Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 83


__ADS_3

Melinda hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya. Perasaannya sudah sangat kecewa dengan kelakuan Ibu tirinya yang ternyata membohongi dirinya.


“Kenapa diam? Apakah kamu ingin memaafkan Ibu tirimu itu?” tanya Raka ketika melihat Melinda yang hanya diam tak bersuara sedikitpun.


“Mas Raka, apakah saya termasuk wanita bodoh yang dulu pernah Mas katakan? Apa saya benar-benar wanita lemah yang dulu sering Mas Raka ucapkan berulang kali ketika saya dilanda kebingungan?” tanya Melinda yang sedikit kesal karena pertanyaan suaminya seakan-akan memojokkan dirinya yang tidak bisa membalas perlakuan Ibu tirinya, Dina.


Raka menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Melinda segera mendekat padanya.


Melinda pun berjalan perlahan mendekati suaminya yang saat itu sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Duduklah, kenapa kamu berdiri?” tanya Raka meminta istrinya untuk duduk agar lebih dekat dengannya.


Melinda mengangguk kecil dan mematuhi apa yang suaminya katakan.


“Dengarkan aku baik-baik dan aku harap kamu mengerti apa maksud dari perkataan ku ini. Begini, bagaimana jika Ibu tirimu dan adikmu itu melakukan hal yang lebih kejam lagi dari ini? Kamu boleh memaafkan mereka. Akan tetapi, kamu tidak boleh hanya diam dan mengalah seperti ini. Karena kalau kamu terus seperti ini, yang ada kamu malah terus-menerus ditindas oleh mereka dan perlu kamu ketahui, aku sebagai suamimu tak rela bila istriku diperlakukan seperti itu,” ungkap Raka dan perlahan membelai lembut rambut panjang Melinda yang diikat menyamping.


Melinda menatap suaminya tanpa berkedip sedetikpun. Perkataan Raka seketika itu membuatnya sadar bahwa apa yang suaminya katakan memanglah benar. Dan juga, Melinda merasa bahwa apa yang suaminya katakan adalah bentuk dari perhatian Sang suami padanya.


Melinda meneteskan air mata bahagia karena merasa bahwa kini ia tidak sendirian. Ternyata, ada Sang suami yang begitu perhatian terhadap dirinya.


“Hei, kenapa menangis? Apa ucapan ku tadi membuatmu tersinggung?” tanya Raka yang merasa bersalah.


Raka menghapus air mata istrinya dengan jemari tangannya. Raka menghapus air mata istrinya secara perlahan dan dengan tatapan yang lagi-lagi membuat Melinda semakin mencintai sosok suaminya.


“Mas Raka, terima kasih,” ucap Melinda yang semakin deras meneteskan air matanya.


Raka semakin panik dan juga bingung. Istrinya mengucapkan terima kasih kepadanya. Akan tetapi, bukannya berhenti menangis sang istri malah semakin histeris.


“Sudah jangan menangis, kamu jangan membuatku nampak seorang suami yang jahat,” ujar Raka mencoba membuat Melinda berhenti menangis.


Melinda terkekeh kecil mendengar Raka berbicara hal yang tentu saja menggelitik perut.


Raka ikut tertawa melihat bagaimana Melinda tertawa kecil seperti itu.

__ADS_1


“Apa kamu sudah baik-baik saja?” tanya Raka memastikan.


Melinda mengangguk kecil dan kembali mengucapkan terima kasih karena suaminya telah berhasil menghibur hatinya.


Raka menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin mendengar istrinya yang terus-menerus mengucapkan terima kasih kepadanya.


“Mas Raka, saya tidak tahu lagi ingin berkata apa. Akan tetapi, penjelasan Mas Raka tadi telah membuat saya mengerti bahwa saya tidak sendirian,” ujar Melinda dan saat itu juga Melinda mencoba untuk menghubungi Ibu tirinya yang telah membohongi dirinya mengenai Sang Ayah yang masuk rumah sakit.


Melinda mencoba menghubungi Dina. Akan tetapi, nomor telepon Dina sedang diluar jangkauan alias sedang tidak aktif.


“Ada apa?” tanya Raka pada Melinda yang terlihat bingung.


“Nomor Ibu Dina sedang diluar jangkauan, Mas Raka,” jawab Melinda dan kembali menghubungi Ibu tirinya itu.


Melinda terus-menerus menghubungi nomor telepon tersebut. Akan tetapi, nomor yang dituju sedang berada diluar jangkauan.


“Kalau tidak bisa, coba kamu hubungi anak manja itu,” tutur Raka yang sangat malas bila menyebut nama Katty.


“Anak manja? Maksud Mas Raka adalah Katty?” tanya Melinda memastikan.


“Katty memang seperti itu, Mas Raka. Meskipun begitu, Katty tetaplah adik saya,” balas Melinda yang masih bersikap baik terhadap Katty.


“Ya memang benar. Kalian satu Ayah beda Ibu,” jelas Raka.


Raka meminta Melinda untuk segera melupakan apa yang terjadi karena beberapa jam lagi mereka harus bangun untuk sahur bersama. Melinda yang memang sudah mengantuk, akhirnya memutuskan untuk segera tidur bersama dengan suaminya di ranjang yang sama.


Mas Raka, apakah sampai sekarang Mas Raka belum memiliki perasaan untukku? Seandainya aku bisa mengatakannya malam ini, apakah Mas Raka akan mempercayai perkataan ku bahwa aku memang mencintainya? (Batin Melinda)


“Aku perhatikan, dari tadi kamu menatapku. Apa ada yang ingin kamu sampaikan kepada ku, Melinda?” tanya Raka penasaran.


Melinda tersenyum canggung dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Kecuali, bagian kepala yang sengaja tidak ia tutupi.


“Tidak ada, Mas Raka,” jawab Melinda yang terlihat sangat tingkah dengan pertanyaan suaminya.

__ADS_1


“Benarkah? Aku kira kamu ingin mengatakan sesuatu hal yang penting. Karena sedari tadi aku perhatikan, sepertinya kamu tadi sedang berpikir dengan sangat serius,” pungkas Raka yang penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.


“Saya sedang tidak memikirkan apa-apa Mas Raka. Boleh saya tidur duluan?” tanya Melinda dan berakting seakan-akan ia mengantuk.


“Sepertinya kamu sangat mengantuk. Kalau begitu, kami tidurlah duluan,” sahut Raka yang ternyata belum ingin tidur.


“Kenapa Mas Raka bilang begitu? Mas Raka tidak ingin segera tidur?” tanya Melinda penasaran.


“Aku nanti saja, kamu tidurlah duluan,” jawab Raka dan kembali membuka buku yang sebelumnya dibaca oleh Raka.


Melinda mengangguk kecil dan memutuskan untuk segera tidur. Akan tetapi, sebelum Melinda benar-benar tidur, Melinda lebih dulu mengucapkan selamat malam kepada suaminya.


Raka tersenyum kecil dan membalas ucapan selamat malam dari sang istri.


Tak butuh waktu lama, Melinda akhirnya terlelap sembari tidur dengan posisi menyamping. Berhadapan langsung ke arah suaminya yang ternyata sedang memandangi dirinya.


Istriku ini cepat sekali tidurnya. (Batin Raka)


Raka bergeser menggerakkan tubuhnya secara perlahan untuk lebih dekat dengan istrinya dan hal tak terduga pun terjadi. Raka tiba-tiba mencium kening Melinda secara perlahan dan untungnya saja Melinda tidak menyadari hal tersebut.


Raka menyentuh bibirnya sendiri dan berpikir bahwa apa yang ia lakukan adalah keinginan yang muncul begitu saja pada dirinya.


Rasanya aku sudah hampir gila kalau terus-menerus seperti ini. Apakah aku harus mengungkapkan perasaan ku ini kepada Melinda? (Batin Raka)


Raka menutup mulutnya rapat-rapat dan kembali menggerakkan tubuhnya ke posisi semula.


Melinda tiba-tiba bangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Saat itu, Raka menjadi salah tingkah karena mengira bahwa Melinda tahu apa yang telah Raka lakukan pada istrinya itu.


“Maaf, bukan maksudku seperti itu,” ucap Raka meminta maaf.


Melinda yang setengah sadar hanya menatap suaminya dengan tatapan terheran-heran.


“Mas Raka sedang mimpi ya?” tanya Melinda sembari turun dari tempat tidur.

__ADS_1


Raka menghela napasnya karena ternyata Melinda tidak tahu apa yang telah Raka lakukan padanya.


__ADS_2