manis dan mengiyakan apa yang dikatakan Almer padanya. Kemudian, Melinda kembali mengucapkan terima kasih.
“Istriku, ayo kita harus segera beristirahat!” ajak Raka yang ingin cepat-cepat membawa Melinda pergi dari hadapan Sang Kakek.
“Baik, Mas Raka,” balas Melinda.
Sesampainya di kamar, Raka langsung mengomeli Melinda dan meminta Melinda untuk lebih berhati-hati.
“Apa perkataan ku sudah sangat jelas?” tanya Raka setelah mengomel dan menceramahi istrinya panjang lebar.
“Tuan Muda, masalah tadi sudah berakhir. Sebaiknya lupakan saja masalah yang tadi,” ucap Reza agar Raka sadar dan tidak terus-menerus menyalahkan Melinda.
Reza melakukan hal tersebut, karena tak tega melihat Melinda yang selalu saja dimarahi oleh Tuan Mudanya. Reza juga ingin hubungan keduanya baik-baik saja, karena dengan adanya Melinda, Reza sadar bahwa ada sedikit perubahan yang mulai terlihat dari sosok Tuan Mudanya, Raka Arafat.
Raka yang sebelum menikah adalah sosok pria yang jarang pulang. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Raka biasanya tidur di apartemen yang letaknya tak jauh dari perusahaan. Apartemen tersebut adalah milik Raka sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 17 tahun dari Almarhum Rafa Arafat.
“Berhentilah menggurui ku. Sekarang, keluar dari kamarku!” perintah Raka kepada Sang asisten pribadi.
“Saya permisi,” ujar Reza sebelum keluar dari kamar tersebut.
Kini, hanya ada mereka berdua saja yang berada di dalam kamar.
“Kenapa hanya diam? Jawab!” perintah Raka pada Melinda hanya hanya berdiri membisu.
“Maafkan saya, Mas Raka. Saya hanya wanita miskin yang sebelumnya tidak pernah merasakan hidup sebagai orang kaya. Bahkan, saya sama sekali tidak pernah mengenakan high heels sebelumnya. Menjadi istri Mas Raka adalah hal yang tak terduga bagi saya. Dan saya, berusaha menyesuaikan diri disini,” ungkap Melinda dan menangis saat itu juga.
“Hei pelayan, aku hanya bertanya. Kenapa kamu malah menangis?” tanya Raka panik.
“Lalu, saya harus apa Mas Raka? Dari tadi pagi dan sampai sekarang, Mas Raka selalu marah kepada saya. Berulang kali juga, saya meminta maaf atas keadaan saya yang seperti ini,” jawab Melinda yang tak bisa menahan rasa kekecewaannya terhadap dirinya sendiri yang hanya membuat suaminya menjadi malu.
“Kenapa kamu malah menyalahkan orang lain? Sudahlah. Sekarang kamu bantu aku berganti pakaian!” perintah Raka yang bingung ketika menghadapi Melinda yang tengah menangis.
Melinda menghapus air matanya dan membantu suaminya melepaskan pakaian.
“Sudah, jangan menangis,” ujar Raka kepada Melinda agar segera berhenti menangis.
“Maaf, Mas raka.” Melinda kembali meminta maaf atas apa yang telah terjadi.
“Aku sudah memaafkan kamu.”
Melinda saat itu juga menatap Raka yang juga menatap matanya.
__ADS_1
Tatapan ini, kenapa aku merasa bahwa tatapan ini adalah tatapan hangat dari Mas Raka? (Batin Melinda bertanya-tanya)
Melinda mengangguk kecil dan kembali fokus membuka pakaian suaminya.