Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 151


__ADS_3

Keesokan paginya.


Usai melaksanakan sholat subuh berjama’ah, Raka dan Melinda memutuskan untuk menikmati teh hangat di ruang keluarga. Banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk mengenai kelahiran bayi kembar yang tengah Melinda kandung.


Sang Kakek yang saat itu baru saja keluar dari kamar, samar-samar mendengar suara tawa pasangan suami istri tersebut.


“Apa kalian mendengar suara kedua cucuku?” tanya Kakek Almer kepada dua pelayan wanita yang terus menemani Kakek tua itu.


“Tuan Muda dan Nona Muda kebetulan ada di ruang keluarga, Tuan Besar,” jawab salah satu pelayan.


“Kalian pergilah, teruskan pekerjaan kalian. Biar aku jalan sendiri!” perintah Kakek Almer.


Kakek Almer perlahan melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga untuk ikut bergabung bersama dengan Cucu kandung dan juga Cucu menantunya.


Melihat Kakek Almer yang sedang berjalan mendekat, Raka seketika itu beranjak dari duduknya dan menuntun Sang Kakek duduk di sofa.


“Kakek bisa sendiri,” ujar Kakek Almer pada Sang Cucu.


“Meskipun Kakek bisa sendiri, sebagai Cucu yang baik Raka harus membantu Kakek duduk,” balas Raka dengan santai.


Kakek Almer tertawa kecil mendengar balasan Raka.


“Apa kalian sudah dari tadi duduk disini?” tanya Kakek Almer.


“Tidak, Kakek,” jawab Melinda.


Kakek Almer tersenyum lebar ketika melihat perut buncit cucu menantunya yang tengah mengandung bayi kembar.


“Tinggal beberapa bulan lagi dan Kakek akan bisa melihat wajah kedua cicit Kakek,” tutur Kakek Almer yang nampak begitu tak sabaran menanti kehadiran calon cicit-cicit yang begitu menggemaskan.


Raka dan Melinda saling tukar pandang sembari tersenyum mendengar apa yang Kakek Almer katakan.


“Kakek yang sabar ya, insya Allah Kakek bisa melihat si kembar,” pungkas Raka.


Kakek Almer mengangguk berulang kali isyarat mengiyakan apa yang Raka katakan.


“Cucu menantu apakah nanti masuk kelas?” tanya Kakek Almer.


“Untuk hari ini Melinda izin untuk tidak masuk, Kakek,” jawab Melinda.


“Baiklah, Kakek mengerti bahwa kalian ingin menghabiskan waktu bersama. Kalau begitu, Raka kamu antar Kakek kembali ke kamar,” pinta Kakek Almer.


Saat itu juga Raka menuntun Sang Kakek untuk segera masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Kini, hanya Melinda seorang diri yang berada di ruang keluarga dengan televisi yang menyala.


Beberapa menit kemudian.


Raka kembali menghampiri Sang istri yang saat itu tengah fokus menonton televisi acara anak-anak.


“Sayang,” panggil Raka dan perlahan mengecup kening Melinda ketika Sang istri menoleh padanya.


“Kakek sudah masuk ke kamar?” tanya Melinda.


“Sudah. Tadi Kakek langsung baca buku,” jawab Raka dan sekali lagi mengecup kening Melinda.


Melinda tersenyum manis mendapatkan kecupan mesra dari suaminya.


“Sayang, mau sarapan apa setelah ini?” tanya Raka.


“Tidak tahu, sayang. Sepertinya bayi kembar kita tidak terlalu rewel pagi ini,” jawab Melinda dan mengelus-elus perutnya yang buncit.


Raka menundukkan kepalanya mendekati perut buncit Melinda.


“Hei, kalian berdua yang sedang berada didalam perut. Kalian tidak boleh pilah-pilih makanan, kasihan istriku,” ucap Raka kepada si kembar yang tengah dikandung Melinda.


Melinda menjewer telinga suaminya dengan cukup keras mendengar apa yang suaminya katakan kepada bayi kembar mereka yang masih di dalam perut.


“Biarin saja, salah siapa berbicara seperti itu kepada bayi kembar kita,” celetuk Melinda.


“Ya mau bagaimana lagi? Mereka berdua memang cukup nakal,” balas Raka yang tidak mau disalahkan.


Melinda geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya yang mengatakan bayi kembar mereka nakal.


“Terserah suamiku saja, yang penting setelah mereka lahir aku akan menghabiskan banyak waktu dengan si kembar,” pungkas Melinda tersenyum lebar.


“Sayang, kamu harus adil terhadapku juga,” balas Raka dan mendekap tubuh istrinya dengan cukup erat.


Melinda tertawa dalam hati ketika mendapat perlakuan hangat dari suaminya. Tentu saja ia akan selalu adil untuk mereka bertiga, yaitu Sang suami dan dua bayi kembar mereka.


Beberapa saat kemudian.


Usai menikmati sarapan bersama, Raka mengajak Sang istri untuk berjemur menikmati matahari pagi hangat. Melinda yang juga ingin merasakan hangatnya sinar matahari pagi dengan cepat mengiyakan ajakan Sang suami.


Kakek Almer tentu saja ikut bergabung dengan pasangan suami istri tersebut.


“Masya Allah, hangat sekali,” ucap Melinda sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

__ADS_1


Raka tersenyum dan mendekap tubuh istrinya dari belakang.


Sang Kakek yang melihat hal itu memutuskan pergi menjauh karena tidak ingin mengganggu kemesraan keduanya.


“Sayang, jangan terlalu mencolok seperti ini,” tutur Melinda lirih.


“Biarkan saja, lagipula siapa juga yang mau menegur kita berdua. Kalau sampai ada, akan langsung aku pecat,” tegas Raka.


Seketika itu juga para bodyguard maupun pelayan berlari menjauh dari keduanya.


Melinda melongo melihat para bodyguard dan juga pelayan yang berlari terbirit-birit menjauhi mereka.


“Ada apa, Sayang?” tanya Raka yang kembali mendekap tubuh istrinya dari belakang.


Melinda hanya bisa menghela napasnya tanpa ingin menjawab pertanyaan dari suami yang menyebalkan tersebut.


“Sayang.” Raka mencoba memanggil istrinya dengan nada yang lembut nan menggoda ditelinga Sang istri.


“Ada apa, suami menyebalkan?” tanya Melinda dengan ketus.


Raka terkejut dan menuntun istrinya untuk duduk di kursi.


“Aku melakukan kesalahan lagi?” tanya Raka penasaran.


Melinda mengernyitkan keningnya seakan-akan tengah berpikir keras.


Raka yang melihat ekspresi istrinya dengan sabar menunggu jawaban dari Sang istri tercinta.


“Kalau dipikir-pikir dulu suamiku begitu jahat. Apa kedepannya suamiku tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan buruk seperti dulu?” tanya Melinda memastikan.


“Sayang, aku dulu memang salah dan juga bodoh. Aku menyesali perbuatan ku itu. Akan tetapi, sampai detik ini aku akan berusaha untuk selalu menjadikan istriku seorang Ratu,” ungkap Raka dengan begitu serius.


Raka menggenggam erat kedua tangan istrinya dan memohon agar Sang istri bisa percaya padanya. Raka benar-benar mencintai istrinya dan Raka begitu menyesali perbuatannya yang telah lalu.


Melinda tersenyum kecil melihat wajah suaminya yang sangat serius dengan apa yang suaminya katakan.


“Sayang, kalau kamu belum mempercayai apa yang aku katakan tidak masalah. Aku akan berusaha dan terus berusaha untuk menjadi suami sekaligus orang tua yang baik untuk keturunan kita nanti,” tutur Raka.


Mata Melinda berkaca-kaca melihat wajah suaminya ditambah tatapan suaminya yang penuh dengan cinta. Saat itu juga Melinda memeluk suaminya dan menangis haru atas apa yang telah suaminya lakukan untuk mendapatkan cintanya.


“Maaf ya sayang, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Tolong percayalah padaku,” pinta Raka.


Melinda hanya mengangguk kecil dengan terus memeluk erat suaminya.

__ADS_1


Raka tersenyum lebar dan tak lupa mengucap syukur karena Allah telah mengirimkan seorang istri yang begitu baik, cantik sekaligus sabar seperti Melinda Anandi.


__ADS_2