
Almer yang sedang berada di depan rumah sembari memperhatikan burung Lovebird kesayangannya terkejut manakala mobil milik Cucunya memasuki halaman rumah.
“Apa apa ini?” tanya Almer terheran-heran dengan terus menatap mobil dihadapannya yang baru saja berhenti.
Raka menghela napasnya dan menoleh ke arah Melinda yang baru saja bangun dari tidur.
“Lihatlah, sudah ada Kakek yang menyambut kedatangan kita. Aku tidak mau tahu, kamu harus menyelesaikan masalah ini dengan baik. Jangan sampai aku memberitahukan fakta bahwa kamu telah bermain api di belakangku,” tegas Raka.
Almer semakin penasaran karena tidak ada satupun dari mereka yang keluar dari mobil.
Saat Almer ingin mengetuk pintu kaca mobil, Melinda tiba-tiba turun dengan senyum manisnya.
“Haa? Ada apa ini? Kenapa sudah pulang padahal bulan madu kalian belum selesai.” Almer menatap Melinda dengan penuh tanya.
“Assalamu’alaikum, Kakek. Maafkan kami Kakek, karena tidak memberitahu Kakek,” ucap Melinda dan mencium punggung tangan Kakek dari suaminya, Raka.
Reza turun dari mobil dan membantu Tuan Mudanya turun agar bisa segera duduk di kursi roda.
“Raka, apa-apaan ini? Bukankah waktu kalian masih ada beberapa hari lagi? Kenapa kalian sudah pulang padahal masih ada waktu untuk kalian berbulan madu?”
“Kakek, ini bukan keinginan Mas Raka. Ini keinginan Melinda, menurut Melinda bulan madu kami sudah cukup dan kondisi tubuh Melinda ternyata tidak cocok dengan udara dingin di puncak,” terang Melinda.
“Benarkah begitu?” tanya Almer memastikan.
“Iya, Kakek. Ngomong-ngomong, tadi Kakek belum menjawab salam dari melinda.”
“Ya Allah, Kakek sampai lupa. Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mari masuk.” Almer merangkul lengan cucu menantunya dan menuntunnya masuk ke dalam.
Raka benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Sepertinya Kakek sudah tertipu dengan sikap palsunya. Aku sebagai orang waras, harus lebih berhati-hati lagi. (Batin Raka)
Reza mendorong kursi roda Tuan Mudanya masuk ke dalam. Sementara, beberapa pelayan mengambil barang-barang yang berada di dalam mobil untuk diletakkan kembali ke tempat semula dan pakaian kotor akan langsung dicuci bersih.
“Cucu menantu, apakah perlu Kakek panggil dokter?” tanya Almer yang sangat perhatian dengan cucu menantunya itu.
“Kakek, Cucu Kakek itu sebenarnya Raka atau istri Raka? Apakah Raka memang bukan cucu kandung Kakek?” tanya Raka kesal.
“Kamu ini seperti anak kecil saja. Kamu memang cucu kandung Kakek, tapi Kakek juga menganggap cucu menantu sebagai Cucu kandung Kakek sendiri,” ungkap Almer.
Raka melongo tak percaya mendengar apa yang Kakeknya katakan.
“Ada apa? Apakah kamu lapar? Tutup mulutmu itu, akan ada banyak lalat yang masuk ke dalam mulutmu!”
Raka cepat-cepat menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak ada satupun lalat yang masuk ke dalam mulutnya.
Melinda merasa cukup lega, dengan dirinya kembali ke rumah, itu artinya Raka tidak akan bertindak berlebihan kepadanya. Akan tetapi, Melinda masih ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan berharap suaminya mau mendengarkan penjelasan darinya.
“Kalian pasti belum makan, tunggu sebentar. Kakek akan meminta para pelayan untuk memasak makanan yang banyak.”
__ADS_1
Almer beranjak dari duduknya untuk memberitahukan kepada para pelayan agar segera memasak makanan yang banyak bagi cucu serta cucu menantunya.
“Kakek mau kemana? Biar Melinda saja yang pergi dan memberitahukan mereka,” tutur Melinda yang tidak ingin merepotkan Almer.
“Baiklah, Kakek akan duduk disini,” balas Almer.
Melinda berlari kecil menuju dapur untuk memberitahukan para pelayan agar segera memasak makanan.
“Raka, apakah benar yang dikatakan Cucu menantu?” tanya Almer memastikan kembali.
“Tentu saja benar, Kakek. Raka juga tidak ingin membuat istri Raka sakit, terlebih lagi kami ini adalah pengantin baru,” jawab Raka.
Sialan, aku malah berbohong untuk menutupi kebusukannya bersama dengan pria jelek itu. (Batin Raka)
“Apakah Kakek bisa mendapatkan kabar gembira secepatnya?” tanya Almer mengarah pada calon buah hati Raka dan Melinda.
“Kabar gembira apa, Kek?” tanya Raka tak paham.
Almer terkejut sekaligus kesal dengan pernyataan Raka.
Reza dengan cepat memberi isyarat bibir dengan mengatakan “Bayi”
Raka yang paham seketika itu tersenyum lebar untuk menyembunyikan kebodohannya.
“Oh, maksud Kakek calon cicit Kakek? Sepertinya, kami belum bisa memberikannya secepat itu, Kakek. Kondisi Melinda juga tidak terlalu baik, terlebih lagi kondisi Raka yang lumpuh ini,” ungkap Raka.
“Maafkan, Kakek. Kakek seharusnya lebih mengerti kondisi cucu menantu dan terutama kamu, Raka. Kakek berharap kamu bisa kembali berjalan, tapi apa daya? Dokter telah memvonis bahwa kamu tidak bisa sembuh seperti sedia kala,” jelas Almer dan tiba-tiba menangis dihadapan Cucunya.
Almer sendiri bukan tipe orang yang suka menangis di depan orang lain. Akan tetapi, kali ini Almer tidak bisa membendung kesedihannya ketika tahu bahwa cucunya telah menjadi orang yang cacat untuk selamanya.
“Kakek, Kakek menangis?” Raka tercengang sekaligus terharu melihat Kakeknya yang ternyata bisa menangis.
Bahkan, saat kematian Kakak kandungnya yang tak lain adalah Rafa. Kakeknya tidak mengeluarkan setetes air mata pun. Mungkin, Kakeknya berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapan semua orang dan menangis tanpa diketahui yang lain.
“Kakek berharap kamu dan Cucu menantu bisa saling mencintai satu sama lain. Percayalah Raka, istrimu adalah wanita yang baik. Akan ada saatnya Kakek memberitahukan mengapa kalian berdua Kakek nikahkan,” ujar Almer sembari menghapus air matanya.
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Almer permisi untuk beristirahat di kamarnya sekaligus menenangkan diri.
Setelah Almer benar-benar pergi ke kamarnya, Raka meminta asisten pribadinya untuk mendekat.
“Iya, Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?”
“Apa kau melihatnya? Apa kau melihat bagaimana Kakek menangis untukku? Bahkan, saat Kak Rafa meninggal, Kakek tidak mengeluarkan air matanya. Dan sekarang, Kakek menangis untukku.”
“Iya, Tuan Muda. Saya melihat Tuan Besar menangis,” jawab Reza.
“Kalau begitu, apakah itu bisakah dikatakan bahwa Kakek memang sangat menyayangi aku?”
“Bisa dibilang begitu. Selamat Tuan Muda.” Reza mengucapkan selamat kepada Tuan Mudanya yang telah mendapat kasih sayang dari Tuan Besarnya.
__ADS_1
“Bagaimana ini? Rasanya aku ingin sekali pamer kepada dunia bahwa Kakek ternyata menyayangi ku.”
“Tuan Muda, bukankah itu terlalu berlebihan?”
“Ya, kamu benar sekali. Ya sudahlah, ayo bawa aku ke kamar. Aku ingin berganti baju!” perintah Raka.
Melinda seharusnya beristirahat, dirinya malah memilih membantu para pelayan untuk memasak menu makan siang.
Para pelayan tak berbicara sedikitpun. Mereka terlalu segan sekaligus menghormati sosok Melinda yang telah resmi menjadi istri dari Tuan Muda mereka, Raka Arafat.
Mas Raka pasti sudah berada di kamar. Sebaiknya aku ke kamar sekarang barangkali ada yang Mas Raka butuhkan. (Batin Melinda)
Melinda yang telah membuat bumbu bakar untuk ikan gurame, memutuskan untuk meninggalkan dapur karena harus melayani suaminya.
“Kenapa kemari?” tanya Raka pada Melinda yang baru saja memasuki kamar.
“Mas Raka sudah ganti pakaian? Apakah yang membantunya adalah Mas Reza?” tanya Melinda.
“Apa? Ulangi sekali lagi! Kamu memanggilnya Mas Reza? Berapa banyak pria yang kamu panggil dengan sebutan Mas?” tanya Raka kesal dan tak terima dengan sebutan tersebut.
“Maksud Mas Raka?” tanya Melinda.
“Sudahlah, percuma saja bicara dengan wanita bodoh seperti kamu. Sekarang, kamu keluar dan jangan masuk ke dalam kamar ini!” perintah Raka.
“Mas Raka tidak boleh memperlakukan saya seperti ini. Baiklah, saya akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada saya dan .....”
“Cukup. Aku tidak ingin mendengar penjelasan atau apapun itu mengenai kalian berdua. Kalian berdua sama-sama sampah yang tak berguna.”
“Mas Raka kenapa tidak ingin mendengarkan penjelasan dari saya? Apakah Mas Raka cemburu?” tanya Melinda.
Raka yang sedang berbaring di tempat tidur terkejut mendengar pertanyaan Melinda.
“Cemburu? Untuk apa aku cemburu dengan pria jelek seperti itu. Jelas-jelas aku lebih tampan, kaya dan yang pasti aku lebih seksi,” ucap Raka memuji dirinya sendiri dengan penuh percaya diri.
Melinda mencoba untuk tetap tenang dan perlahan berjalan menghampiri suaminya.
“Mas Raka, saya mohon maafkan saya. Saya sebagai istri mengaku salah dengan kejadian tadi pagi.”
“Itu artinya, kamu telah mengaku bahwa kamu memang selingkuh dengannya?”
“Saya berani bersumpah bahwa saya dan pria itu tidak selingkuh. Lagipula, saya sudah tidak ada perasaan apapun kepadanya. Tolong maafkan saya,” pungkas Melinda.
Raka merasa tersentuh dengan cara Melinda meminta maaf. Meskipun begitu, Raka tidak akan pernah melupakan kejadian beberapa jam lalu ketika melihat kedekatan istri dan juga mantan kekasih istrinya.
“Benarkah? Apakah kamu sudah tidak memiliki perasaan dengan pria jelek itu?” tanya Raka memastikan kembali.
“Saya yakin Mas Raka sudah menemukan jawabannya. Kalau begitu, saya permisi mau ke kamar mandi,” tutur Melinda.
Raka tersenyum tipis dan entah kenapa, penjelasan Melinda cukup membuatnya terhibur.
__ADS_1