Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 60


__ADS_3

“Kakek, maaf karena keluarga Melinda seperti ini,” ucap Melinda sedih dan merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi.


“Cucu menantu, untungnya cucu menantu menjadi istri di rumah ini. Pasti cucu menantu sangatlah lelah memiliki keluarga seperti mereka,” balas Almer yang semakin menyayangi Cucu menantunya itu.


Melinda hanya bisa menunduk malu mendengar apa yang Kakek tua itu katakan. Sejak kematian Ibu kandungnya, Melinda mendapatkan perlakuan kasar dari Dina dan juga Katty. Bahkan, sang Ayah dulunya merupakan sosok Ayah yang baik dan pengertian, tiba-tiba berubah menjadi acuh tak acuh kepadanya.


“Cucu menantu tidak usah sedih. Ada Kakek dan suamimu yang sangat menyayangi Cucu menantu. Sekarang Cucu menantu pergilah ke ruang keluarga untuk mengobati bekas tamparan itu,” tutur Almer.


Raka menghampiri istrinya di ruang keluarga dengan dibantu oleh asisten pribadinya.


“Apa yang kamu lakukan? Tidak bisakah kamu melawan wanita itu? Kalau dia menampar mu, kamu haruslah berbalik menamparnya dan bukan diam begitu saja,” tutur Raka mengomeli istrinya.


Raka sangat geram dengan istrinya yang lemah tak berdaya seperti itu. Yang Raka inginkan adalah seorang istri yang pemberani dan bukan seorang istri yang penakut.


“Mas Raka silakan memarahinya saya sepuas yang Mas Raka ingin. Apapun itu, saya siap mendengarnya,” balas Melinda yang pasrah dengan kemarahan suaminya itu.


“Sial,” celetuk Raka yang sangat kesal.


Raka mengusir dua pelayan yang ingin mengobati wajah Melinda agar segera meninggalkan ruang keluarga, begitu juga dengan Reza yang berdiri tepat di belakang Tuan Mudanya.


Kini, di ruang keluarga hanya ada Raka dan juga istrinya.


“Aku tidak ingin memiliki istri yang lemah sepertimu. Kalau kamu terus-menerus lemah seperti ini, lebih baik perceraian kita diputuskan segera mungkin,” pungkas Raka mengancam Melinda yang sedang menahan sakit pada pipinya yang terasa bengkak.


“Maafkan saya, Mas Raka,” balas Melinda lirih.


“Aku paling benci jika ada orang yang meminta maaf terus-menerus tanpa ada rasa menyesal sama sekali. Bisakah kamu berubah menjadi pemberani?” tanya Raka dengan sangat lantang.


“Mas Raka tidak perlu khawatir. Saya akan lebih berani dan lebih tegas lagi kepada keluarga saya,” tegas Melinda.


“Aku pegang kata-kata mu itu. Sekarang mendekat lah, biar aku obati wajahmu itu,” pinta Raka.


Melinda mengubah posisi duduknya agar berdekatan dengan Sang suami. Dan saat itu juga, Raka perlahan mengoleskan salep ke wajah Melinda dengan sangat hati-hati.


Jantung Melinda kembali berdebar-debar tak karuan. Raka yang terkenal dingin, galak dan juga angkuh. Ternyata, memiliki sisi lain yang begitu hangat.


Melinda tanpa sadar tersenyum memandangi wajah Raka yang begitu dekat dengannya.


Raka menjadi salah tingkah ketika Melinda malah memandangi wajahnya. Karena terlalu gugup, Raka pun meminta Melinda untuk mengoleskan salep itu ke wajah Melinda sendiri.


Melinda nampak terkejut sekaligus agak kecewa karena Raka tiba-tiba kembali berubah menjadi dingin.


“Reza!” panggil Raka agar asisten pribadinya segera datang padanya.


Reza berlari secepat mungkin menghampiri Tuan Mudanya yang sedang berada di ruang keluarga.


“Iya, Tuan Muda.”

__ADS_1


“Cepat bawa aku pergi ke kamar. Aku ingin beristirahat sejenak, sebelum makan siang bersama,” ujar Raka yang ingin cepat-cepat pergi dari ruangan tersebut.


Melinda hanya bisa diam dengan terus memandangi suaminya yang perlahan pergi hingga tak terlihat lagi.


Dengan hati-hati, Melinda mengoleskan wajahnya sendiri dengan salep. Ternyata, tamparan Ibu tirinya sangatlah kuat, sehingga tamparan dari telapak tangan Ibu tirinya tercetak jelas.


“Tentu saja Kakek dan Mas Raka marah atas apa yang Ibu Dina lakukan. Seharusnya, Ibu Dina tidak nekad seperti tadi,” ucap Melinda bermonolog.


🌷


Ruang makan.


Almer, Raka Melinda dan juga Reza sedang menikmati makan siang mereka di ruang makan. Mereka berempat tak berbicara sepatah katapun dan fokus menikmati makanan yang dimasak oleh Melinda.


Melinda merasa sedikit tak nyaman dengan suasana yang begitu dingin. Melinda berpikir, bahwa diamnya Suami serta Kakek dari suaminya adalah bentuk dari kemarahan mereka.


“Uhuk... Uhuk...” Karena terlalu banyak berpikir, Melinda sampai tersedak dengan makanannya sendiri.


“Minumlah.” Raka menyodorkan segelas air minum kepada Melinda yang tengah tersedak.


Melinda mengangguk kecil dan meneguk segelas air minum itu sampai habis tak tersisa. Melinda terlalu gugup sehingga ia mengalami hal seperti itu.


“Kakek sudah kenyang,” ucap Almer dan melenggang pergi tanpa senyum yang biasa ia perlihatkan kepada Raka maupun Melinda.


Untuk pertama kalinya, Almer sama sekali tak tersenyum dan membuat Melinda semakin tak enak hati.


Reza yang sudah selesai makan, bergegas meninggalkan meja makan tersebut.


“Lihatlah, gara-gara keluargamu yang aneh itu, Kakek sampai marah seperti ini. Sekarang, kamu harus pikirkan cara agar Kakek bisa kembali tersenyum lagi,” ucap Raka pada Melinda yang duduk tepat disampingnya.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut kepada Melinda, Raka pun pergi dan menggerakkan kursi rodanya meninggalkan Melinda yang masih duduk mematung di kursi meja makan.


Melinda mencoba mengatur napasnya yang agak berantakan dan setelah merasa cukup tenang, Melinda memutuskan untuk menemui Almer.


“Mbak, Kakek ada dimana?” tanya Melinda pada salah satu pelayan.


“Sepertinya Tuan Besar ada di ruangannya,” jawab pelayan tersebut.


Melinda melangkah dengan langkah lebar menuju ruang kerja Almer.


Melinda mengetuk pintu terlebih dahulu dan akan masuk bila diizinkan oleh Almer Arafat.


Almer tahu bahwa itu adalah Melinda, cucu menantunya. Almer pun mempersilakan Melinda untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Kakek, apakah Kakek masih marah pada Melinda?” tanya Melinda.


“Marah kepada Cucu menantu? Tentu saja tidak, cucu menantu. Kakek sedang mencoba untuk bersabar sekaligus menenangkan pikiran Kakek yang sedikit tak karuan ini. Intinya, Kakek tidak marah kepada Cucu,” ungkap Almer.

__ADS_1


“Kalau Kakek memang tidak marah dengan Melinda, bisakah Kakek tersenyum kembali?”


Almer tertawa mendengar pertanyaan cucu menantunya yang cukup menggelitik perut.


Raka yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Kakeknya, cukup tercengang dengan apa yang istrinya lakukan.


“Raka, lihatlah istrimu ini. Sangat lah lucu dan juga menggemaskan,” ucap Almer memuji Melinda pada Raka yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja tersebut.


Raka mengangguk setuju mendengar Sang Kakek memuji istrinya.


Lumayan juga wanita ini. Tidak biasanya Kakek cepat reda amarahnya dan baru kali ini aku melihat Kakek yang langsung ceria kembali. (Batin Raka)


“Raka, sebaiknya kamu dan Cucu menantu beristirahatlah di kamar. Cucu menantu saat ini butuh tidur agar cepat sembuh,” tutur Almer.


Raka mengiyakan dan meminta istrinya untuk membantu mendorong kursi rodanya menuju kamar.


”Mas Raka, tolong maafkan saya,” pinta Melinda berharap ucapannya dapat membuat Raka mau memaafkan dirinya.


“Cukup. Bukankah sudah sering kukatakan, aku paling tidak suka bila ada orang yang terus meminta maaf. Akan tetapi, tidak ada usaha atau keinginan untuknya merubah menjadi lebih baik,” terang Raka.


Melinda tiba-tiba merasa pusing dan hampir saja jatuh. Untungnya, Raka dengan sigap menarik tubuh Melinda ke pangkuannya.


“Maafkan saya, Mas Raka. Ini terjadi karena saya belum sempat minum obat,” terang Melinda sembari turun dari pangkuan Raka.


”Pelayan!” Raka berteriak memanggil para pelayan untuk segera datang padanya.


Tak butuh waktu lama, para pelayan datang dengan napas terengah-engah.


”Kalian, bantu Istriku masuk ke dalam kamar!” perintah Raka.


Setibanya di dalam kamar, Melinda langsung dibawa ke tempat tidur Raka. Kemudian, Raka meminta para pelayan untuk segera meninggalkan kamar miliknya.


“Kamu kenapa?” tanya Raka yang kali ini tidak protes kepada Melinda yang telah memakai tempat tidurnya.


“Saya tidak apa-apa, Mas Raka. Mungkin darah saya yang belum juga normal,” jawab Melinda.


“Kalau sudah tahu memiliki riwayat darah rendah, seharusnya kamu lebih menjadi pola makan. Terlebih lagi, konsumsilah makanan atau buah-buahan yang bisa menambah darah,” terang Raka.


“Iya, Mas Raka. Nanti setelah beristirahat saya akan minum jus jambu,” balas Melinda.


“Jus Jambu? Apakah kamu menambahkan es pada jus jambu yang akan kamu minum?” tanya Raka penasaran.


“Tentu saja tidak, Mas Raka. Saya tidak terlalu suka mengonsumsi es,” jawab Melinda dan tertawa kecil.


Raka lagi-lagi menjadi salah tingkah dengan tawa Melinda yang entah kenapa terdengar sangat merdu ditelinga Raka Arafat.


“Berhenti. Sebaiknya kamu beristirahat segera mungkin. Aku tidak ingin kamu berlama-lama di tempat tidurku. Karena tempat tidurmu adalah di sofa dan bukan di ranjang milikku,” ucap Raka memperjelas tempat tidur mereka masing-masing.

__ADS_1


“Kalau begitu, saya akan pindah dan tidur di sofa,” balas Melinda dan mencoba beranjak dari ranjang empuk tersebut.


“Berhenti, aku bilang berhenti dan tetap disitu,” tegas Raka yang tidak ingin bila Melinda malah pingsan secara tiba-tiba.


__ADS_2