
Usai menikmati makan bersama, Almer harus kembali ke kantor karena ada rapat mendadak. Seharusnya Raka lah yang pergi, akan tetapi sebagai Kakek yang baik, Kakek tua itulah yang menggantikan posisi Raka pada saat itu.
“Kakek, Raka ikut ya,” ucap Raka yang ingin menemani Kakeknya itu pergi untuk mengikuti rapat.
“Kamu di rumah saja, temani istrimu,” balas Almer yang ingin bila Raka tetap di rumah menemani Melinda.
“Kakek, Melinda tidak apa-apa di rumah sendirian. Akan lebih baik bila Mas Raka ikut rapat,” tutur Melinda.
“Baiklah, kalau memang itu keinginan cucu menantu,” balas Almer yang menurut dengan perkataan cucu menantu.
“Kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Raka memastikan keinginan istrinya itu.
“Mas Raka, rapat itu sangatlah penting. Saya akan menunggu Mas Raka dan Kakek,” jawab Melinda.
Raka akhirnya mengiyakan dan saat itu juga Melinda membawa suaminya masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian Sang suami tercinta.
Tak butuh waktu lama, Raka dan Kakek pun pergi meninggalkan Melinda.
Melinda tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya ke arah mobil yang perlahan pergi keluar dari area halaman rumah.
Saat Melinda berbalik badan, senyum manisnya tiba-tiba sirna begitu saja. Sejujurnya, Melinda sangat penasaran dengan isi surat yang ditulis oleh Luna untuk Raka.
Nona Luna sepertinya masih menyukai Mas Raka. (Batin Melinda)
Disaat yang bersamaan, Indri yang berada di Singapura sudah tidak tahan lagi menjadi pelayan restoran milik Almer Arafat. Indri ingin sekali kembali ke Indonesia dan menguasai seluruh harta warisan milik Almer Arafat.
“Sial*n, tidak seharusnya aku berada disini. Aku harus segera kembali ke Indonesia dan merebut kembali harta suamiku,” ucap Indri yang saat itu tengah berada di toilet.
Saat Indri tengah berada di toilet, tiba-tiba pintu digedor. Indri terkejut dan secepat mungkin keluar dari toilet.
“Hei, kamu buta atau apa?” tanya Indri sembari mendorong pundak wanita dihadapannya yang beberapa detik lalu menggedor pintu toilet.
Wanita itu hanya merespon perkataan Indri dengan tatapan sinis.
“Dasar gila,” ucap Indri dan kembali dengan pekerjaan yaitu mencuci alat makan.
Entah sampai kapan ia harus mendapatkan hukuman dari Almer Arafat.
🌷
Melinda menatap langit-langit kamar dengan tatapan sedih, wanita muda itu tiba-tiba merasakan kesendirian yang teramat sangat menyedihkan.
__ADS_1
“Ayah, Ibu. Apakah kalian sedang melihat Melinda disini? Melinda merindukan kalian Ayah dan Ibu,” ucap Melinda.
Sekuat apapun Melinda menahan diri untuk tak menangis, tetap saja dirinya menangis bila teringat dua sosok yang begitu berharga di hidupnya.
“Tidak. Kamu tidak boleh menangis, Melinda. Kamu harus kuat, kesedihanmu hanya boleh dirasakan olehmu sendiri dan jangan sampai orang lain tahu, terutama suamimu,” ujar Melinda pada dirinya sendiri.
Melinda menghapus air matanya dan memutuskan untuk menggenakan piyama berwarna kuning.
Selang beberapa menit, pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar kamar. Melinda menoleh sekilas ke arah jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Melinda mengira bahwa yang mengetuk pintu kamar adalah pelayan dan tanpa berpikir panjang lagi, Melinda bergegas membuka pintu kamar tersebut.
“Mas Raka,” ucap Melinda dengan ekspresi terkejut.
Melinda seketika itu tersenyum lebar menyambut kedatangan Sang suami.
“Apakah kamu sudah tidur?” tanya Raka yang sebenarnya tahu bahwa Melinda belum juga tidur.
Saat Melinda hendak menjawab pertanyaan suaminya, Reza lebih dulu pamit untuk pulang kerumahnya.
“Tuan Muda dan Nona Muda, saya permisi,” ucap Reza undur diri.
Raka mengangguk kecil pada Reza yang akan pulang ke rumah.
“Sudah jam segini, kenapa kamu belum tidur? Apakah kamu sengaja menungguku?” tanya Raka.
Melinda tersenyum malu-malu mendapat pertanyaan Sang suami.
“Kamu tidak perlu menjawab, melihat senyummu saja sudah sangat jelas bahwa kamu memang menungguku. Maaf, telah membuatmu menahan kantuk,” ucap Raka meminta maaf.
“Mas Raka tidak perlu meminta maaf, lagipula akan lebih nyenyak bila tidur ditemani oleh Mas Raka,” pungkas Melinda dengan tatapan penuh cinta.
“Kamu ini,” tutur Raka dan meminta Melinda untuk lebih dekat padanya.
Melinda menunduk dan saat itu juga Raka mencium pipi istrinya dengan lembut.
“Ayo, bantu suamimu mengganti pakaian. Setelah itu kita berisitirahat!”
“Baik, Mas Raka,” balas Melinda dan membantu suaminya melepaskan pakaian.
Ketika Melinda baru saja selesai membantu suaminya mengganti pakaian, ponsel Melinda tiba-tiba berbunyi.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Raka penasaran.
“Ratna,” jawab Melinda dan menerima sambungan telepon dari sahabatnya.
Melinda seketika itu panik ketika mendengar suara tangis dari sahabatnya.
“Ratna, kamu kenapa? Ada apa?” tanya Melinda panik.
Melinda terkulai lemas saat itu juga ketika mengetahui bahwa Nenek dari Ratna telah meninggal dunia.
“Ada apa, Melinda?” tanya Raka yang panik karena Melinda jatuh begitu saja.
Air mata Melinda mengalir dengan cukup deras. Ia bangkit dan meminta izin untuk segera pergi ke rumah Ratna.
“Mas Raka, izinkan saya keluar malam ini. Nenek sahabat saya telah meninggal dunia,” ujar Melinda dengan terus meneteskan air matanya.
“Aku ikut,” sahut Raka yang ingin menemani istrinya.
Melinda mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tertutup.
Melinda dan Raka keluar dari lift. Almer yang baru saja keluar dari ruang kerjanya terkejut melihat sepasang suami istri yang telah berpakaian rapi.
“Kalian mau kemana? Kenapa cucu menantu terlihat sedih?” tanya Almer yang nampak sangat bingung.
“Kakek, Nenek dari sahabat Melinda telah meninggal dunia,” tutur Raka.
“Tunggu, Kakek juga ingin ikut bersama kalian. Tunggu sebentar,” ucap Almer dan perlahan berjalan menuju kamarnya.
Melinda merasa sangat kasihan dengan sahabatnya itu. Entah bagaimana caranya Ratna untuk melanjutkan kehidupannya setelah Nenek yang selama ini merawat Ratna meninggalkan dunia untuk selamanya.
Ratna pasti sangat kesepian. Ya Allah, berikanlah Ratna kebahagiaan secepat mungkin Ya Allah. Kasihan Ratna, dia adalah wanita yang sangat baik, cucu yang baik dan juga sahabat yang baik. (Batin Melinda)
“Melinda, jangan tunjukkan kesedihan mu itu di depan sahabatmu. Dia pasti akan semakin sedih,” ujar Raka pada istrinya.
“Iya, Mas Raka. Terima kasih sudah mengingatkan saya,” tutur Melinda dan berusaha untuk tak menangis.
Selang beberapa menit, Kakek dari Raka telah berganti pakaian. Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil menuju kediaman Ratna.
“Mas Raka,” ucap Melinda yang memegang erat jemari tangan istrinya.
“Tenanglah, Ratna butuh kamu dan kamu tidak boleh bersedih di depannya,” tutur Raka mengingatkan Sang istri untuk tidak menangis dihadapan Ratna.
__ADS_1
“Saya akan berusaha semampu saya, Mas Raka,” balas Melinda yang semakin mempererat genggamannya itu.