Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 96


__ADS_3

1 jam kemudian.


Melinda dan Raka memutuskan untuk bersantai di ruang keluarga, sembari menunggu kedatangan Sang Kakek. Keduanya sampai sekarang, belum juga tahu bahwa Almer Arafat telah tiba dan sedang beristirahat di kamar.


“Mas Raka mau minum apa? Mau kopi, jus atau teh?” tanya Melinda menawarkan diri membuatkan minuman untuk suaminya itu.


“Kalau boleh merepotkan, aku ingin jus buah naga,” tutur Raka.


Melinda tersenyum kecil mendengar penuturan dari Raka padanya.


“Kamu kalau tersenyum seperti ini terlihat sangat cantik,” puji Raka pada senyum cantik Melinda.


“Haa?” Melinda seketika itu menjadi salah tingkah karena pujian dari Sang suami padanya.


“Mas Raka, saya permisi ke dapur,” ucap Melinda buru-buru meninggalkan suaminya di ruang keluarga.


Melinda terlalu gugup dan hampir menabrak sebuah guci keramik berukuran cukup besar.


“Astaghfirullah,” ucap Melinda sembari memegang guci keramik yang hampir saja jatuh.


Dua pelayan wanita yang tak sengaja melihat Melinda hampir jatuh, saat itu juga mendekat untuk memastikan bahwa Nona Muda mereka baik-baik saja.


“Nona Muda baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya salah satu pelayan untuk memastikan kondisi Melinda.


“Saya baik-baik saja, Mbak,” jawab Melinda dan kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Di dapur, Melinda tak langsung membuatkan jus buah naga yang suaminya inginkan. Wanita muda itu malah menata hatinya terlebih dahulu karena sangat grogi ketika mengetahui bahwa suaminya memuji dirinya.


“Apakah perkataan Mas Raka tadi serius? Apakah aku terlihat cantik?” Melinda bertanya-tanya dan berharap bahwa ucapan suaminya bukanlah kebohongan.


Raka duduk seorang diri di sofa ruang keluarga dan betapa terkejutnya Raka ketika melihat sosok Kakek tua yang tengah berdiri sembari tersenyum padanya.


“Kakek! Kapan Kakek tiba? Kenapa tidak memberitahukan Raka dan juga Melinda?” tanya Raka yang masih dengan ekspresi terkejut.


Almer terkekeh kecil sembari berjalan mendekat pada cucu kandungnya.


“Kakek sengaja tidak memberitahukan kalian berdua. Oya, dimana cucu menantu Kakek? Apakah masih tidur di kamar?” tanya Almer penasaran.


Ketika Almer mendaratkan bokongnya tepat disamping Raka, saat itu juga Raka memeluk tubuh Kakek kandungnya dengan cukup erat.

__ADS_1


”Kakek, sebaiknya Kakek tidak boleh berpergian ke luar negeri lagi. Kakek sudah tua dan Kakek harus banyak istirahat,” pungkas Raka.


“Kamu ini ya, Kakek bertanya mengenai istrimu dan kamu malah menceramahi Kakek yang sudah banyak pengalaman ini,” tutur Almer pada


Raka.


“Kakek, Raka bukan bermaksud untuk menceramahi Kakek. Lagipula Kakek tahu sendiri, bahwa keluarga Raka kini hanyalah Kakek. Dan soal Melinda, Melinda sedang berada di dapur,” terang Raka yang terlihat sangat sayang pada kakeknya. Meskipun, keduanya seringkali berdebat dan juga bertengkar.


Disaat yang bersamaan, Melinda datang dengan membawa segelas jus buah naga spesial untuk Sang suami.


“Kakek!” Melinda terkejut dan cepat-cepat meletakkan gelas tersebut ke atas meja. Kemudian, ia mendekat dan mencium punggung tangan Kakek dari Sang suami.


“Apa kabar mu, Cucu menantu? Apakah suamimu menyulitkan mu?” tanya Almer sembari melirik kearah Raka yang duduk tepat disampingnya.


“Mas Raka bukan pria yang seperti itu, Kakek. Justru, Mas Raka banyak membantu Melinda,” jawab Melinda dengan malu-malu.


Raka tersenyum tipis mendengar jawaban Melinda yang berpihak padanya.


“Benarkah? Kakek curiga dengan kalian berdua,” ujar Almer dan tertawa lepas ketika melihat ekspresi sepasang suami istri yang nampak tak terima dengan perkataan Almer.


“Kakek, apa Kakek ingin bila kami terus bertengkar?” tanya Raka yang mulai kesal dengan Kakeknya itu.


“Benarkah?” tanya Raka memastikan sembari menatap tajam Kakeknya.


“Kakek, tolong jangan memarahi Mas Raka,” ujar Melinda dan tiba-tiba teringat dengan sosok Ayahnya.


Melinda saat itu menangis dihadapan Almer dan juga Raka.


“Maaf, tidak seharusnya saya begini. Saya permisi,” ujar Melinda dan melenggang pergi berharap bisa segera melupakan kesedihannya itu.


Saat Raka ingin pindah ke kursi rodanya, Almer dengan cepat mencegah cucu kandungnya itu.


“Kamu mau kemana? Kamu duduklah disini. Melinda butuh waktu sendiri dan dia akan kembali kemari kalau sudah agak tenang,” pungkas Almer.


Raka hanya bisa mengangguk patuh dan berharap agar Melinda bisa secepatnya tenang.


Melinda berjalan ke arah tempat dimana ia sering duduk santai. Dimana lagi kalau bukan di area kolam renang.


Wanita muda itu duduk sembari menghapus air matanya.

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak boleh menangis seperti ini,” ujar Melinda bermonolog sembari menghapus air matanya.


Melinda bangkit dari kursi dan memutuskan untuk kembali berkumpul dengan suami serta Kakek di ruang keluarga.


“Maaf,” ucap Melinda sembari mendaratkan bokongnya di samping Sang suami.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Raka memastikan.


“Iya, Mas Raka. Saya baik-baik saja,” jawab Melinda.


Untuk mencairkan suasana di ruang keluarga, Almer memilih untuk menceritakan mengenai dirinya di Singapura dan bagaimana Indri kewalahan karena bekerja di restauran milik Almer.


“Kakek, apakah Mbak Indri akan baik-baik saja disana?” tanya Melinda setelah mendengar keterangan dari Almer.


“Oh, tentu saja. Bagaimanapun, dia disana Kakek gaji dan akan lebih baik lagi bila dia di Singapura dengan kurun waktu yang cukup lama,” pungkas Almer.


“Melinda, Kakek melakukan hal itu juga demi kebaikan dia. Lagipula, kalau dia terus disini ditakutkan ada banyak masalah yang berdatangan,” ujar Raka pada Melinda.


Melinda mengangguk kecil dengan apa yang dikatakan suaminya. Meskipun, dalam hatinya ia juga kasihan dengan Indri yang sedang berada di Singapura.


“Kalian sudah makan?” tanya Almer yang tiba-tiba ingin makan.


“Kakek lapar? Mau Melinda buatkan sesuatu?” tanya Melinda yang bersiap-siap ingin memasak makanan sesuai dengan permintaan Almer.


“Cucu menantu tidak perlu repot-repot. Pelayan sudah menyiapkan makanan, ayo kita sama-sama makan!” Almer beranjak dari duduk dan mengajak cucu serta cucu menantunya untuk segera pergi ke ruang makan.


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya berkumpul di ruang makan dan segera menyantap makanan yang telah dihidangkan.


Usai makan bersama, Raka dan Almer memutuskan untuk berbincang-bincang di ruang kerja Raka. Melinda yang tak mengerti dan tidak ingin tahu tentang perbincangan keduanya, memilih menyendiri di ruang keluarga sembari menonton televisi.


“Kakek dan Mas Raka sedang membahas masalah penting. Kalau begitu, aku duduk saja disini sembari menunggu Mas Raka,” ucap Melinda bermonolog.


Melinda mengambil remote control dan mencari saluran televisi yang cukup menarik untuk ditonton.


Sekitar 3 menit Melinda mencari acara televisi yang menurutnya bagus, Melinda akhirnya beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk berdiam diri di dalam kamar.


“Mbak, saya mau ke kamar. Kalau Mas Raka tanya, bilang saja saya di kamar,” tutur Melinda.


“Baik, Nona Muda,” balas pelayan

__ADS_1


tersebut.


__ADS_2