
Keesokan paginya.
Raka pamit untuk pergi ke perusahaan karena ada beberapa urusan penting yang harus Raka selesaikan. Raka akan kembali sebelum jam 11 siang karena jam 2 siang Raka dan Sang istri akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus melakukan program bayi kembar.
“Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Jangan kemana-mana dan tetap di rumah,” ucap Raka sebelum masuk ke dalam mobil.
“Sayang, istrimu ini tidak akan kemana-mana. Tetap di rumah menunggu suami pulang,” balas Melinda.
“Aku berangkat ya sayang, assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam sayang, hati-hati ya sayang,” balas Melinda dan mencium punggung tangan suaminya sebelum Sang suami masuk ke dalam mobil.
Raka pun akhirnya pergi meninggalkan Melinda.
Melinda tersenyum dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Disaat yang bersamaan, Luna sedang merias wajahnya karena pagi itu ia memutuskan untuk mendatangi kediaman keluarga Arafat. Luna mengira bahwa Raka ada di rumah dan kesempatan bagi dirinya untuk mengambil hati mantan kekasihnya itu.
“Okay, karena aku sudah sangat sempurna, sekarang waktunya aku pergi menemui Kak Raka,” ucap Luna bermonolog.
Luna melenggang pergi keluar dari kamar hotel dan bergegas pergi menemui Raka Arafat.
“Cepat, bawa aku pergi ke rumah kediaman keluarga Arafat yang kaya itu!” perintah Luna pada sopir yang ia pekerjakan selama dirinya berada di Jakarta.
“Baik, Nona Luna,” balas sopir pribadi tersebut.
🌷
Melinda duduk seorang diri sembari menatap genangan air di dalam kolam, Melinda tersenyum manakala membayangkan dirinya mengandung buah hatinya bersama dengan Sang suami tercinta.
“Semoga saja keinginan Mas Raka dan juga aku bisa terwujud,” ucap Melinda bermonolog.
Saat melinda ingin menyeruput teh hangat miliknya, salah satu pelayan berlari kecil menghasilkan dirinya.
“Ada apa, Mbak?” tanya Melinda sembari meletakkan cangkir teh yang sebelumnya ia diminum oleh Melinda.
__ADS_1
“Begini Nona Muda, di depan ada seorang wanita,” ucap pelayan itu yang tidak ingin menyebut nama Luna.
“Wanita? Siapa Mbak?” tanya melinda sembari beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk segera menemui wanita yang dimaksud oleh pelayan.
Melinda berjalan menuju ruang tamu dan cukup terkejut ketika melihat seorang wanita yang tak lain adalah mantan kekasih dari suaminya.
“Loh, kamu ternyata masih disini ya?” tanya Luna yang nampak tak senang ketika melihat Melinda muncul dihadapannya.
“Maksud kamu apa ya? Datang bertamu dan malah berbicara tidak sopan seperti itu?” tanya Melinda.
Setelah banyak hal yang sudah dilalui Melinda, Melinda tidak ingin lagi terlihat lemah. Terlebih lagi, dirinya adalah istri dari Raka Arafat. Sementara wanita dihadapannya adalah kekasih masa lalu suaminya yang sampai detik ini belum bisa melupakan hubungan masa lalu bersama Sang suami.
“Dimana Kak Raka? Panggil Kak Raka untuk datang menemui ku!” pinta Luna mendesak Melinda untuk memanggil Raka agar datang padanya.
“Untuk apa ingin bertemu dengan suamiku? Sekarang, lebih baik kamu pergi dari sini dan saya tegaskan kepada mu untuk tidak pernah datang kemari,” tegas Melinda dengan kata lain Melinda mengusir Luna dari rumah tersebut.
“Berani ya kamu mengusir wanita cantik seperti saya? Siapa kamu seenaknya mengusir saya di rumah Kak Raka?” tanya Luna menantang Melinda.
Luna bahkan mendaratkan bokongnya di sofa dan duduk menyilang seakan-akan ia adalah pemilik dari rumah tersebut.
“Tolong, biarkan masalah wanita ini saya saja yang selesaikan!” pinta Melinda.
Luna tersenyum kecut melihat sikap Melinda.
“Cukup berani juga ya kamu,” ucap Luna kepada Melinda.
“Ayo, ikut saya!” pinta Melinda dan berjalan menuju area kolam renang.
Luna tak ingin kalah, ia pun berjalan mengikuti Melinda.
“Sekarang kita sudah disini, katakan apa sebenarnya maksud kedatangan kamu kemari!” pinta Melinda.
“Seharusnya, tanpa aku mengatakan kamu sudah tahu dong alasan kedatangan ku kemari,” ucap Luna dengan santai.
“Apakah kamu sedikitpun tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku dan suamiku kini sudah bahagia? Kami saling mencintai satu sama lain, sudah banyak hal yang kami lalui bersama. Tidak bisakah kamu menerima fakta bahwa kami saling mencintai dan kini telah bahagia?” tanya Melinda kepada Luna.
__ADS_1
Luna sama sekali tak ingin mendengar apa yang Melinda katakan. Baginya Raka adalah miliknya dan tetap menjadi miliknya.
“Kenapa diam? Apa kamu masih dan tetap ingin mengharapkan suamiku?” tanya Melinda pada Luna yang terlihat tak terima dengan yang Melinda katakan.
“Ya, tentu saja. Aku sama sekali tidak percaya bahwa kalian berdua saling mencintai dan bahagia. Karena yang ku tahu, Kak Raka itu bahagianya sama aku dan bukan sama kamu,” tegas Luna.
“Kalau kamu ingin mendengar sendiri mengenai hal ini dari mulut suamiku, sepertinya tidak bisa. Karena suamiku tidak ada di rumah,” tutur Melinda.
“Oh begitu, kalau begitu kamu telpon Kak Raka dan minta Kak Raka datang kemari. Kalau kalian memang saling mencintai, Kak Raka pasti akan langsung datang kemari,” pungkas Luna.
Luna sangat yakin, bahwa Raka tidak akan datang. Karena Luna tahu bahwa apa yang Melinda katakan hanyalah kebohongan belaka.
“Bagaimana kalau suamiku benar-benar datang ketika aku memintanya untuk datang kemari?” tanya Melinda.
“Kalau memang begitu, aku akan menyerah dan tak mengganggu kalian lagi,” ucap Luna.
Melinda nampak terkejut dengan apa yang dikatakan Luna.
Melihat ekspresi wajah terkejut Melinda, Luna seketika itu tertawa lepas.
“Kamu kira aku semudah itu? Dasar bodoh,” ucap Luna dan kembali tertawa, Luna menertawakan kebodohan Melinda.
“Tertawalah sesuka mu, Luna. Aku harap kamu tidak akan menangis setelah mendengar penolakan langsung dari suamiku,” ucap Melinda kepada Luna.
“Kita lihat saja nanti ketika Kak Raka datang kemari. Kak Raka pasti akan mengatakan bahwa apa yang kamu katakan adalah kebohongan. Dan yang pasti, Kak Raka akan langsung memilihku. Bisa jadi, perlakuan Kak Raka padaku beberapa bulan yang lalu itu karena Kak Raka khilaf,” pungkas Luna yang masih percaya bahwa Raka akan memilih dirinya.
Melinda meminta salah satu pelayan untuk mengambil ponselnya di kamar. Melinda tak sabar ingin menghubungi suaminya dan melihat reaksi suaminya ketika berhadapan langsung dengan Luna.
Selang beberapa menit, seorang pelayan wanita datang dengan membawa ponsel milik Melinda.
“Terima kasih Mbak, maaf merepotkan,” ucap Melinda.
“Tidak sama sekali, Nona Muda,” balasnya dan melenggang pergi menjauh.
Luna tersenyum kecut dan meminta Melinda untuk segera menghubungi Raka.
__ADS_1
Perlu diketahui, Luna belum tahu bahwa Raka telah berjalan normal. Entah apa jadinya bila Luna tahu bahwa Raka telah kembali berjalan normal seperti sediakala.