
Beberapa hari kemudian.
Hasil autopsi almarhum Ayah dari Melinda telah keluar dan dugaan Raka sebelumnya akhirnya terbukti. Bambang meninggal dunia karena kelaparan dan juga racun yang diberikan oleh Dina maupun Katty.
Mengetahui kenyataan itu, Melinda menangis histeris dan meminta agar Sang suami segera menangkap ibu tirinya serta Katty.
Raka tentu saja tidak tinggal diam, ia melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib dan meminta mereka untuk secepatnya menangkap kedua wanita yang telah membunuh Ayah dari istrinya.
“Hiks... Hiks...” Melinda menangis sedih dan merasa kasihan dengan kematian Ayahnya.
Raka dan Almer mencoba menenangkan Melinda yang tengah terpuruk. Akan tetapi, Melinda tetap saja menangis dan meminta waktu seorang diri di dalam kamar.
“Melinda, apa kamu harus bersikap begini?” tanya Raka yang ingin berada di samping Sang istri.
“Mas Raka, tolong tinggalkan saya seorang diri di kamar ini. Beri saya waktu untuk menenangkan diri,” tutur Melinda.
“Raka, turuti saja kemauan istrimu. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menenangkan diri,” ujar Almer dan membawa cucu kandungnya keluar dari kamar.
Kini Melinda seorang diri di dalam kamar, wanita muda itu mencoba untuk tak menangis. Melinda percaya jika dirinya terus-menerus menangis, meratapi kepergian Sang Ayah, kedua orang tuanya di surga pasti akan sedih. Untuk itu, Melinda mencoba untuk tidak menangis dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.
“Ibu Dina dan Katty harus mendapatkan hukuman atas apa yang telah mereka lakukan kepada Ayah. Semoga mereka segera tertangkap dan segera menebus dosa-dosa mereka,” ujar Melinda.
Melinda merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Mungkin dengan cara itu dirinya bisa melupakan kesedihan yang sangat mendalam.
Malam hari.
Kabar penangkapan Dina dan Katty akhirnya didengar oleh Melinda. Saat itu juga Melinda mengucap syukur dan berharap agar Dina maupun Katty segera bertaubat atas apa yang telah mereka lakukan kepada Ayah kandungnya.
“Melinda, apakah kamu ingin menemui mereka berdua?” tanya Raka.
“Tidak, Mas Raka. Saya tidak ingin semakin membenci mereka. Sampai detik ini, saya sedang berusaha menata hati agar tidak memiliki dendam untuk Ibu dan juga Katty,” terang Melinda.
“Kalau itu keinginan cucu menantu ya sudah, mau bagaimana lagi? Malam ini biar Kakek dan Raka yang pergi ke kantor polisi,” sahut Almer.
Melinda mengangguk pasrah dengan apa yang Almer katakan padanya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Raka dan kakeknya pergi untuk menemui dua pelaku pembunuhan Ayah kandung dari Melinda.
Melinda berlari kecil masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan sholat isya, dikarenakan ia belum melaksanakan sholat isya padahal malam itu telah menunjukkan pukul 23.15 WIB.
Usai melaksanakan sholat isya, Melinda mengadukan dirinya kepada Sang pencipta alam semesta.
“Ya Allah, apakah ini sudah takdir yang Engkau tetapkan untuk hamba? Ya Allah, jika memang seperti ini tolong kuatkan hati dan juga iman hamba. Maafkanlah dosa-dosa hamba, mendiang kedua orang tua hamba Ya Allah,” ucap Melinda dengan berlinang air mata.
🌷
Kantor polisi.
Raka dan juga Sang Kakek telah tiba di kantor polisi tempat dimana Dina serta Katty ditahan.
“Reza, cepat bawa aku ke dalam. Aku ingin bertemu dengan dua wanita gila itu,” ujar Raka pada asisten pribadinya.
“Baik, Tuan Muda,” sahut Reza.
Kedatangan mereka disambut oleh beberapa anggota polisi dan ternyata Almer kenal dengan anggota polisi tersebut.
“Kalian, kenapa datang kemari?” tanya Dina dengan berteriak.
“Pergi!” Katty berteriak keras ketika melihat Raka dan juga Almer.
“Diam!” Raka ikut berteriak dan membuat Dina serta Katty menjadi sangat takut hingga mereka menunduk ketakutan.
Raka sangat marah dengan tindakan bodoh yang telah keduanya lakukan. Gara-gara Ibu dan anak dihadapannya, Sang istri kini menjadi yatim piatu.
“Kalian tidak akan aku biarkan hidup tenang. Penjara adalah tempat yang sangat cocok untuk kalian,” tegas Raka.
Dina dan Katty saat itu juga menangis histeris. Mereka bukannya menyesal telah membunuh Bambang, mereka malah sedih karena karena harus mendekam di penjara dalam kurun waktu yang sangat lama.
Setelah mengatakan kalimat itu, Raka pun pergi dengan kursi rodanya. Sementara Almer, masih ingin berbicara dengan dua wanita tersebut.
“Bawa aku masuk ke dalam mobil!” perintah Raka.
__ADS_1
“Baik, Tuan Muda,” balas Reza dan membantu Tuan Mudanya masuk ke dalam mobil.
Beberapa menit kemudian.
Almer pun masuk ke dalam mobil dan sepertinya Almer sangat marah setelah berbicara dengan dua wanita yang sudah mendekam di penjara.
“Kakek tidak seharusnya berlama-lama berbicara dengan pembunuh seperti mereka,” ucap Raka pada Sang Kakek yang sudah duduk tepat disamping.
“Raka, sekarang kamu tahu bagaimana menderitanya Melinda selama ini. Kakek tidak minta banyak darimu, akan tetapi Kakek sangat ingin bila kamu memperlakukan istrimu sebaik mungkin. Jujur saja, Kakek sangat kasihan dengan istrimu, Melinda,” ungkap Almer yang tiba-tiba meneteskan air matanya, air mata kesedihan.
“Kakek tidak perlu khawatir. Raka akan berusaha untuk menjadi suami yang baik bagi Melinda dan Raka akan melindungi Melinda selamanya,” terang Raka.
Mobil pun melaju menuju rumah dengan kecepatan sedang.
Di rumah, Melinda terlihat sangat berantakan. Wanita muda itu masih saja menangis dan berharap bahwa semua penderitaan yang ia alami segera berakhir.
“Mbak, tolong keluarlah dari kamar ini. Saya ingin sendirian saja di kamar,” pinta Melinda karena dua orang pelayan wanita masih berada di kamar.
“Nona Muda, jangan menangis terus-menerus. Tuan Besar dan juga Tuan Muda pasti akan sangat sedih bila Nona Muda menangis terus-menerus seperti ini,” ucap salah satu pelayan kepada Melinda.
“Mbak, saya ingin menenangkan diri. Tolong tinggalkan saya,” pinta Melinda yang tengah berbaring membelakangi dua pelayan wanita.
“Baik, Nona Muda. Kami permisi,” ucap mereka berdua.
Melinda menggigit bibirnya menahan diri untuk tidak menangis. Rasanya seperti dunia sedang tidak berpihak padanya.
“Allah telah mengambil kedua orangtuaku. Dan sekarang, aku benar-benar telah menjadi yatim piatu,” ujar Melinda lirih.
Melinda memejamkan matanya dan memeluk guling miliknya dengan sangat erat. Wanita muda itu berusaha untuk tidak menangis lagi karena kepalanya terasa sangat pusing.
Perlahan wanita muda itu akhirnya tertidur. Mungkin dengan cara seperti itu, ia bisa melupakan kesedihannya atas hidupnya yang malang.
“Kasihan sekali Nona Muda, Ayahnya meninggal dibunuh oleh ibu tirinya dan juga adik tirinya,” ucap salah satu pelayan kepada pelayan yang lain.
“Ssuuuttss, kita tidak usah membahas ini. Bagaimana kalau Nona Muda mendengarnya? Apakah kalian ingin membuat Nona kita semakin sedih?” tanya pelayan wanita yang lain.
__ADS_1