Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 116


__ADS_3

Ketika baru saja memasuki dapur, Raka meminta para pelayan untuk segera pergi meninggalkan dirinya dan Sang istri yang tentu saja ingin berdua-duaan di dapur.


Para pelayan dengan cepat pergi meninggalkan sepasang suami istri tersebut.


Melinda hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya.


“Jangan menatapku seperti itu, sayang. Kamu membuatku takut,” ucap Raka yang membuat Melinda bergidik geli dengan perkataan suaminya.


“Sayang, jangan berkata seperti itu,” pinta Melinda sembari menoleh ke arah sekitar barangkali masih ada pelayan yang berdiri didekat mereka.


“Kamu mencari siapa? Mereka tentu saja sudah pergi,” pungkas Raka.


Melinda tersenyum kecil dan membuka lemari pendingin untuk mengambil alpukat.


“Sayang, aku ingin jusnya lebih kental dari biasanya ya,” pinta Raka.


“Siap, sayang!” seru Melinda.


Saat Melinda tengah sibuk menghaluskan alpukat dengan blender. Indri datang dan berdiri tidak jauh dari Raka.


Raka sama sekali tidak tahu, karena pria itu begitu fokus memperhatikan bagaimana Sang istri sibuk dengan alpukat tersebut.


Setelah Melinda selesai menuangkan jus alpukat ke dalam gelas, Indri dengan penuh semangat menyapa keduanya.


“Hei Raka, hei Melinda!” Indri tanpa rasa malu menyapa keduanya.


Melinda maupun Raka menoleh sekilas ke arah Indri.


“Melinda, bolehkah aku meminta sedikit jus alpukat yang kamu buat itu?” tanya Indri.


Raka dengan kesal menatap tajam Indri.


“Bukankah kamu punya tangan? Kenapa tidak kamu buat sendiri saja?” tanya Raka dengan sangat sinis.


Indri mengernyitkan keningnya dengan ekspresi terkejut. Ia tak menyangka Raka mengatakan hal yang membuat hatinya seakan-akan teriris pisau.


“Kenapa masih diam?” tanya Raka setengah membentak.


Melinda buru-buru memberikan segelas jus alpukat kepada suaminya meminta suaminya untuk mencicipi jus alpukat tersebut.


Indri hanya bisa gigit jari mengetahui bahwa kehadiran sama sekali tak dianggap oleh Raka.

__ADS_1


Dulu kamu pernah memiliki rasa untukku. Hanya karena wanita kampungan itu, ruang untukku di hatimu sudah tidak ada lagi. (Batin Indri)


Raka tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih atas jus alpukat tersebut.


“Bagaimana, apakah kurang kental?” tanya Melinda.


“Ini pas dan aku sangat suka. Terlebih lagi, aku menyukai sosok yang membutuhkan jus alpukat ini,” jawab Raka yang malah menggoda Sang istri.


Melinda tertawa malu-malu dan memutuskan untuk segera meninggalkan dapur.


“Kakek mau kemana berpakaian rapi di waktu pagi seperti ini?” tanya Raka yang berpapasan dengan Sang Kakek.


“Kakek ada urusan penting,” jawab Almer.


Raka ingin sekali menemani Kakeknya itu. Akan tetapi, Sang Kakek malah meminta Raka untuk tetap di rumah menemani Melinda sekaligus mengawasi gerak-gerik Indri yang berada di rumah. Mau tak mau Raka pun mengiyakan dan Sang Kakek pergi bersama dengan sopir.


“Reza, kamu aku tugaskan pergi ke kantor. Temani lah Kakek!” perintah Raka yang saat itu berbicara melalui sambungan telepon.


Setelah Reza mengiyakan, Raka langsung mematikan sambungan telepon.


“Sayang, lebih baik kita menghabiskan waktu di dalam kamar saja. Suamimu ini tidak ingin melihat Nenek sihir berkeliaran di rumah ini,” ucap Raka sembari melirik sekilas ke arah Indri yang nampak berdiri tak jauh dari mereka.


“Baik, sayang,” balas Melinda dan bergegas membawa suaminya ke kamar.


Dikamar.


“Sayang, apakah kamu tahan dengan kehadiran Indri di rumah ini?” tanya Raka penasaran.


“Sayang, kenapa tanya begitu? Selama Mbak Indri tidak macam-macam, tentu saja tidak menjadi masalah. Lagipula, Mbak Indri berhak untuk tetap tinggal disini,” jawab Melinda.


“Tidak. Wanita itu tidak berhak sama sekali atas rumah ini. Rumah ini adalah peninggalan Kakek dan Kakek tidak akan memberikan kepada siapapun,” ungkap Raka.


Melinda tidak ingin bertanya apapun, lagipula hal seperti itu sangat sensitif untuk dibahas.


“Sayang, kita nonton TV ya,” ucap Melinda dan mencari remote control untuk menyalakan televisi.


“Boleh,” balas Raka yang sangat tanggap terhadap suasana mereka berdua.


Indri merasa tak tenang, ia ingin sekali bertahan untuk terlihat baik di rumah itu. Akan tetapi, rasanya begitu sulit karena para pelayan di rumah itu sama sekali tak menghargainya. Meskipun, ada beberapa pelayan yang masih takut menatap langsung mata Indri.


“Lebih baik aku berdiam diri di dalam kamar saja kalau begini ceritanya,” ucap Indri bermonolog.

__ADS_1


Indri masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Berulang kali ia berusaha memikirkan cara untuk menyingkirkan Melinda dari rumah itu secara elegan.


Malam hari.


Indri mengeluarkan obat yang ia beli ketika berada di Singapura. Obat itu dosisnya cukup keras dan bagi yang meminumnya lebih dari dua sendok, dapat dipastikan akan mengalami mual-mual. Hebatnya dari obat itu tidak berwarna dan juga tidak berbau, hal itu membuat Indri nampak senang.


Baiklah, sekarang waktunya untukku menuangkan ini ke dalam minuman wanita kampungan itu. (Batin Indri)


Ketika Indri baru selesai menuangkan obat tersebut, Melinda tak sengaja melihatnya. Melinda tersenyum kecil dan memilih berpura-pura tak melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Indri terhadap minuman Melinda.


Oh, jadi begini caramu membuatku kenapa-kenapa. Baiklah, aku pun akan bermain cantik dengan mu. (Batin Melinda)


“Mbak Indri,” ucap Melinda menyapa Indri seakan-akan dirinya baru tiba di ruang makan.


Indri tak banyak bicara, wanita itu hanya tersenyum dan izin untuk ke kamar mandi.


Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Melinda. Melinda dengan gerakan cepat menukar gelasnya dengan gelas milik Indri.


“Kita lihat saja, sebenarnya ada apa dengan air itu,” ujar Melinda bermonolog.


Melinda buru-buru menukar posisi gelas miliknya dengan gelas Indri. Melinda tahu bahwa Indri memasukkan sesuatu ke dalam minumnya.


Beberapa menit kemudian.


Mereka berkumpul termasuk Indri yang terlihat bersemangat karena Melinda akan merasakan mual-mual yang cukup parah efek samping dari obat yang ia beli ketika berada di Singapura.


“Ayo, kita makan bersama,” ucap Almer setelah melafalkan niat makan bersama.


Raka dan Melinda nampak bahagia ketika berada di meja makan. Begitu juga dengan Sang Kakek yang ikut bahagia ketika melihat kedekatan sepasang suami istri yang duduk di hadapannya.


Makanlah yang banyak dan segeralah minum air itu. Kamu akan merasakan mual yang cukup parah hingga kamu lebih memilih mati daripada harus merasakan mual-mual yang tak tertahankan. (Batin Indri)


Indri tersenyum lebar ketika melihat Melinda menghabiskan air minumnya. Senyum Indri membuat Melinda tertawa dalam hatinya karena yang kena batunya adalah Indri sendiri.


“Ah, segarnya,” ucap Indri yang telah meminum air miliknya dengan penuh semangat.


Setelah selesai makan, Indri cepat-cepat meninggalkan ruang makan. Ia tidak ingin melihat kejadian yang sebentar lagi akan membingungkan seluruh penghuni rumah keluarga Arafat.


“Saya permisi,” ucap Indri.


Indri bersenandung kecil ketika memasuki kamarnya. Ia pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur sembari terus bersenandung karena perasaannya saat itu benar-benar gembira.

__ADS_1


“Ok, sebentar lagi pertunjukan dimulai. Aku orang pertama yang harus bertepuk tangan atas penyakit wanita kampungan itu,” ucap Indri bermonolog.


__ADS_2