
Melinda melirik sekilas ke arah suaminya dan ingin mendengar jawaban suaminya mengenai pesan dari Sang Kakek agar keduanya tidur di apartemen.
“Baiklah, aku dan Melinda akan tidur di apartemen,” sahut Raka dengan santai.
Melinda seketika itu menoleh ke arah suaminya.
“Mas Raka yakin kita tidur di apartemen?” tanya Melinda penasaran.
“Tentu saja, apa kamu keberatan? Kalau memang begitu, ya sudah kita tidak perlu tidur di apartemen,” ujar Raka pada Melinda.
Melinda menggelengkan kepalanya sembari menggerakkan tangannya berulang kali.
“Bukan itu maksud saya, Mas Raka. Lagipula, saya sama sekali tidak keberatan,” pungkas Melinda.
Melinda tersenyum bahagia karena akhirnya ia dan Sang suami akan tidur di apartemen.
Aku harap Melinda bisa cukup tenang bila tidur di apartemen dan tak lagi memikirkan keluarganya itu. (Batin Raka)
Melinda memberanikan diri menggenggam erat tangan suaminya dan saat itu juga Raka ikut menggenggam erat tangan istrinya.
Keduanya melempar senyum dan terlihat saling mencintai satu sama lain.
Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi terhadap Mas Raka. Apa lebih baik aku jujur saja kepada Mas Raka? (Batin Melinda)
Melinda berpikir keras mengenai perasaannya itu. Akan tetapi, Melinda takut jika suaminya tak menganggap serius perasaannya.
Raka menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. Entah kenapa, Raka tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk memberitahukan perasaannya terhadap Sang istri. Akan tetapi, bingung bagaimana cara untuk menyatakan rasa cintanya itu. Terlebih lagi, ia dulu sering menyakiti Melinda dan sering membuat Melinda menangis.
Apa mungkin Melinda bisa menerima perasaanku ini? Pasti Melinda berpikir bahwa perasanku untuknya hanyalah main-main saja. (Batin Raka)
🌷
Sesampainya di rumah, Melinda maupun Raka memutuskan untuk beristirahat karena mereka kurang tidur ketika menginap di rumah orang tua Melinda.
“Mas Raka mau saya pijat?” tanya Melinda menawarkan diri untuk memijat suaminya.
“Tidak perlu, sebaiknya kita langsung beristirahat saja. Lumayanlah, bisa istirahat 2 jam sebelum sholat Dzuhur,” pungkas Raka pada Melinda yang tengah berbaring tepat disampingnya.
__ADS_1
“Baik, Mas Raka. Kalau Mas Raka ingin dipijat, jangan sungkan-sungkan untuk memberitahukan saya,” tutur Melinda yang sangat senang bila suaminya mengandalkan dirinya.
Raka tersenyum tipis dan meminta istrinya untuk segera tidur.
Almer keluar dari ruang kerjanya dan melihat asisten pribadi Cucunya tengah duduk seorang diri di ruang tamu.
Almer pun berjalan menghampiri Reza untuk bertanya mengenai keinginan Almer yang meminta cucu serta cucu menantunya untuk tidur di apartemen.
“Bagaimana? Apakah kamu sudah menyampaikan pesanku kepada Raka dan juga cucu menantu ku?” tanya Almer penasaran.
Almer pun mendaratkan bokongnya tepat disamping asisten pribadi cucu kandungnya, yaitu Raka Arafat.
“Tuan Besar tidak perlu khawatir, Tuan Muda langsung setuju dan mengajak Nona Muda untuk menginap di apartemen,” pungkas Reza pada Kakek dari Tuan Mudanya.
“Alhamdulillah, kalau mereka terus berdekatan seperti itu, aku merasa sangat senang,” tutur Almer bernapas lega.
Reza menatap wajah Almer yang terlihat sangat lelah. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Kakek tua itu.
“Tuan Besar baik-baik saja?” tanya Reza memastikan kondisi Almer.
Reza tak mempercayai apa yang dikatakan Almer padanya. Saat itu juga, tanpa seizin dari Almer maupun Raka, asisten pribadi dari Raka itu menghubungi salah satu dokter agar segera datang ke rumah untuk memeriksa kondisi kesehatan Almer yang saat itu terlihat tidak baik-baik saja.
“Reza, apa yang kamu lakukan?” tanya Almer terkejut setelah mendengar apa yang Reza katakan dengan seseorang di telepon.
“Maafkan saya, Tuan Besar. Saya melakukan hal ini karena khawatir dengan kondisi Tuan Besar. Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa kondisi Tuan Besar,” ungkap Reza yang tidak bisa diam saja ketika melihat wajah Almer yang terlihat sedang tidak sehat.
Almer ingin sekali protes dengan sikap lancang Reza padanya. Akan tetapi, Almer tidak bisa memungkiri bahwa kondisi tubuhnya saat itu sedang tidak sehat.
“Baiklah, aku menghargai kebaikanmu. Akan tetapi, jangan beritahu Raka maupun Cucu menantuku,” ujar Almer yang tidak ingin bila Raka maupun Melinda khawatir mengenai kondisinya.
“Maaf, Tuan Besar. Tuan Muda dan juga Nona Muda harus tahu mengenai kondisi Tuan Besar. Bukankah Tuan Besar ingin memiliki seorang cicit?” tanya Reza pada Almer.
Almer terdiam sembari memikirkan apa yang dikatakan oleh Reza padanya. Setelah cukup lama berpikir, Almer pun setuju dengan apa yang dikatakan Reza padanya.
🌷
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Seorang dokter pria telah memeriksa kondisi kesehatan Almer. Rupanya, asam urat dan juga darah tinggi yang diderita oleh Almer kumat. Itu artinya, Almer harus banyak beristirahat dan menghindari makanan yang memicu penyakit tersebut semakin bertambah.
Raka dan Melinda yang juga berada di kamar Almer, terlihat sangat sedih dengan kondisi Kakek tua itu.
“Kakek, malam ini Raka dan Melinda tidak jadi tidur di apartemen,” ucap Raka pada Kakeknya.
“Kenapa? Apa gara-gara Kakek kalian tidak jadi tidur di apartemen?” tanya Almer yang sedikit kecewa dengan keputusan Raka.
“Apa menginap di apartemen lebih penting daripada kesehatan Kakek? Lagipula, masih ada hari lain untuk kami,” jawab Raka sembari menggenggam erat tangan Melinda yang berdiri tepat disampingnya.
Melinda tertegun sejenak ketika merasakan genggaman tangan suaminya yang cukup erat.
Almer tersenyum lebar melihat bagaimana Raka bersikap manis terhadap cucu menantunya itu.
“Baiklah, terserah kalian saja,” pungkas Almer dan kembali tersenyum lebar.
“Kakek, cepat sembuh ya. Setelah Kakek sembuh, kami akan tidur di apartemen,” ucap Melinda pada Almer, Kakek kandung dari suaminya.
“Tentu saja, Kakek harus segera sembuh. Kakek tidak sabar ingin melihat cicit Kakek,” ucap Almer yang lagi-lagi menyinggung tentang cicitnya yang sama sekali belum di rencanakan oleh Raka maupun Melinda.
Raka dan Melinda saling tukar pandang setelah mendengar ucapan ambigu Kakek tua itu.
“Maaf, saya harus segera pamit. Dan satu lagi, Tuan Almer sebaiknya tidak berpuasa selama beberapa hari ke depan,” ucap Dokter tersebut sebelumnya pergi dari rumah mewah keluarga Arafat.
Setelah mengatakan hal tersebut, Dokter itu pun pergi dan diantar langsung oleh Reza sampai ke pintu depan rumah.
Almer menoleh sekilas ke arah jam yang baru menunjukkan pukul 11.27 WIB.
“Ada apa, Kakek? Kakek tidak dengar apa yang dokter tadi katakan?” tanya Raka pada Sang Kakek.
“Kakek tentu saja mendengarnya. Hanya saja, Kakek masih ingin melanjutkan puasa sampai selesai,” pungkas Almer.
“Kakek tidak boleh terlalu memaksakan. Saat Kakek sudah benar-benar sembuh, Kakek bisa kembali berpuasa,” terang Raka yang tidak ingin bila Sang Kakek tidak segera sembuh dari sakitnya.
“Baiklah, Kakek akan menuruti apa yang kamu katakan. Apakah kamu puas?”
“Raka akan sangat puas bila Kakek bisa segera sembuh,” terang Raka.
__ADS_1