
Raka baru saja menerima telepon dari Sang istri, alasan istrinya menghubungi dirinya adalah memintanya untuk segera pulang. Tanpa pikir panjang, Raka pun bergegas pulang untuk segera menemui Sang istri tercinta.
“Tuan Muda, 30 menit lagi Tuan Muda ada rapat penting,” ucap Reza mengingatkan Tuan Mudanya.
“Batalkan saja, istriku lebih penting daripada rapat,” pungkas Raka dan bergegas keluar dari ruangannya.
Reza akhirnya memberitahukan yang lain bahwa rapat hari itu dibatalkan.
Disaat yang bersamaan, Luna tertawa remeh karena Melinda menghubungi Raka tanpa memberitahukan alasannya.
“Apa ada yang lucu?” tanya Melinda menatap serius Luna.
“Kamu bodoh atau bagaimana sih? Kenapa kamu tidak bilang saja kalah aku datang kemari?” tanya Luna tersenyum sinis.
Melinda memilih diam, lagipula kalau dirinya mengatakan alasannya meminta suaminya pulang karena kedatangan Luna, sudah dapat dipastikan bahwa suaminya akan marah besar terhadap sosok Luna yang jelas-jelas begitu dibenci oleh suaminya.
Beberapa saat kemudian.
Raka akhirnya kembali dan bertanya kepada salah satu pelayan mengenai keberadaan istrinya. Pelayan itu pun mengatakan bahwa Nona Mudanya ada di area kolam renang.
“Sayang!” Melinda berlari kecil menghampiri suaminya.
Raka tersenyum dan memeluk erat tubuh istrinya. Kemudian, Raka menciumi pipi serta kening Sang istri dengan sangat mesra.
“Kak Raka!” Luna sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Pria yang ia cintai ternyata sudah berjalan dengan normal.
Seketika itu Raka menoleh ke arah wanita yang baru saja memanggil namanya.
“Kamu? Sedang apa kamu kemari? Pergi sekarang juga!” Raka berteriak keras mengusir Luna dari rumah.
“Kak Raka sudah bisa jalan sekarang? Bagaimana mungkin?” tanya Luna sembari berjalan mendekat.
“Berhenti!” Raka berteriak keras agar Luna berhenti melangkah.
Luna nampak sangat takut dengan teriakkan Raka.
“Kak Raka kenapa berteriak kepadaku? Kak Raka, seharusnya Kak Raka senang aku datang kemari. Kita balikan ya Kak!” pinta Luna memohon agar hubungan mereka kembali terjalin.
“Bagiku kamu adalah wanita murahan. Sekarang pergilah dari hadapanku, kedatangan mu kemari membuat istriku tak nyaman. Pergi dari sini atau kamu aku laporkan ke polisi karena mengganggu ketentraman rumah kami,” tegas Raka.
__ADS_1
Luna menangis dan berlari mendekati Raka. Saat itu Raka mendorong tubuh Luna hingga Luna terjatuh.
Saat itu juga Luna sadar bahwa Raka bukanlah takdir Allah untuknya.
Melinda ingin membantu Luna bangkit, akan tetapi Luna dengan cepat menepis tangan Melinda yang ingin membantunya bangkit.
“Jangan sentuh aku,” tegas Luna dan bangkit dengan tatapan penuh kebencian.
“Singkirkan tatapan mu itu terhadap istriku. Bagiku kamu adalah wanita tak tahu malu dan tak punya hati antara sesama wanita. Bagiku kamu adalah kesalahan terbesarku. Sekarang kamu pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku. Atau aku akan semakin membenci dirimu,” tegas Raka dan memanggil para bodyguard untuk segera mengusir paksa Luna dari rumah itu.
Sebelum Luna pergi meninggalkan rumah itu, ia ingin mendengar ucapan dari Raka langsung mengenai isi hatinya terhadap Melinda.
“Baik, kamu buka telinga lebar-lebar!” perintah Raka.
Luna berdiri memperhatikan apa yang akan Raka katakan kepada Melinda.
Raka menatap lekat istrinya dan hal tak terduga pun terjadi. Raka mencium bibir Melinda baik dihadapan Luna maupun para bodyguard.
Mereka yang melihat Raka mencium bibir istrinya nampak sangat tercengang.
Luna sangat patah hati, ia berlari keluar dengan kekalahan. Luna bersumpah tidak akan lagi mengharapkan sosok Raka yang ternyata begitu mencintai sosok Melinda Anandi.
Melinda tersadar dan segera mendorong tubuh suaminya. Raka tersenyum puas dan kembali menciumi bibir istrinya, sekuat apapun Melinda mencoba melepaskan diri tetap saja dirinya tidak bisa. Dan pada akhirnya, Melinda pun ikut larut dalam ciuman gairah dari Sang suami tercinta.
Luna berlari secepat mungkin dan masuk ke dalam mobil dengan tangisan histeris. Ia menyesal karena telah datang dan melihat bagaimana Raka menunjukkan cintanya kepada Melinda dengan sebuah ciuman.
“Aku benci, aku benci kalian berdua!” Luna berteriak keras di dalam mobil dan sangat membenci sepasang suami istri tersebut.
Luna menangis hingga riasan dimatanya menjadi rusak. Bahkan bulu mata palsu yang cetar membahana akhirnya lepas terkena air mata kesedihan, kelelahan dan kekecewaan dari Luna.
“Kenapa diam saja? Cepat pergi sejauh mungkin. Aku tidak ingin lagi datang kemari bahwa melewati rumah ini pun aku sudah tidak mau,” tegas Luna dalam tangisannya.
Mobil pun pergi meninggalkan area halaman rumah kediaman keluarga Arafat.
Melinda tersenyum bahagia, ia senang karena akhirnya Luna pergi dan berharap kedepannya tidak ada lagi wanita yang mengharapkan cinta dari sosok suaminya itu.
“Sayang, ayo kita ke kamar.” Raka mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar, melanjutkan kemesraan mereka berdua.
Kakek Almer berjalan dengan langkah perlahan menghampiri keduanya.
__ADS_1
Kakek tua itu tidak tahu-menahu mengenai datangnya Luna. Karena sedari tadi dirinya di dalam kamar dan para pelayan pun kompak tidak memberitahukan kedatangan Luna kepada Almer Arafat.
“Raka, kamu sudah pulang? Kenapa cepat sekali?” tanya Almer terheran-heran.
“Raka tidak sabar ingin menemui Melinda, Kakek. Maka dari itu Raka pulang lebih cepat dari yang Raka perkirakan,” jawab Raka.
“Kalian ini seperti pengantin baru saja,” celetuk Almer dan melenggang pergi sembari geleng-geleng kepala.
Raka tertawa kecil dan merangkul pinggang Melinda dengan cukup erat.
“Ayo ke kamar, kita harus bermesraan dulu di kamar!” ajak Raka dan mencubit gemas pipi Melinda.
🌷
Siang hari.
Raka dan Melinda baru saja melaksanakan sholat Dzuhur di kamar. Kemudian, mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
“Sayang, mau pakai baju yang mana?” tanya Melinda kepada Sang suami.
“Apa saja sayangku,” jawab Raka.
Melinda mengernyitkan keningnya sembari tersenyum kecut.
“Ada apa sayang? Kenapa ekspresi wajah istriku nampak aneh begitu?” tanya Raka penasaran.
“Apa suamiku sudah lupa ketika dulu aku memilihkan pakaian dan suamiku ini malah mengatakannya hal yang menyebalkan?” tanya Melinda dan memanyunkan bibirnya.
“Iya sayang, tentu saja aku masih ingat. Maafkan suamimu yang dulu ya sayang,” tutur Raka meminta maaf.
Melinda tersenyum lebar, tentu saja ia sudah tidak sedih lagi ketika mengingat kejadian yang lalu. Lagipula, sekarang suaminya sangat mencintai dirinya.
“Sayang, itu sudah menjadi masa lalu kita berdua. Suamiku tidak perlu sedih, yang paling penting bagaimana caranya agar suamiku bisa semakin mencintai ku,” balas Melinda.
Raka bangkit dari sajadahnya dan mendekap erat tubuh Melinda.
“Sayang, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Maaf karena dulu aku terlambat menyadari bahwa wanita yang aku nikahi adalah wanita yang baik hatinya,” ujar Raka dengan mata berkaca-kaca.
***
__ADS_1
Sebentar lagi tamat 🤧 jangan lupa vote, like, komen dan share ke sosmed kalian ya guys ❤️ Terima kasih untuk cinta kalian