
Melinda tak kuasa menatap sepasang mata indah suaminya. Wanita muda itu takut jika dirinya kehilangan kendali dan malah membuatnya terlihat aneh di mata Sang suami.
Karena saking gugupnya, Melinda memutuskan untuk berbalik badan dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Mas Raka, sebaiknya kita tidur. Saya sangat lelah dan ingin segera tidur,” ujar Melinda.
“Benarkah?” tanya Raka memastikan dan sedikit kecewa karena belum puas menatap wajah Sang istri.
Melinda mengangguk kecil dibalik selimut dan Raka hanya bisa menghela napasnya.
“Kamu tidurlah duluan, aku ingin membaca buku sebelum tidur,” balas Raka dan perlahan bergeser sedikit menjauh dari Melinda.
Dibalik selimut, Melinda kembali menangis dan berharap kebenaran mengenai meninggalnya Sang Ayah segera terungkap.
Keesokan pagi.
Raka pagi itu memutuskan untuk tidak bekerja dan tetap berada di rumah menemani Sang istri yang masih dalam suasana berduka.
“Kenapa? Apa masih tidak nafsu makan?” tanya Raka pada Melinda yang belum juga mengisi perutnya dengan makanan.
Pagi itu, mereka berdua sedang berada di ruang keluarga dan tengah duduk berdekatan satu sama lain.
“Mas Raka, saya sedang tidak ingin makan dan tidak nafsu makan,” jawab Melinda apa adanya.
“Sampai kapan kamu seperti ini? Baiklah. Kalau itu keinginan kamu, aku pun tidak akan makan apapun,” tegas Raka.
Melinda saat itu juga menoleh ke arah suaminya.
“Mas Raka kenapa bicara seperti itu? Mas Raka harus makan teratur,” ujar Melinda yang tak setuju dengan keputusan suaminya.
“Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa kamu begitu pintar menasehati orang lain ketimbang diri kamu sendiri?” tanya Raka.
Pertanyaan Raka membuat Melinda bingung harus menjawab apa. Melinda hanya bisa memalingkan wajahnya dari pandangan Raka.
__ADS_1
“Aku sedang berbicara padamu. Sangat tidak sopan bila kamu memalingkan wajahmu dariku,” tutur Raka.
Melinda bangkit dari duduknya karena tidak ingin berbicara dengan Sang suami. Wanita muda itu melenggang pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah Sang suami sedikitpun.
Raka sama sekali tak marah dengan sikap Melinda. Pria itu berusaha untuk memaklumi kesedihan istrinya yang baru saja kehilangan sosok Ayah untuk selama-lamanya.
“Melinda pasti sangat sedih. Sebagai suami, tidak seharusnya aku membuat dirinya semakin sedikit dan juga tertekan,” ujar Raka bermonolog.
Siang hari.
Kondisi kesehatan Melinda kembali menurun karena wanita muda itu belum juga mengisi perutnya dengan makanan. Untungnya Raka peka dan meminta para pelayan untuk segera membawakan makanan ke dalam kamar agar bisa dimakan oleh Sang istri.
“Mas Raka tidak perlu meminta mereka membawa makanan ke dalam kamar. Kalau saya lapar, saya pasti akan mencari makanan sendiri di ruang makan,” ujar Melinda ketika melihat hidangan makanan yang sudah memenuhi meja di dalam kamar mereka berdua.
“Benarkah? Apa mungkin sesederhana itu? Sekarang, kamu harus makan. Sekitar 1 jam lagi, Kakek akan tiba dan aku tidak ingin bila Kakek sampai jatuh sakit karena memikirkan kamu yang tidak ingin makan,” pungkas Raka pada Sang istri.
“Saya akan makan, Mas Raka. Apakah Mas Raka ingin makan bersama dengan saya?” tanya Melinda.
Setelah berjam-jam lamanya, akhirnya Melinda mau makan dan tentu saja membuat pikiran Raka sedikit lebih tenang.
Disaat yang bersamaan, Dina dan Katty sedang sibuk memasukkan pakaian mereka ke dalam koper. Sepertinya mereka akan melakukan perjalanan jauh.
“Mama, apakah kita benar-benar aman? Apakah kepergian kita tidak diketahui polisi?” tanya Katty sembari memasukkan pakaiannya ke dalam koper miliknya.
“Katty, kamu lebih baik diam dan anggap saja kita sedang liburan. Bagaimanapun, para tetangga tidak ada yang tahu bahwa pria tua itu telah meninggal dunia. Pokoknya, hari ini kita harus meninggalkan Jakarta. Kita harus pergi ke tempat yang sangat jauh, hingga tidak ada satupun orang yang mengenali kita. Kamu mengerti yang Mama katakan ini Katty sayang?” tanya Dina.
“Maksud Mama kita pergi meninggalkan Jakarta untuk selama-lamanya? Lalu, bagaimana dengan keinginan Katty yang ingin mendapatkan calon suami kaya raya? Apakah keinginan sekaligus mimpi Katty selamanya tidak pernah tercapai?” tanya Katty yang sangat berat jika harus meninggalkan ibukota Jakarta yang tentu saja banyak orang-orang kaya.
“Katty, kamu pilih kita masuk penjara atau pergi dari sini untuk selamanya?” tanya Dina yang semakin membuat Katty bingung harus bagaimana.
“Mama kenapa harus memberikan pertanyaan yang sangat sulit untuk Katty jawab?” tanya Katty dan merengek seperti anak kecil di hadapan Dina.
“Katty sayang, maafkan Mama ya. Pokoknya, kita harus pergi dari sini saat ini juga. Ayo, kemasi semua pakaian kamu dan secepatnya kita pergi dari rumah ini,” ujar Dina agar putri kesayangannya segera berkemas.
__ADS_1
“Baik, Mama,” balas Katty dan dengan cepat memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
🌷
Almer akhirnya tiba setelah beberapa hari di Singapura untuk mengurus usahanya disana. Setelah mendapat kabar atas meninggalnya Bambang, Almer pun memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta dan ingin melihat kondisi cucu menantu kesayangannya itu.
Kedatangan Almer disambut dengan baik oleh para pelayan dan juga bodyguard yang bekerja di rumah mewah keluarga Arafat.
“Dimana cucu dan cucu menantuku?” tanya Almer ketika baru saja memasuki rumah mewah tersebut.
“Tuan Muda dan juga Nona Muda saat ini tengah beristirahat dikamar, Tuan Besar,” jawab salah satu pelayan.
“Ya sudah, biarkan saja mereka beristirahat. Aku juga harus beristirahat,” pungkas Almer dan melenggang pergi menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Raka dan Melinda tengah terlelap dengan posisi tidur yang saling membelakangi satu sama lain.
Perlahan, Melinda membuka matanya dan turun dari tempat tidur untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokannya. Usai minum segelas air yang sebelumnya berada di atas meja, Melinda pun kembali naik ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak.
“Kenapa?” tanya Raka yang telah membuka matanya.
“Kenapa apanya Mas Raka? Saya masih mengantuk dan ingin kembali tidur,” jawab Melinda dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Wanita ini jelas-jelas tidak bisa tidur dan berpura-pura ingin kembali tidur. Seandainya rasa sedihnya bisa aku hilangkan, apakah wanita ini akan tersenyum seperti sediakala? Ah, tidak. Kalau benar begitu, aku adalah suami yang sangat egois.
Raka yang juga tak bisa tidur, memutuskan untuk kembali membaca buku miliknya yang beberapa malam terakhir sering dibaca oleh Raka Arafat.
“Mas kenapa tidak tidur?” tanya Melinda ketika mendengar lembaran kertas yang dibaca oleh suaminya.
“Sebentar lagi,” jawab Raka yang terus membaca buku dengan menggunakan tulisan berbahasa Inggris.
“Mas Raka, kapan hasil autopsi Ayah keluar?” tanya Melinda penasaran.
“Kamu tenang saja, aku pasti akan memberitahukan kamu mengenai hasil autopsi almarhum Ayahmu,” jawab Raka sembari melirik ke arah punggung Sang istri.
__ADS_1