
“Hei, aku benar-benar lupa bahwa sedang berpuasa,” ungkap Raka yang sungguh lupa jika dirinya tengah berpuasa.
Reza geleng-geleng kepala, sepertinya Tuan Mudanya itu sangat marah dengan kedatangan Luna. Ditambah, Luna datang dan langsung memeluk erat tubuh Tuan Mudanya itu.
“Iya, Tuan Muda. Saya tahu,” tutur Raka dengan setengah membungkuk.
“Ingat baik-baik perkataan ku ini. Jangan sampai hal yang terjadi beberapa saat yang lalu diketahui oleh istriku,” pungkas Raka meminta asisten pribadinya untuk tutup mulut.
“Baik, Tuan Muda. Saya akan menutup mulut rapat-rapat, seakan-akan hal yang tadi itu tidak pernah terjadi,” sahut Reza dan undur diri keluar dari ruang kerja Tuan Mudanya dan akan kembali masuk, bila Tuan Mudanya itu memintanya untuk masuk ke dalam.
“Kau mau kemana? Tetaplah di ruangan ku!” perintah Raka agar Reza tetap berada didekatnya.
Reza dengan lantang mengiyakan perintah Tuan Mudanya dan berdiri tepat disamping Tuan Mudanya.
“Apa yang kamu lakukan? Menjauh lah dariku!” perintah Raka yang tidak ingin bila asisten pribadinya berdiri dekat dengannya.
“Lalu, saya harus berada dimana, Tuan Muda?” tanya Reza yang tiba-tiba bingung harus melakukan apa karena ucapan Tuan Mudanya yang terdengar plin-plan tidak seperti biasanya.
“Duduklah di sofa dan jangan pergi kemanapun sebelum aku memberi perintah,” tegas Raka tanpa ada ekspresi ramah sedikitpun.
“Baik, Tuan Muda,” jawab Reza dan melangkahkan kakinya menuju sofa.
Raka menghela napasnya dan fokus dengan berkas-berkas yang tengah menunggu persetujuan darinya.
Disaat yang bersamaan, Melinda tengah berada di dalam kamar dan tengah beristirahat. Wanita muda itu ingin sekali bisa tidur sejenak untuk melepaskan rasa ngantuk yang tengah ia rasakan.
Melinda akhirnya terlelap dalam tidurnya dan berharap dengan ia tidur, rasa ngantuk yang melanda dirinya segera hilang.
30 menit kemudian.
Melinda terbangun dari tidurnya dengan senyum bahagia. Wanita muda itu tiba-tiba teringat dengan kisah lucu saat suaminya masih kecil.
“Mas Raka,” ucap Melinda yang menyebutkan nama suaminya.
Melinda melirik sekilas ke arah jam di dinding dan perlahan bangkit dari tidurnya untuk turun dari tempat tidur.
__ADS_1
Wanita muda itu memilih untuk keluar dari kamar. Akan tetapi, sebelum keluar dari kamar, Melinda terlebih dahulu menyegarkan wajahnya dengan air.
“Segarnya,” ucap Melinda bermonolog ketika baru saja menyentuh wajahnya yang basah.
Melinda pun keluar dari kamar mandi dan memutuskan untuk melenggang pergi dari kamar tidur tersebut.
“Nona Muda butuh sesuatu?” tanya salah satu pelayan ketika Melinda baru saja keluar dari lift.
Melinda menggelengkan kepalanya, ia sedang tidak membutuhkan apapun. Yang ia inginkan saat itu adalah bersantai di dekat kolam renang.
“Mbak, saya tidak membutuhkan apapun. Lagipula, hari ini saya sedang berpuasa. Saya permisi mau ke kolam renang,” ujar Melinda dengan senyum manisnya.
Melinda pun kembali melanjutkan langkahnya dan setibanya di kolam renang, ternyata ada Almer yang sedang duduk-duduk seorang diri di kursi yang biasa diduduki oleh suaminya dan juga dirinya.
“Kakek,” ucap Melinda menyapa Kakek tua itu.
Almer menoleh ke sumber suara dan tersenyum lebar ketika tahu bahwa yang menyapanya adalah cucu menantu kesayangannya.
“Cucu menantu, duduklah disini,” sahut Almer dan mempersilakan Melinda untuk duduk.
Melinda tersenyum dan cepat-cepat mendaratkan bokongnya tepat disamping Kakek dari suaminya.
“Cucu menantu tidak perlu khawatir. Beberapa hari lagi, Kakek pasti sudah sembuh dan bisa kembali berpuasa seperti yang sebelum-sebelumnya,” jawab Almer dengan senyum lebarnya, seakan-akan dirinya tidaklah sakit.
🌷
Sore hari.
Melinda berulang kali melirik ke arah jam di dinding. Wanita muda itu kelihatannya sedang menunggu kedatangan suaminya yang belum juga kembali, padahal waktu berbuka tidak kurang dari 2 jam lagi.
“Kemana Mas Raka? Bukankah Mas Raka akan pulang sebelum waktu berbuka puasa? Akan tetapi, ini sudah jam segini dan Mas Raka belum juga memberi kabar apakah akan pulang ataukah tidak,” ujar Melinda bermonolog.
Suara ketukan pintu terdengar, Melinda terkesiap dan cepat-cepat membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamar tersebut.
“Mbak,” ucap Melinda yang kecewa karena ternyata yang mengetuk pintu adalah pelayan rumah dan bukannya Sang suami.
__ADS_1
“Nona Muda, Tuan Besar sedang menunggunya Nona Muda di ruang keluarga,” ujar pelayan tersebut, menyampaikan pesan dari Almer.
“Baik, Mbak. Sebentar lagi saya akan turun untuk menemui Kakek,” balas Melinda dan kembali menutup pintu kamar rapat-rapat.
Melinda mengganti pakaiannya dan bergegas turun untuk menemui Almer yang ternyata sengaja menunggu dirinya di ruang keluarga.
“Kakek menunggu Melinda?” tanya Melinda memastikan bahwa Almer memanglah menunggu dirinya.
“Iya, Kakek menunggu cucu menantu. Ada yang ingin Kakek tanya kepada cucu menantu dan Kakek berharap Cucu menantu menjawab pertanyaan Kakek dengan sejujur-jujurnya.
Melinda tersenyum canggung karena penasaran dengan pertanyaan Kakek dari suaminya itu.
“Kalian telah menikah lebih dari enam bulan. Kalau boleh tahu, apakah cucu menantu sudah mulai memiliki rasa kepada Cucu kandung Kakek?” tanya Almer yang sangat serius ingin mendengar jawaban langsung dari cucu menantunya itu.
Melinda dengan malu-malu mengangguk mengiyakan. Yang artinya bahwa ia telah memiliki perasaan untuk suaminya, Raka Arafat. Cucu kandung dari Almer Arafat.
Almer bernapas lega, Kakek tua itu sangat senang hingga tak bisa berkata-kata lagi. Ia menepuk sekilas bahu Cucu menantunya dengan mata berkaca-kaca.
Melinda merasa sangat senang karena akhirnya bisa memberitahukan kepada Almer bahwa dirinya telah menyukai sosok suaminya yang dulu sering membuatnya menangis.
Salah satu pelayan berjalan menghampiri Almer dan juga Melinda. Kedatangan pelayan wanita itu ke ruang keluarga adalah untuk memberitahukan bahwa Raka telah kembali.
Melinda bangkit dari duduknya dan berlari kecil meninggalkan Almer begitu saja untuk menyambut kedatangan suaminya yang baru saja tiba.
“Mas raka.” Melinda berlari kecil ke arah suaminya dengan perasaan penuh cinta sekaligus penuh semangat.
“Jangan berlarian seperti anak kecil,” ujar Raka ketika Melinda sedang mencium punggung tangannya.
“Maafkan saya, Mas Raka. Saya hanya tidak ingin terlambat untuk menyambut kedatangan Mas Raka,” jawab Melinda.
Raka tersenyum kecil mendengar jawaban dari Melinda.
“Apa kamu sudah memasak menu berbuka puasa nanti?” tanya Raka penasaran.
“Mas Raka tenang saja, saya sudah memasak menu berbuka puasa yang cukup banyak dan tentu saja kebanyakan menu makanan yang saya buat adalah makanan kesukaan Mas Raka,” pungkas Melinda.
__ADS_1
“Benarkah? Memangnya kamu tahu tentang makanan kesukaan ku?” tanya Raka penasaran.
Melinda dengan malu-malu mengangguk kecil. Tentu saja Melinda tahu karena sebelumnya telah menanyakan hal tersebut kepada Almer Arafat, Kakek dari suaminya.