
“Tuan Muda, maaf atas sikap lancang saya ini. Akan tetapi, saya harus membawa anda ke rumah sakit. Sudah menjadi tugas saya untuk memastikan bahwa Tuan Muda baik-baik saja, tolong mengertilah maksud dari ucapan saya ini, Tuan Muda,” terang Reza dengan terus mengendarai mobil menuju rumah sakit.
Raka akhirnya mengalah karena perkataan asisten pribadinya membuat dirinya sadar bahwa dirinya memang harus diperiksa.
Karena tak ada jawaban dari Tuan Mudanya, Reza pun menganggap bahwa Tuan Mudanya itu setuju dengan keinginannya membawa Tuan Mudanya ke rumah sakit.
Raka memejamkan matanya sembari menahan rasa sakit karena sulit bernapas. Rasanya, ia seperti akan mati karena rasa sesak yang tak tertahankan.
Rumah sakit.
Reza bernapas lega karena Tuan Mudanya sedang dalam penanganan. Reza berharap tidak ada masalah serius mengenai kesehatan Tuan Mudanya itu.
“Tuan Muda sekarang sedang ditangani oleh dokter. Apa aku menghubungi Nona Muda saja ya biar Nona Muda datang kemari?” tanya Reza bermonolog.
Reza ingin sekali memberitahu Nona Mudanya mengenai Tuan Muda yang sedang sakit. Akan tetapi, Reza juga tidak ingin membuat istri dari Tuan Mudanya itu cemas dan juga panik.
“Ya sudahlah, lebih baik aku diam saja. Kasihan Nona Muda kalau nantinya Nona Muda sedih karena Tuan Muda,” tutur Reza.
Beberapa saat kemudian.
Dokter yang merawat Raka meminta Raka untuk rawat inap di rumah sakit. Sepertinya sesak napas yang Raka rasakan cukup mengkhawatirkan. Sehingga Raka harus tetap berada di rumah sakit untuk pemulihan.
Raka mau tak mau akhirnya terpaksa tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan.
“Apa kamu sudah menghubungi istriku?” tanya Raka pada asisten pribadinya.
“Belum, Tuan Muda,” jawab Reza apa adanya.
“Hubungi Melinda sekarang dan minta ia untuk datang menemui ku,” pinta Raka yang merindukan kehadiran istrinya.
“Baik, Tuan Muda. Saya akan segera menghubungi Nona Muda dan meminta Nona Muda untuk segera datang ke rumah sakit,” pungkas Reza.
Disaat yang bersamaan, Melinda merasa tak tenang. Ia ingin menghubungi suaminya, akan tetapi ponselnya malah kehabisan baterai.
“Aku ingin sekali menghubungi Mas Raka. Akan tetapi, ponselku malah mati,” ujar Melinda sedih.
Selang beberapa menit, pintu kamar tiba-tiba diketuk. Melinda pun bergegas membuka pintu kamar karena mengira bahwa yang mengetuk pintu kamar adalah suaminya, Raka Arafat.
“Mbak,” ucap Melinda setengah kecewa.
Pelayan wanita itu langsung memberikan ponselnya kepada Melinda.
Melinda yang belum mengerti hanya bisa menerima ponsel tersebut.
“Nona Muda, tolong terima telepon dari Tuan Reza,” ucap pelayan tersebut.
Melinda pun mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.
“Hallo,” ucap Melinda.
Saat itu juga Reza memberitahukan Nona Mudanya agar segera datang ke rumah sakit, tempat Raka Arafat di rawat.
Melinda terkejut mengetahui suaminya masuk rumah sakit. Dengan terburu-buru Melinda memberikan ponsel itu kepada pelayan dihadapannya dan masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.
Tanpa sadar air mata Melinda mengalir begitu saja. Melinda sangat takut bahwa sesuatu buruk tengah menimpa Sang suami tercinta.
“Tenang, Melinda. Mas Raka disana pasti baik-baik saja, kamu tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh,” ujar Melinda mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Melinda juga menyiapkan pakaian untuk suaminya dan memasukkannya ke dalam koper. Tidak hanya pakaian suaminya, Melinda bahkan memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Melinda berniat untuk menemani Sang suami selama berada di rumah sakit.
Semua telah disiapkan, Melinda pun bergegas keluar dari kamar untuk segera menemui Sang suami tercinta.
“Nona Muda mau kemana?” tanya para pelayan ketika melihat Nona Muda mereka keluar dari lift sembari menarik koper.
“Mbak, titip rumah ya. Saya mau ke rumah sakit, Mas Raka masuk rumah sakit dan saya harus segera menemui Mas Raka,” ungkap Melinda.
Para pelayan terkejut mendengar bahwa Tuan Muda masuk rumah sakit. Merekapun mendo’akan kesembuhan Tuan Muda mereka akan segera pulih dari sakit.
__ADS_1
“Pak, antar saya ke rumah sakit sekarang,” pinta Melinda.
Melinda pun masuk ke dalam mobil untuk segera menuju rumah sakit tempat dimana Sang suami di rawat.
Tunggu saya sebentar lagi ya Mas Raka. Mas Raka harus tetap baik-baik disana. (Batin Melinda)
Lagi-lagi Melinda meneteskan air matanya karena khawatir dengan kondisi kesehatan Sang suami.
🌷
Rumah Sakit.
Melinda berlari kecil sembari menarik koper milik suaminya. Melinda terus berlari dan terus berlari, sampai akhirnya tiba di depan ruang kamar suaminya.
Melinda mengetuk pintu tersebut dan perlahan masuk ke dalam. Air mata Melinda kembali menetes ketika melihat Sang suami terbaring di atas tempat tidur.
“Mas Raka,” ucap Melinda sembari berjalan mendekat ke arah suaminya.
Raka pun menoleh melihat istrinya yang tengah berjalan mendekat padanya.
“Mas Raka sakit apa?” tanya Melinda dan tangisnya pun pecah.
Reza yang berada di ruang itu seketika itu memutuskan untuk keluar, agar sepasang suami istri itu bisa berduaan.
“Jangan menangis, aku tidak apa-apa. Kalau kamu menangis, yang ada aku akan semakin parah,” tutur Raka agar Melinda segera berhenti menangis.
Melinda mengangguk kecil sembari menghapus air matanya.
“Sudah, jangan menangis. Sekarang duduklah di dekatku,” pinta Raka agar lebih dekat lagi memandangi wajah istrinya.
Melinda menarik kursi agar bisa duduk dekat dengan suaminya.
“Mas Raka sudah makan?” tanya Melinda.
“Kalau makan siang aku sudah di kantor,” jawab Raka.
“Mas Raka mau makan? Biar saya yang menyuapi Mas Raka makanan,” tutur Melinda.
“Mas Raka mau bubur? Kalau begitu saya akan keluar sebentar untuk membeli bubur,” ujar Raka.
“Melinda sayang, tetaplah disini. Biar Reza saja yang pergi membeli bubur untukku,” terang Raka.
Melinda tersenyum dan mengambil ponsel suaminya yang berada di atas nakas. Kemudian, Raka mengirimkan pesan singkat kepada asisten pribadinya untuk membelikannya bubur ayam.
“Aku meminta Reza membeli dua porsi bubur ayam. Sepertinya istriku juga belum makan,” ujar Raka.
“Bagaimana Mas Raka tahu bahwa saja belum makan?” tanya Melinda terkejut.
“Aku suamimu dan aku mencintaimu. Tentu saja aku tahu,” terang Raka.
Melinda sangat tersentuh dengan perkataan suaminya. Perkataan suaminya itu membuatnya semakin mencintai sosok dari Raka Arafat.
“Mas Raka, untuk beberapa hari ke depan Mas Raka akan tinggal disini. Begitu juga dengan saya, saya ingin menemani Mas Raka di rumah sakit,” ujar Melinda dengan tatapan penuh harap agar Raka memperbolehkannya tidur di rumah sakit.
“Melinda, apa kamu yakin?” tanya Raka memastikan.
“Dulu, saat saya sakit, Mas Raka lah yang menemani saya,” balas Melinda.
“Melinda sayang, kalau dulu itu aku melakukannya karena terpaksa,” ujar Raka yang merasa tidak enak hati ketika memikirkan kejadian beberapa bulan yang lalu.
Melinda hany diam tanpa menoleh ke arah Sang suami.
“Maaf,“ ucap Raka meminta maaf kepada Melinda.
Melinda menghela napasnya dan kini memberanikan diri memandang wajah suaminya.
“Maaf untuk apa, Mas Raka?” tanya Melinda yang berpura-pura tak tahu arti dari kata maaf suaminya itu.
__ADS_1
“Maaf karena dulu aku begitu keterlaluan. Tapi percayalah, bahwa sekarang aku sangat serius dengan hubungan kita. Bersediakah kamu memaafkan aku?” tanya Raka.
Melinda tersenyum kecil mendengar penjelasan suaminya.
“Apakah permintaan maaf Mas Raka benar-benar tulus?” tanya Melinda memastikan.
“Kamu bisa menilainya dengan melihat mataku,” balas Raka.
Melinda mengangguk kecil dan menyentuh tangan suaminya dengan cukup erat.
“Saya sudah memaafkan, Mas Raka. Sekarang, Mas Raka harus banyak istirahat agar segera sembuh,” pungkas Melinda yang sudah memaafkan suaminya.
35 menit kemudian.
Reza kembali dengan membawa dua porsi bubur ayam yang dipesan oleh Tuan Mudanya itu.
“Nona Muda, ini bubur ayam yang diinginkan oleh Tuan Muda,” ujar Reza sembari memberikannya kepada Melinda.
“Terima kasih, Mas Reza sudah makan?” tanya Melinda.
“Sebentar lagi saya akan makan, Nona Muda,” jawab Reza.
“Uhuk... Uhuk...” Raka sengaja terbatuk-batuk untuk mengalihkan perhatian istrinya yang sedang berbicara dengan Reza.
Melinda menoleh dan bergerak cepat mengambil air minum untuk suaminya.
“Minumlah air ini, Mas Raka,” ujar Melinda.
Saat Melinda tengah fokus menatap mulut suaminya yang meminum air, Raka mengambil kesempatan untuk melotot tajam ke arah asisten pribadinya.
Reza dengan cepat keluar dari ruangan tersebut.
Tuan Muda sangat menyeramkan bila melotot seperti itu. Seakan-akan matanya ingin keluar dan menempel ke wajahku. (Batin Reza)
“Terima kasih,” ucap Raka atas perhatian kecil dari Sang istri.
“Mas Raka mau makan sekarang?” tanya Melinda.
Raka mengangguk kecil sembari tersenyum lebar.
Melinda masih sedikit canggung bila melihat senyum lebar suaminya. Dikarenakan, sebelumnya Raka begitu pelit senyum.
“Saya suapi ya Mas,” tutur Melinda.
Melinda menyuapi bubur ayam pada suaminya secara perlahan. Mendapati perlakuan hangat dari istrinya, membuat Raka cukup menyesal. Raka berpikir bahwa ia sangat terlambat menyadari bahwa Sang istri adalah sosok wanita yang baik.
Betapa bodohnya aku, aku sangat terlambat untuk menyadarinya. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan istri seperti Melinda, bisa-bisanya dulu aku memperlakukannya begitu kejam. Kamu tenang saja Melinda, kebahagiaan yang tak terduga sebentar lagi akan kita rasakan. (Batin Raka)
“Mas Raka, buka mulutnya,” ucap Melinda kepada suaminya yang sedang larut dalam pikirannya.
“Ya,” ucap Raka dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Melinda tertawa kecil dan mempraktekkan cara membuka mulut yang benar.
Raka pun tertawa dan membuka mulutnya seperti yang dicontohkan oleh istrinya itu.
“Pintar,” puji Melinda ketika Raka berhasil menikmati enaknya bubur dengan baik.
“Kamu juga harus makan setelah ini,” tutur Raka mengingatkan Melinda untuk makan.
“Iya, Mas Raka. Setelah ini saya akan makan bubur ayam,” balas Melinda dan kembali menyuapi bubur ayam tersebut.
“Bagaimana dengan Ratna? Apakah Ratna sudah mengambil keputusan untuk tinggal di rumah kita?” tanya Raka.
“Ratna bersikeras untuk tetap tinggal di rumah itu, Mas Raka. Mas Raka, bagaimana kalau kita membantu Ratna memperbaiki rumahnya? Mas Raka tahu 'kan, kalau rumah peninggalan Almarhumah Nenek Ratna sudah sangat tua,” ujar Raka.
“Baiklah, besok rumah itu akan direnovasi sebaik mungkin,” pungkas Raka.
__ADS_1
“Terima kasih, Mas Raka. Terima kasih banyak,” ucap Melinda yang sangat senang karena rumah sahabatnya akan diperbaiki.
“Ayo suapi aku lagi,” pinta Raka dan kembali membuka mulutnya lebar-lebar.